
Setengah jam Jasmine bersiap,kini ia sudah berada dalam mobil hitam SUV milik ayahnya. Ia memakai dress hitam dan di balut dengan cardigan dengan warna senada. Warna yang amat Jasmine sukai. Lucu sekali ia di antar ayahnya sendiri untuk memeriksakan kehamilan nya. Bahkan laki-laki yang menanamkan benih itu tidak tahu tentang tumbuhnya janin dalam rahimnya.
"Ayah, kenapa ibu tidak ikut?" Sedari tadi pertanyaan itu muncul di pikiran Jasmine namun urung ia katakan. Tak seperti biasanya ibu Ani tak ikut serta mengunjungi nya padahal wanita beranak dua itu akan slalu semangat jika bertemu putri satu-satunya.
"Ibumu...., Akan sedih jika melihatmu seperti tadi." Ayah Kamto sejenak melihat ke arah Jasmine dan kembali menatap jalanan di depannya.
Seperti dugaan Jasmine sebelumnya, jika ibunya akan terpuruk dan bersedih. "Apa ibu juga tahu kalau aku hamil lagi ayah?" Tanya Jasmine yang sedari tadi hanya menatap jalanan di depannya.
"Tentu." Kini mobil SUV hitam itu sudah berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. "Turunlah, tunggu ayah di ruang tunggu. Ayah parkiran mobil dulu." Jasmine turun dari mobil dan memasuki area rumah sakit, nafasnya berhembus pelan. Jika para ibu hamil di temani suaminya dan berwajah sumringah. Tapi tidak dengan Jasmine, ia hanya memasang wajah datar sedari tadi.
Janda muda cantik itu kini sudah duduk tepat di bangku pendaftaran. Menunjukkan buku berwarna pink masih dengan nama Dika Andrea Bhagawanta sebagai suaminya.
"Ibu Jasmine Adriana?" Panggil petugas pendaftaran.
"Ya, saya." Jasmine berdiri menghampiri meja pendaftaran.
"Silahkan ini nomer antrian anda dan mohon menunggu di depan ruang obgyn."
"Terimakasih." Jasmine tersenyum dan berbalik menuju ruang obgyn yang sudah di beri tahu sebelumnya oleh penjaga pendaftaran. Tapi ia masih enggan berlalu sebelum melihat ayahnya masuk ke area rumah sakit dan menemani.
"Sudah daftar? Ayo ayah temani." Tiba-tiba ayah datang dari arah belakang Jasmine membawa kantung plastik putih.
"Ayah dari mana? Lama." Wajah Jasmine pura-pura cemberut.
"Kantin, ayah lapar. Kau pasti juga lapar. Ayah belikan susu kotak coklat untukmu dan kue." Ayah kamto menunjukkan barang bawaannya. Dan seketika membuat wajah Jasmine bersemu merah.
"Bukannya menangis membutuhkan banyak asupan tenaga." Ledek ayah Kamto sambil menahan tawa melihat ekspresi putrinya yang menggerutu kesal.
"Ayah.....,"
"Hahaha, lihatlah mukamu. Sungguh ayah rindu meledekmu dan Raka."
"Hahaha, ayo ayah. Jasmine sudah mendaftar dan di suruh menunggu di ruang obgyn."
"Baiklah ayo." Ayah Kamto dan Jasmine berjalan beriringan menuju ruang obgyn, tawa Jasmine tak henti-hentinya saat mendengar ocehan ayahnya. Namun, sejurus dengan itu Jasmine terdiam saat melihat orang yang amat ia kenali sedang duduk berdua. Duduk di tempat yang Jasmine tuju.
"Yah....," Sorot mata Jasmine mulai meredup, dia tak sanggup lagi melihat arah dua orang yang duduk berdampingan.
"Jangan perlihatkan dirimu, bersikaplah biasa saja." Ayah Kamto tahu arah mata anaknya, pria paru baya itu menggandeng putrinya untuk duduk berjarak tiga meter dari kedua orang yang amat dia kenali.
"Jika perlu kau menembaknya, kau kan punya pistol sendiri." Cebik ayah Kamto.
Mulut Jasmine menahan tawa, benar juga. Dia sudah memiliki lisensi resmi surat menembak dari kepolisian. Bisa saja jika Jasmine tidak suka ia bisa menembak orang itu. Tapi tak pernah ia lakukan, ia hanya akan menembak jika ada misi tertentu. Namun selama sembilan bulan ini ia harus meliburkan diri.
"Ayah jaga bicaramu." Jasmine menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, mengkode ayahnya untuk diam.
"Ibu Jasmine Adriana." Berkali-kali namanya di panggil namun Jasmine masih terdiam di sudutnya.
"Jangan melamun, sudah sana masuk." Kamto menepuk bahu Jasmine, membuyarkan lamunan anaknya,dengan gelagapan Jasmine berdiri.
"Ayah....,! Kau mengagetkan ku." Jasmine berdiri dan melototkan matanya ke arah ayahnya.
"Hahaha, kau makan sambil melamun. Ayah tunggu disini, kau masuk sendiri." Ayah Kamto tergelak melihat tingkah konyol anaknya.
"Sungguh ayah membuatku malu." Jasmine menaruh sisa kuenya, berbalik dan berlalu dengan langkah kesalnya. Matanya bertemu dengan mata yang sedari tadi mengawasinya. Mata penuh tanda tanya.
Jasmine memasuki ruang obgyn, dokter kandungan itu tersenyum dan menyuruh Jasmine berbaring di ranjang pasien. Tangannya memeriksa denyut nadi Jasmine, memeriksa tekanan darah dan berakhir pada USG. Benda bundar kecil itu berputar-putar di area perut Jasmine, sensasi dingin ia rasakan.
"Bagus, detak jantungnya juga bagus.Usianya kini 6 Minggu. Nanti saya kasih resep vitamin." Dokter menjelaskan dengan gamblang kondisi kesehatan janin di perutnya. Jasmine hanya bisa tersenyum dan mengiyakan perkataan dokter yang sudah cukup berumur dan banyak pengalaman.
"Terimakasih dok, saya permisi." Jasmine keluar dari ruangan itu sambil tersenyum. Hingga nama pasien selanjutnya membuat Jasmine menghela nafas panjang.
"Ibu Amanda Soedarjo, silahkan masuk." Ucap dokter itu melalui mikrofon kecil.
Wanita itu berdiri dan di ikuti laki-laki di belakang nya. Laki-laki yang sedari tadi menatap Jasmine penuh tanda tanya.
Mereka bertiga saling berpapasan tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Bagaimana?" Tanya ayah Kamto saat putrinya sudah duduk di sebelahnya.
"all is better dad." jawab Jasmine singkat.
"Yasudah ayo pulang, atau kau ingin jalan-jalan dulu."
"Pulang ke rumah ibu ya ayah, aku kangen sama ibu. Di rumah sepi." Jasmine berusaha tersenyum menepis semua rasa pedih di lubuk hatinya.
"Dengan senang hati, ibu akan memasakkan makanan kesukaan mu." Kini ayah-anak itu sudah berjalan beriringan menuju parkiran dan pulang ke rumah yang amat Jasmine rindukan. Rumah yang pernah menjadi saksi bisu kehadiran Dika pada kehidupan nya.
"Harusnya kau menemaniku." batin Jasmine.
Mata dokter itu membulat seketika saat melihat nama yang tertulis di buku pink itu sama dengan nama suami pasien sebelum nya. Matanya nampak menatap wajah laki-laki itu dan menyunggingkan senyuman. "Dika Andrea Bhagawanta." si pemilik dua hati.
*
Mohon dukungannya ya reader, jangan lupa like dan vote. Komentar juga boleh biar ramai. Terimakasih ^_^