
Andrew dan Karen telah tiba di kampus mereka. Hari ini, mereka sengaja datang lebih awal dan menjajakan makanan mereka di kantin kampus. Terlihat masih sepi,namun banyak makanan yang telah berjajar disana.
"Bu, boleh kami nitip beberapa dagangan kami?" Tanya Karen.
"Boleh, cantik. Mau dijual harga berapaan?" Jawab ibu kantin.
"Untuk burgernya boleh 2 dollars dari saya dan untuk makanan yang lainnya saya kasih 3-4 dollars bu," jawab Karen.
"Wihh, murah sekali. Baiklah, saya catat dulu ya," ucap ibu itu.
"Terimakasih bu," ucap Karen.
...*...*...
MIT sloan University...
Jasmine telah menghubungi Clarissa dengan pesan suara. Dia tentu tak lupa dengan share location tempat dimana dia berada. Lama menunggu Clarissa, wanita yang ditunggunya pun akhirnya datang.
"Hai, Jasmine. Kita ketemu lagi." Clarissa menghamburkan pelukan rindunya pada Jasmine.
"Apa kabar? Bagaimana di New Zealand? Bagus gak?" Tanya Jasmine.
"Baik kok. Bagus banget. Aku suka keliling sama papa wkwk. Mau lihat beberapa foto?" Tanya Clarissa.
"Boleh," jawab Jasmine.
Saat mereka tengah asyik melihat foto yang dipamerkan oleh Clarissa kepada Jasmine, tiba-tiba datanglah seorang cowok membuat onar disana.
"Clarissa sayang, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Balikan lagi sama aku ya," ucap pria itu sambil berlutut di depan kampus.
"Sa, ada orang yang nyariin lu tuh keknya," ucap seorang teman sekelas Clarissa.
"Siapa?" Tanya Clarissa.
"Gatau deh, lihat aja," jawabnya.
Clarissa bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju ke keramaian di depan pintu fakultas. Terlihat seorang pria dengan sebucket bunga mawar merah disana sedang berlutut sambil berteriak memanggil namanya, memohon ampun padanya.
"Kak El!" Seru Clarissa.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Clarissa.
"Aku... sa, please maafkan aku. Apapun akan aku lakukan pokoknya kamu maafin aku," ucap Daniel.
Kerlingan matanya membuat Clarissa tidak tega jika dirinya berkata tidak. Clarissa menghela nafas panjang dan memutuskan untuk memaafkannya dengan beberapa syarat.
"Huftt, baiklah. Tapi, kakak harus janji untuk memberikan hubungan yang jelas kepadaku. Jangan digantung kek gini," tegas Clarissa.
"Digantung itu ga enak," lanjutnya.
Daniel bangkit dari posisinya dan memegang erat tangan Clarissa.
"Beneran?" Tanyanya dengan mata berbinar.
Clarissa membalasnya dengan senyuman.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih," ucap Daniel yang lalu memeluk erat Clarissa.
"Ok, mulai hari ini hingga lusa dan sampai kapanpun, kau milikku dan aku milikku, ya?" Tanya Daniel.
"Yeah," jawab Clarissa.
Semua menjadi saksi janji Daniel kepada Clarissa. Mereka berpelukan untuk waktu yang lama hingga sebuah dering ponsel masuk ke ponsel Daniel.
"Halo, ada apa?" Tanya Daniel.
"Sayang, kamu kemana sih? Aku cari kamu di kelas kok gak ada?" Tanya seorang wanita di ujung telepon.
"Maaf. Saya akan kembali," ucap Daniel berpura-pura.
"Sa, aku sudah ditelepon sama ibu dosenku. Aku pergi dulu ya," pamitnya.
"Humm. Hati-hati," ucap Clarissa sambil melambaikan tangannya ke arah Daniel yang semakin lama semakin jauh.
Apakah aku harus mempercayainya lagi?~Batin Clarissa.
Sedangkan itu, di kantin...
Lauren tak sengaja lewat di sekitaran kantin. Dia melihat seorang wanita yang nampak tak asing baginya. Yap, wanita yang bertabrakan dan memakinya tadi.
Brakkk
Lauren menggebrak meja Jasmine yang sedang terduduk sendirian disana, menikmati makanannya sambil serius membaca.
"Kita bertemu lagi," ucap Lauren.
"Kau! Mau apa kau kemari?" Tanya Jasmine.
"Mau apa? Terserah gue dong mau apa," jawab Lauren yang membuat Jasmine semakin geram.
"Jangan duduk disini. Ini adalah tempat duduk temanku," ucap Jasmine.
"Kantin ini adalah wilayah gue dan hanya gue yang boleh bertindak semau gue. Lu mau apa?" Tanya Lauren songong.
Baru kali ini Lauren bersikap arogan.
"Serah lu dah. Gue pergi dulu," ucap Jasmine yang beranjak dari tempat duduknya.
"Eits, aku tidak menyuruhmu pergi!" Seru Lauren.
Lauren menarik tangan Jasmine dan suatu insiden yang tak disengaja pun terjadi. Jasmine jatuh di pelukan Lauren, mereka sangat dekat hingga menyita perhatian banyak warganet. Bagaimana pun, Lauren adalah pria idaman semua orang.
"Tch, Lepaskan gue!" Pekik Jasmine.
Jasmine meronta dan berusaha melepaskan dirinya. Dia takut kedepannya akan semakin sulit menghadapi para penggemar gila Lauren. Lauren yang mengerti maksudnya malah menariknya mendekat hingga mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Apa yang kau lakukan?" Bisik Jasmine.
Lauren yang gemas dengan wanita di hadapannya ini. Dia mendekatkan kepala Jasmine ke arahnya dan memulai aksinya. Dia mengecup lembut bibir milik Jasmine hingga sang empunya hanya dapat membelalakkan matanya. Bukan melawan, Jasmine malah terlena dibuatnya. First kiss yang dilakukan oleh Lauren terhadapnya membuatnya ketagihan. Namun, sesuatu membuatnya tersadar. Dia mencoba mendorong Lauren,bahkan menggigit ujung bibir pria itu hingga berdarah.
"Auhh, apa kau anjing?!" Pekik Lauren.
"Suruh siapa kau begitu kurang ajar?" Balas Jasmine yang lalu berlalu pergi meninggalkan Lauren yang masih terduduk sambil mengusap lembut bibirnya yang berdarah. Dia menarik sudut bibirnya dan menyeringai sambil berkata dalam hatinya
Kau benar-benar menarik~Batin Lauren.
Jasmine berjalan menuju kelasnya tanpa memedulikan keberadaan sahabatnya.
"Cihh. Apa-apaan katanya seorang pria bermartabat? Dia malah mirip baj*ngan brengjek bagiku," gumam Jasmine.
...*...*...
Bel untuk istirahat pun berbunyi. Andrew sesegera mungkin merapikan bukunya dan berlari menuju kelas dimana Karen berada. Pria itu telah melakukannya selama 2 tahun berturut-turut,tanpa absen sekalipun mereka sedang dalam mode marahan.
"Ahem, kamu sudah dijemput pangeran berkuda mu itu keknya," ucap Rosaline Karen.
Karen tersipu malu dibuatnya.
"Kalau gitu. Aku duluan ya. Jangan Lupa beli ya nanti di depan pintu ruangan osis," ucap Karen. Karen menghaturkan kiss goodbye dengan tangannya kepada Rosaline.
"Siap ya..." seseorang tengah merencanakan sesuatu yang jahat. Mereka memasang benang yang hampir tembus pandang untuk mengerjai Karen disana.
Saat Karen mendekat, tanpa sadar ia melihat sesuatu yang janggal dari biasanya. Terlihat seperti jaring laba-laba yang jika dia menginjaknya akan berakibat fatal baginya. Tak kehilangan akal, Karen berpura-pura seperti tidak terjadi apapun.
"Kamu sudah menunggu lama?" Tanya Karen mengalihkan perhatian.
"Gak terlalu sih. Jadi kan?" Tanya Andrew.
Karen hanya mengangguk.
"Aku ambil tempatnya dulu ya sama tikernya," ucap Andrew.
"Tunggu!" Teriak Karen.
"Ada apa?" Tanya Andrew.
Karen berjalan mendekati Andrew dan membisikkan sesuatu padanya. Andrew menuruti keinginannya dan berpura-pura tersenyum saat Karen mencium telinganya.
Andrew masuk ke dalam kelas dan mengambil beberapa peralatan yang mereka butuhkan.
Setelah keluar, Andrew dan Karen berlalu pergi begitu saja tanpa sesuatu terjadi kepada mereka.
"Huh, kenapa sih wanita miskin yang jelek itu susah sekali dijebak? Apa mungkin dia mengetahuinya?" Gumam Angela.
"Mana mungkin bos? Dia kan bodoh. Dia cupu dan polos. Hanya saja tuan muda yang buta," ucap anak buahnya.
"Ahh ga peduli. Gue cobain. Jangan-jangan perangkapnya lagi yang gagal," ucap Angela.
Angela mencoba sendiri perangkap yang ia buat untuk memastikan jika perangkap itu benar-benar berfungsi.
Satu... Dua... Tiga...
Byurrrr. Ember berisikan air comberan bekas cuci piring yang mereka siapkan untuk Karen mengenai Angela saat ini. Tubuh wanita itu basah kuyup dan bau dan yang lebih parahnya lagi adalah
"Huwahh... panas! Mataku panas! PERIH!" Seru Angela panik mencari air.
Angela berlari sembarangan hingga dirinya tercebur di sebuah kolam ikan di depan kelas mereka.
"Hahaha hahaha"
Semua orang menertawainya. Dia terlihat bodoh.
"Pfttt hahaha. Rasain lu. Siapa suruh menjebak Karen?" Ucap Karen bangga.
"Iya. Iya. Kamu yang paling cerdas." Andrew mengusap rambut Karen lembut.
"Ya udah yuk kita lanjut," lanjutnya.