
Jasmine mendongkak, "Bryan?"
"Hmmm," Jawabannya.
Jasmine kembali menarik selimutnya, menutupi sebagian tubuhnya. Tangannya memeluk pinggang Bryan, kepalanya ia benamkan lagi di sisi perut suaminya.
"Bry...," Panggilnya lagi.
"Apa sayang?" Kini tangan Bryan menarik-narik rambut ikal Jasmine, memilinnya, "Apa yang mau kau bicarakan?"
"Bagaimana dengan kita?"
"Kita?" Bryan kembali menyelipkan rambut Jasmine.
"Apa maksudmu dengan kita." Bryan menarik tubuh Jasmine dan menyandarkannya pada lengannya, Jasmine terkesiap. Ia sedikit ragu ingin mengutarakan niatnya. "Jawab, jangan menggantungkan pertanyaan!"
"Apa mama dan papa marah dengan ku?" Jasmine menundukkan kepalanya.
"Marah?" Dahi Bryan mengernyit, Jasmine hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Matanya terus menatap perut Bryan yang kembang kempis seperti balon.
Bryan menarik dagu Jasmine dan mendongkakkan kepalanya.
"Jika bertanya tatap lawan bicaramu."
Jasmine merasa kelabakan, matanya terus berkeliaran tanpa mau menatap dalam wajah Bryan. "Lihatlah, kau mau berulah lagi?"
Jasmine menggeleng.
"Ya sudah ayo ceritakan maksudmu tentang 'kita' tadi." Bryan menekan kata 'kita' lebih keras.
"Hehehe."
Tertawa saja lebih baik.
"Kau ingin membuatku sulit tidur dan menahan rasa penasaran. Jika iya, kau akan menerima akibatnya."
Bryan membuka mulut Jasmine, memasukkan lidahnya. Bermain-main sebentar dan di akhiri dengan gigitan kecil dibibir bawah Jasmine.
"Sakit." Jasmine menyesap bibir bawahnya sendiri.
"Jawab, jika tidak aku akan menggigit bibirmu lagi."
Bukannya takut Jasmine semakin mengeratkan pelukannya, "Lagi." Lirihnya dengan manja.
"Tidak akan, jawab dulu." Bryan mendorong tubuh Jasmine, memberinya sedikit jarak.
"Kenapa, sudah bosan?"
Bryan hanya menggeleng. Jasmine yang mendapat penolakan pun menurunkan kakinya ke tepi ranjang, membelakangi Bryan yang sedari tadi tak lepas memandangi punggung Jasmine yang terbuka.
"Masih tak mau menjawabnya?" Tanya Bryan meyakinkan.
Bukan menggeleng atau menjawab, Jasmine malah menyaut kimono tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Udara semakin dingin, angin malam bergerak dengan cepat dan bebas. Menyibakkan rambut Jasmine yang sudah berantakan sedari tadi.
Bagaimana jika semesta berbuat jahat lagi kepada ku, memisahkan apa yang sudah menjadi milikku dan melepasnya dengan paksa. Tidak bolehkah aku bahagia sebentar saja.
Jasmine terkesiap saat sebuah tangan merengkuh pinggangnya.
"Aku tahu, ini tak akan mudah."
Jasmine menggengam tangan Bryan. Rindu, tawa, sedih dan takutnya ia eratkan dalam genggaman itu. "Aku tahu ini tak akan mudah untuk kita Bryan, aku tahu. Setelah ini semua akan terasa sulit."
"Bagaimana jika mereka memisahkan kita, bagaimana jika mereka memberitahu BIN (Badan Intelegen Negara) persembunyian mu. Lalu bagaimana dengan ku?" Jasmine berbalik, kini ia berani menatap Bryan dengan dalam.
"Bagaimana dengan hubungan kita Bryan?"
Bryan tersenyum, ia mendekap Jasmine lebih erat. "Cinta yang tulus akan tahu dimana ia akan pulang, ia tahu dimana ia harus kembali tanpa pernah kau duga. Cinta tahu jalannya Jasmine. Dan kita." Bryan menjeda ucapannya.
Bryan melepas pelukannya, kini tangannya menangkup kedua pipi Jasmine. "Hapus semua ketakutan mu, kita akan tetap bersama apapun yang terjadi." Bryan mengecup pucuk kepala Jasmine berkali-kali. Jasmine tak menolak, ia slalu mendamba dengan kecupan lembut suaminya.
Gerimis.
Jasmine lebih tertarik memandangi gerimis yang tiba-tiba turun dari langit. Tetesannya gemericik menghujami air kolam renang. Suaranya begitu menambah kesan syahdu malam ini. Jasmine melepas pelukan Bryan, berjalan lebih kedepan, ke arah balkon tanpa penutup diatasnya.
"Apa kau melihatku menangis Bryan." Pekiknya sembari masih berputar, merentangkan tangannya. "Hujan adalah teman, kau tak akan tahu jika aku sedang menangis Bryan. Dia menyembunyikan tangisku." Teriaknya lagi.
Bryan hanya terdiam disudutnya.
"Bryan, aku mencintaimu. Aku mencintaimu." Teriaknya lagi, tapi suaranya kalah dengan suara hujan yang semakin deras menghujam bumi.
Bryan menarik paksa tangan Jasmine, sedikit tubuhnya sudah basah di terkam butiran lembut air hujan. "Apa yang kau katakan." Tanyanya bingung.
"Berhentilah, kau bisa sakit Jasmine. Ini sudah malam, bilas tubuhmu dengan air hangat." Ucap Bryan sambil merengkuh tubuh yang sudah basah dan sedikit menggigil.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Bryan." Katanya lagi sebelum tubuh itu limbung dalam dekapan Bryan.
Dengan sigap Bryan membawa tubuh Jasmine masuk ke dalam kamar mandi, melepas baju tidurnya dan mengguyurnya dengan air hangat. Begitu juga dengan dirinya.
Selesai ia membilas tubuh mereka berdua, dengan lembut Bryan mengeringkan tubuh Jasmine dan membaringkannya di atas ranjang. Ia sendiri kini sedang berganti baju, dan memilih sebuah kaos yang pantas untuk Jasmine kenakan.
Selang tujuh menit, sebuah kaos hitam sudah melekat di tubuh Jasmine. Berkali-kali Bryan mengecup kening istrinya, mengusap lembut tangannya yang sudah terlihat pucat.
Apakah harus seperti tadi kau mengutarakan isi hatimu Jasmine. Kau benar-benar wanita lucu dan banyak drama.
Bryan menarik sudut bibirnya. Menyingkapkan selimut untuk menutupi tubuh Jasmine dan hanya menyisakan kepalanya dengan rambut yang masih sedikit basah.
Kecupan lagi mendarat di kening Jasmine, sebelum tubuh itu beranjak keluar kamar meninggalkan Jasmine, gerutuan terdengar samar-samar di telinga Bryan.
"Jangan pergi."
Bryan kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang, mengecup kening Jasmine dan mengusap lembut rambutnya. "Hanya sebentar, aku mau ke dapur membuatkan mu susu coklat." Jelasnya sembari tersenyum.
Tak ada jawaban.
Bryan tersenyum. Mengacak-acak rambut Jasmine dan melangkahkan kakinya menuju dapur.
*
Sesampainya di dapur, Bryan mendengus kesal saat melihat Husein sudah terkapar memegang sebotol red wine jenis Merlot yang hanya tersisa satu sloki.
Belum lagi kaleng-kaleng bir yang sudah berserakan di atas meja makan.
"Ada apa dengan orang-orang dirumah ini." Bryan membuang kaleng bekas minuman itu ke dalam tempat sampah. Terpogoh-pogoh ia memapah tubuh kakaknya yang hampir limbung ke ruang keluarga. Berkali-kali racauan terdengar dari bibir Husein yang memerah. Bryan menaruh Husein dengan hati-hati di atas sofa, membuka kancing kemeja bagian atas dan melepas sepatu kakaknya.
"Maafkan aku kak, istirahatlah."
Kini Bryan kembali melanjutkan niat awal, membuat susu coklat hangat untuk istrinya.
Ada apa dengan mu hujan, kau datang di saat yang tepat.
Senyumnya sambil mengaduk susu di dalam gelas, selesai menyiapkannya perlahan ia membawanya ke dalam kamar. Masih terlihat jelas Jasmine yang tidur meringkuk di dalam selimut.
"Sayang, bangunlah." Bryan memeriksa suhu tubuh Jasmine, tak ada peningkatan. Kini Bryan menusuk-nusuk pipi Jasmine dengan jari telunjuknya. "Bangunlah, minum dulu susu hangat mu." Lanjutnya lagi.
"Hmm, hmmm."
"Bangunlah sebentar saja, biar tubuhmu hangat." Titah Bryan lagi.
Jasmine tak menjawab, ia hanya mengerejap-ngerjapkan matanya. Berusaha untuk terbangun, tapi rasa pening di kepalanya membuatnya sulit untuk terbangun, "Pusing." Jelasnya.
Bryan menggeleng, dengan cepat ia membantu Jasmine untuk duduk.
"Salah sendiri sudah tahu malam, kenapa bermain hujan-hujanan."
Bryan menyodorkan susu coklat favorit Jasmine, Jasmine tersenyum kecut.
Belum juga helaan nafas Bryan terhembus, susu itu sudah tandas. "Terimakasih." Jasmine menyodorkan gelasnya yang sudah kosong. Bryan dengan sigap menaruhnya kembali di atas nakas.
"Dingin mau peluk." Celotehan lagi sebelum tubuhnya kembali meringkuk di bawah selimut.
Bryan mengangguk dan menuruti kemauan istrinya. Ini tumben sekali dan langka terjadi, senyum Bryan mengembang.
Sepertinya aku harus berterima kasih pada mu hujan.
Dan malam ini, terlepas dari hujan yang mulai sedikit mereda. Sejatinya adalah tentang mereka berdua. Kedua tubuh yang saling menghantarkan rasa hangat dengan cinta yang perlahan merekah indah.