Kiss The Rain

Kiss The Rain
Memulai misi (3)


Setelah berjam-jam Jasmine tertidur di dalam mobil, sore harinya ia memilih kembali ke markas besar. Ia tak peduli jika ayahnya tak merestui hubungannya dengan Bryan, ia hanya ingin menemui kekasih hati untuk waktu yang singkat.


"Apa yang kalian dapat?" Jasmine menghampiri Candra yang menatap layar besar dan mendengar sesuatu dari ear piece di telinganya.


"Mereka akan ke luar negeri setelah mendapat identitas gelap untuk suamimu."


"Kau yakin?"


Candra mengangguk.


"Siapkan semua tim penyerang di bandara dan akses keluar masuk kota." Jasmine meremas kedua tangannya.


"Lakukan sesuai prosedur, bagaimana dengan bukti-bukti untuk menjerat Fox Adois?"


"Semua sudah siap Nona, kau sepertinya lelah hari ini."


Jasmine menghela nafas, "Aku bertengkar dengan ayah, Cand."


"Masalah apa lagi, Nona?"


"Ayah tidak merestuiku dengan Bryan. Kau tahu, Cand. Jika aku jujur, aku sudah lelah dengan ini semua."


"Kau sudah ingin menyerah? Bisa jadi sebentar lagi kau bisa bertemu dengan suamimu, Nona."


"Butuh waktu berapa lama untuk mendapatkan identitas gelap, Cand?" Jasmine berbaring sembari memijit keningnya.


"Untuk orang seperti mereka adalah hal mudah mendapatkan itu. Bisa jadi dua hari untuk segala persiapan."


"Sudah kau siapkan Tim back up?"


"Sudah Nona. Apa kau ingin bertemu dengan Husein dan Tria?"


"Panggilkan mereka berdua kemari."


"Baik, Nona. Biar aku panggilkan Husein dan Tria kesini."


Jasmine mengangguk.


Kediaman Dika.


"Bagaimana dengan wanita tadi?" Dika kembali melakukan panggilan via telepon.


"Dia memasuki kawasan gudang, kami tidak bisa masuk Penjagaan sangat ketat." Ucap salah satu pengawal Dika.


"Dia akan aman disana, menyingkirkan dari gudang itu. Berjagalah saja di jalan keluar masuk kawasan itu, Mengerti!"


"Baik, jangan lupa transfer!"


"Lakukan saja tugasmu dengan baik!" Dika menutup ponselnya.


Jangan harap bisa lepas dariku, Baby. Senyum licik menghiasi wajah Dika.


Kembali ke markas besar.


Candra menajamkan pendengarannya, ia tak bisa lengah sedikit pun dari benda kecil yang menempel di telinganya.


"Nona, mereka akan ke bandara dua hari lagi."


Candra tergesa-gesa memberi laporan pada Jasmine.


"Sial! Siapkan Tim pengecoh dan penyerang di bandara dan di kediaman Fox Adois. Lakukan penyerahan dengan waktu yang sama."


Jasmine berdiri, mengajak Husein dan Tria menuju gudang persenjataan.


"Wow, ini gudang senjatamu Jasmine?" Husein terpesona dengan banyaknya alat tembak yang berjajar rapi dengan berbagai jenis dan model peluru.


Jasmine mengangguk


"Gunakan pistol dengan peluru di atas 4mm, gunakan juga rompi anti peluru. Kalian paham?"


"Kau hamil tidak boleh menembak." Husein mengingatkan saat Jasmine sedang asik memilih jenis softgun yang ingin ia gunakan.


"Hanya coba-coba saja, diantara kalian siapa yang bisa mem-back up ku?"


Husein dan Tria tampak saling melempar pandang.


"Aku butuh back up untuk melindungiku, tugasku hanya mengambil Bryan dari tangan Shally. Sedangkan tugas Tim yang lain adalah menangkap kartel Fox Adois."


"Aku saja, apa yang perlu aku lakukan?"


"Husein, kau yakin?"


Ia mengangguk. "Jelaskan saja rencana mu."


"Baiklah, tapi bukan saatnya untuk menjelaskan sekarang. Ambillah beberapa senjata dan rompi untuk anggotamu. Ganti semua baju kalian dengan baju Khusus, siapkan diri. Dua hari lagi kita bergerak!"


Jasmine mengambil alih pistol yang di pegang Tria, "Jangan yang ini, Ak-47 senjata milik ayah. Kau akan kesulitan." Jasmine menaruh lagi pistol pilihan Tria, ia menggantinya dengan air softgun berbentuk tipis namun dengan kekuatan yang tak kalah kencangnya dengan Ak-47.


Malam harinya Raka mengunjungi markas, ia menatap kakaknya yang sedang asik termenung di kesendiriannya.


"Sudah hamil, melamun. Kakak tak akan menang jika seperti ini!"


"Haha, bertengkar dengan ayah dan kabur dari rumah. Kakak tidak tahu jika ibu lagi-lagi menangis di rumah. Ibu sangat khawatir dengan kakak!"


"Kakak akan pulang, tapi nanti."


"Aku tahu kakak khawatir, tapi bisakah bicara dengan ayah baik-baik. Ayah pasti akan mengerti." Raka merangkul bahu Jasmine.


"Kakak lelah, Raka. Bisakah kau tidak mengganggu kakak dulu. Bilang saja pada ibu, aku baik-baik saja dan tidur di markas."


"Kakak sudah makan, hmm? Ayo Raka temani makan diluar."


"Tidak, pulanglah Raka. Temani Adelle dirumah!"


"Aku yang akan menggantikan Candra malam ini, jadi kakak tidak bisa mengusirku!"


"Terserah, tapi jangan menggangguku!"


"Masih ada satu jam lagi jadwal ku, ayo makan dulu kak!" Raka menarik paksa tangan Jasmine.


"Mau kemana?" Jasmine mengibaskan tangannya.


"Makan malam bersama kakak ku yang galau, sudah ayo. Apa saja yang kakak inginkan, aku siap melayani." Raka mengemudi dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil, Jasmine terus memandangi mobil sedan putih yang ia ketahui juga berhenti di rest area bersamanya sore tadi.


Mungkin hanya mobil yang sama.


Jasmine memilih untuk berdamai dengan dirinya, malam ini ia akan bersenang-senang dengan adiknya walaupun hanya satu jam.


*


Keesokan paginya di Markas besar.


Semua anggota diminta untuk bersiap di lapangan belakang gudang, semua nampak siap menggunakan baju khusus dan persenjataan masing-masing. Candra memberi ultimatum sebelum tim bergerak menuju bandara.


"Lakukan yang terbaik, kali ini aku harap tidak ada tim lagi yang kehilangan jejak. Kalian paham! Aku sangat mengharapkan kinerja kalian sebagai TIM. Melindungi satu sama lain termasuk kalian tim back up. Kami tidak membedakan siapa kalian sekarang. Kalian mengerti."


Pengawal Nicolas mengangguk, terkecuali Husein yang tampak cuek.


"Siapkan Ear piece, dengarkan pemberitahuan ku dengan cepat dan baik."


Candra beralih menuju Jasmine yang hanya terduduk lesu di bangku bar sembari menyantap roti yang ia beli kemarin.


"Ada lagi yang ingin kau bicarakan, Nona."


"Terus saja pantau pergerakan Adois, suruh mereka berkumpul lagi nanti malam."


Candra mengangguk, lantas ia membubarkan anggotanya untuk menyantap sajian sarapan pagi.


Kediaman Shally Fox


"Sudah kau urus surat-surat untuk laki-laki itu?" Shally berjalan menghampiri pengawalnya.


"Sudah Nona, butuh dua hari untuk menyiapkan kelengkapan surat."


"Bagus! urus pilot dan pengawalan ketat keberangkatan kami lusa ke bandara. Aku merasa kita sedang di awasi seseorang akhir-akhir ini." Shally mengedarkan pandangannya.


"Baik Nona, ada lagi yang Nona butuhkan?"


Shally tampak berfikir sejenak, "Ehm, belikan banyak perlengkapan untuk laki-laki itu. Siapkan masker dan topi juga."


Si pengawal mengangguk dan berjalan menuju garasi.


*


Malam harinya di markas besar, Kamto ketua Brandles Wolfgang mendatangi markas saat putrinya sudah terlelap.


"Bagaimana Raka?"


"Besok kelompok mereka akan terpecah, ini akan memudahkan kita untuk menyerang dan menangkap mereka." Raka menunjuk peta yang tergambar di layar besar, "Tim pengecoh sudah ada di titik penyerangan. Tinggal eksekusi saja!".


"Bagaimana dengan kakakmu hari ini?"


"Seperti biasa, kakak hanya diam saja sambil bermain ponsel."


"Jaga kakakmu besok, ingat pesan ayah."


"Yah?" Raka beralih menatap Kamto dengan wajah yang serius.


"Ayah sama sekali tidak ingin merestui kakak dengan gembong itu?"


"Bukan urusanmu Raka! Selesai kan misi dan bawa kakakmu kembali ke rumah dengan keadaan utuh!"


Kamto berbalik dan meninggalkan Raka yang masih tertegun mendengar perintah ayahnya.


Cih! Bilang saja jika ayah khawatir dengan kakak. Asal ayah tahu, kakak akan semakin liar jika ayah tak merestui mereka.


*


Sabar bentar lagi mereka ketemu, jangan lupa siapin tissue. ✌️