Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Kejadian Tak Terduga Karen.


Disisi lain, Karen tengah sibuk dengan santapan yang ada ditangannya. Karen mengambil semua makanan dan menjajalnya satu persatu. Namun, saat dia akan mengambil hidangan paling ia sukai, bakso, dia melihat sosok yang tidak asing sedang berdiri mengantri disana.


Dia... dia kakak tingkat tengik yang waktu itu kan? Sial! Kenapa dimanapun harus bertemu dia sih?~Batin Karen.


Nahasnya, Andrew tanpa sengaja melirik ke arahnya. Pria itu nampak sedang mengernyitkan dahinya dan berpikir keras untuk waktu yang cukup lama.


Wanita itu? Dia cantik sekali... tapi, mengapa aku merasa familiar ya?~Batin Andrew.


Andrew meletakkan mangkok bakso miliknya sembarangan. Sekilas cuplikan-cuplikan tentang pertemuan menyebalkan diantara mereka berdua terlintas dibenaknya. Dia teringat dengan wanita menyebalkan yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.


Terlintas maksud hati untuk menyapanya dan membuat keonaran untuknya disana. Andrew berjalan semakin mendekat kearah Karen yang membuatnya mematung seketika.


Oh tuhan, apakah aku akan tamat kali ini? Apakah identitasku akan terungkap?~Batin Karen sambil menggenggam erat mangkok miliknya.


"Karen, kamu lihat apa sih? Mau ikut kakak coba bakso gak?" Tanya Lauren yang langsung membuyarkan suasana.


Karen terkejut bukan kepalang. Dia menyemburkan semua yang ada dalam mulutnya keluar, tepat mengenai kemeja milik pria didepannya.


"Kakak! Jangan ngagetin dong...," ucap karen yang terpotong saat melihat seseorang yang ditunjuk oleh Lauren disana.


"Dasar cewek jelek! Lihat bajuku kotor semua!" Umpat Andrew.


"Ehh. Ma-maaf. A-aku bukannya sengaja," ucap Karen gugup.


"Kak, bantu aku,please!" Pinta Karen kepada Lauren.


Lauren hanya berlalu pergi begitu saja membiarkan kedua sejoli itu bersama.


Dasar kakak biadab!~Umpat Karen dalam hati.


Andrew terlihat sibuk membersihkan kemejanya yang baru saja ia beli hari ini. Karen memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap pergi dari sana.


"I don't ask u to go. Stay here or I'll call the police!" Ancam Andrew dengan netranya yang masih terfokus ke kemejanya.


Apakah dia adalah serigala? Atau kelelawar? Tajam amat penglihatannya,~ Batin Karen.


"Ok, I'll stay. Terus, kamu mau aku ngapain?" Tanya Karen pasrah.


"Bersihin baju aku sekarang!" perintah Andrew.


Andrew menarik tangan Karen kasar dan membawanya ke sebuah kamar mandi pria disana. Lauren hanya menamatinya dari belakang. Walau sedikit geram, namun dia meyakini mereka berdua adalah sepasang kekasih yang serasi. Pria tampam itu sering terkekeh pelan melihat tingkah laku adiknya dan kawannya itu.


"Hei, apa kau gila? Ini adalah toilet pria, kenapa kau membawaku kemari?" Protes Karen.


"Apa katamu? Gila? Terus kalau ga kesini, menurutmu, aku harus dimana? Kamar mandi cewek gitu?" Tanya Andrew.


"Bodoh! Mereka akan berpikir apa tentangku, huh? Mereka akan berpikir aku mesum!" Pekik Andrew memenuhi ruangan.


"Ya kamu pikir dengan adanya aku disini, mereka tidak akan berpikir yang tidak-tidak? Dan satu lagi, memang kamu adalah pria mesum dan brengjek yang pernah aku temui!" Balas Karen sambil berlalu pergi.


"Woy cewek kampung! Kembali lu!" Teriak Andrew diujung sama,sedangkan Karen telah pergi menjauh dari tempatnya.


Huh, cewek kampung, kamu tunggu saja nanti. Kau akan bertekuk lutut dan memohon-mohon padaku. Tapi, siapa dia sebenarnya dan mengapa dia begitu akrab dengan tuan muda William, bahkan memanggilnya kakak? Dia semakin... menarik!


Andrew menarik sudit bibirnya dan mengeluarkan ponsel mahalnya dari dalam sakunya.


"Grace, ambilkan aku satu kemeja dan bawakan ke toilet pria, segera!" Ucap Andrew memberi perintah.


"Baik bos," sahut seseorang diujung sana.


Sedangkan itu, disisi lain...


"Arghh sial banget hidup aku! Bisa-bisanya ketemu cowok itu lagi cowok itu lagi. Emang ga ada kah cowok lain gitu?" Gumam Karen pada dirinya sendiri.


Saat dia berjalan dengan cepat tanpa melihat ke arah depan, Karen tak sengaja menabrak sesuatu yang berada di depannya.


Brukkk


Suara tabrakan itu terdengar lumayan dahsyat dan meninggalkan bekas sakit yang lumayan.


"Auhh!" Pekik Karen kesakitan. Dia memegangi keningnya yang nampak sedikit memerah.


"Siapa sih yang menghalangi jalan?" Seru Karen sambil perlahan menatap ke atas.


Seorang pria berusia beberapa tahun lebih tua darinya nampak disana. Pria itu nampak bukan pria baik-baik.


"Ma-maaf kak. A-aku.. aku ga sengaja," ucap Karen terbata-bata.


"Adik manis,kamu begitu cantik. Kakak tidak akan mempermasalahkannya di kemudian hari, asal kamu melakukan satu hal." Pria itu menakup dagu Karen lembut dan memojokkannya ke dinding disana.


Glekk


Karen meneguk air liurnya yang hampir keluar. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan. Dalam hatinya pun terus menjerit


AYAH! KAKAK! PLEASE, TOLONG AKU...~ Jeritnya dalam hati.


Bagai ada tali merah penyambung batin mereka, Eren dapat merasakan anaknya dalam bahaya.


"Olen, kemana adikmu? Bukankah dia sama kamu tadi?" Tanya Eren mulai panik.


"Tadi sih sama temennya. Coba kita cari," jawab Lauren yang juga menyadari ketidakberesan itu.


Lauren dan Eren berlari menuju ke arah kamar mandi. Yang benar saja, Karen tengah didekap oleh seorang pria yang memang terkenal mata keranjang disana. Namun, seorang pahlawan berjas putih datang menolongnya.


"Jangan sentuh wanitaku!" Pekik pria itu dari belakang pria mata keranjang itu.


Lauren yang melihat pria itu disana langsung menghentikan laju ayahnya dan menyaksikan drama pahlawan menolong wanita cantik dari kejauhan.


"Stt. Papa disini saja. Kita lihat mereka," ucap Lauren lirih.


Andrew menatapnya tajam.


"Ma-maafkan saya tu-tuan." Ucapnya gugup.


"Enyahlah dari hadapanku! Sekali lagi kamu mengganggu wanitaku, aku akan membuat kamu dan perusahaan menerima konsekuensinya," tegas Andrew.


Pria itu lari terbirit-birit sebelum dirinya menjadi sasaran empuk Andrew selanjutnya. Andrew membalikkan badannya dan masih melihat tubuh Karen yang bergetar hebat. Air matanya pun telah bertumpuk dipelupuk matanya.


Hingga Andrew memberikan senyuman hangat, Karen memeluknya tanpa sadar.


"Andrew. Aku takut. Aku takut sekali." Tangisnya pecah di pelukan Andrew.


"Dont be worry. Nothing will be happened to u as long I'm here," bisik Andrew.


Lauren dan Eren masih setia melihat adegan itu hingga tamat.


"Selamat bung, anda akan mendapatkan menantu dalam waktu dekat," goda Lauren.


"Tidak semudah itu. Aku tidak menginginkan Karen menerima nasib yang sama dengan mama kalian. Sudahlah, ayo kita hampiri," ucap Eren.


"Pa, Jangan ganggu mereka..Mending papa ikut aku." Lauren menarik ayahnya menjauh dari sana.


Karen tersadar dengan apa yang ia lakukan. Dia membelalakkan mata sejenak dan melepaskan pelukan diantara mereka.


"Ye, dasar modus!" Umpat Karen sambil berlalu pergi.


Andrew menangkap tangan Karen sebelum dia menjauh.


"Kamu masih belum tanggung jawab lho masalah jasku. Sekarang aku menyelamatkanmu, kau bukan malah berterimakasih malah berteriak aku modus?" Ucap Andrew.


"Ya kan kamu bisa menghindar kek atau gimana? Malah maunya dipeluk," ucap Karen yang terus menyalahkan Andrew.


Hingga beberapa wanita penggemar Andrew mengerubungi diantara mereka membuat Andrew dan Karen tercepit diantara mereka.


"Hai tuan muda. Kau sangat tampan, tidak kalah dengan tuan muda William," ucap seorang fans berat Andrew.


"Betul. Usiamu ideal untukku. Tuan muda William masih terlalu muda, aku tidak suka berondong," sahut lainnya.


Mereka berdebat dalam waktu yang lama.


"Minggir minggir. Ratu laut mau lewat," ucap beberapa wanita heboh disana.


"Cihh, ratu laut? Jelek begitu," gumam Karen jujur.


"Apa katamu?!" Ucap sang Ratu Laut.


"Kenapa? Memang benar kan? Bahkan, kak Andrew saja sering menolakmu," ucap Karen.


"Kamu!" Pekik ratu laut.


Wanita itu mengangkat tangannya bermaksud menampar Karen. Nanun, Andrew berhasil mencegahnya dan menggenggam tangan ratu laut dengan kencang hingga dia kesakitan.


"Auhh ahh. Andrew, lepas!" Seru ratu laut.


"Stop ganggu Karen. Kamu lagian ngapain disini sih?" Tanya Andrew.


"Tentu saja menemuimu, sayangku," ucap ratu laut. Wanita itu menempel-nempelkan tubuhnya kepada Andrew. Andrew mengeluarkan wajah jijik miliknya dan mendorong wanita itu menjauh darinya.


"Sheila stop! Apa maumu?" Tanya Andrew.


Ohh namanya Sheila toh. Mereka punya hubungan apa? Mengapa wanita ini benar-benar tidak tahu malu?~Batin Karen.


"Mauku? Tentu saja bersulang bersamamu," ucap Sheila.


"Ahem!" Karen sengaja berdehem di tengah-tengah mereka.


"Sepertinya kakak senior sudah ada para penggemar. Semuanya wanita cantik pula. Kalau begitu, aku tidak ganggu ya. Bye bye," ucap Karen berlalu pergi.


"Woyy cewek tengil! Balik lu!" Teriak Andrew disana.


Andrew tak menghiraukan kepergian Karen dari sana dan memilih untuk tinggal dan menemani para penggemarnya yang cantik itu. Dia minum dan bergoyang bersama.


Sementara itu, Karen terus berkeliling mencari keberadaan Eren dan Lauren. Gadis itu mendapati sebuah kerumunan disana dan dirinya langsung tertarik untuk kesana.


"Apakah itu kak olen dan papa? Haih. Kebiasaan kemanapun dan dimanapun, mereka selalu dikerubuti wanita cantik," gumam Karen.


"Ahh tuan muda. Terimalah aku menjadi pacarmu."


Beberapa orang berteriak dengan hal yang sama untuk ke sekian kalinya, membuat Lauren risih.


Lauren telah mencapai puncaknya. Dia mengeluarkan aura mematikan alanya dan menatap mereka tajam.


"Enyahlah atau jangan salahkan aku yang tidak sungkan!" Seru Lauren kepada mereka.


Nyali para penggemarnya menciut seketika setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Lauren. Mereka mundur selangkah demi selangkah sesaat setelah Lauren menekan mereka dengan auranya. Menelan ludah dan pada akhirnya bubar seketika. Sedangkan itu, Adik lucknutnya hanya terkekeh melihatnya dari kejauhan.


Mata Lauren terpaku saat melihat adiknya yang sedang menertawainya dan segera menghampiri Karen di sudut meja tempat makanan mewah berada.


Lauren menghampiri Karen yang sedang bersendekap dengan meminum anggur non alkohol ditangannya. Lauren menyahut gelas ditangannya dan meminumnya sesegera.


"Puas nontonnya?" Seru Lauren membuat Karen terkejut.


"Sebenarnya sih belum. Tapi kakak keren deh banyak yang suka," ucap Karen.


"Alen sayang, kalau mau banyak yang naksir, lepas nih kacamata. Kamu terlihat cupu tau," protes Lauren.


"Jangan!" Pekik Karen saat tangan Lauren tengah memegang kacamatanya dan hendak melepasnya.