
"Hei kau mengapa masih mengikutiku" tanya Ragini kesal kepada Laksh.
Laksh menoleh ke belakangnya, menaikkan alisnya.
"Siapa yg kau maksud?" tanya Laksh polos.
Ragini mendengus kesal.
"Ya kau, memang disini ada orang lain selain aku dan dirimu?" jawab Ragini kesal.
Laksh lalu berjalan menuju arah Ragini dan tersenyum ke arahnya.
"Nona aku mempunyai nama" bisiknya, bisikkan Laksh membuat Ragini bergidik.
Laksh tersenyum melihat ekspresi Ragini.
"Aku mempunyai nama nona" bisiknya lagi.
"Memangnya aku tau siapa namamu?" mata Ragini terpejam ia merasakan kegelian saat nafas Laksh berhembus di telinganya.
Laksh terkekeh melihat Ragini.
Laksh berbisik.
"Namaku Laksh, calon kekasihmu" bisiknya lagi.
Mata Ragini langsung terbuka, lalu menoleh ke arah Laksh. Mulutnya terbuka saat perkataan Laksh.
Di saat Ragini sedang kebingungan. Laksh langsung mencium bibir Ragini.
"CUPPP" hanya kecupan di bibir Ragini, namun itu membuat jantung Ragini berdebar sangat kencang.
Ragini reflek memegang jantungnya. Laksh tersenyum lebar lalu mengacak rambut Ragini dan berlalu pergi meninggalkan Ragini.
"Ingat namaku nona, namaku Laksh. Sampai jumpa. Aku pergi dulu, bye" ucapnya sambil melambaikan tangan dan berlalu pergi.
Ragini masih mematung di tempatnya, ia menggigit bibirnya lalu memegang bibirnya.
Padahal hanya kecupan dan itu pun tak lama. Hanya sedetik. Namun kecupan itu mampu membuat hati Ragini amat berdebar.
'Dasar pria kurang ajar, berani beraninya dia menciumku, bahkan aku dan Priyank selama ini tidak pernah berciuman. Astaga dia org pertama yg menyentuh bibirku' batin Ragini kesal.
Ia terus mengutuk dirinya karena membiarkan pria itu mengecupnya lalu pergi begitu saja.
****
"APA PUTUSSS??" teriak Priyank
Semua orang yg sedari tadi sibuk dengan aktivitas mereka tiba tiba langsung menoleh ke arah Ragini dan Priyank.
Mereka menatap heran karena mereka tidak pernah melihat Ragini dan Priyank bertengkar. Lalu sekarang mereka bertengkar di depan umum.
Bahkan Ragini sepertinya sudah tidak memikirkan lagi perihal harga dirinya.
Yg ingin dia lakukan saat ini adalah mengakhiri hubungan dengan pria "brengsek" di hadapannya ini!
"Iya Priyank aku ingin putus darimu" tegas Ragini.
Priyank memegang kedua bahu Ragini memastikan kalau Ragini membuat suatu kesalahan.
"Ragini dengarkan aku, mengapa kau tiba tiba bicara seperti itu kepadaku? Memang apa kesalahan yg aku perbuat hingga kau ingin mengakhiri hubungan kita?" ucap Priyank lirih.
Ragini terkekeh mendengar pertanyaan Priyank.
'Pertanyaan macam apa itu pecundang? Kau bertanya apa kesalahanmu? Bahkan aku pun malu untuk menyebutkan kesalahanmu' batin Ragini.
Ragini menatap tajam ke arah Priyank lalu membalikkan badannya memutar bola matanya mencari dimana keberadaan Mrunal.
Ragini tersenyum melihat Mrunal yg sedang berdiam melihatnya. Mrunal bingung dengan ekspresi yg di berikan Ragini kepadanya. Ragini tidak pernah menatapnya dengan tatapan sinis seperti itu. Ragini amat menyayangi Mrunal seperti saudarinya sendiri.
Ragini menghampiri Mrunal menarik tangannya lalu membawanya ke samping Priyank. Mrunal dan Priyank seketika gugup. Mereka saling melirik memberikan kode. Ragini tersenyum miring dengan ekspresi kedua orang di hadapannya ini.
Mrunal dan Priyank melirik bingung.
"Kalian ingin aku membongkar kebusukan kalian di hadapan seluruh rekan yg sedang ada disini" sambarnya lagi sambil mengelilingi tubuh Priyank dan Mrunal.
Rekan rekan yg melihatnya di buat heran. Mereka tak ingin beranjak dari tempat mereka berdiri. Mereka seolah terpaku dan menanti pertunjukkan apa yg akan di tampilkan.
"A-pa mak-sud-mu Ra-gi-ni?" jawab Priyank gugup.
"Kau tau jelas apa yg ku maksud Priyank" tatap Ragini lekat.
"Hmmm disana (menunjuk ke arah goa) aku tadi mendengar suara orang merintih penuh kenikmatan disana" (menaikkan alisnya).
Priyank dan Mrunal saling lirik. Priyank benar benar gugup, keringatnya mengalir deras. Tenggorokannya terasa amat kering bahkan menelan ludahnya pun ia tak bisa.
Dia menatap Mrunal lirih, lalu memandangi satu persatu rekan sesama dokternya yg kini tengah memperhatikan mereka seperti sebuah pentas drama.
Priyank lalu menarik tangan Ragini menjauh dari kerumunan orang.
"Ya aku akui kalau aku memang benar benar melakukan kesalahan Ragini. Kau lihat aku dan Mrunal sedang..." Priyank tak melanjutkan kata katanya, menggantungkan kalimatnya.
Ragini tersenyum sinis, dia menyipitkan matanya seolah jijik menatap pria di depannya.
Mrunal tiba tiba datang.
"Ragini, akan aku jelaskan, aku dan Priyank sebenarnya saling mencintai" ucap Mrunal dengan tegas.
Mata Priyank terbelalak saat mendengar apa yg di ucapkan Mrunal. Jantung Priyank seolah berhenti berdetak.
"Ragini, Priyank selama 3 tahun tidak bahagia denganmu karena kau tidak pernah bisa menjadi tempat penyalur hasratnya, apa kau tau dia amat tersiksa berpacaran denganmu, tapi dengan ku Priyank mendapatkan apa yg ia dambakan. Aku memberikan apa yg tidak bisa kau berikan kepada Priyank" jelas Mrunal.
Ragini tersenyum miring ke arah Mrunal, lalu melihat Priyank jijik.
Sungguh ingin rasanya ia menghajar dua pengkhianat di hadapannya ini. Ragini mengepalkan kedua tangannya.
"Maafkan aku Ragini, aku memang amat menyayangimu tapi kau tidak pernah mengerti keinginanku, jangankan untuk menyalurkan hasratku sebagai seorang pria normal bahkan untuk mencium dan bercumbu denganmu kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk itu" ucap Priyank pelan.
Mata Ragini 'melotot', sebegitu rendahkah pengertian sayang di mata Priyank. Apa semua harus di buktikan dengan nafsu.
Ragini menggeleng lalu menatap mereka lekat.
"Baiklah jika itu yg kau butuhkan Priyank, hubungan aku dan dirimu berakhir hari ini, dan hubunganku dengan dirimu jg berakhir hari ini Mrunal, aku benar benar kecewa dengan kalian" ucapan Ragini bergetar.
"Anggaplah kita tidak pernah saling mengenal" lanjutnya.
Ragini langsung berlari meninggalkan Priyank dan Mrunal.
Dia menumpahkan airmata yg sudah tak bisa lagi dia bendung. Dia meratapi nasibnya sendiri yg amat sangat buruk.
Tangisan Ragini terhenti saat melihat ada tangan yg mengulurkan sapu tangan kepadanya. Ragini menoleh ke arah seseorang yg kini duduk di sampingnya.
"Hapuslah air matamu, bukankah sudah ku bilang tadi kalau aku tidak suka melihatmu menangis" ucapnya santai.
Ragini mengambil sapu tangan itu lalu menghapus airmatanya.
Ragini trus menoleh ke arah pria yg kini menatap ke pantai dengan pandangan yg lurus.
Pria itu tersenyum merasakan Ragini terus menatapnya dari samping.
"Jadi bagaimana nona? Apa kau mau menjadi kekasihku? Hubungan kau dengan kekasihmu sudah berakhir bukan?" tanyanya dengan senyuman yg amat mengembang.
Ragini terpukau akan senyuman pria itu. Dengan bodoh Ragini menganggukkan kepalanya.
Pria itu pun tersenyum lalu menyadarkan kepala Ragini ke bahunya.
Ragini memejamkan matanya seolah ia mendapatkan ketenangannya kembali.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen.. 😘😘