
Sedangkan itu, di Harvard University, Amerika Serikat.
Karen menjalankan kuliahnya selayaknya semestinya. Saat Andrew mendekat, dia berusaha menghindarinya. Begitu terus hingga mereka sama sekali tidak menemukan titik terang. Sudah Sebulan lebih mereka dalam jarak yang entah seberapa panjang ini. Hingga suatu hari, Andrew dengan berani menghadapinya di depan semua orang.
"Karen!" Panggilnya.
Karen sama sekali tidak menggubris panggilan Andrew. Andrew tidak menyerah kali ini. Sudah cukup jarak diantara mereka terbentang begitu lebar, dia lelah, lelah dihantui perasaan bersalah. Dia lelah jika harus berjauhan dengan Karen. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, namun Andrew benar-benar tidak bisa seharipun tanpa memikirkan wanita itu.
"Tunggu tunggu." Andrew berlari dan menggapai tangan Karen disana.
Karen membenarkan kacamatanya.
"Rose, kamu ke kelas dulu," ucap Karen kepada salah seorang teman sebangkunya.
"Kamu gapapa aku tinggal? Gimana kalau kak Andrew lagi-lagi menindasmu?" Tanya Rosaline khawatir.
"Tenang saja. Dia tidak akan berani menindasku. Kau pikir Aku adalah Karen si lemah seperti kata mereka? Tentu tidak," ucap Karen sok kuat.
Rosaline menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, kamu jaga diri ya. Jangan dekat-dekat dengannya atau para geng pecintanya akan mencari masalah denganmu," ucap Rosaline memperingatkan.
"Humm. Thank u sudah mengingatkan. Aku akan baik-baik saja," ucap Karen diakhiri dengan senyum manisnya.
DEG!!
Jantung Andrew tiba-tiba berhenti berdetak melihat senyum manis milik Karen yang lama ia rindukan.
"Humm. Bicaralah," ucap Karen acuh.
"Karen, please maafin aku. Kamu mau sampai kapan sih begini? Kau tahu keadaan saat itu, aku dijebak. Aku bahkan tidak sadar. Kumohon maafkan aku," ucap Andrew.
"Setelah semua yang kau lakukan, dengan semudah itu bilang maaf? Sorry, aku ga bisa," ucap Karen tegas.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku? Membelikanmu rumah? Mobil? Menikahimu? Bertemu kedua orang tuamu? Aku akan melakukan segalanya bahkan jika itu mengorbankan nyawaku," ucap Andrew.
"Cihh gombal!" Seru Karen.
Karen melipat kedua tangannya dan memalingkan pandangannya.
Andrew telah kehilangan akal. Dia bertekuk lutut di depan Karen sambil mengadahkan wajahnya, memelas memohon ampun.
"KAREN WILLIAM, AKU SEPENUHNYA MEMINTA MAAF KEPADAMU. AKU AKAN MELAKUKAN SEGALANYA, BAHKAN JIKA PERLU AKU SIAP UNTUK MATI AGAR KAU MAU MEMAAFKANKU!" Teriak Andrew menarik perhatian semua orang.
Wajah Karen memerah. Dia tak tahu bila orang dihadapannya ini akan benar-benar begitu nekad.
"Bos, apa yang kau lakukan? Kau akan kehilangan imagemu?" Bisik David.
"Apa artinya image? Aku tidak akan berdiri jika dia tidak memaafkanku," ucap Andrew bermaksud menyindir.
Sheila melihatnya dari kejauhan. Hatinya memanas dan pandangannya pun berubah menjadi benci, matanya memerah dan ingin sekali dia menggampar wanita itu hingga dia berani-beraninya membuat Andrew sujud dihadapannya.
"Enggak! Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus memberinya pelajaran," gumam Sheila penuh amarah.
"Dia merebut Andrew dariku. Sekarang, dia bahkan menyuruhnya... kurang ajar!" Umpat Sheila.
Sheila mendatangi Karen yang berada disana dan mendaratkan sebuah tamparan di pipinya hingga memerah.
Plakkk
Semua orang berdecit mendengarnya. Ngeri. Pertengkaran mereka kini menjadi tontonan publik, semua orang tidak peduli dari jurusan manapun, telah melihatnya. Beberapa orang bahkan merekamnya.
"Lu, cewek cupu yang ga tau diri, berani-beraninya menyuruh Andrew gue untuk berlutut! Pergi Sekarang atau aku akan meminta rektor menskorsmu dan mengeluarkanmu dari univ ini!" Ancam Sheila.
"Oh, jadi kau berteriak, memekik, berseru di hadapan semua orang agar aku dapat dipermalukan dihadapan semua orang dengan TAMPARAN tidak berarti ini? Thanks Andrew. Aku semakin yakin kalau kau memang tidak pernah LAYAK mendapatkan maaf dariku." Karen pergi meninggalkan Andrew yang masih berlutut disana dengan perasaan campur aduk. Dia berlari kencang menuju ke toilet kampus terdekat.
Air matanya pun terjun bebas tanpa dapat ia kontrol.
"Kau jahat, Andrew. Kau benar-benar licik! Jika kau ingin balas dendam,karena Aku sudah mengabaikanmu, kenapa kau tidak melakukannya secara langsung? Mengapa kau harus membuatku malu? Hiks hiks hiks," gumam Karen sendiri di kamar mandi.
"Tidak, aku tidak boleh selemah ini. Aku adalah Karen William, anak dari Mama Kaira Luna dan papa Eren William, kedua orang terhebat di negeri ini. Mana boleh begitu lemah? Bahkan jika kak Olen melihatnya, dia pasti telah menampar pantatku," ucap Karen menyemangati diri sendiri.
Karen menghapus air matanya dengan membasuh mukanya, mengenakan tisu dan membenarkan kembali kacamatanya.
Dia keluar dari kamar mandi dan menuju kelasnya.
Sedangkan itu, di depan lapangan, tempat dimana kejadian terjadi...
"PUAS kau!! Puas?!!" Bentak Andrew yang berdiri dari berlututnya.
Plakkk
Dia membuang bunga yang baru saja ia beli itu sembarangan. Emosinya memuncak setelah rencananya digagalkan oleh Sheila.
"An.. Andrew.. Kau.. Kau tidak akan melakukan apapun padaku kan?" Tanya Sheila terbata-bata.
Sheila beberapa kali menelan ludahnya, sedangkan Andrew semakin menunjukkan taringnya. Dia menekan Sheila mundur hingga berujung di sebuah dinding dekat kantin universitas mereka.
"Kau tau... aku telah mempersiapkan segalanya Sebulan lebih. Sebulan aku merasa bersalah, merasa jika diriku adalah pria baj*ngan. Sebulan juga aku tidak dapat tidur, karena takut dia akan menjauh..."
Sheila menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya mulai bergetar dan air matanya pun mulai berlinang. Dia sangat ketakutan di bawah tekanan Andrew yang dahsyat. Semua orang yang melihatnya pun tidak ada yang berani mendekat atau menyelamatkannya. Mereka semua tau dengan persis bagaimana tempramen Andrew saat dia marah.
"Kau pikir Aku bodoh dan tidak tahu bila kejadian di pesta itu, saat aku merasakan panas disekujur tubuhku, saat kau menggoda ku dan hampir menjebakku ke kamarmu... kau pikir Aku tidak tahu itu semua adalah ulahmu? Aku berbaik hati hingga saat ini tidak mempermasalahkannya, hingga kau muncul dan merusak segalanya," ucap Andrew pelan nyaris tidak terdengar oleh orang lain.
Jarak mereka sangat dekat, namun tempramen Andrew telah mencapai puncaknya. Semua orang bahkan berpikir bila Sheila akan tamat kali ini.
"Ta-tapi Andrew... Aku melakukan segalanya,karena Aku cinta kamu. Aku masih sangat mencintaimu," ucap Sheila.
"Atas dasar apa kamu berlutut dihadapan wanita cupu yang miskin dan tidak sederajat dengan kita itu?" Lanjutnya yang membuat Andrew semakin marah.
"Cepat katakan sekali lagi!" Ucap Andrew penuh penekanan.
"Wanita cupu yang miskin dan tidak sederajat, atas dasar apa..." ucapan Sheila terhenti saat tangan kiri Andrew mencekik lehernya Sekarang. Sheila memelotot, kedua tangannya berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Andrew.
"BERHENTI MENGHINANYA!" Bentaknya.
"An-andrew... to-tolong le.. tolong lepaskan aku." Sheila berbicara dengan susah payah. Kini nafasnya telah diujung tanduk. Tidak ada pilihan lain lagi. Seorang wanita yang juga merupakan teman baik Sheila berlari ke kelas dimana Karen berada. Beruntung sekali tidak ada dosen disana.
Tok tok tok
Wanita itu mengetuknya dengan sangat keras dengan ekspresi panik.
"Siapa disini yang namanya Karen?" Tanyanya panik.
"KAREN! OH KAREN!" Panggil Rose yang kebetulan sedang menuju pintu.
"Woyy, cupu! Lu selain cupu, jelek, miskin, budeg juga kah?" Ucap seorang teman sekelas Karen.
Karen terkenal sebagai wanita cupu yang miskin yang masuk ke dalam universitas,karena keberuntungan. Dia mulai terbiasa dengan segalanya. Dia tidak menggubris semua bully-an yang ditujukan padanya. Niatnya disana hanya belajar dan belajar, bukan mencari relasi maupun pacar,karena relasi Ayahnya sudah lebih dari cukup untuknya mendapatkan pekerjaan.
"Saya kak. Ada apa ya?" Tanya Karen yang tiba-tiba muncul dari bawah mejanya.
"Karen, please tolongin! Cuman kamu yang bisa menolongnya!" Ucap wanita itu dengan mengayun-ayunkan tangan Karen, memohon padanya.
"Tolongin? Nolongin siapa?" Tanya Karen polos.
"Sheila. Dia dalam bahaya..." ucapnya yang kemudian dipotong oleh Karen.
"Apa hubungannya denganku? Dia telah menamparku sangat keras dan membuatku malu," ucap Karen acuh.
"Kali ini aja ya. Please. Andrew mengamuk dan... dan dia mencekik Sheila hingga wajahnya hampir membiru, kehabisan nafas," ucap wanita itu.
"Apa?" Pekik Karen yang mengundang perhatian semua orang.
"Ada apa cewek cupu?" Tanya seorang ketua kelas yang tiba-tiba datang.
"Kakak serius?"Tanya Karen yang mengabaikan pertanyaan ketua kelas.
"KAREN! BERANI-BERANINYA KAU MENGABAIKANKU!" Seru ketua kelas.
"Ngapain aku bercanda sih. Ayo lihat." Wanita itu tiba-tiba menarik Karen tanpa menunggu jawaban darinya. Karen melambaikan tangan kepada Rosaline untuk mengikutinya. Alhasil, semua mahasiswa di kelasnya pun mengikutinya.
Karen menutup mulutnya setibanya disana. Dia melihat adegan mengerikan yang tidak pernah ia lihat. Sheila benar-benar telah lemah tidak berdaya di tangan Andrew,namun dia masih tersadar. Suaranya pun hampir habis dan semua orang pun telah ricuh disana. Bahkan, seorang dosen pun tidak ada yang berani mendekat.
Apa yang dia lakukan? Aku tidak menyangka dia akan benar-benar senekad ini? Bahkan di lingkungan sekolahpun, dia benar-benar berani melakukannya. Jika bukan karena ayahnya yang merupakan orang terkenal di negeri ini setelah papa, mungkin dia udah di D.O.~Batin Karen.
"ANDREW CUKUP!" Pekik Karen dari belakang Andrew.
Emosi Andrew sedikit mereda. Kini Sheila bisa sedikit bernapas. Semua orang pun juga demikian.
"Karen. Kamu kembali? Kamu mau maafin aku kan?"Tanya Andrew.
"Kau gila ya? Apa kau tahu tindakanmu itu bisa melanggar hukum dan membahayakan nyawanya? Kau akan dipenjara!" Seru Karen.
Karen mendekati Andrew dan Sheila disana. Semua orang berharap agar Karen benar-benar bisa membuat Andrew berhenti.
"Membunuh? Aku tidak peduli. Walau aku dihukum, itu tidak akan berarti. Kau tidak memaafkanku, itu lebih seperti di neraka bagiku dibandingkan dengan mendekam di penjara," jawab Andrew.
"Turunkan dia!" Perintah Karen.
"Tidak. Kecuali jika kamu memaafkanku," tolak Andrew.
Karen menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Turunkan dia segera," ucap Karen sedikit terpaksa.
"Benarkah?" Tanya Andrew yang dijawab oleh anggukan oleh Karen.
Andrew langsung melepas Sheila dan membiarkannya terjatuh lemas di lantai.
"Thank u,Karen. THANK YOU!" Seru Andrew yang tanpa sadar langsung memeluk Karen.
Karen tidak menolaknya. Dia malah membalas pelukannya. Hatinya benar-benar telah diluluhkan oleh Andrew mulai saat itu.