Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Ulang Tahun Clarissa


"Lisa, apakah kamu tidak bisa memilih gaun yang lain? Gadis ini begitu keras kepala." Tuan zakaria terlihat mulai emosi dibuatnya.


Clarissa tidak lagi memedulikan perdebatan diantara mereka berdua dan pergi begitu saja. Dia menghampiri mamanya yang masih sibuk dengan pakaian yang berada di depannya.


Clara memegang kedua baju keluaran terbaru ditangannya.


"Humm, baju ini bagus, ini juga," gumam Clara sambil memutar-mutar pakaian ditangannya. Netranya menilik kedua baju tersebut, baju merah ditangan kanannya dan baju hitam ditangan kirinya, terus begitu secara bergantian.


Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Wisnu, ada apa?" Tanya Clara saat dirinya merasa perilaku Wisnu yang tiba-tiba berubah.


"Clara, apakah kau akan meninggalkanku seperti dia?" Tanya Wisnu.


"Bodoh! Kaira tidak pernah meninggalkanmu, namun dia juga tidak pernah mencintaimu. Dan aku akan menemanimu selama yang aku mampu," ucap Clara.


"Uhuk uhuk"


Clara tiba-tiba batuk yang cukup parah akibat kecapekan. Wisnu menuntunnya untuk duduk dan memberinya minum disana.


"Hei, jangan terlalu lama berdiri,ok? Aku tahu kau menyukai pakaian-pakaian ini, maka belilah keduanya jika keduanya cocok untukmu. Aku tidak kekurangan uang."


"Thank u." Clara bersandar di pundak Wisnu dan memejamkan matanya sejenak.


"Ma, pa..." Clarissa memberhentikan ucapannya saat melihat Wisnu meletakkan satu jarinya di mulutnya, Ayahnya menyuruhnya untuk diam. Netranya kini beralih menatap lembut Clara yang terlelap dipundak Ayahnya. Wanita itu tersenyum hangat kepada mereka sambil menghela nafas pelan.


"Pa, tadi Sasa sudah menemukan pakaian yang cocok," ucap Clarissa lirih.


"Pakailah. Papa ingin melihatnya."


Clarissa pergi meninggalkan kedua orang tuanya itu dan memakai gaun itu sekali lagi untuk ditunjukkan kepada sang Ayah. Sedangkan, Lisa dan Ayahnya masih saja berdebat dengan sang kasir untuk memberikan gaun mahal yang telah dipilih oleh Clarissa.


"Tidak, aku mau gaun itu. Aku akan membayarnya berpuluh-puluh kali lipat. Jika tidak, aku akan melaporkan tindakanmu ini," ucap Lisa.


"Nona bisa melaporkannya sesuka anda. Saya hanya menuruti perintah tuan saya untuk mendahulukan yang memesan pertama," ucap sang kasir dengan lembut.


"Lisa, aku tidak pernah bertemu dengan seseorang yang lebih tidak tahu malunya seperti dirimu. Butik ini memiliki banyak sekali barang bagus yang limited edition di dunia ini. Sangat terkenal. Lalu, mengapa kau masih berdebat untuk sebuah gaun?" Tanya Clarissa.


"Karena aku menyukainya," jawabnya tegas.


"Benarkah? Aku yakin bahkan jika aku memilih gaun yang lain sekalipun, kau tidak akan melepaskanku begitu saja bukan?" Tanya Clarissa dengan tatapan tajamnya.


"Kalau iya memang kenapa? Kau wanita miskin, atas dasar apa kamu bisa memiliki sebuah gaun yang mewah disini? Kamu bahkan tak pantas jika harus menjilat kakiku," ucap Lisa.


"Siapa yang menjilat siapa masih belum tau." Clarissa pergi berlalu ke ruang ganti dengan menjulurkan lidah, meledek Lisa.


"Dasar wanita ******! Benar-benar tidak tahu malu!" Umpat Lisa kesal.


"Siapa yang anda sebut sebagai wanita ******?" Suara berat maskulin terdengar dari belakang Lisa dan Ayahnya.


"Tu-tuan... U-untuk apa anda kemari?" Tanya Zakaria berbasa-basi.


"Untuk apa aku kemari, apakah itu urusanmu?" Jawab Wisnu dingin.


"Ma-maaf."


Clarissa keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun yang tadi dan betapa terkejutnya dia saat melihat kedua orang tuanya berada disana.


"Pa, ma, lihatlah. Apakah Sasa cantik dengan ini?" Tanya Sasa sambil menilik kearah Wisnu dan Clara secara bergantian.


"Anak papa cantik sekali," ucap Wisnu.


"Terimakasih,pa."


Wisnu membayar seluruh pesanan keluarganya dengan black card miliknya.


"Ini pesanannya tuan. Silahkan datang kembali," ucap sang kasir ramah.


"Tuan Zakaria, saya rasa anda telah gagal mendidik anak anda hingga mengeluarkan kata-kata tak selayaknya kepada anak saya. Mulai besok hingga seterusnya, bapak tidak perlu datang ke Cafe Barista Wisnutama lagi. Saya tidak memerlukan karyawan yang membela seseorang yang salah sekalipun itu anaknya. Permisi," ucap Wisnu tegas.


Wisnu dan yang lainnya pergi meninggalkan kedua ayah dan anak yang sedang mematung itu disana.


Plakkk


Pria tua itu menampar anaknya setelah Wisnu telah menghilang dibalik lahan parkiran yang begitu luas di depan sana.


"Masih mikirin sakit? Sekarang kita harus bagaimana? Gara-gara kamu, papa jadi kehilangan pekerjaan," ucap tuan Zakaria emosi.


"Ya kan itu salah papa. Kenapa nyalahin aku?" Lisa meninggalkan ayahnya disana dan berjalan ke arah mobilnya dengan arogan.


Tuan Zakaria telah kehilangan akalnya. Dia menarik anaknya sendiri dan memaksanya untuk pulang.


"Ikut papa sekarang!" Bentak tuan Zakaria.


...*...* ...


Pukul 19.00


Suasana Cafe Wisnutama terlihat telah begitu meriah. Banyak dari mereka telah datang tepat waktu di tempatnya. Acara yang sungguh megah kali ini dilaksanakan tepat pada ulang tahunnya yang kelima belas. Clarissa, sebagai sang empunya acara, muncul dihadapan semua orang dengan gaunnya yang mewah dan menyapa sebagian dari mereka.


"Wow, ga nyangka ternyata lu mampu nyewa cafe semahal ini. Lu dapat bookingan darimana? Berapaan?" Tanya seorang teman Clarissa meledeknya.


"Huh, maaf, aku tidak seperti kalian yang mau merayakan sesuatu harus menjual diri terlebih dahulu kepada para pria hidung belang." Clarissa menyeriput kopi yang berada ditangannya.


"Kamu?!!" Pekik wanita itu geram.


"Oh ya satu lagi, aku lebih dari bisa menyewa cafe ini. Aku bahkan bisa memblokir nama kalian semua dan memasukkannya ke dalam daftar hitam seluruh cafe dan restaurant di bawah naungan Wijaya Group," ucapnya.


"Cihh, kamu pikir kamu siapa? Jangan mentang-mentang dapat menyewa Cafe ini maka kau adalah nona muda dari Wijaya group," lanjut wanita itu.


"Kalau kau mau mencobanya, silahkan saja," ucap Clarissa sambil berlalu pergi.


Wisnu mendekati Clarissa yang terlihat sedang bersitegang dengan teman-temannya yang berada disana.


"Sayang, dimulai sekarang?" Tanya Wisnu.


"Aku masih menunggu Karen, Lauren dan om Eren," jawab Clarissa.


Wisnu tersenyum hangat kepada anaknya dan mengelus lembut rambutnya.


"Baiklah, mereka pasti akan datang sebentar lagi," ucap Wisnu


"Tapi, tumben Eren telat ya?" Gumam Wisnu.


Namun, belum sempat pria itu menutup rapat kedua bibirnya, seseorang yang telah dia nantikan datang dengan serangkaian keributan yang mengiringinya.


"Wahh, apakah dia tuan muda Lauren William yang terkenal jenius dan tampan itu?" Ucap seorang gadis dengan mulut ternganga.


"Apa sebenarnya status Clarissa? Bagaimana mungkin dia bahkan dapat mengundang Tuan muda itu?" Lanjutnya.


Mereka bertiga tidak memedulikan jutaan tatapan dan rangkaian pertanyaan yang terlontar kepada mereka. Mereka bertiga telah terbiasa dengan hal tersebut.


"Hai kak Sasa. Selamat ulang tahun ya. Ini kado dari Karen, Papa sama kak olen," ucap Karen dengan riang.


"Thank u," jawab Clarissa dengan senyuman manis di bibirnya.


"Baiklah, sekarang tibalah saatnya acara kami mulai. Kita beri sambutan untuk tuan Wisnu Wijaya," ucap sang pembawa acara yang telah disewa oleh Wisnu disana.


Wisnu menaiki panggung acara yang terlihat sederhana, namun elegant. Pria itu nampak sangat tampan di sana dengan gaya maskulin alanya. Wisnu tidak menaiki pamggung itu sendirian. Clara ada disampingnya yang senantiasa berdiri tegak disampingnya dengan setia. Tidak melayangkan protes apapun. Wanita itu kini telah sepenuhnya sadar dan tobat dari masa kelamnya dulu.


"Kalian pasti tahu mengapa saya mengundang kalian semua untuk hadir disini. Ya, anak saya menginginkan untuk ulang tahunnya yang ke lima belas kali ini dirayakan dengan sederhana dan mewah sekalian dengan tujuan kami, sebagai orang tuanya, untuk memperkenalkan putri kami satu-satunya," ucap Wisnu dengan bangganya.


Baru kali ini Clarissa mengambil inisiatif untuk diperkenalkan di ranah publik. Wisnu dan Clara tidak pernah memaksanya untuk hal itu,karena mereka mengerti dengan benar seberapa kejam dunia hiburan.


Clarissa dengan senyumnya yang manis dan memukau, menaiki sebuah panggung yang diperuntukkan oleh dirinya. Dia nampak begitu cantik malam ini, pemberani dan menarik perhatian semua orang. Tentu saja, semua tamu yang berada disana terkejut melihatnya.


"Hai semua, perkenalkan saya Clarissa William Wijaya, anak tunggal dari tuan Wisnu Wijaya dan Clara Ishabela. Terimakasih, " ucapnya singkat.


Semua orang hanya tercengang melihatnya. Rahang mereka terbuka lebar seketika, otomatis, seperti tidak percaya dengan apa yang dilihat.


Samar-samar Clarissa dapat mendengarkan bisikan dari teman-temannya.


"Astaga, ga nyangka. Ternyata, Clarissa adalah anak dari pengusaha terkenal itu? Mampus kita kalau sampai menyinggung dia dan masuk daftar hitam," bisik seseorang.


"Benar-benar.  Untung tadi ga jadi ikut-ikutan ngebully. Tapi, ga heran sih dia bisa mendekor kek gini. Jelas dia selama ini menyembunyikan identitasnya," balas seseorang lainnya.


Clarissa tidak menggubrisnya dan memilih untuk tetap tenang disana hingga sang ayah berkata


"Untuk para tamu undangan, dipersilahkan untuk mencicipi makanan sederhana dari cafe kami." Wisnu turun dari panggung sembari menggandeng istri tercintanya dan putrinya untuk turun dari panggung bersama.