Kiss The Rain

Kiss The Rain
Cieee (2)


Setelah Jasmine memasuki ruangan khusus yang di peruntukan untuk orang-orang penting.


Jasmine mengambil sebuah rantang berwarna pink dari dalam tas totebag nya dan menaruhnya di atas meja. Ia menatap sebuah pigura kaca dengan gambar abstrak. Tak bergeming dari tempatnya, ia hanya terus berdiri menyilangkan kedua tangannya.


Pintupun terbuka, Jasmine sama sekali tak menoleh. Ia terus menatap pigura itu dan seakan hanyut ke dalamnya.


"Lepaskan borgolnya!"


"Ta-aapi. Ini akan menyalahi prosedur." Sipir itu berbicara gagap.


"Lepaskan dan tutup pintunya!" Titah Jasmine dengan nada tinggi.


"Ba-aik." Sipir itu dengan cepat melepas borgol tangan Bryan.


"Waktu kalian hanya satu jam. Patuhi peraturan." Sipir penjara menutup pintu dan menguncinya. Kini tinggallah mereka berdua hanya dalam satu ruangan.


Bryan hanya duduk menatap Jasmine yang memunggunginya.


Tak ada suara, hanya ada hembusan nafas yang saling beradu.


"Katakan padaku alasannya, alasan kenapa kau menceraikannya ku. Katakan langsung dari lisanmu." Jasmine berdiri sama sekali tak berbalik, beradu tatapan dengan Bryan.


"Katakan, jika kau sudah tidak mencintaiku. Katakan semua!"


Bryan cukup tercengang dengan pertanyaan Jasmine. Karena sesuatu yang teramat nyeri juga bersarang dari dalam hatinya. Jika cinta pertama dan istri pertamanya harus kandas dengan masalah yang pelik untuk di hadapi. Jika cintanya harus terpisah dengan jeruji besi.


Bryan tak membuka suaranya. Ia masih diam, melihat tubuh mantan istrinya yang terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.


Hingga waktu terus berputar, selama 15 menit hanya di habiskan dengan kebisuan.


"Baiklah, jika kau tidak mau menjawab alasanmu menceraikan ku. Aku pastikan jika kau masih mencintaiku."


Jasmine berbalik, "Habiskan semua yang ada di dalam rantang itu, Sekarang!"


Jasmine duduk di depan Bryan, terhalang sebuah meja. Dengan hati-hati Jasmine membuka rantang pink itu. Menjajarkan berbagai jenis makanan kesukaan Bryan. Ya, tadi di rumah Dika, Jasmine menyempatkan diri untuk memasak terlebih dahulu.


Bryan sama sekali tak membuka suara. Ia hanya terus menatap Jasmine yang sedikit berubah.


"Habiskan!" Jasmine menyodorkan sendok ke tangan Bryan. Bryan menggenggam sebentar tangan Jasmine, tapi janda itu dengan cepat menariknya.


"Bukan muhrim."


Bryan tersenyum kecil, perlahan dia mulai menyantap makanan dari Jasmine. Sesekali matanya menatap Jasmine.


"Habiskan!"


Bryan mengangguk. Hingga pintu itu terbuka.


Terlihat Dika yang mengendong Prince dan Asmira yang memegang ujung flannel Dika.


Bryan cukup terkejut dengan kedatangan satu keluarga yang terlihat harmonis. Hingga Prince meminta turun dari gendongan Dika, berlari kecil ke arah Bryan, bibir kecilnya menyebut-nyebut Bryan dengan sebutan "Daddy."


"Daddy, mommy." Jasmine mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Bryan bingung harus berbuat apa, karena anak kecil ini sudah duduk di pangkuan Bryan tanpa di minta ataupun ia di suruh.


Dika yang menyadari kecanggungan diantara mereka, akhirnya angkat bicara. "Anggap saja itu sebagai training, sebelum kau benar-benar menjadi orang tua. Anggap anak ku seperti putramu sendiri. Karena anak-anak ku sudah menganggap mu, Daddy." Mata Bryan membulat tidak percaya, ia masih bingung dengan sikap Jasmine, Dika dan kedua anaknya.


Asmira menarik ujung kemeja Dika, meminta ayahnya untuk sedikit menunduk menyertakan tinggi badan.


"Apa Mira?" Tanya Dika.


"Uncle Bry, dia yang memberi Mira banyak boneka." Bisik Asmira di telinga Dika.


Dika mengangguk. "Mainlah dengan uncle Bry."


"Tadi mommy masak ini untuk Uncle. Mira tidak boleh minta, katanya spesial dan di buat dengan cinta. Kalau Mira makan, nanti Mira bisa jatuh cinta." Ucap Asmira dengan polosnya.


Mata Jasmine mendelik, bocah kecil ini memang tidak pandai berbohong. Sedangkan Dika menahan tawa dengan sikap putrinya yang membocorkan rahasia di balik semua masakan yang Jasmine buat.


Bryan masih kebingungan dengan sikap satu keluarga ini, sama sekali tidak ada kebencian atau mata yang siap menerkam. Hanya ada satu keluarga yang saling melengkapi dengan cinta yang tumbuh tanpa di minta atau minta di balas.


Bryan yang awalnya terlihat kaku dengan cara ia memangku Prince akhirnya perlahan tangannya mulai memeluknya. Menjawab semua pertanyaan Asmira atau menjawab pertanyaan Prince yang tak ia pahami.


"Dik, ajari adikmu cara mengasuh anak. Aku keluar dulu." Jasmine menepuk bahu Dika, berjalan keluar dari ruang khusus tanpa memperdulikan Dika yang mengejeknya.


Kini tinggallah dua pria dewasa yang masih menaruh hati dengan satu wanita.


Dika yang lebih tua 8 tahun dari Bryan akhirnya mengalah, ia membenamkan semua rasa kesal pada Bryan. Karena hanya kesempatan inilah untuk berbicara serius dengannya.


"Jasmine sering mendoktrin Prince untuk menyebut dirimu Daddy. Aku tidak masalah, jika anak-anak ku memiliki dua ayah. Karena mereka juga memiliki dua ibu." Dika menatap Bryan dengan seksama.


"Jika kau masih mencintai Jasmine, Kau ingat pesannya? Teruslah berdoa agar ada keajaiban kau bisa keluar dari disini dengan utuh. Karena wanita keras kepala itu slalu menunggu mu."


Dika mendekati Bryan dan memeluknya, "Jika tidak aku akan menikahinya lagi." Dika tertawa.


Sungguh tawa yang membuat Bryan mendengus sebal.


"Bercanda!" Dika menepuk pundak Bryan dan kembali duduk.


"Ayah, kenapa uncle Bry disini. Kenapa uncle Bry di dalam penjara." Tanya Asmira penasaran.


"Tanya saja sama Uncle Bry." Dika memilih bermain ponsel, diam-diam mengambil potret Prince dan Bryan.


"Aku tidak berani ayah, kata mommy tidak sopan." Asmira berbicara dengan berbisik.


"Uncle Bry mencuri sendal di masjid. Jadi di penjara." Jelas Dika asal, karena tidak mungkin dia menjawab jujur.


"Uncle Bry bisa membelikan ku banyak boneka. Tapi kenapa tidak bisa membeli sendal sendiri?" Pertanyaan polos kembali keluar dari bibir mungil Asmira.


"Karena, uang uncle Bry habis untuk membelikan mu boneka. Jadi dia mencuri sendal di masjid." Dika menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Menyuruh Bryan untuk diam saja, tanpa mencampuri urusan Dia dan Asmira.


"Jadi uncle Bry di penjara gara-gara aku. Ayah....," Air mata Asmira sudah menggenang di pelupuk matanya. "Ayah, keluar kan uncle Bry dari sini. Nanti kita belikan dia banyak sandal di mall." Rengek Asmira, ia benar-benar termakan dengan hasutan Dika.


"Biarkan saja uncle Bry disini, biar uncle Bry di hukum dulu sama pak polisi." Jelas Dika menahan tawanya.


Sedangkan Bryan yang mendengar semua pembicaraan Dika dan Asmira hanya bisa menggeleng. Ia hanya ingin Jasmine bahagia, dengan keluarganya lagi. Tapi nyatanya, Dika dengan tangan terbuka menerimanya sebagai anggota keluarga nya.


Waktu satu jam berakhir. Prince merengek,


masih ingin bersama Bryan, sedangkan Jasmine entah dimana keberadaan. Meskipun ia hanya ingin menuntaskan misi rindunya, nyatanya ia masih punya misi terselubung di balik kedatangannya.


"Prince. Kita harus pulang, ayah mau bekerja."


"Daddy, Daddy come back home."


"Daddy, Daddy come back home."


Bryan mengangguk, tak terasa matanya berair tapi tak menetes. Bryan mengendong Prince, menjauh dari Dika. Entah apa yang Bryan lakukan dengan Prince. Tapi selang 15 menit, Prince sudah kembali ceria.


"Semoga ada keajaiban untukmu dan keluarga mu, Bry. Terimakasih sudah menerima anak-anak ku. Jika ada waktu luang, kami akan kesini lagi." Dika mengambil alih Prince, menepuk bahu Bryan dan berlaku meninggalkan nya. Asmira yang merasa bersalah menangis sejadi-jadinya saat berpisah dengan uncle Bry. Ia terus meminta maaf dan berjanji untuk membelikan banyak sendal baru nanti jika Bryan keluar dari penjara.


*


ehmmmm, kira-kira ada keajaiban gak ya? Next.


Di tunggu ya.🤭