Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Kejadian tidak Terduga 2


Wisnutama Cafe...


Karen masih setia dengan kegiatannya, memapah Andrew.


"Pa-panas..." rintih Andrew saat dirinya masih dipapah oleh Karen.


"Apa katamu?" Tanya Karen.


"Panas. Gadis jelek. Kenapa begitu gerah?" Gumam Andrew.


Andrew mulai melepasi kancingnya dengan tangannya yang lain.


"Hei, apa kau sudah gila? Kau mau melepaskan pakaianmu disini?" Tanya Karen.


"Kamu tidak merasakannya. Cepat bawa aku ke kamar. Aku sudah tak tahan," ucap Andrew.


Beberapa saat kemudian...


Karen dan Andrew telah tiba di depan kamar yang telah disediakan oleh Wisnu untuk beberapa tamu spesialnya.


"Nih kuncinya," ucap Andrew sedikit kasar.


"Yee, biasa saja kali. Ga usah ngegas,"timpal Karen.


Karen membukakan kuncinya dan dengan setianya dia memapah Andrew hingga mendaratkannya di kasur king bed miliknya.


"Hosh hosh"


Nafas Andrew memburu kepanasan.


"Nak dakjal, aku keluar dulu ya. Entar aku panggilin teman setiamu itu. Siapa namanya? Oh ya David kan ya?" Celoteh Karen yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Andrew.


Karen berpaling dari hadapannya dan pergi meninggalkan Andrew sendirian disana. Namun, dengan sigap Andrew meraih tangannya hingga membuat Karen jatuh dipeluknya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Karen.


"LEPASKAN AKU!!!" pekiknya.


"Jika kamu berani, aku akan..."


Andrew membungkam mulut merahnya dengan sebuah ciuman dahsyat miliknya. Karen membelalakkan matanya dan mencoba untuk melepaskan dirinya. Namun, apa mau dikata? Tenaga Andrew sangatlah besar dan dia hanya dapat meneteskan air matanya disana.


Papa, kakak. Tolong aku, please. Hiks hiks~Batin Karen.


Andrew menggulingkan Karen di kasurnya dan dia menaiki tubuhnya, memulai aksinya dengan men****janginya secara perlahan.


"Andrew! Please, Lepaskan aku!" Teriak Karen hingga suaranya serak.


Sayangnya, Andrew tetap melakukan aksinya. Tubuhnya semakin memanas saat melihat body goals milik Karen yang sempurna seperti sang ibunda.


...*....*...


Clara telah mendapatkan izin dari dokter untuk berkunjung ke makam Kaira seakan dirinya mengetahui ajal Clara akan segera tiba. Clara tersenyum lebar saat permintaannya kali ini disetujui.


"Tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat," ucap Clara bersemangat.


"Tapi, ini sudah malam sayang. Besok pagi aja ya?" Ucap Wisnu membujuknya.


"Tidak. Aku mau sekarang. Takutnya, besok ga sempat." Clara menatap Wisnu dalam-dalam. Ada kata yang ia siratkan dalam matanya seakan menghipnotis Wisnu untuk menuruti saja kemauannya, karena besok bisa jadi adalah hari kepergiannya.


Deg


Kenapa aku merasakan Clara akan meninggalkanku? Kenapa aku tegang saat dia menatapku? Mengapa...~Batin Wisnu.


Tidak, aku tidak boleh overthinking. Semua akan baik-baik saja. YA, SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA.


Wisnu membuang pikiran dan firasat buruknya jauh-jauh. Dia tersenyum kepada Clara dan menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan istrinya.


As long it makes u happy, I'll do all even if i should die, Clara. ~batin Wisnu sambil mengusap lembut rambut Clara.


"Baiklah, Sasa, Clara, kalian tunggu aku di mobil ya. Aku akan mengambil jaket untuk kalian. Udara malam tidak baik untuk kesehatan kalian," ucap Wisnu.


Sedangkan, Eren dan Lauren tidak tinggal diam disana. Mereka mengikuti mobil Wisnu di depan sana sekalian untuk berkunjung ke makam sang istri. Jika boleh jujur, Eren benar-benar merindukan sosok ceria Kaira. Sesekali dia mengusap air mata saat mengingat tentang Kaira.


"Papa kangen mama ya?" Tanya Lauren membuka obrolan di dalam keheningan diantara mereka.


Eren hanya tersenyum getir menjawabnya. Sudah dapat dipastikan bila dia sangat terluka serta kecewa dengan dirinya sendiri. Dia menyesal, sungguh menyesal telah menyia-nyiakan kebersamaannya dengan Kaira dan kedua buah hatinya. Namun, apa artinya sebuah penyesalan. Semua tetap akan berakhir sama. Semua akan sia-sia.


Hingga sebuah dering ponsel masuk ke ponsel milik Eren. Tertera nama Rangga disana. Dia sesegera mungkin untuk mengangkatnya.


"Halo tuan," ucap Rangga di penghujung telepon sana.


"Humm. Bagaimana Karen? Dia sudah bersama kalian?" Tanya Eren.


"Itu masalahnya tuan. Kami tidak menemukan keberadaan Nona muda di seluruh tempat. Kami telah menyuruh orang untuk melacak seluruh cafe," Jawab Rangga.


"Apa? Baiklah, tunggu aku disana," ucap Eren dengan raut wajah panik.


Eren menutup teleponnya dan sesegera mungkin putar balik ke cafe milik Wisnu, tempat dimana Karen berada.


"Apa yang terjadi,pa? Sesuatu buruk menimpa Karen?" Tanya Lauren saat melihat raut wajah panik Eren.


"Adik kamu tidak ditemukan. Papa khawatir dia kenapa-napa," jawab Eren.


"Ara, maafkan aku. Aku tidak bisa ikut menjengukmu disana," gumam Eren sambil menyetir.


...*...*...


Sudah lama Clara tidak menghirup udara malam. Dia benar-benar merindukan masa mudanya yang sering keluar malam dan dengan liarnya mencari pria mapan, tidak peduli bagaimanapun rupanya. Sungguh ironi, dia hanya dapat tertawa dalam hati saat melihat itu semua. Sesekali dia menilik ke arah Wisnu dan Sasa secara bergantian, lalu tersenyum tanpa sebab. Sedangkan itu, Sasa terus saja terdiam disana sambil bergumam dalam hatinya.


Apakah kita tetap akan bisa seperti ini kelak? Pa, ma, please jangan tinggalin Sa sendirian. Sasa masih belum mampu untuk kehilangan kalian~ batin Clarissa.


Dalam diam, dia menangis. Mengelus lembut kaca dan menoleh ke arah luar sana. Dia melihat beberapa anak yang sangat bahagia dengan orang tuanya yang masih sehat, sama halnya dengan waktu ia kecil dulu. Sayangnya, dia melewatkan waktu 5 tahunnya tanpa hadirnya sosok Wisnu dalam hidupnya akibat keegoisan sang ibunda.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya dan apa maksud dari firasat burukku ini. Namun, aku masih ingin seperti ini, seperti melewati malam yang indah bersama kalian, bintangku.~Batin Wisnu.


Keheningan menyelimuti mereka bertiga hingga tak terasa mereka telah tiba di tempat tujuan, dengan membawa perasaan mereka masing-masing.


"Clar, Sa, kita sudah sampai," ucap Wisnu membuka obrolan.


Clara dan Clarissa turun tanpa kata. Clarissa memapah ibundanya masuk kedalam.


"Kaira, aku datang lagi. Entah kenapa, beberapa hari ini aku kepikiran dengan dosaku padamu waktu itu. Aku telah sangat menyakitimu, membuatmu membesarkan anak tanpa sosok seorang pria dan memisahkan Lauren dan Karen dari ayahnya, karena keegoisanku." Clara menangis diatas batu nisan Kaira dan memeluknya erat.


Tangis tak terbendungkan lagi di pelupuk mata Clarissa dan Wisnu. Mereka berdua hanya terdiam haru mendengarkan ucapan ibundanya.


Sebenarnya, apa kesalahan mama hingga mama merasa sangat bersalah pada tante Kaira. Aku bahkan benar-benar telah melupakan wajahnya.~Batin Clarissa.


"Jika aku tidak kesini sekarang, aku gatau gimana akan menghadapimu nanti saat kita bertemu. Aku tidak akan pergi dengan tenang. Kumohon maafkan aku. Aku tidak ingin semua ini, karma ini, Clarissa yang menerimanya. Bagaimana aku bisa pergi dengan tenang?" Gumam Clara yang masih dapat terdengar jelas oleh Clarissa dan Wisnu.


"Mama ngomong apaan sih? Tante Kaira pasti maafin mama kok. Udah ya ma kita pulang," ucap Clarissa yang langsung menarik mundur Clara agar ucapannya tidak semakin melantur.