KAU MILIKKU

KAU MILIKKU
Pria Yg Tepat


"RAGINIIIII" teriak seseorang berlari menghampiri Ragini yg sedang termenung di meja kerjanya.


"Ada apa mengapa kau berteriak?" tanya Ragini santai, entah mengapa ia merasa hati dan pikirannya gelisah.


Jiwa dan pikirannya tidak menyatu.


Raga nya disini tapi pikirannya masih melayang memikirkan Laksh.


Iya! LAKSH!


Pria yg baru satu hari menjadi kekasihnya namun sudah bisa membuatnya berpaling dari Priyank dan membuatnya bisa melupakan segalanya.


Bahkan TRAUMA nya.


Pria itu menatap lekat Ragini lalu mengebrakan mejanya. Sontak Ragini kaget dan berdiri. Pria itu terkekeh geli.


"Hei kau ini, bisakah kau bicara pelan dan tidak berteriak Rohit?" kesal Ragini.


Rohit tersenyum lalu menarik tangan Ragini lalu membawa Ragini keluar ruangan.


Ragini hanya mengikuti Rohit dengan ekspresi kebingungan.


"Hei Rohit kau ini ingin mebawa ku kemana?" tanya Ragini kesal.


"Ke kamar 302, disana ada pasien yg sedang mengamuk Ragini" jawab Rohit singkat.


"Hei bukankah itu pasien yg di bawah pengawasan Priyank? (melotot) jika iya aku tak mau pergi kesana untuk bertemu pengkhianat itu" ucap Ragini kesal.


Rohit menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang lalu memegang bahu Ragini dan tersenyum.


"Ragini, bukankah keselamatan seorang pasien itu sangat penting bagi seorang dokter? Priyank dan yg lain sudah disana namun pasien itu terus mengamuk dan ingin mencoba mengakhiri hidupnya. Aku sudah kehilangan akal, bahkan kami disana sudah berusaha untuk membuatnya tenang. Namun dia masih saja mengamuk, berteriak dan menangis. Kau tau hari ini tidak ada jadwal piket untuk dokter psikiater wanita selain dirimu. Mrunal mengambil cutinya, dan kau satu satunya wanita yg ada saat ini" jelas Rohit panjang.


"Lalu apa urusannya denganku? Memang pasiennya wanita?" tanya Ragini heran.


"Bukan tapi seorang pria muda, usianya masih belasan tahun" jawab Rohit singkat.


"Lalu?" tanya Ragini lagi.


"Sudah, kau jangan banyak bicara ayo kita kesana, aku yakin kau bisa memenangkannya Ragini" ajak Rohit menarik Ragini.


Ragini tak menyadari jika sedari tadi handphone nya bergetar di sakunya.


Karena dia silent hp nya dan ia pun tidak sadar dengan getaran hpnya.


LAKSH MEMANGGIL....


'Astaga kemana dia? Apa dia kini melupakan ku? Ragini angkatlah, aku ingin berbicara kepada mu. Ragini ku mohon angkat, argghhh'


Laksh mengusap wajahnya dengan gusar, dia sangat kesal karena Ragini tidak juga mengangkat telponnya.


Ia lalu meluapkan amarahnya.


Membanting ponselnya ke dinding.


"AAAARRGGGHHHH" teriaknya.


Ponsel Laksh pun jatuh berserakan.


***


Priyank menatap Ragini canggung, dia amat takut untuk bertemu wanita di hadapannya saat ini. Karena Ragini sudah mengetahui 'kebusukannya'.


Dia pikir Ragini tidak akan datang karena marah kepada Priyank. Namun Ragini memang seorang yg profesional, ia mengalahkan egonya untuk menemui pasien itu.


Priyank menatap lirih Ragini yg kita sedang berusaha untuk menghampiri pria yg mengamuk itu, berusaha untuk menenangkannya.


Lalu pria itu pun pingsan dan dokter psikiater yg lain langsung membopong pria itu ke tempat tidurnya.


Tadi Ragini sempat berbicara kepada pria itu dan Ragini pun memulai aksinya untuk menyuntikkan obat penenang kepadanya. Priyank tersenyum kepada Ragini matanya seolah berbicara 'mengucapkan terima kasih' tapi Ragini hanya berlalu dan memandang sinis ke arah Priyank.


"Ragini" teriak seorang pria yg asing suaranya akhir akhir ini.


Ragini menoleh dan terkejut saat Laksh kini ada di Rumah Sakit menghampirinya.


Laksh tersenyum dengan manis lalu langsung memeluk Ragini. Ragini pun tersenyum dan mengeratkan pelukannya kepada Laksh.


Priyank yg tak sengaja melihatnya kesal, masih ada rasa cemburu di hatinya. Lalu berlalu meninggalkan Ragini dan Laksh yg sedang berpelukan.


"Kau itu kemana saja" ucap Laksh ngambek melepaskan pelukannya.


"Hei kau ini seperti anak kecil saja, ada apa kau kesini? Kau bisa menghubungiku jika kau ingin kesini bukan?" tanya Ragini.


"Ponselku rusak" jawab Laksh singkat


Ragini mengernyit kan alisnya.


Laksh tersenyum lalu mencubit pipi Ragini dengan gemas.


"Iya rusak, tadi berulang kali aku menelpon mu tapi kau tidak menjawab. Aku kira aku tak ada signal, lalu aku menggoyangkan ponselku dan sial dia malah terlempar dan mengenai dinding jadi rusak deh" ucap Laksh santai.


Ragini bisa merasakan keanehan dengan apa yg di ucapkan Laksh.


Ia merasa ada yg tak beres dengan Laksh. Karena pada saat Laksh menceritakan perihal hp nya yg rusak, Laksh terus menerus menggaruk rambutnya yg tak gatal.


"Ragini kenapa kau malah berdiam diri di situ, ayo kita makan, kau harus mentraktir ku hari ini" ucap Laksh terkekeh.


Ragini tersenyum menatap Laksh, Laksh merangkul Ragini begitupun dengan Ragini.


***


"Kau Laksh kan? Si penulis itu?" sapa Tina sahabat Ragini.


Laksh tersenyum miring. Ragini menatap dengan kebingungan.


'Laksh seorang penulis? Mengapa dia tak mengatakannya kepadaku' batinnya.


Laksh melirik Ragini dan tersenyum memegang tangan Ragini.


"Iyah aku Laksh Maheswari seorang penulis" jawab Laksh sambil terus menatap Ragini.


"Ahhhh Laksh aku sangat senang bisa bertemu denganmu disini (melihat tangan Raglak yg berpegangan) jadi kau adalah kekasih baru sahabatku ini" lanjutnya terkekeh dengan nada mengejek dan melirik ke arah Ragini.


Ragini kesal kepada Tina. Karena Tina berbicara seperti itu kepada Laksh. Padahal Ragini udah meminta Tina untuk tak membahasnya.


Apa lagi Ragini menceritakan semua hal yg terjadi kepada Tina 'malam itu' termasuk insiden 'ciuman' itu.


Tina melihat geli ekspresi sahabatnya seolah mengerti apa yg sedang di pikirkan oleh sahabatnya.


Tina mendekat ke arah Ragini lalu berbisik.


"Tenang Ragini aku tak akan mengatakan soal insiden kecil yg terjadi malam itu"


Mata Ragini langsung 'melotot' menoleh ke arah Tina. Menatap Tina tajam, dia merasakan jantungnya amat berdebar saat Tina menyebutkan perihal insiden kecil yg terjadi malam itu.


Laksh melihat mereka berdua heran. Menaikkan salah satu alisnya.


Tangan Laksh yg tadi memegang tangan Ragini dia tarik, sehingga membuat Ragini langsung menoleh ke arahnya. Ragini mengernyitkan alisnya.


Tina mengerti jika kedua pasang sejoli ini harus dia berikan kesempatan untuk berbicara. Tina dengan santai berlalu di hadapan Raglak.


Laksh masih menatap tajam ke arah Ragini, namun Ragini yg di tatapnya hanya diam dan menunduk.


Perlahan Laksh berdiri dari kursinya lalu menghampiri Ragini mendekap kepalanya, mengelus rambutnya dan mengecup pucuk kepala Ragini.


Laksh mendekat ke arah telinga Ragini lalu berbisik.


"Aku amat mencintaimu sayang"


Ragini merasa seluruh badannya merinding mendengar bisikan Laksh di telinganya. Hembusan nafas Laksh benar-benar membuat Ragini terlena.


Laksh lalu tersenyum melihat wajah kekasihnya yg kini bersemu merah karena rasa malu.


Menggemaskan.


***


"Laksh kau akan mengajakku kemana?" tanya Ragini heran kepada Laksh yg kini sedang mengemudikan mobilnya.


"Ke apartementku" jawabnya singkat dengan lirikan matanya yg menggoda.


Oh Shit!


Jantung Ragini kembali berdebar tak karuan dibuatnya. Hanya karena melihat lirikannya.


Pria di sampingnya seolah memiliki kharisma yg selalu menarik perhatian Ragini untuk selalu menatapnya.


Benar benar sempurna.


Ragini bersyukur kepada Dewa karena telah menunjukkan kebusukan Priyank dan Mrunal, karenanya ia kini memiliki kekasih yg amat 'ideal' seperti Laksh.


Lamunan Ragini berakhir saat menyadari ucapan Laksh mengajak ke apartement nya.


Untuk apa?


Atau jangan jangan Laksh juga tipe pria yg ingin melampiaskan perasaan sayangnya kepada nafsu belaka.


Pikiran Ragini terbang bebas, melayang seolah membayangkan hal yg akan terjadi dengan dirinya dan Laksh di apartement itu.


Hanya berdua saja!


Ragini amat takut.


Kegelisahan Ragini nampak jelas tersirat dari wajahnya. Laksh tersenyum dan menggenggam erat tangan Ragini.


Ragini menoleh ke arah genggaman itu dan menatap lurus ke arah Laksh.


Laksh tersenyum.


"Tenang saja sayang, aku bukan tipe pria seperti mantan kekasihmu itu" ledek Laksh.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mu disana" lanjutnya .


Ragini tersenyum lalu bersandar di bahu Laksh.


Ragini senang karena dia tak salah lagi menjatuhkan hatinya kepada pria yg kini berada di sampingnya.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah.. 😘😘