
Dua Minggu berlalu dengan cepatnya. Jasmine dan Dika sudah berada di rutan BIN bersiap menjemput kepulangan Bryan dan keluarganya.
Satu bis lagi untuk membawa bodyguard Bryan yang sudah berakhir masa tahanannya.
Tak terasa semua pulang dan kembali pada orang-orang yang mereka sayangi.
Semua sudah menebus kesalahannya, hanya tinggal memulai hidup baru. Hidup sehat tanpa harus bersentuhan dengan barang haram lagi.
Mereka akan di serahkan pihak Brandles Wolfgang selepas melakukan konferensi pers lagi.
Jasmine dan Dika menunggu di bangku yang sama. Sampai konfrensi pres selesai, raut wajah Jasmine menunjuk wajah yang cemas.
Kecemasan yang ia tunjukkan jelas-jelas membuat Dika mendengus kesal.
"Apa begitu caramu menyambutnya? Senyum dan hapus wajahmu yang gelisah itu."
Dika memberi satu permen coklat yang ia ambil dari kantong jaketnya.
"Makanlah, coklat akan membuat mu tenang."
Jasmine membolak-balikkan bungkus permen, "Belum kadaluarsa kan?"
"Itu kiriman dari Singapura, Asmira memesan satu kilo coklat. Aku khawatir dia semakin dewasa semakin aneh-aneh yang dia pesan melalui online. Aku takut dia akan kelebihan berat badan." Keluh Dika menyadari bahwa putrinya yang semakin remaja sudah pintar memilih barang-barang yang ia di inginkan. Bahkan tanpa meminta izin dulu dengannya.
"Biarkan saja, semakin kamu kekang semakin dia tidak mau di atur. Kamu hanya perlu mengawasi saja barang-barang apa yang dia beli. Dan satu lagi, jangan berikan uang lebih."
"Bagaimana dengan Prince? Apa dia masih sama?"
"Kacau. Tapi sudahlah, dia masih bisa aku atur."
Dika mengangguk, hingga tibalah Bryan dan keluarganya di depan mereka.
Jasmine berdiri, terdiam sejenak. Pandangannya tertuju pada Bryan yang tersenyum. Berdiri melihatnya dari atas kebawah.
Sedangkan Husein laki-laki yang benar-benar masih perjaka ini hanya duduk sambil melihat drama di depannya. Orangtua Bryan bukan lagi, senyuman terus mengembangkan dari semua sudut bibirnya.
Anthony merangkul bahu istrinya, sedangkan Rose Mardiani memeluk pinggang suaminya.
Mereka melihat putranya kembali pada wanita yang tak henti-hentinya membuat mereka terkagum-kagum.
Jasmine dan Bryan masih tak bergeming dari tempatnya. Hingga Dika menarik tangan Jasmine dan menyeretnya mendekati Bryan.
Dika menarik tangan Bryan dan menyatukannya dengan tangan Jasmine.
"Kembalilah dan buat kami cemburu dengan kemesraan kalian berdua. Berdamailah lagi dalam ikatan yang lebih sakral. Aku akan bahagia jika wanita yang disampingku juga bahagia. Sudah saatnya wanita ini merasakan bahagia yang sesungguhnya."
Dika merangkul kedua bahu orang-orang disampingnya. Mereka saling membalas pelukan satu sama lain.
Tak terasa, tangis haru menghiasi wajah mereka bertiga. Mereka bertiga hanyut pada situasi yang mengharu biru.
Hingga Husein yang acuh akhirnya ikut berpelukan dengan mereka. Begitu juga dengan orang tua Bryan. Semua hanyut dalam suasana.
"Katakan kapan kalian akan menikah lagi, biar aku siap kan semuanya."
Dika memecah keheningan dan perlahan pelukan itu mulai merenggang.
"Dik, biarkan dia meminta restu pada ayah dulu. Aku tidak mau jadi anak durhaka." Jelas Jasmine yang membuat Bryan mengangguk.
"Okelah kalau begitu, jadi kita langsung pulang ke rumah ayah." Dika berjalan mendahului mereka. Tangannya sibuk bermain ponsel entah apa yang ia lakukan.
Kini tinggallah Jasmine dan Bryan di barisan paling belakang.
Jasmine tampak malu-malu, saat Bryan menggenggam tangannya dengan erat.
Mereka berjalan layaknya sepasang kekasih yang baru pertama kali jadian. Canggung dan menjaga jarak.
"Cieeee, malu-malu cieeee."
Botak merangkul bahu Bryan dan Jasmine bersama. Ia berdiri tepat di tengah-tengah antara jarak Jasmine dan Bryan.
"Habis ini kita mau tinggal dimana tuan, aku masih jadi ajudan kalian berdua kan?"
Ocehan botak yang terlihat tambah tambun ini membuat Jasmine menepuk jidatnya. Ia lupa memikirkan nasib para bodyguard Bryan.
"Pulanglah ke rumah istri-istri mu." Jawab Bryan tanpa menoleh ke arah botak. Ia terus menatap Jasmine yang tampak malu-malu menampakkan senyumnya.
"Aku malu tuan, aku pulang tanpa membawa uang." Jelas Botak dengan nada mengiba.
"Asal bukan hotel prodeo. Kami mau!!!!" Sorakan riang gembira.
Berakhirlah siang ini dengan pisahnya Bodyguard dan Bryan di perempatan jalan.
Jasmine membawa Bryan dan keluarganya menuju rumah orangtuanya. Sesampainya disana, sambutan luar biasa yang dihadiri semua keluarga Dika dan Adelle. Mereka turut bersuka cita atas pulangnya satu keluarga yang sudah membuat keluarga mereka pontang-panting memikirkan keluarga lainnya.
Bagi mereka kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang dirasakan semua anggota keluarga. Tidak ada pengecualian sama sekali.
Ani dan Kamto menyambut kedatangan calon besan mereka dengan baik.
Mereka disebut layaknya tamu penting yang sudah lama sekali mereka nantikan.
Mata Rose Mardiani berbinar-binar, ia tak menyangka jika keluarganya akan diterima dengan mudahnya. Bahkan mereka sama sekali tak menyinggung perihal tentang kehidupan kelam keluarga mereka.
Hanya satu hal dari banyaknya perihal lainnya. Yang tak bukan adalah kebahagiaan seorang Jasmine Adriana.
"Sepertinya Opa harus bikin rumah yang lebih besar lagi. Keluarga Opa tambah banyak."
Asmira angkat bicara sambil membawa satu kardus berukuran besar. Ia menaruhnya di depan Bryan yang duduk bersimpuh sembari tersenyum menikmati hidupnya yang lebih berarti.
"Uncle jangan mencuri sendal lagi di masjid, nanti mommy sedih kalau uncle harus di penjara lagi." Bryan yang mendengar suara gadis remaja dengan mulut yang mengunyah permen karet itu mengerenyitkan dahinya. Ia cukup bingung harus mencerna dari mana asal muasal "mencuri sendal"
Dika yang duduk di sebelah Amanda akhirnya menjewer telinga Asmira. "Buang permen karetmu jika berbicara dengan orang dewasa!"
Mata Dika menajam, pergaulan sehari-hari disekolah internasional membuat Asmira kehilangan sopan santunnya.
Sedangkan Jasmine hanya mengangguk, menyuruh Asmira untuk mematuhi ayahnya.
"Oke oke. Aku buang." Asmira mengangguk sambil berjalan keluar rumah.
Acara ramah tamah antar keluarga berlangsung. Tiga generasi yang terbagi menjadi tiga tempat membicarakan banyak hal yang berbeda-beda.
Anak-anak yang sibuk bermain di ruang TV.
Para Opa dan Oma yang sibuk membicarakan politik dan hukum.
Raka dengan Adelle yang duduk berdampingan dan bermain game.
Dika dan Amanda yang saling bergelayut di atas sofa.
Bryan dan Jasmine yang masih malu-malu kucing.
Kini tinggallah Husein yang menyendiri.
Apa menikah seasik ini, bersama berbagi cerita. Saling membalas kasih sayang, saling melengkapi. Baiklah mungkin aku harus segera menggunakan pusaka ku. Mencari kekasih baru.
Husein melamun dan tersenyum-senyum. Semua orang menyadarinya, hingga Raka dan Jasmine yang usil itu akhirnya menyemprotkan Husein dengan parfum ruangan.
"Ha-ha-ha, makanya cari kekasih. Biar gak kesepian. Kasian amat benih perjakamu. Tidak berguna." Oceh Jasmine.
Dika menimpali, "Hey jangan salah, kelapa semakin tua semakin kental santannya."
Semua terkekeh dengan maksud Dika, hanya Husein yang belum memahami apa maksud perkataan Dika tentang kelapa tua.
Semakin malam tawa di rumah Jayantaka semakin menjadi-jadi, itu tak lain dan tak bukan dari orang-orang yang terus menggoda Husein dengan sebutan-sebutan yang tak ia mengerti.
"Aku polos aku tak mengerti apa-apa."
Jasmine terkekeh. "Astaga kakakmu sungguh lucu sekali Bry."
Jasmine memegang perutnya yang nyaris kram akibat kebanyakan tertawa.
"Sudah-sudah, perutku sakit sekali." Ucapnya sambil ngos-ngosan.
Akhirnya aku bisa melihat mu tertawa dengan lepas. Aku yakin, tugasku benar-benar selesai.
Dika mengeratkan pelukannya pada Amanda, "Sebentar lagi janjiku aku penuhi. Terimakasih sudah sabar selama ini. Terimakasih sudah mendukungku tanpa pernah menjadikan ku laki-laki yang bersalah. Terimakasih sudah menjadi istri yang setia." Dika mengecup pipi Amanda, bersamaan dengan itu Jasmine, Raka, Adelle, dan Bryan menghujani Dika dan Amanda dengan bantal sofa.
"Hargailah jomblo!"
*
Ea ea ea.. Bentar lagi di penghujung part ending..