
"Siapa namamu dan apa nama kelompok mu?" Laki-laki muda itu sudah duduk di depan kursi dimana Jasmine sudah terikat disana. Sebelum drama pengikatan tangan dan kakinya. Jasmine masih meminta waktu untuk melepas sepatunya dan memijit kakinya sebentar karena rasa ngilu akibat terkilir tadi.
"Apa kau mengajak ku berkenalan?" Jasmine menyunggingkan senyuman.
"Cih! Tidak penting berkenalan dengan mu." Cebik laki-laki muda itu.
"Your mobile?" Laki-laki itu menengadahkan tangannya meminta Jasmine mengeluarkan ponsel pintarnya.
"Aku tidak membawanya,coba cek saja." Jasmine berkata jujur,ia sama sekali tidak membawa apapun kecuali tubuhnya dan kedua pistol revolver miliknya.
"Hmmm...." Laki-laki muda itu mendekati Jasmine, sedikit berfikir lalu mendudukkan tubuhnya kembali di kursi coklat.
"Siapa namamu?" Tanyanya lagi.
"Bukankah tidak sopan jika mengajak seseorang berkenalan tanpa berjabat tangan." Jasmine masih berkelit masih dengan senyuman.
"Baiklah...Jika kau mau bermain-main dengan ku." Laki-laki itu mulai berdiri berjalan ke arah Jasmine dan berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Jasmine. Tatapan matanya nampak datar."Aku akan membuatmu menyebut namamu berkali-kali jika kau masih saja berkelit." Tangannya kini sudah membuka kancing kemeja Jasmine satu persatu.
"Apa yang ingin kau lakukan,hey......" Jasmine berusaha memberontak, menggerak-gerakkan tubuhnya sebisa mungkin."Diam!" Laki-laki muda itu berteriak. Mencengkeram kedua bahu Jasmine.
Namun kegaduhan yang di buat Jasmine dan laki-laki muda itu membuat bodyguard yang menjaga di balik pintu dengan cepat membuka pintu dan matanya terkejut melihat apa yang dilakukan oleh tuan muda mereka.
"Keluar...!" Laki-laki muda itu berteriak tanpa melihat siapa bodyguard nya yang telah menggangu konsentrasi nafsunya.
"Jangan, menyentuh ku." Jasmine masih berteriak-teriak saat laki-laki muda itu sudah selesai melepas semua kancing kemeja dan hanya meninggalkan setipis kain yang membalut tubuh jasmine yang masih menyisakan lemak sisa kehamilannya. Yang membuat tubuh jasmine terlihat seksi.
"Katakan namamu dan nama kelompok mu,maka aku tak perlu melakukan ini?" Wajah laki-laki muda itu masih menyisakan kilatan gairah dan masih terlihat dingin.
"Jasmine.... Brandles Wolfgang." Jasmine menghela nafas panjang,ini benar-benar akan menjadi pertempuran panjang jika laki-laki muda di depannya ini akan memulai genderang perang.
Sunggingan senyuman menghiasi wajah laki-laki muda itu yang kini sudah berdiri mengambil benda pipih canggih dari saku celana jeans nya dan terlihat menghubungi seseorang. Sesekali ia melihat ke arah Jasmine. Setelah menutup percakapan singkat nya, laki-laki muda kini duduk di kursi coklat tadi dan menyilangkan kakinya.
"Apa kau tak mau mengancingkan kemejaku lagi,aku bisa mati kedinginan disini atau mati karena terkena demam berdarah." Tak di pungkiri lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk dan berada di sekitar perkebunan yang terlihat seperti hutan kecil ini membuat banyaknya nyamuk berterbangan kesana kemari mencari darah gratis yang masih segar.
"Kau sungguh cerewet dan banyak maunya." Laki-laki itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya menyatukan kembali kancing baju Jasmine yang ia lepas tadi. Matanya menyatu dengan mata Jasmine yang mengamati nya dari dekat.
"Apa yang kau lihat!" Selesai mengancingkan kemeja Jasmine laki-laki itu kembali duduk di kursinya.
"Kau masih muda dan tampan, kenapa tidak mencari kekasih saja atau menjadi CEO muda kaya raya di perusahaan. Kenapa memilih menjadi mafia obat-obatan terlarang." Jasmine masih tak bergeming menatap wajah laki-laki muda di depannya.
"Bukan urusanmu!"
-----
Raka setengah berlari sambil sesekali tubuhnya berbalik mengamati keadaan sekitar. Ia menghempaskan tubuhnya di balik kemudi mobil dan menatap ponsel dan dompet milik Jasmine yang tertinggal.
"Kau sungguh ceroboh kak." Raka memukul stir kemudi sambil mengusap kasar wajahnya. Nafasnya masih memburu.
"Dimana kakakmu?" Suara ayah Kamto mengagetkan Raka yang masih termenung memikirkan kondisi kakaknya yang berada di sekitar lokasi gembong narkoba itu.
"Hah... kakak?" Wajah Raka masih terlihat bingung.
"Iya dimana kakakmu?" Tanya ayah Kamto kembali.
"Kakak tertinggal,dia tadi jatuh dan menyuruh ku untuk pergi meninggalkan nya." Jelas Raka tak berani menatap raut wajah ayahnya.
"Bodoh,dan kau menurut kakakmu?"
Raka tak berani menjawab. "Kakakmu wanita ceroboh dan keras kepala,tapi ayah yakin dia adalah wanita kuat." Ayah Kamto bergumam sendiri.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kakak,yah?" Raka sungguh khawatir dengan kondisi kakaknya.
"Percaya pada kakakmu,dia pasti tahu resiko apa saja jika dia kembali ke dalam tim ayah." Ayah Kamto tak bisa menyalahkan Raka namun ia juga tak bisa menutupi bahwa dirinya juga mengkhawatirkan putrinya.
"Tapi yah,kakak sudah dua kali melahirkan. Tubuh kakak tak sekuat saat masih menjadi seorang gadis." Jelas Raka.
"Ayo kita pergi dari sini, sebelum kelompok mereka menangkap kita." Kamto memasang seat belt dan di angguki oleh Raka. "Besok kita akan kesini mencari kakakmu lagi,tapi sebaiknya kita ke markas dulu." Lanjutnya.
*
Setengah jam sudah Jasmine masih terdiam disudutkan,ia masih bisa mendengar orang yang berlaku lalang memasuki rumah tua.
Hening sejenak....
Kini mata Jasmine mengarah pada laki-laki muda yang sedang memainkan benda pipih itu sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Dasar gila!" Jasmine menggerutu sendiri.
"Kau bilang apa?" Ternyata telinga laki-laki muda itu masih berfungsi dengan bagus.
"Gila...." Jawab Jasmine acuh.
"Hahaha,sejak kapan kelompok mu mengintaiku?" Tanya gembong narkoba berusia 28 tahun yang kadar ketampanan melebihi mantan suami Jasmine.
"Rahasia..."
"Sayang sekali usaha kalian gagal,bahkan belum sampai menyentuhku."
"Coba saja berhasil,kau pasti sudah mati di tanganku."
"Ehmm..... Jasmine Adriana,putri dari kepala Brandles Wolfgang." Tangannya mengetuk-ngetuk pegangan kursi dan menyeringai kan senyuman.
"Itu memang namaku,kau sudah tahu siapa diriku dan keluarga ku. Bagus!" Jasmine tak bergeming. "Kenapa kau tak membunuhku saja sekalian." Lanjutnya.
"Kenapa? Kau ingin berlari dari kenyataan."
"Jangan sekali-kali kau menyentuh ke dua anak ku atau keluarga ku." Intonasi Jasmine mulai memberat,ia teringat bagaimana keadaan Prince sekarang. Apa ia tidak rewel,apa Amanda bisa mengurusnya. Pikiran-pikiran Jasmine berlari ke darah dagingnya.
"Sayang sekali,kau rela meninggalkan anak-anak mu demi menangkap ku. Bukankah itu tidak adil atau kau hanya menjadikan alasan ini untuk lari dari mantan suamimu?" Jelas saja laki-laki muda itu tahu informasi tentang Jasmine, karena ia tadi meminta seseorang untuk mencari identitas wanita yang menjadi tawanannya sekarang.
Jasmine menatap lekat laki-laki itu, tubuhnya sudah tidak sinkron lagi dengan keadaan saat ini,semakin membuat jiwa dan raganya nyeri luar biasa.
"Jangan menyentuh anak-anak ku." peringatan terakhir Jasmine sebelum ia menundukkan kepalanya menahan genangan air mata yang siap meluncur tanpa permisi.
POV laki-laki muda.
"Hmm... Cairkan informasi tentang wanita bernama Jasmine dari kelompok Brandles Wolfgang. Secepat aku tunggu." sambungan telpon singkat dan mengancam.
"aku tak habis pikir kenapa bisa ada seorang wanita yang ikut bergabung dalam misi menangkap ku."
Setengah jam ia menunggu dan sebuah notifikasi muncul dari orang suruhannya.
"Jasmine Adriana,putri dari Kamto... Kepala mata-mata dari kelompok Brandles Wolfgang,salah satu kelompok yang memburu mafia narkoba dan senjata ilegal. Mereka bekerja sama dengan pihak intelijen negara dan kelompok itu resmi. Mereka mendapatkan asupan senjata dari pihak Intelijen negara. Ia memiliki dua anak dan sudah bercerai dengan suaminya saat hamil anak keduanya karena suaminya mendua." Sebuah pesan yang mampu membuat pria muda itu menyinggung kan senyuman yang sulit diartikan.
**
"Jika aku menyentuh anak-anak mu, kau bisa apa, menembakku." Laki-laki muda itu tertawa mengejek.
"Ehmm.....Ya bisa saja aku akan menembak mu dengan cintaku." Jawaban konyol yang lolos dari mulut Jasmine membuat laki-laki muda bernama Bryan Imanuel Nicolas membulatkan matanya.
"Kau memang ibu-ibu yang cerewet dan banyak maunya!" pekiknya.
"Kau bilang aku ibu-ibu, hahaha." Jasmine tertawa geli dibuatnya. Sungguh realita jika memang ia seorang ibu-ibu.
----
Mohon dukungannya untuk karyaku ya reader sayang ^_^