Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Pesta Pertunangan 2


"Baiklah. Saat ini adalah yang kita tunggu-tunggu. Mari kita sambut pihak wanita, Nona Karen."


Karen bersama dengan Eren dan Lauren berjalan menuruni anak tangga. Karen terlihat sangat cantik kala itu dengan gaun bewarna merah serta high heels yang senada dengan gaunnya menambah wajah sempurna Karen. Gadis itu telah bertumbuh dewasa, persis seperti Kaira saat dirinya dipinang Eren kala itu.


Senyum mengembang di wajah Eren yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata


Sedangkan Lauren, dia menangkap sosok yang tidak asing baginya. Wanita yang pernah mendapatkan ciuman pertamanya berdiri disamping Clarissa, mereka sedang berbincang.


"Apa aku salah lihat? Itu Karen kan? Kok bisa dia digandeng oleh tuan muda dan tuan besar William?" Bisik seseorang.


"Rose. Lu kan temen deketnya, sebenarnya siapa Karen itu?" Tanya gadis itu.


Rose hanya menanggapinya dengan gudikan bahu.


Karen mendekati Andrew yang telah lama menunggunya. Terlihat dari wajahnya bila dia sangat gembira sekaligus terkejut.


"Tu-tuan Eren. Ke-kenapa anda ada disini dan menggandeng wanita ini," tanya papa Andrew gugup.


Prosesi lamaran pun dilakukan. Andrew memasangkan sebuah cincin yang dibelinya dengan kerja kerasnya menjadi seorang pengusaha makanan. Pembawa acara itu memberikan mic di tangannya kepada Andrew


"Karen, tepat pada hari ini, aku menyatakan bila aku sangat mencintaimu." Andrew berlutut dihadapan Karen dengan membawa sebuah cincin berlian yang tak seberapa harganya itu.


"Karen William, apakah kau mau menikah denganku, menjadi pendamping hidupku, melahirkan keturunan untukku, dan menua bersamaku?" Tanya Andrew.


Eren hampir saja menitihkan air matanya.


"Pa, tahan. Jaga image," bisik Lauren.


"Hiks hiks. Kamu belum berumah tangga dan memiliki anak. Kau akan tahu apa yang papa rasakan kali ini," ucap Eren.


"Cihh, lebay. Lagian ya Olen masih muda. Aku masih ingin fokus ke karir," ucap Lauren.


"Sebelum menjawab pertanyaanmu, aku ingin menanyakan sesuatu dengan jelas," ucap Karen tegas.


"Jika aku tidak memiliki keturunan, apa yang akan kamu lakukan? Lalu, jika ada wanita yang lebih menggoda dariku atau seseorang yang lebih membuatmu nyaman, akankah kau meninggalkanku? Lalu, bagaimana jika masa lalumu datang?" Tanya Karen.


Karen masih mengingat dengan jelas kehancuran keluarganya akibat dari sosok ketiga dalam rumah tangga kedua orang tuanya. Eren merasa dirinya sedang mendapatkan tamparan dari anaknya. Kilasan kisah kelam pun seketika memenuhi pikiran mereka, tidak terkecuali dengan beberapa tamu undangan yang dekat dengan mereka.


"Aku tidak pernah tahu apa saja yang telah kamu dan keluargamu alami sebelumnya. Aku mengerti kekhawatiranmu dan traumamu, tapi aku bersumpah dengan tubuhku, aku tidak akan pernah mengkhianatimu." Andrew mengacungkan dua jarinya untuk menyatakan kesungguhannya.


"Huftt, jika begitu, aku akan terima," ucap Karen.


Andrew memasangkan cincin di jari manis Karen. Suasana kini berubah menjadi sendu. Eren terharu dibuat mereka. Pria itu dengan mengorbankan harga dirinya, dia memeluk Lauren yang berada disampingnya.


"Pa, jaga image anda,please!" Seru Lauren.


"Sungguh mengharukan sekali ya pemirsa. Untuk tuan Eren dan Tuan Muda, apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan? Atau apakah ada penjelasan tentang kejadian hari ini?" Tanya Pembawa acara.


Lauren dan Eren menuju kedua pasangan itu.


"Ya. Tentu saja kami sangat berbahagia. Untuk penjelasan, mungkin kini adalah waktunya untuk mengumumkan identitasnya."


"Dia adalah Karen William, anak kedua saya dan Kaira, mendiang istri saya. Kami bukan bermaksud menyembunyikannya, tapi kami menghargai keputusannya untuk menyembunyikan semua ini," ucap Eren tegas.


"Jadi, bisa dikatakan dia adalah nona muda keluarga William yang misterius itu?" Tanya pembawa acara.


"Tidak bisa dikatakan misterius. Dia sering saya ajak ke beberapa perjamuan," jawab Eren.


"Hahaha. Kami benar-benar tidak menyangka. Sekali lagi, selamat ya tuan Rivaldo dan nona William," ucap Pembawa acara.


*....*


Semua orang menikmati pesta hari ini.


Sedangkan Eren sekeluarga dan Andrew sekeluarga melakukan pendekatan diri akan semakin akrab.


"Jika bukan karena Andrew telah membuat anak saya bahagia, mungkin saya tidak akan mungkin mengizinkan dia menikahi pria yang memiliki orang tua yang tidak bisa menikahi anak saya," ucap Eren.


"Untung saja Karen adalah wanita yang kuat. Kalian pikir, saat kalian melamar Karen kala itu, saya tidak mendengar semuanya?" Lanjut Eren sedikit emosi.


"Ma-maafkan kami tuan Eren. Kami tidak mengetahui Karen adalah anak anda..."


"Humph."


"Andrew gak nyangka deh. Sayang, kamu masih ingat dengan perkataanku kali itu?" Tanya Andrew.


"Yang katanya kamu mau dijodohkan dengan anak dari papa kamu kan? Terus kamu memutuskan untuk mencari uang sendiri dan mengembalikan semua yang kamu punya?" Tanya Karen.


"Yap. Sebenarnya, aku mau dijodohkan dengan anak dari tuan Eren ini. Aku sempat kesini kala itu, tapi aku tidak melihatmu. Kata tuan Eren, kamu sedang bermain di rumah tuan Wisnu," jawab Andrew.


"Panggil saya papa. Kau sudah akan menjadi menantuku." Eren memotong perkataan mereka.


"Konyol ya. Aku menolak perjodohan itu dan malah memilih untuk jualan sama kamu dan sekarang, aku menikahi wanita yang seharusnya dijodohkan denganku kala itu."


"Jika bukan karena kesalahpahaman dan ketidaktahuan waktu itu, apa kamu akan seperti sekarang? Memiliki perusahaanmu sendiri haha."


...*...*...


Malam semakin larut, tamu undangan pun berangsur-angsur pulang.


"Eren, aku sama Clarissa mau pulang dulu. Kami masih ada urusan lain," pamit Wisnu.


"Oh baiklah. Hati-hati ya sobat." Eren menepuk pundak Wisnu pelan.


"Thank u bro."


"Karen, om pulang dulu ya. Sekali lagi, selamat buat kamu," ucap Wisnu.


"Makasih om. Kak sasa, kapan nih nyusul?" Goda Karen.


"Haha. Kamu bercanda. Aku mana ada calon," ucap Clarissa.


"Hilih. Kak Sasa itu cantik. Ga mungkin kan ga ada calon."


"Ehh btw kemana kak Olen?" Tanya Karen.


Karen sambil menilik, namun tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Sayang, kamu cari siapa? Cari cowok incaran kamu ya?!" Seru Andrew bertanya dengan tatapannya yang serius.


"Iya aku cariin seorang cowok. Masalah?" Karen tak kalah nyolotnya dari Andrew.


"kamu... Kamu tega sama aku? ini masih hari pertunangan kita..." Andrew menunduk sejenak. Karen pun hanya dapat menghela nafas berat melihat tingkah konyol tunangannya itu.


Dengan sedikit kasar, Karen mnengadahkan wajah Andrew kepadanya. Mata Andrew membulat sempurna, matanya pun sedikit berkaca-kaca.


Gila! Nih anak jago banget aktingnya. Kenapa dia tidak jadi aktor saja?~Batin Karen.


Karen menepuk dahinya pelan.


"Apa sih kamu kek bocil. Aku memang sedang nyari seorang cowok. Jangan lupa kak Olen kan cowok!" Pekik Karen geram.


"Hahaha. Aku tahu kok. Mana mungkin sayangku ini cari pria lain dibelakangku." Andrew mengusap-usapkan pipinya pada pundak Karen.


"Ya, ya. Serah kamu aja deh."