Karma Peninggalan Mama

Karma Peninggalan Mama
Mengungkap Fakta


Jasmine mengambil resep obat yang trlah diberikan oleh dokter dengan tangannya yang masih gemetaran. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin dia hamil? Lalu, itu anak siapa? Pertanyaan itu silih berganti memenuhi pikirannya.


Sama dengan yang dipikirkan dengan Clarissa. Dia bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Sejak kapan Jasmine begitu bertindak sembrono hingga menempatkannya dalam masalah yang besar.


Langkah Clarissa terhenti sejenak. Dia benar-benar tak mampu untuk menahan diri untuk tidak bertanya.


"Mine, maaf ya sebelumnya. Aku benar-benar ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi? Bayi ini milik siapa? Pria brengs*k mana yang telah melecehkanmu?" Tanya Clarissa.


"Aku juga ga tau, Sa. Aku coba mengingat,namun tak kunjung ingat. Apa yang harus ku lakukan?" Lirih Jasmine.


Seketika bayangan malam pertunangan Karen beberapa minggu lalu berkelebat di pikirannya. Kini dia tahu siapakah ayah dari bayinya.


"Aku ingat sesuatu,Sa." Ucapan Jasmine menghentikan langkah Clarissa yang telah mendahuluinya.


"Ingat apa?" Tanya Clarissa.


"Malam itu, tepat pada malam pertunangan Karen, semua ini terjadi..." Jasmine menjawabnya dengan penuh keraguan.


Clarissa buru-buru menghampirinya. Dia menghadapkan Jasmine kepadanya.


"Mine, tatap aku. Bilanglah, aku tidak akan menghujatmu," bisik Clarissa.


"Waktu itu, pria itu menghampiriku. Dia hanya berniat menggodaku seperti biasa. Namun, tanpa sengaja aku menyinggung tentang orang tuanya yang tidak pernah mendidiknya. Dia marah dan membawaku ke kamarnya. Dia..." Tangis Jasmine pecah saat mengingat kejadian hari itu. Pupuslah sudah semua mimpi dan angan, serta cita-cita yang dia perjuangkan selama ini.


"Tunggu. Seperti biasa? Kamarnya? Apa jangan-jangan..." Ucap Clarissa menerka jawaban.


"Ya. Anak ini miliknya. Tuan muda William," jawab Jasmine.


Mata Clarissa melotot tajam. Atensinya beralih kehadapan Jasmine. Dia benar-benar tak percaya, seperti hancur untuk yang kedua kalinya.


Ba-bagaimana mungkin? Dia... aku tidak pernah menyangka jika Lauren akan sebejat itu. Walau aku mengatakan aku sudah move on, tapi mengapa hati ini masih tetap sakit saat mendengar dia telah menghamili wanita lain? Ada apa denganku?~Batin Clarissa.


Clarissa mengendurkan cengkeramannya. Dia mundur beberapa langkah. Matanya yang membelalak, kini berlinang air mata yang masih terbendung disana.


Sa, lu ga boleh lemah. Lu harus membantu Jasmine untuk meminta pertanggung jawaban.~Batin Clarissa.


Clarissa telah bertekad untuk membantu sahabatnya. Setelah menebus resep yang telah diberikan, Clarissa bersama dengan Jasmine menuju rumah Lauren.


Sedangkan itu, disisi lain...


Hari ini adalah ujian untuk Karen agar dirinya dapat memasuki kedutaan negara sesuai keinginannya. Dengan sabar, Andrew menantinya di sebuah ruang tunggu yang telah disediakan. Mulutnya komat-kamit sambil mengharapkan yang terbaik bagi calon istrinya.


Kringg kringgg...


Sebuah dering ponsel miliknya memenuhi ruangan. Dia buru-buru mengangkat setelah melihat nama yang tertera disana. Ayah mertua.


"Iya pa? Ada apa?" Tanya Andrew.


"Drew, bagaimana dengan tesnya? Apakah sudah selesai?" Tanya Eren.


"Jika belum, saya mau kesan," lanjutnya.


"Belum. Saya masih berada di ruang tunggu. Papa bisa langsung kesini," jawabnya.


Beberapa saat kemudian...


Eren telah tiba di gedung kedutaan tempat dimana tes tersebut diselenggarakan. Dengan mengikuti Live location yang dikirimkan oleh Andrew, Eren pun menemukan keberadaan calon menantunya yang duduk termenung sendirian.


"Andrew!" Panggil Eren.


"Papa mertua, kakak ipar. Kalian... apa kalian tidak sibuk?" Tanya Andrew.


"Sibuk sih sibuk. Tapi, harus meluangkan waktu bagi putri kecil kesayanganku," ucap Eren dengan bangga.


"Kamu sendiri? Apakah tidak ada jadwal meeting?" Tanya Eren.


Andrew hanya menggelengkan kepala.


"Aku sudah mengatur ulang jadwalku. Aku mengosongkan semua kegiatan penting hari ini dan menyerahkan beberapa hal ke sekretarisku," jawab Andrew.


"Anak yang pintar. Papa bangga sama kamu," ucap Eren.


Tak lama kemudian, tes pun akhirnya telah selesai. Nilai pun langsung tertera di layar komputer. Dengan perasaan yang riang gembira, Karen menghampiri kesayangannya yang telah setia menantinya.


"ANDREW!" pekiknya bahagia.


"Ada apa sayang?" Tanya Andrew.


Karen menghamburkan pelukan bahagianya.


"Aku lulus!" Serunya dengan senang.


"Ahem. Kita berdua dianggap nyamuk?" Eren menghancurkan segala momen romantis diantara mereka.


"Mana mungkin?"


...*....*...


Eren dan yang lainnya memutuskan untuk pulang.


"Sayangnya papa. Mau kemana nih buat ngerayain kesuksesannya?" Tanya Eren.


"Ga usah kemana-mana. Di rumah aja. Undang keluarga dan teman dekat. Aku mau undang kak Sasa dan om nu," ucap Karen.


Panjang umur sekali untuk Clarissa. Wanita itu langsung menelepon Lauren tepat setelah Karen mengucap namanya.


"Siapa bang?" Tanya Eren.


"Clarissa yang telepon pa," jawab Lauren.


"Tumben kak Sa neleponnya di kakak, bukan aku?" Gumam Karen.


Lauren mengangkat bahunya tidak tahu.


"Halo, sa. Ada apa?" Tanya Lauren.


"Lu ada dimana? Gue ingin ketemu sama lu. Gue tunggu lu di depan rumah!" Seru Clarissa dengan nada serius.


Clarissa langsung memutus teleponnya tanpa memberi kesempatan bagi Lauren untuk berbicara.


"Kenapa Clarissa telepon?" Tanya Eren.


"Ga tau juga. Dia bilang mau ketemu sama aku terus nunggu aku di depan rumah. Terus diputus."


"Kalau begitu, kita percepat saja,Ndrew. Kasihan Clarissa kalau nunggu kelamaan," ucap Eren.


Andrew semakin melajukan kendaraannya semakin cepat.


...*...*...


Sesampainya di rumah...


Andrew memasukkan mobilnya dan mereka semua turun disana. Dengan langkah cepat, Clarissa menghampiri pria tampan dan tinggi di hadapannya itu. Clarissa yang biasanya bersikap anggun dan elegant pun tak mampu menahan amarahnya.


Plakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lauren dan hal itu disaksikan oleh semua orang yang berada disana.


"Auh!" Pekik Lauren kesakitan.


"Lu kenapa sih, Sa? Datang-datang main tampar aja. Sakit tau?" Tanya Lauren.


"Ada apa ini sebenarnya,Sasa? Kenapa kamu menampar anak om?" Tanya Eren.


Clarissa menggertakkan giginya.


"Lu bener-bener baj*ngan, Lauren!" Umpat Clarissa.


Lauren mengernyitkan dahinya tidak mengerti maksud dari perkataan Clarissa.


"Apa yang kamu bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Lauren.


Jasmine muncul di tengah-tengah mereka. Atensi mereka semua beralih ke wanita yang sedang menangis sesenggukan dihadapan mereka.


"Ka-kamu?" Lirih Lauren.


"Apa yang sudah lu lakuin ke sahabat gue? Tanggung jawab!" Seru Clarissa.


"Aku?"


Seketika bayangan kala itu terlintas ulang dipikiran Lauren. Dia mengingat dengan jelas bila dirinya merenggut kesucian seorang gadis di malam pertunangan adiknya tanpa pengaman.


"Ga nyangka ya seorang tuan muda keluarga ternama dan yang lebih parahnya lagi, bagaimana bisa tante Kaira yang baik hati dan juga om Eren yang tanggung jawab punya anak seperti lu? Gue benar-benar ga habis pikir," ucap Clarissa yang membuat suasana semakin tegang.


"Sa, jelaskan kepada om. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Eren yang sudah tak mampu memikirkan masalah di depannya.


"Asal om tau ya. Anak lelaki om yang satu ini, yang katanya idola setiap kaum hawa, telah melakukan perbuatan bejat. Dia telah menghamili anak orang," jawab Clarissa tegas.


"Apa?!"