
Malam harinya, suara jangkrik beradu dengan suara desiran angin. Dingin, sepi dan gelap. Suasana itulah yang menjadikan kunang-kunang berkerlip indah di antara rimbunnya padi yang bergoyang. Terayun-ayun angin, terbawa suasana.
"Apa slalu betah jika berada di sini." Jasmine duduk bersimpuh sembari menyandarkan kepalanya di paha Bryan yang duduk di kursi roda.
Bryan bagaikan pendengaran setia, ia hanya mengelus rambut ikal istrinya. Tak bergeming menatap suasana di luar jendela.
"Terkadang sepi, terkadang ramai. Aku slalu menyukai tamu-tamu ku yang datang menginap disini. Mereka banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Ada yang membuat ku senang, ada yang membuatku sedih. Tapi kesimpulan yang ku dapat adalah seseorang akan slalu berputar pada poros hidupnya. Sudah mutlak jika bahagia akan bersanding dengan kesedihan dan yang datang akan slalu pergi."
Jasmine mengecup tangan suaminya, "Kelak jika kita kan terpisah jarak dan waktu. Berjanjilah satu hal padaku. Berbahagialah dimanapun tempat mu berada. Aku slalu percaya cinta kan temukan jalannya."
Air mata Jasmine perlahan menetes dan berkumpul di dagu runcingnya.
P-e-r-l-a-h-a-n tangisan itu mulai terisak.
"Dua hari lagi setelah pertemuan kita berakhir disini. Kau dan keluarga mu akan di bawa ke pihak negara. Aku tidak bisa mencegahnya Bryan. Aku tidak bisa mencegah sesuatu yang pasti terjadi. Kau dan aku akan terpisah jarak dan waktu. Keadaan akan kembali seperti saat aku dan kamu tak saling mengenal."
Tangisnya semakin menjadi-jadi, bahkan terdengar hingga keluar kamar.
"Aku bahagia mengenalmu, bersama mu selama satu tahun. Aku bahagia Bryan. Apa jadinya jika aku harus kehilanganmu dalam waktu yang lama."
Jasmine memukul-mukul lantai yang tak bersalah, tangisnya membanjiri celana Bryan.
"Berjanjilah untuk bahagia di manapun tempat mu berada. Berjanjilah untuk mengingatku dalam setiap doa dan hari-hari mu. Karena aku tak akan pernah melupakan hari-hari yang indah saat bersamamu."
Semakin Jasmine terisak, semakin ia merasakan tetesan air mata yang berbeda. Bukan dari matanya, tapi dari mata yang tak bergeming dari kaca jendela.
"Maafkan aku membuatmu menangis." Jasmine mengusap air mata Bryan. "Jangan pernah menangis lagi, cukup kali ini saja aku melihat laki-laki yang ku cintai menangis."
Kecupan mendarat di bibir Bryan. "Balas ciuman ku, kau pasti bisa sayang."
Jasmine berbisik, menggoda telinga Bryan. mulutnya yang gagu tak bisa membalas kenakalan istrinya. Ia hanya duduk sembari menahan sesuatu di bawah sana.
"Balas ciumanku, nanti aku bantu dirimu." Jasmine mengec*pi bibir Bryan, menyesapi nya. Bryan tak menolak, apa mungkin dia juga rindu dengan istrinya. Dulu, ia akan selalu mencium bibir Jasmine. Siang malam, bahkan saat fajar akan menyingsing pun ia lakukan.
Bryan yang mulai tergoda dengan cara istrinya bermain-main dengan bibirnya dan tangan yang mulai menyentuh pusaka miliknya. Sudah tak bisa lagi menahan tangannya untuk menyentuh gundukan kenyal yang tergantung di depannya matanya.
"Lakukan, sayang. Jika kau mau." Bisik Jasmine dengan nada yang menggoda. Jasmine dengan sigap melepas baju tidurnya dan menyisakan pakaian dalam.
"Tunggu, biarku ganti juga celanamu dengan yang kering. Ini sudah basah dengan air mataku." Kerlingan mata yang sembab itu berbinar.
Perlahan tapi pasti Jasmine melepas celana Bryan. Kakinya yang lemas tak membuat organ penting dalam hidupnya juga lemas. Terbukti benda pusaka itu berdiri dengan lantangnya.
Jasmine tersenyum dengan menatap Bryan penuh mesra. "Ayolah sayang, kau benar-benar merindukanku ya. Aku akan membantumu."
Jasmine mengecup bibir Bryan, melum*tnya dan terus bermain-main dengan lidah suaminya. Ia melepas penaut bra dan menonjol gundukan kenyal yang mengairahkan.
"Sentuh aku, babe."
Jasmine menaruh tangan Bryan di depan dadanya, Sedangkan Bryan tampak terkesiap.
Bryan perlahan mulai memainkan perannya, rasanya ia tak mengenali Jasmine yang nampak agresif malam ini. Sembari Bryan memainkan miliknya, Jasmine tak mau kalah. Ia juga bermain-main dengan pusaka milik Bryan.
"Sayang, menger*nglah. Aku ingin mendengarnya." Jasmine melakukannya seperti sedang memakan sebuah es krim. "Jangan ditahan."
Bryan tak bisa menolak saat tangan Jasmine menenggelamkan kepalanya di antara kedua gunung kembar miliknya. "Yang lama." Sedangkan tangan satunya bermain-main dengan pusaka Bryan yang semakin lama semakin menger*s.
Jasmine berbisik, "Aku akan merindukanmu, bibir merah jambumu. Semua yang ada dalam dirimu." Hingga bisikan itu berakhir ******n yang membuat benih super milik Bryan membasahi tangan Jasmine dan kursi roda yang meronta-ronta menolak percintaan singkat dua orang yang dilanda sendu, nafsu dan cinta.
"Terimakasih sayang, aku akan membersihkanmu." Jasmine mengambil tissue basah membersihkan tangannya dan memakai kembali bajunya. Kini langkahnya menuju kamar mandi untuk mengambil handuk kecil dan air hangat.
Sedangkan Bryan hanya bisa tersenyum mengingat tingkah konyol istrinya.
"Maaf ya, membuatmu menangis." Jasmine tersenyum-senyum. "Kasian mereka sayang, terbuang sia-sia."
Bryan menjewer telinga Jasmine. "Apa sayang, apa aku seperti anak nakal?"
Bryan mengangguk.
"Jadi aku Jasmine si anak nakal."
Bryan tersenyum.
"Sebentar lagi selesai, makan malam dan istirahat. Oke." Jasmine mengenakan celana Bryan.
Kecupan mendarat di kening Bryan, "Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya merindukan mu." Katanya sebelum Jasmine mendorong kursi roda menuju keluar kamar.
Jasmine membawa Bryan menuju pantry motel, "Mau makan apa babe? Roti sandwich, atau tumis kangkung?"
Tatapan Bryan berubah menjadi redup.
"Sandwich aja ya, biar cepet ke kamar lagi dan aku bisa berduaan dengan mu. Ehmm....," Jasmine menaik-turunkan alisnya.
Bryan yang melihat istrinya seperti itu malah menghendikkan bahunya.
"Mentang-mentang udah keluar." Jasmine bersorak dengan nada yang sebal.
Beberapa menit kemudian sandwich bakar dengan telur mata sapi sudah mendarat di atas meja makan. "Sayang aku suapi."
Dengan telaten Jasmine menyuapi Bryan yang patuh akan ancaman mata Jasmine.
"Apa tadi Husein membawakan mu obat?"
Bryan mengangguk. "Baiklah, aku ke kamar sebentar mengambil obatku dan obatmu. Tetep disini jangan bergerak se-senti-pun!" Titah Jasmine dan berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya.
Di pantry, Bryan merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya yang seharusnya tak ia rasakan. Rasa yang bergitu sesak dan membuatnya harus mengambil keputusan.
Keputusan yang akan membuatnya menyesal seumur hidup. Bisakah ia memutuskan mana jalan yang harus ia pilih. Bryan ingat yang datang pasti akan pergi, bagaimanapun ceritanya.
Pergi adalah sesuatu yang membuat seseorang akan bersedih.
*
Harusnya part ini udah dari tadi malam up-nya, tapihhhh di tolak sama pihak NT karena mengandung unsur Vulgar. Huft, sekalinya aku bersemangat membuat unsur nakal. eh di tolak. emang dari dulu aku gak boleh terlalu nakal sama Mimin NT 😂😂😂
Kiss dulu miminnya, semoga lolos up yah kali ini 💃