
"Bersiaplah.... Besok kau akan tahu." Bryan berucap sebelum dirinya melangkah dan menghilang di balik pintu.
Lebih dari itu,isi kepalanya Jasmine menerka-nerka apa yang akan terjadi besok. Jasmine semakin gelisah membayangkan apa yang akan di lakukan dan di pikiran pria muda bernama Bryan. Baginya besok adalah hari yang panjang,bisa besok lusa atau besok-besok dan besoknya lagi. Akhirnya janda itu memilih tersenyum kecut dan membaringkan tubuhnya lagi meringkuk seperti biasa.
-----
"Bangun!" Hardiknya,Suara besar menggema di seluruh ruangan yang di tempati Jasmine sekarang. Hingga membuat wanita yang masih terlelap itu bangun dengan terkaget-kaget hingga kepalanya membentur dinding yang diam membisu tak bersalah.
"Awwww..." Rasanya kepala Jasmine berputar-putar dan sorot matanya menjadi buram.. "Sakit,hah." Jasmine mengusap-usap dahinya yang mungkin sekarang sedang on the way menjadi bengkak dan memar. "Apa sih?" Lanjutnya sambil terduyun-duyun mengangkat tubuhnya sendiri dan terduduk di tepi dipan.
"Ikut.." Pekiknya. "Mau kemana sepagi ini botak. Aku masih ngantuk." Jawab Jasmine dengan mata yang mengerejap menyesuaikan cahaya lampu.
Salah satu bodyguard berkepala plontos itu masih berdiri dengan tegapnya,tak lupa aksesoris yang menambah kesan seram dan sangar tak terbantahkan."Tuan muda menunggu,cepatlah." Perintah botak lagi tegas dan keras.
"Tidak mau,suruh saja tuan mudamu kemari. Aku belum mandi belum sarapan sudah disuruh-suruh." Bantah Jasmine tak peduli. Hingga akhirnya botak itu menyeret lengan Jasmine tanpa ampun.
"Lepasin botak,aku bisa jalan sendiri." Tubuh Jasmine meronta-ronta. "Menurutlah,maka aku tak perlu bersusah payah menyeretmu." botak melepas lengan Jasmine dan membuat tubuh itu jatuh terjerembab ke lantai yang dingin.
Jasmine mengikuti langkah botak, seperti anak bebek yang takut kehilangan induknya. Melewati sebuah taman kecil dengan banyaknya pohon hias yang hijau terawat, melewati persegi-persegi batu yang tertata rapi. Hingga membuat Jasmine melompat-lompat kecil seperti kodok,sungguh hiburan murah rasanya. Hingga matanya menatap sebuah tenda berwarna putih dan kain-kain tipis yang melambai-lambai menari indah di tiup angin. 1 buah meja dan 6 kursi berwarna senada ikut serta tertata rapi di bawah tenda yang terlihat indah. Ditambah lagi dengan hiasan bunga-bunga baby's breath putih yang tertata rapi nan indah seperti tempat untuk melangsungkan acara sakral.
Mata Jasmine terpincing,hingga tak lama dirinya berada di depan pintu bercat warna hitam dengan ukiran-ukiran mahakarya luar biasa,mungkin pemahat kayu ini adalah seseorang yang terlalu banyak mengalir jiwa seni di darahnya. Sungguh eksotis tapi ini hanya sebuah pintu benda mati yang hanya menutup sebuah rahasia dibaliknya.
"Botak,siapa yang mau menikah?" Tanya Jasmine penasaran.
"Kau dan tuan muda." Jawab botak tanpa menoleh ke arah Jasmine,ia masih tetap berjalan maju ke depan memandu arah Jasmine. Dibelakang Jasmine berlari terbirit-birit seraya ingin bersembunyi. Na'as usahanya gagal, tangannya di cekal oleh salah satu babu yang diam-diam mengikuti langkah Jasmine dari belakang. "Ikut saja jangan membantah tuan muda Bryan." Walau tubuhnya lebih kecil dari Jasmine tapi babu itu cukup kuat menyeret Jasmine yang sudah lelah dan tidak berdaya melawan. Rasanya percuma saja melawan dengan cara apapun bersembunyi dimana saja pun pasti juga akan tertangkap.
"Aku tidak mau menikah dengan Bryan." Hardik Jasmine masih sambil meronta-ronta. Namun usahanya pun gagal sia-sia. Bryan yang mendengar keributan di belakang rumahnya pun turun menghampiri bodyguard dan Babunya yang masih sibuk mencekal kedua lengan Jasmine.
"Lepaskan saja,biar aku yang urus." Bryan menarik tangan Jasmine dan membawanya ke dalam rumah. Jasmine yang sudah lelah dan lapar hanya bisa tertunduk lesu. Sungguh morning blues yang menyebalkan.
"Aku tidak mau melihatmu menangis,duduklah." Bryan menghempaskan tubuh Jasmine dengan lembut di atas sofa berwarna hitam warna yang mendominasi ruangan yang kini Jasmine tempati.
"Kau jangan bercanda Bry,aku tak mau ada komitmen dengan seseorang,aku tidak mau ada pernikahan. Aku tidak mau ada lagi kekecewaan. Huu......" Jasmine semakin terisak mengingat apa yang sudah pernah terjadi di dalam rumah tangganya. Dua kali pengkhianatan yang ia rasakan. Benar-benar membuatnya enggan untuk memulai sebuah ikatan yang akan menjeratnya seumur hidup. Entah menjeratnya dalam sebuah kebahagiaan atau kepedihan.
"Jadilah pendamping untuk ku,jangan menolak. Kau ingat kan,aku menyuruh seseorang untuk mengawasi anakmu. Ehm.... Mereka bisa saja melindungi anak-anak mu atau bisa saja mereka juga melukai anakmu dengan mudah." Bryan menunjukkan ponselnya,memperlihatkan sebuah video saat Asmira sedang bermain dengan temannya di sekolah.
"Kau...." Jasmine menatap Bryan. "Tak ada pernikahan yang bahagia tanpa didasari rasa percaya dan cinta. Jika kau melakukan ini karena dendam atau terpaksa kau sama saja membawa dirimu ke jurang derita."
"Kau bisa menjadikan ku tawanan mu,selama yang kau mau Bry. Tapi aku mohon jangan ada ikatan di antara kita." Lanjut Jasmine sambil menurunkan pandangan nya. "Aku tidak mengenalmu apa lagi mencintaimu."
"Aku akan membuatmu mencintaiku dan melupakan mantan suamimu." Seenteng kapas yang bertebaran tertiup angin. Jawaban singkat dan konyol menurut Jasmine.
"Sepertinya kau harus ke psikolog,kau benar-benar gila." Jawab Jasmine.
"Aku akan benar-benar gila jika kau menolak ku." Kini tangan Bryan menggenggam erat tangan Jasmine yang masih terborgol.
"Kumohon jangan Bry,apa yang akan kau dapat dari orang seperti ku. Kau bisa memilih gadis-gadis yang rela jatuh ke pelukanmu tanpa kau minta. Kau bisa mendapatkan segalanya. Tapi bukan aku!"
"Aku tidak mau kau tolak,mandilah dan bersiap. Seseorang akan meriasmu,2 jam lagi aku akan menikahi walau siri."
"Siri?" Jasmine mengernyitkan dahinya. "Ha-ha-ha,kau gila Bry kau gila." Jasmine terus memaki-maki Bryan dengan sebutan gila. "Kau benar-benar akan membuatku menjadi budak sexmu,kau hanya akan semakin membuat hidupku hancur."
"Kau sendiri yang minta,kau tak pernah melakukan sex di luar pernikahan. Makanya aku akan menikahi mu dan kita tak akan berdosa." Bryan oh Bryan,setan apa yang merasukimu. "Terima saja nasibmu atau aku akan menyentuh kedua anak-anak mu." Pekiknya lagi.
'Miang sui' yang artinya Nasib.