
Setelah selesai makan Laras membersihkan bekas makanannya, sementara Sofia malah rebahan di atas paha Andre, sambil memainkan ponsel.
"Et deh malah gw beresin sendirian, Lo asyik amat ya tiduran." Laras mengoceh
"Kali - kali ras ah, jangan sirik ngapa. Begah nih perut kenyang." Jawab Sofia
"Lo mah gak rumah gak di sini, ngabisin makanan gw mulu, stok 4 hari makanan di habisin semua, sobat lucknat Lo." Laras berkata sambil merengut
"Hahahahaha gw suka khilaf ras kalo liat makanan." Sofia bicara sambil tertawa girang.
Andre hanya geleng - geleng aja dengar dua gadis bar - bar ngobrol, bukan sekali dua kali denger mereka saling ejek. Tapi Andre tahu mereka cuma di mulut doang kau gitu, aslinya saling menyayangi, buktinya jika ada salah satu yang sakit pasti cepat - saling tengok, atau kalau belanja kadang mereka inget belinya dua.
Setelah selesai, Laras kembali untuk tidur, tapi dia gak masuk ke kamarnya dia ke kamar papihnya.
"Hey mau kemana neng, salah kamar tuh." Ucap Sofia
"Bobo sama papih aja ah, dia mah punya kompor jadi bawaannya anget." Jawabnya enteng sambil membuka pintu kamar Indrawan.
Sofia merengut sambil menoleh ke Andre mendengar jawaban Laras, Andre hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Sofia.
'Ya udah Sofi tidur Ama abang aja." Ucapnya
Mereka berdua pun masuk ke kamar, seperti biasa di kamar bukannya tidur malah kedua anak manusia itu melakukan aktifitas olahraga malam kegemaran mereka. Sementara yang lagi di kamar sebelahnya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar suara - suara yang tak asing dari kamar sebelah. Indrawan terkekeh melihat tingkah Laras. Laras mendongakkan kepalanya ke atas.
"Piiih kebangun ya, mereka berisik sekali." Ucap Laras
"Kalau gak berisik ya gak asik." Indrawan menjawab sambil terkekeh kembali
"Ish papih". Laras merengut
"Piiih kapan papih akan cerai sama mamih? Tanya Laras dari dalam pelukan Indrawan
"Papih belum mengurusnya sayang." Jawab Indrawan
Laras diam tak bertanya lagi, jujur hati kecilnya masih ragu, rasa takut masih terus menghantuinya. Dia akhirnya tertidur di dalam dekapan Indrawan.
Sementara Indrawan belum memejamkan kembali matanya, pertanyaan dari Laras membuat dia bingung harus berbuat apa. Akhir - akhir ini dia justru ragu untuk bercerai dengan Ismaya. Kalau sampai dia cerai dama Ismaya saham di kantornya hampir setengahnya punya Orangtua Ismaya. Kalau sampai dia cerai otomatis Orangtua Ismaya akan menarik sahamnya.
Kalau sampai dia tak meceraikan Ismaya ia yakin Laras pasti akan sakit hati, di tambah Indrawan juga sudah jengah dengan sikap Ismaya. Dia bingung harus bagaimana langkah yang harus di ambil. Dia menghela nafasnya berat. Di tatapnya wajah polos Laras yang terlihat damai di dalam dekapannya. Dia pun akhirnya memejamkan matanya karena kantuk mulai menyerangnya.
####
Paginya Laras terbangun dia ke kamar mandi untuk bersih - bersih. Setelah selesai dia membangunkan Indrawan yang masih terlelap. Mencolek pipinya dan menusuk - nusuknya memakai telunjuknya.
"Piiih bangun yu, nyari sarapan keluar." Ucapnya
Indrawan membuka matanya lalu menatap wajah Laras yang terlihat lebih fresh di pagi ini.
"Loh kamu sudah rapi sayang, mau nyari sarapan di luar pakai mobil apa jalan kaki?" Tanya Indrawan tanpa melepas pandangannya dari wajah Laras
"Jalan kaki aja yupi menikmati udara pagi hari yang dingin." Jawab Laras
"Ya udah tunggu ya papi siap-siap dulu." Indrawan berkata setelah itu dia bangkit ke kamar mandi.
Sementara Laras membereskan tempat tidur dan menyiapkan baju Indrawan.