
"Ada apa Bry, kenapa rumah ramai sekali?" Tanya Jasmine saat melihat banyaknya mobil berada di rumah Bryan. "Masuk ke kamar, jangan ke lantai bawah." Suruh Bryan tanpa melihat Jasmine yang masih menyimpan tanda tanya. Jasmine berlalu meninggalkan Bryan yang sedang sibuk menyuruh para penjaga untuk berkumpul di ruang utama. Jasmine berlalu meninggalkan Bryan, saat ia hendak masuk ke dalam Rumah, Jasmine berpapasan dengan Husein.
"Kak.....," Sapa Jasmine sambil menahan tawanya. "Kak?" Dahi Husein mengerenyit heran.
"Iya kak Husein, kita bertemu lagi." Jasmine tersenyum sambil melihat lantai bawah, desain rumah ini benar-benar Maskulin dan laki banget!
"Yang benar saja kau memanggilku Kakak, umurmu lebih tua dariku." Sergah Husein.
"Hahaha......," Jasmine tergelak. "Aku kan istri adikmu, Bryan memanggil mu kakak, aku juga harus memanggilmu Kakak!"Jelas Jasmine, masih dengan menahan tawanya. "Kak Husein kenapa dirumah ini ramai sekali?" Tanya Jasmine masih dengan melihat sekelilingnya, banyak penjaga dan bodyguard yang berlalu lalang. Membawa banyak box berwarna hitam dari sebuah mobil Van yang terparkir di depan rumah.
"Panggil aku Husein, ibu Jasmine!" Kali ini Husein menaikkan nada suaranya, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di kusen pintu utama. Pintu itu tampak menjulang tinggi seperti pintu-pintu rumah Belanda jaman dulu.
"Ibu lagi, Adik! panggil aku adik Jasmine." Hardik Jasmine, sebenarnya ia hanya ingin bercanda sebelum ia melangkahkan kaki menuju kamar tahanan Bryan. Akan sangat membosankan jika Sore itu hanya di hiasi rutinitas yang sehari-hari Jasmine lakukan.
"Dasar ibu-ibu tidak tahu diri, inget umur woyyy." Husein kehilangan rasa hormatnya. Rasanya ia ingin beradu mulut dengan ibu-ibu itu, tapi rasanya muskil. Baginya ibu-ibu pasti cerewet dan ia dipastikan kalah telak. Jasmine tertawa, ia mengibaskan rambutnya dan menjulurkan lidahnya meledek Husein. "Bye, kak Husein."
"Dasar ibu-ibu aneh." Husein terus tersenyum, memandangi setiap langkah Jasmine. Hingga senyumnya sirna tak kala Bryan menepuk pundak Husein. "Kakak gila ya, senyum sendiri." Cebik Bryan yang menatap aneh reaksi kakaknya. "Ada apa kak, apa yang membuat kak Husein senang?" Tanya Bryan menyelidiki.
"Gak ada Bry, darimana kamu dan istrimu?" Husein kembali menetralkan ekspresi wajahnya. Ia tak mau adiknya menaruh curiga.
"Memberinya hadiah." Jawab Bryan sambil mengulas senyumnya.
"Memang apa yang kau berikan, kakak gak lihat Ibu Jasmine membawa sesuatu." Jelas Husein yang membuat Bryan menaikkan alisnya.
"Kakak ketemu Jasmine, dimana dia sekarang?" Tanya Bryan.
"Sudah naik, tumben kau mengajaknya keluar rumah. Sudah bisa melepasnya?" Husein menyelidik.
"Hahaha, apa sih kak! Ini hanya hadiah karena dia slalu menurutiku. Tadi aku hanya membawanya ke TK Asmira, tempat anaknya sekolah." Jelas Bryan sambil menepuk bahu Husein dan berlalu meninggalkannya .
Malam harinya Jasmine sedang sibuk membuat santapan makan malam, pesanan yang ia tulis tadi tak dibelikan oleh Bibi yang dulu menarik paksa lengannya. Terpaksa, malam ini Jasmine hanya membuat masakan dari bahan yang tersisa di Kulkas mini berwarna putih. Seikat kangkung hijau dan tahu sutra putih, hanya sisa itu saja selebihnya hanya berbagai bumbu masakan. "Apa mafia sepertinya suka dengan Cah kangkung. Bodoh amatlah! Salah sendiri tidak di belikan bahan masakan tadi." Jasmine masih bergumam dengan dirinya sendiri. "Coba kalau aku bisa keluar rumah ini, udah aku borong itu sayuran sekalian pasar-pasarnya." Jasmine tersentak saat seseorang berdehem di belakangnya.
"Ibu-ibu gila." Saat Husein ingin mengambil air putih di lantai dua ia tak sengaja mendengar ocehannya Jasmine, ia terdiam beberapa saat sambil mendengarkan lantunan suara ibu-ibu yang mengerutu.
"Eh, Kakak." Jasmine menoleh dan tersenyum.
"Mana Bryan?" Husein berjalan mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dingin.
"Dikamar." Jawab Jasmine.
"Baiklah." Husein menaruh gelasnya dan berlalu menuju kamar Bryan.
"Tiga puluh menit lagi makan malam, kemarilah." Jasmine berteriak saat tak mendapati Husein di meja makan.
"Ya....," Husein membalasnya juga tak kalah berteriak.
Husein memasuki kamar adiknya tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Bryan yang hanya menggunakan boxer dan Kaos biru Dongker sedang duduk di sofa dan bermain ponselnya.
"Istrimu menggerutu di dapur." Bryan hanya menoleh dan kembali melanjutkan bermain ponsel miliknya.
"Bagi ibu-ibu urusan dapur harus lancar, jika tidak kau tak akan makan enak." Jelas Husein lagi yang tak mendapati respon dari adiknya.
"Kenapa kak?" Tanyanya sambil tak lepas memandangi layar ponsel miliknya.
"Kau ini dengar kakak bicara gak sih, apa yang kau lihat?" Tanya Husein ingin menarik paksa handphone adiknya, namun urung ia lakukan saat Bryan menutup ponselnya dan menaruhnya diatas nakas.
"He'emm, kakak gak pulang?"
"Nanti setelah makan malam, kenapa kakak menganggu?"
"Tidak....,"
"Bagus, kamarmu berubah. Apa disini tempatmu bercinta dengan ibu-ibu itu?" Husein berjalan-jalan menatap setiap inci kamar Bryan.
"Jelas-jelas ini dikamar kak, bercinta ya disini. Dimana lagi, loteng?"
"Hahaha, siapa tau kau ingin bercinta dengan sensasi yang berbeda."
"Cih! Kayak kakak pernah bercinta aja, pacar aja gak ada." Sergah Bryan, lalu ia terkekeh, sejak dulu kakaknya tak pernah membawa kekasihnya ke rumah hingga membuat ibu mereka gundah jika kedua anak mereka menjadi Perjaka tua.
"Biarkan saja ,daripada menikah siri seperti mu." Husein mengelak.
"Carilah pacar kak, dan bercintalah." Bujuk Bryan yang sudah ingin bergegas menuju dapur menemui istrinya.
"Kenapa kalian harus menikah siri, bercinta saja bukannya bisa?" Tanya Husein menyelidik.
"Karena Jasmine tidak mau melakukan sex di luar pernikahan, makanya aku menikahinya." Jelas Bryan sambil berjalan keluar kamar dan diikuti Husein di belakangnya.
"Tapi kalian tidak saling mencintai." Sergah Husein cepat.
"Iya, biarkan cinta kami tumbuh seperti biji pohon yang akan terus tumbuh berakar dan kuat." Bryan tersenyum, ia mengingat ocehan Jasmine sebelum ia melajukan mobilnya menuju rumah tadi siang.
"Hahaha, seperti biji?" Husein bertanya lagi dan Bryan hanya mengangguk.
" Lucu juga, apa yang dilakukan Ibu Jasmine hingga bocah ini begitu percaya diri cintanya akan berbuah manis." Pikir Husein sambil mendudukkan dirinya di kursi dapur dan melihat Jasmine sedang menata santapan makan malam mereka bertiga.
"Sesuai yang kalian lihat, hanya ini makan malam kita. Kalau gak suka, kalian bisa pesan di aplikasi daring." Jelas Jasmine sambil mendudukkan tubuhnya di samping Bryan.
Mereka bertiga duduk melingkar, tak ada yang bersuara hanya dentingan sendok dan garpu yang saut-sautan mengambil nasi dan lauk tahu. "Jadi benar apa yang kakak katakan, bagi ibu-ibu isi kulkas harus penuh jika mau makan enak." Bryan menyuapkan sesendok cah kangkung dan tahu di mulutnya. Baru pertama kali laki-laki itu makan jenis sayuran seperti itu, dan hanya dengan lauk tahu. Raut wajahnya pun tak lepas dari pandangan Jasmine yang sedari tadi mencuri pandang wajah Bryan.
"Maaf ya, hanya ini yang ada di kulkas. Bibi belum membelikan pesanan ku tadi." Jelas Jasmine.
Bryan yang mengerti maksud Jasmine pun hampir tersedak, ia kecolongan. Berbeda dengan Husein yang nampak sudah biasa menyantap sayur kangkung dan tahu goreng.
~~~
Akhirnya up juga zheyengku, terimakasih sudah setia menanti tulisanku.
Terimakasih atas dukungannya.
Sehat slalu dan keep Strong.