
Setelah kepulangan Bryan dan keluarganya, mereka masih harus menjalani tahanan di rutan BIN selama satu bulan.
Semua gerak-gerik mereka akan di pantau selama setahun kedepan. Bahkan tubuh mereka juga di masukan cip gps untuk mempermudah pelacakan dan semua pergerakan.
Satu syarat lagi yang harus Bryan lakukan setelah resmi keluar dari penjara. Menikahi putri dari ketua Brandles Wolfgang, sebagai pengikat dan pengawas keluarga Nicolas.
Semua itu di lakukan semata-mata, keterlibatan Kamto Jayantaka untuk membuat putrinya bahagia. Syarat itu hanya sebagai embel-embel untuk menyatukan 2 orang yang sempat terpisah.
Kamto mendekati Jasmine yang menunduk tanpa mau melihatnya.
Di ruang keluarga Jayantaka, semua keluarga tampak berkumpul setelah kejadian beberapa tahun lalu yang cukup memegang.
Jasmine yang memilih pergi dari rumah dan berseteru dengan ayahnya. Kini keangkuhannya luruh di depan kaki ayahnya.
"Maafkan jasmine yang memilih jalan sendiri tanpa mau meminta bantuan ayah. Maafkan jasmine yang di butakan oleh cinta. Maafkan jasmine yang tak menghormati ayah."
Jasmine duduk bersimpuh didepan kaki ayahnya. Suaranya gemetar menahan tangis, takut sekaligus kerinduan. Ayahnya yang amat menentang hubungannya dengan pengedar narkoba akhirnya memilih jalan lain untuk membantu Bryan keluar dari penjara.
Bukannya ini sangat berbanding terbalik dengan tujuan utama visi dan misi kelompok Brandles Wolfgang, diam-diam Kamto Jayantaka menaruh prihatin dengan kondisi percintaan putrinya.
Jika memang mengeluarkan laki-laki itu adalah jalan terbaik kebahagiaan putrinya. Ia rela bersusah-susah melakukan penelitian yang bukan dari keahliannya.
Berbulan-bulan ia mencari tim ahli yang Bryan sebutkan. Hingga akhirnya ia mendapatkan orang-orang itu yang bersembunyi di pelosok kota.
Kamto harus bersusuh payah membujuk mereka untuk ikut ke kota, menjalani misi untuk menyelamatkan mereka yang ada di penjara.
Usahanya berhasil dengan syarat yang harus Kamto bayar. Merahasiakan identitas dan lokasi mereka meneliti.
"Sudikah ayah memaafkan ku. Memaafkan keegoisanku. Sudikah ayah menjadikanku sebagai anak lagi. Aku bukan wanita muda lagi ayah, maafkanlah anakmu yang tidak tahu diri ini." Ucap Jasmine dengan mengiba, menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Mengatupkan kedua tangannya memohon ampun.
Kamto masih tak angkat bicara, atau sedikit pun bergeming dari tempatnya. Ia hanya melihat putrinya yang mengiba memohon ampunan dosa.
"Ayah maafkan aku, tulang lutut ku sudah tak mampu lagi menahan beban hidupku." Jasmine protes sambil mengelus-elus lututnya yang tak muda lagi. Sedangkan Ani hanya menggelengkan kepalanya dengan drama anak dan suaminya. Ia sendiri paham dengan sifat bapak-anak ini, mereka memiliki sifat yang sama.
"Sudah tahu syaratnya? Syarat yang harus kau lakukan setelah dia keluar dari penjara?" Tanya Kamto masih menunjukkan wajahnya yang marah.
Jasmine mengangguk, "Tapi bagaimana jika dia tidak mau menikah denganku ayah. Aku janda dua kali, umurku sudah 40 tahun. Aku sudah tua, lihatlah kerutan di sebelah mataku ini." Jasmine menunjuk kerutan di matanya, sambil bibirnya terus meracau menceritakan ketakutannya dan keluh kesahnya.
"Aku juga tidak bisa memberikannya anak. Apa dia nanti mau dengan ku." Keluh Jasmine lagi sebelum Kamto menganggat tubuh Jasmine ke pangkuannya.
"Tak penting kamu sudah tua atau sudah beruban. Jika dia tidak mau menikahi mu, ayah nanti yang akan masukan dia ke penjara lagi." Kamto memeluk tubuh putrinya, "Ayah merindukanmu anak nakal, ayah tidak suka kau berdekatan dengan Dika. Dia sudah memiliki istri, kamu tidak mau kan istrinya merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan dulu. Berhentilah bersikap jika Dika adalah satu-satunya laki-laki yang melindungi mu."
Jasmine mengangguk, "Tapi Dika baik."
"Apa ayah dan Raka tidak baik, bahkan saat Adelle melahirkan kamu juga tak menjenguknya. 5 tahun kau seperti anak yang tidak tahu diri. Apa kau juga menganggap ayah dan ibu sudah tidak ada. Apa hanya ada Dika isi kepala mu?"
Jari telunjuk Kamto sudah menunjuk-nunjuk dahi Jasmine. Jasmine kebingungan, selama 5 tahun dia hanya wira-wiri ke kantor, rumah, lapas, rumah Dika. Tanpa pernah sekalipun pulang ke rumah.
"Jadi aku anak durhaka?"
Raka yang melihat kakaknya yang dipangku oleh ayahnya akhirnya sudah tidak tahan lagi untuk mengejak kakaknya.
"Ada bayi besar. Bayi besar tidak tahu diri!"
Jasmine menoleh sambil menatap anak kecil yang Raka gendong.
"Siapa dia? Apa dia keponakanku yang menyebalkan?" Jasmine berlari kecil menuju ke arah Raka. Menoel-noel pipi anak kecil yang berkalung nama "Arjuna"
"Pintar juga kamu, udah jadi bayi aja benihmu." Jasmine cekikikan.
"Benih super perjaka, kerenkan anakku. Gak seperti Prince anakmu dan Dika. Ngeyel!"
"Dia di kamar, bagaimana kalau dia mendengar ocehan mu?" Jasmine menyentil bibir Raka.
Raka yang mengaduh membuat Arjuna menangis, "Aunty jahat. Papa jadi nangis."
Protes Arjuna kecil yang tidak paham jika papanya dan Jasmine hanya bercanda.
Raka semakin mengaduh, "Udah kak, udah. Sakit beneran!"
Arjuna semakin menjadi-jadi, tangisnya semakin memecah isi ruangan. Raka kebingungan untuk menenangkannya putranya, sedangkan Adelle sedang pergi ke salon untuk memotong rambut dan kukunya.
"Arjuna, ikut Aunty cantik ke mall yuk. Jalan-jalan, beli mainan yang banyak. Mau?" Bujuk Jasmine sambil merentangkan tangannya.
Arjuna seperti terperangkap pada rayuan Jasmine. Anak itu meronta-ronta pada Raka untuk di lepaskan dari gendongannya.
"Papa, aku mau main dengan Aunty. Papa jangan sedih aku tinggal sebentar." Pamitnya pada Raka. Sedangkan Raka hanya mengangguk, "Tidak nakal dengan Aunty, aunty lebih galak dari mama. Paham?"
Arjun mengangguk dan merangkulnya tangannya di leher Jasmine.
"Raka? Dia benar anakmu? Kenapa manis sekali. Tukeran anak yuk?"
Tanpa di duga, Prince sudah berdiri di ambang pintu. Mendengar Mommynya ingin menukar dirinya dengan Arjuna membuatnya berbinar air mata.
"Mommy sudah tidak sayang aku lagi, mommy jahat. Aku mau pulang kerumah ayah." Ocehannya sambil menjejalkan kakinya ke lantai. Menggeretakan kakinya berkali-kali dengan bibir yang di manyunkan.
"Gemes, mommy gemes sekali melihatmu seperti ini. Mommy kira Prince tidak sayang dengan mommy. Karena setiap mommy beri nasihat Prince tidak pernah mendengarnya dan lebih memilih mengunci diri ke dalam kamar."
Jasmine melangkahkan kakinya mendekati Prince, sambil tetap mengendong Arjuna.
"Mommy jangan bicara seperti itu, Prince tampan seperti ayah dan tidak mengemaskan."
Jasmine manggut-manggut paham, "Jadi tidak gemas ya, yasudah Arjuna saja yang terlihat gemas. Nanti mommy mau membelikan Juna banyak mainan dan baju-baju yang mengemaskan." Goda Jasmine pada putranya.
Bibir Prince semakin mengerucut, "Baik, baik. Kali ini mommy bisa menganggapku mengemaskan. Hanya hari ini saja!"
Jasmine terkekeh geli mendengar pengakuan dari Prince.
"Oke oke, hanya hari ini kamu mengemaskan. Yang itu artinya, kiss mommy. Semenjak sudah SD kamu tidak pernah mencium mommy."
Jasmine menurunkan Arjuna dari gendongan, ia menyuruh Raka untuk mengganti baju Arjuna dengan baju berpergian. Sedangkan Prince hanya berdiri dengan raut wajah yang malu-malu. Tak bergeming dari tempatnya.
"Ayo lakukan." Jasmine menempelkan jari telunjuk ke kedua pipinya.
"Mommy, jangan seperti itu." Wajah Prince memerah.
"Loh loh, kenapa wajahmu seperti memakai blush on. Ada apa?" Tanya Jasmine terheran-heran. Pasalnya baru kali ini wajah Prince menunjukkan gelagat malu-malu.
"Nanti mommy mencuri ciuman pertama ku." Jelasnya lirih namun suara Prince terdengar hingga telinga Jasmine.
Jasmine memegang jantungnya, mulutnya ternganga tak percaya dengan alasan kenapa sejak Prince masuk SD ia jarang sekali mau dicium olehnya.
"Mommy adalah wanita pertama di hidupmu, mommy bahkan sudah mencuri ciumanmu sejak kamu lahir. Prince paham? Sini peluk mommy." Jasmine menarik tubuh Prince ke dalam pelukannya.
"Berhentilah berfikir terlalu dewasa, kamu masih anak kecil. Jika kamu masih seperti ini terus, mommy akan masukan kamu ke panti asuhan. Biar kamu paham, banyak anak yang membutuhkan kasih sayang dari orangtua yang tidak mereka dapatkan!"
Mata prince semakin berkaca-kaca, ia membalas pelukan hangat ibunya yang sebenarnya ia rindukan.
"Maaf mommy, maafkan Prince."
"Jangan cengeng! Bersiaplah kita pergi ke mall ayah. Kamu mau bertemu dengan ayahkan?"
Prince mengangguk, tangan kecilnya mengusap air matanya.
"Kenapa mommy tidak tinggal dengan ayah? Kenapa aku dan Jeannice memanggil ayah dengan sebutan yang berbeda?"
"Karena besok mommy akan tinggal dengan Daddy. Jadi mommy tidak mungkin tinggal dengan Ayah."
"Kenapa?" Prince masih memberi pertanyaan yang cukup kritis menurut Jasmine. Bocah kecil ini pasti belum paham jika orangtuanya sudah bercerai sejak lama. Tapi kasih sayang yang diberikan oleh Dika dan Jasmine tetaplah sama. Sesuatu hal yang tetap utuh.
"Aunty aku siap, ayo ke mall." Ajak Arjuna yang sudah mandi dan memakai baju yang rapi.
"Baik." Jasmine mengangguk dan menggandeng Prince dan Arjuna secara bersamaan.
Akhirnya sore itu di hiasan hati yang gembira. Prince dan Arjuna bersenang-senang. Sedangkan Jasmine larut dalam pikirannya sendiri. Paling tidak waktu dua Minggu adalah waktu yang singkat untuknya bertemu dengan Bryan lagi.