Menikah dengan Ayah Angkatku

Menikah dengan Ayah Angkatku
Selamat Tinggal Putih Biru


Laras bersenandung kecil, wajahnya penuh kegembiraan karena hari ini hari kelulusannya.


Berlari menuju gerbang sekolah, karena ia baru mendapat pesan dari supirnya kalo jemputanya sudah di gerbang sekolah.


"Ke kantor papih ya pak."


"Ia non."


Mobil melaju membelah jalanan ibu kota, Laras menikmati perjalanan dengan sesekali berdendang mengikuti lagu di earphonenya.


"Pak tadi ketemu mamih gak sebelum jemput aku? Tanya nya ke sang supir.


"Ketemu non, Ibu malah yang menyuruh saya jemput non cepat -cepat, takut non sudah keluar sekolah katanya, dia juga nitip bekal makan siang buat Non sama Bapak.


Gadis itu hanya manggut- manggut lalu kembali masang earphonenya.


Setelah menepuh perjalanan sekitar setengah jam mobil berhenti di sebuah bangunan yang tidak terlalu tinggi tapi lumayan luas.


Laras keluar dari mobil sambil menenteng bekal makan siang untuk mereka berdua.


Di meja resepsionis dia bertanya.


"Mba Maya papih ada kan?


"Ada non, mau di antar?


"Gak usah mba, makasih ya..


"Sama - sama. Jawabnya sambil tersenyum.


Seluruh karyawan sudah tahu jika Larasati adalah anak tunggal Indrawan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Karena gadis remaja itu hampir tiap pulang sekolah mampir ke tempat kerja papihnya.


Ceklek


"Papih , Laras datang.


Nampak yang di panggil sedang asyik di depan laptop. Mendongakkan kepala sambil tersenyum.


"Kirain gak kesini, karena mamih ada di rumah. Bawa apa? Tanya papihnya.


Indrawan hanya mengulum senyum, dia berdiri lalu menuntun anaknya untuk duduk di sofa ruang kerjanya.


"Mau hadiah apa hemm..? Tanya Indrawan


"Jalan - jalan ke Bali sama papih dan mamih, boleh? jawab Laras sambil tersenyum.


Indrawan mengela nafas sejenak, dia bingung harus menjelaskan apa ke anaknya, mengingat hubungannya sama istrinya setahun belakangan ini kurang baik.


"Jika mamih memang tidak sibuk, dan bersedia papih sih setuju aja. Jawabnya, sambil duduk di pinggir Laras.


"Nanti Laras tanyakan dulu ke mamih ya pih, kalo mamih setuju papih harus mau.


Indrawan menganggukkan kepala, sambil tersenyum. Dia mengusap kepala anaknya.


"Makan yu, papih udah lapar.


"Ayo pih.


Mereka lalu makan siang bersama di kantor Indrawan. Setelah makan siang, Indrawan kembali bekerja, sedangkan Laras rebahan di sofa ruang kerja papihnya sambil memainkan ponselnya.


Setelah dua jam lebih Indrawan berkutat dengan pekerjaannya dia menyudahi kerjaannya, dia berniat pulang ke rumah. Untuk merayakan kelulusan anaknya mumpung istrinya sedang di rumah.


Dia berdiri, dan menghampiri ke sofa, tersenyum ke arah putri kecilnya yang tertidur pulas di sofa ruang kerjanya, mungkin karena lama menunggu dirinya kerja hingga akhirnya dia tertidur.


Kamu udah gede Laras, makin cantik. Papih bangga padamu, di usia yang masih remaja tapi kamu bersikap dewasa. Fasilitas yang papih kasih ke kamu tak membuat kamu sombong dan hanya di gunakan untuk kepentingan saja, tidak untuk berfoya foya atau bersenang senang seperti remaja lainnya. batinnya..


Dia menatap wajah Laras, lalu


Cup.. dia mengecup dahinya.


Cup... dia turun ke bibir Laras. Tersenyum sambil bergumam.


"Manis seperti biasa.


Dia lalu menatap kembali wajah polos anaknya yang sejak umurnya 8 tahun melengkapi keluarga kecilnya hingga saat ini.