Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Hamil?


Semua orang telah selesai dengan sarapan mereka. Karen dibantu dengan bibi dan Andrew membersihkan piring yang berserakan.


"Jasmine, berangkat bareng saya aja ya. Nanti saya antar kamu pulang terlebih dahulu," ucap Lauren menawarkan diri.


"Tidak usah tuan. Saya bisa sendiri," tolak Jasmine.


"Jasmine, kamu terima aja tawaran Lauren. Ku kira itu dapat menghemat ongkos juga dan waktu," ucap Eren.


"Baik om." Jasmine akhirnya terpaksa menyetujuinya.


"Pa, Alen, bi, Andrew, aku berangkat dulu. Bye bye," pamit Lauren.


"Bye kak. Hati-hati!" Setu Karen.


Di dalam mobil...


"Kamu jangan macam-macam ya saat di rumah saya," ucap Jasmine sambil menutupi badannya.


"Cihh. Kalau bukan karena kemarin gue khilaf, gue ga bakal mau kali sama lu," jawab Lauren.


"Dasar pria buaya! Udah menggunakan malah ucapannya menyakitkan. Huh!" Jasmine melipat kedua tangannya dan terdiam sepanjang perjalanan.


*...*


Disisi lain...


Wisnu dan Clarissa kembali ke markas tempat dimana Daniel berada.


"Pa. Please, lepaskan kak El," pinta Clarissa memohon.


"Sasa, jika masalah lain, papa akan turuti kamu. Kalau masalah kali ini, papa minta maaf papa tidak dapat memaafkanmu," ucap Wisnu.


"Please." Mata Clarissa membulat dengan sempurna, namun Wisnu masih pada keputusannya.


"Roy, bawa nona ke kampusnya," titah Wisnu tegas.


"Pa! Jangan! Aku..."


"Maaf nona. Mohon anda tidak mempersulit saya," ucap Roy.


Roy membawa pergi Clarissa sesuai dengan perintah Wisnu. Wisnu pun mulai melakukan aksi kejinya hingga beberapa bulan kedepan.


Tiga minggu kemudian...


"Howek howek." Jasmine merasa sesuatu tidak beres pada tubuhnya.


"Mine, kamu kenapa?" Tanya seorang teman sekelas Jasmine.


"Aku juga tidak tahu. Dari kemarin, aku merasa aneh dengan badanku. Dari awal aku minta hal aneh-aneh yang bahkan aku sendiri membencinya. Lalu..." Jasmine menceritakan semua yang dialaminya beberapa hari inu.


"Apa jangan-jangan.. Kamu hamil lagi?" Tanya gadis itu.


"Brin, kamu tahu sendiri kan aku ga pernah punya pacar? Gimana bisa aku hamil?" Ucap Jasmine mengelak pernyataan itu.


Tapi kalau dipikir-pikir, seharusnya aku sudah datang bulan dari dua minggu lalu sih. Apa jangan-jangan...~Batin Jasmine.


Jasmine menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya. Dia mengelus pelan perutnya tanpa sepengetahuan Sabrina, teman sekelasnya itu.


"Kamu mau aku antar ke dokter? Aku bantu kamu izin," ucap Sabrina menawarkan diri.


"Ga perlu. Kamu tolong panggilkan Clarissa, anak entrepreneurship," ucap Jasmine.


"Okay," jawab Sabrina.


Jarak antar jurusan kebetulan tidak terlalu jauh. Beruntung di kampus mereka, mereka menyediakan sepeda dan mobil ramah lingkungan yang serba guna. Butuh hanya 3 menit untuk Sabrina untuk sampai ke gedung jurusan dimana Clarissa berada.


Ehh btw Clarissa yang dimaksud adalah nona besar dari keluarga Wijaya itu kan?~Batin Sabrina.


Saat Sabrina hendak memasuki gedung, tanpa sengaja tatapannya menangkap sosok yang ia cari hari ini.


"Nona Clarissa!" Pekik Sabrina memanggil Clarissa keras.


"Iya?"


Clarissa nampak cantik hari ini. Dengan pakaian bewarna hitam dengan sepatu hitam keren dengan kacamata hitamnya, membuat kesan elegant pada diri Clarissa. Apalagi, sifatnya yang begitu baik dan bersahabat, membuatnya sangat disukai orang,namun juga dibenci karena iri. QClarissa membuka kacamatanya dan turun dari mobilnya.


"Terimakasih paman Roy, " ucap Clarissa.


"Itu. Hosh hosh hosh." Nafas Sabrina membara tak beraturan, membuat Clarissa kebingungan.


"Kamu siapa? Lebih baik tarik nafas dulu lalu buang. Tenangkan dirimu," ucap Clarissa sambil membimbing Sabrina.


"Haaa... Hufttt." Sabrina menghela nafas.


Kini dia telah normal sepenuhnya.


"Saya Sabrina nona. Saya disuruh oleh Jasmine untuk memanggil anda. Saya tidak yakin jika yang dimaksudnya adalah anda, namun saya pernah melihatnya bersama Jasmine," jelas Sabrina.


"Okay. Terus, untuk apa kau datang kemari?" Tanya Clarissa tenang.


"Jasmine, non. Dia... dia tadi muntah, lalu sekarang lemas. Dia tidak mau dibawa ke dokter dan hanya ingin dipanggilkan anda," ucap Sabrina.


"Maaf ya non telah mengganggu waktu anda," lanjutnya.


"Gapapa gapapa. Sekarang, kita ke Jasmine terlebih dahulu." Clarissa pergi sesuai dengan petunjuk yang diberikan.


Sesampainya di kamar mandi jurusan seni...


"Jasmine, kau tak apa?" Tanya Clarissa panik.


"Ugh, aku benar-benar lemas Sa. Tolong bawa aku ke rumah sakit," ucap Jasmine akhirnya menyetujui.


"Nona, perlu saya bantu?" Tanya Sabrina.


"Boleh boleh. Tolong pesankan taksi online," ucap Clarissa.


Setelah taksi tersebut datang, Clarissa membopong tubuh Jasmine dan menuntunnya memasuki taksi tersebut.


"Nona, bisakah saya minta tolong untuk izinkan Jasmine ke dosennya? Untuk masalah saya, saya bisa mengurusnya sendiri," ucap Clarissa.


"Nona benar-benar tidak memerlukan bantuan saya?" Tanya Sabrina.


"Pak, jalan," titah Clarissa.


Mereka pun akhirnya pergi menuju rumah sakit tanpa ditemani oleh Sabrina.


Jasmine, semoga tidak hal serius yang terjadi.


Sabrina berdoa dalam hati.


Beberapa saat kemudian...


"Sus, tolong bantu saya," ucap Clarissa.


Seorang suster datang dan membantu Clarissa memapah sahabatnya.


"Sa, maaf sudah ngerepotin kamu," ucap Jasmine.


"Gapapa. Sekarang, kamu masuk dan periksakan diri dengan tenang. Aku akan mengurus administrasi dan menghubungi papa," ucap Clarissa.


Sedangkan itu, disisi lain...


Wisnu tengah sibuk dengan beberapa berkas kerjasama dan keuangan beberapa restoran yang terbengkalai akibat menyelesaikan urusan Daniel dan putrinya.


"Huwahhh. Ternyata memiliki anak gadis benar-benar susah dan menyebalkan!" Keluh Wisnu.


Drrtttt... drtttt


Ponsel Wisnu berdering. Mata Wisnu langsung fokus pada ponselnya yang berada jauh dari jangkauannya.


"Haih, baru aja bersandar santai. Ada aja yang nelfon," lanjutnya.


Wisnu mengambil ponselnya dan langsing mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera disana.


"Halo Roy. Ada apa? Jika tidak ada urusan, jangan telepon saya," celoteh Wisnu.


"Apa yang ayah bicarakan?" Celetuk Clarissa di penghujung ponselnya.


"Ehh anak ayah ternyata. Haha maaf. Tadi paman Roy selalu mengganggu Ayah. Ada apa nak?" Tanya Wisnu.


"Ayah, aku izin tidak masuk kuliah. Ayah bantu Sasa izinkan ya," pinta Clarissa.


"Izin? Kenapa?" Tanya Wisnu.


"Kamu bolos ya," Selidik Wisnu.


"Apa yang ayah katakan? Jika aku niat membolos, ngapain juga aku telepon Ayah?" Tanya Wisnu.


"Terus kenapa? Btw, sejak kapan kamu memanggilku ayah?" Tanya Wisnu.


"Gapapa. Pengen aja," jawab Clarissa tidak berdasar.


"Ya ya terserahmu. Jelaskan pada papa, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Wisnu mulai serius.


"Aku ada di rumah sakit..." belum sempat Clarissa menyempurnakan kata-katanya, Wisnu dengan cepat memotongnya.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu gapapa kan?" Tanya Wisnu mulai panik.


"Tch, papa kebiasaan. Dengerin Sasa dulu!" Protes Clarissa.


"Okay okay. Papa dengarkan."


Clarissa menceritakan apa yang terjadi dan alasannya berada di rumah sakit.


Beberapa saat kemudian...


"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik dan salam untuk Jasmine. Semoga cepat sembuh," ucap Wisnu.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruangan Wisnu.


"Ya, masuk!" Teriak Wisnu dari dalam.


"Sayang. Papa ada orang nih. Kita sambung aja nanti ya. See u," ucap Wisnu.


"See u pa."


Clarissa kembali ke ruangan Jasmine dan menemui Jasmine sedang menunggu hasil di ranjang kamarnya.


"Gimana? Apa sesuatu terjadi?" Tanya Clarissa.


Jasmine hanya menggeleng.


"Aku belum tau. Ini masih nunggu hasilnya dari dokter," jawabnya.


Tak berselang lama, dokter pun datang.


"Dok, kenapa sama sahabat saya? Dia ga kenapa-napa kan?" Tanya Clarissa dengan mata pedulinya.


"Nona ini tidak apa-apa. Btw, kemana suaminya?" Tanya Dokter.


"Suami?" Clarissa dan Jasmine saling menatap.


"Sahabat saya belum menikah dok. Memangnya kenapa ya?" Tanya Clarissa bingung.


"Selamat anda hamil."


Jderrrr


Bak tersambat petir. Hati Jasmine berdegup kencang mendengar hasilnya. Di tubuhnya, kini telah hidup makhluk kecil milik orang lain yang entah sejak kapan itu hadir.


"Ha-hamil?" Tanya Jasmine masih tak percaya.


Dokter itu merespon dengan anggukan.


"Ya. Sudah sekitar tiga mingguan ini," ucap dokter.


"Ini resep vitamin, susu, dan obat serta catatan kecil yang anda boleh dan tidak boleh lakukan atau makan. Jika tidak ada hal lain lagi, saya permisi," pamit dokter.