
Segala hal telah dilakukan. Kini waktunya bagi Clara untuk dikebumikan. Semua keluarga dan kerabat telah berkumpul di rumah duka. Rumah yang dulunya bewarna, ceria dan bahagia. Penuh canda tawa ketiga insan manusia yang mengisinya,kini tinggallah kenangan. Hanya air mata yang mengisinya. Clarissa menangis dalam diam. Dia terlihat tegar,namun hatinya hancur. Sama halnya dengan Wisnu. Sahabat yang sangat ia butuhkan malah tidak menampakkan wujudnya. Hanya Laurenlah yang tersisa. Mau tidak mau, pria dingin itu menggantikan Karen untuk sementara waktu dengan harap-harap cemas menghinggapi mereka.
Sedangkan itu, di kamar VIP Wisnutama Cafe...
Karen telah bangun lebih awal. Entah mengapa hatinya terasa begitu gelisah. Setelah mengerjapkan netranya beberapa kali, mengusap lembut, dia menyadari bila dia tidak dikamarnya. Netranya membulat sempurna saat melihat isi kamarnya ditambah dengan seorang pria tampan tidur di sampingnya. Kilasan tadi malam, bagaimana Andrew dengan paksa mengambil miliknya. Menangis, meronta pun tidak ada yang menghiraukannya. Air matanya jatuh mengenai tubuh putih mulus Andrew.
Andrew terjaga dari tidurnya.
"Siapa sih nangis pagi-pagi?" Gumam Andrew.
Tunggu,Bukankah aku selalu tidur sendiri?Dan lagi, suara wanita?~Batin Andrew.
Andrew membalikkan tubuhnya dan melihat tubuh polos milik Karen yang telah penuh dengan tanda kepemilikannya. Dia membelalakkan matanya tak percaya. Dia telah mengambil harta mulia anak orang.
Sebejat-bejatnya dia, walau dia playboy kelas kakap, namun dia tidak pernah meniduri wanita manapun. Tidak peduli dalam kondisi mabuk maupun tidak. Dia selalu menjaga dirinya agar tidak merusak wanita lain sekalipun mereka yang menginginkannya.
"Kamu!" Pekiknya terkejut.
Plakkkk
Suara tamparan nyaring terdengar hingga keluar, membuat pengikut setia Andrew yang berjaga semalaman diluar tiba-tiba masuk melihatnya.
Andrew yang tersadar langsung memeluk erat Karen dan tidak membiarkan David melihat tubuh polos milik Karen.
"Kau diamlah sebentar. Ada David, " bisik Andrew.
"David, apakah aku tidak pernah mengingatkanmu tentang mengetuk pintu sebelum masuk?" Tandas Andrew tegas.
"Maaf bos. Aku tadi mendengar suara keras. Sepertinya aku tahu suara apa tadi. Pipimu memerah," ucap David menggoda Andrew.
"PERGI KAU!"Bentak Andrew sambil melemparkan bantal disekitarnya.
David membanting pintu sedikit keras. Sedangkan itu, Karen meronta mencoba untuk melepaskan dirinya.
"LEPASKAN AKU!" Seru Karen dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kau pria brengs*k!Kau telah mengambil milikku. Kau telah merenggut masa depanku. Kau pria baj*ngan. Kau pria arogan, pria yang bisanya menindas wanita. Aku membencimu!" Umpat Karen.
Karen membawa selimutnya menuju ke kamar mandi tanpa memedulikan tubuh Andrew yang masih tidak memakai sehelai pakaian pun.
Andrew mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
"Karen, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud. Biasanya, walau aku mabuk pun aku tidak akan melakukan hal tidak senonoh seperti ini. Kumohon maafkan aku. Aku siap untuk bertanggung jawab," ucap Andrew merasa bersalah.
"Kalau kau merasa bersalah, kalau kau mau menebus dosamu, maka renungkan itu dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi," jawab Karen.
Andrew melepaskan pelukannya perlahan. Entah mengapa hatinya merasa sakit saat Karen mengatakan dan melarang keras dirinya untuk bertemu dengan wanita yang memiliki memori pertemuan yang buruk dengannya.
Di dalam kamar mandi, Karen menangis keras di bawah shower. Dia telah merasa dirinya telah tidak suci lagi. Dia menggosok kuat-kuat tubuhnya agar bekasnya segera menghilang, agar Eren dan Lauren tidak mengetahuinya.
...*...*...
Andrew membiarkan Karen pergi dengan memakai pakaian miliknya. Pakaian Karen telah dirobek paksa oleh Andrew semalam. Karen terlihat cantik dan seksi dengan pakaian Andrew yang kedodoran. Wanita itu pulang dengan diantarkan oleh David.
Sesampainya di rumah...
Kemana semua orang? Kemana papa dan kak olen?~Batin Karen.
"Pa? Kak olen? Kalian dimana?"panggil Karen sambil mengelilingi rumahnya yang besar.
"Ehh non sudah pulang. Nona muda kemana saja? Semalaman tuan Eren tidak tidur akibat panik mencari nona," ucap Bibi yang entah darimana kedatangannya.
"Kaget saya bi," ucap Karen.
"Aku diajak temanku untuk ke rumah teman lainnya. Menjemputnya untuk bersenang-senang. Ehh malah nyasar. Jadi, nginep di rumah warga deh hehe," ucap Karen berbohong.
"Ohh begitu toh," balas bibi.
"Oh ya bi. Papa sama kak olen kemana?"tanya Karen yang hampir lupa.
"Oh iya. Ada kabar duka non. Nyonya Clara meninggal," ucap Bibi.
Tentu saja, Karen sama terkejutnya dengan Lauren dan Papanya semalam. Walau Clara pernah jahat kepada mereka, pernah merebut Eren dari Kaira dan merebut kasih sayang Eren dari keluarganya, namun dia sudah berubah. Clara menjadi semakin tulus dan baik kepada mereka sebagai penebusan dosanya selama ini. Namun, Lauren terlalu kaku untuk menerimanya kembali. Tapi, tidak dengan Karen. Gadis cantik itu selalu memaafkan semua orang disekitarnya. Atau mungkin akan tidak.
"Yaudah bi. Alen mau berangkat dulu," ucap Karen yang sambil berlarian menyusul Papanya.
"Non! Ganti baju dulu!" Teriak Bibi.
"Oalah non, non. Anak muda zaman sekarang memang terlampau aktif. Mana mungkin saya percaya? Pakaian anda saja berubah dan lagi itu adalah kemeja pria," gumam Bibi. Bibi tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala.
...*...*...
"Shh, ahh. Sakit sekali," rintih Karen.
Dasar pria baji*ngan!Semua badanku sakit semua. Tenaganya begitu kuat. Wajar saja banyak wanita yang mendekatinya. ~Batin Karen.
Tidak lama kemudian, Karen telah tiba di rumah duka. Karen melihat bila pemakaman telah usai dilaksanakan. Dia terlambat.
"Pa, kak olen..." ucap Karen lirih.
Karen langsung memeluk kedua orang yang sangat ia cintai.
"Maafin Karen sudah membuat kalian khawatir," lanjutnya.
"Kamu darimana sih sayang? Kamu tahu, papa tidak tidur semalaman mikirin gadis kecil papa. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, gimana papa harus jelasin ke mama nanti?" Ucap Eren yang langsung menakup dagu Karen.
"Karen.. Karen nyasar semalam. Teman Karen mau ajak Karen ke... ke teman karen satunya ehh malah mobilnya mogok terus nyasar," ucap Karen lagi-lagi beralasan.
"Papa bukan lagi anak kecil. Bicaralah. Kemana kamu semalam?"tanya Eren dengan mode serius.
"Karen..."Kata-katanya terhenti saat Lauren tiba-tiba datang dan memotong kalimatnya.
"Kau bermalam dengan kakak tingkatmu waktu itu kan?" Tanya Lauren tanpa basa-basi.
Ba-bagaimana... bagaimana kakak bisa tau? Mampuslah aku...~batin Karen.
"Karen, Lauren, ayo kita pulang. Papa ingin membicarakan sesuatu dengan jelas kepada kalian." Eren pergi begitu saja tanpa penjelasan.
Karen merinding ketakutan. Baru kali ini dia kepergok bermalam dengan seorang pria. Bahkan, dia tidak pernah bermalam dengan siapapun walaupun di teman perempuannya.
Karen terus menunduk sepanjang perjalanan. Ada rasa malu sekaligus hina di dirinya. Betapa murahnya dia mau diajak bermalam dengan Andrew. Walau itu bukan sepenuhnya kesalahannya.
...*...*...
Clarissa masih merenung di kamarnya. Dia hanya dapat membolak-balikkan album fotonya bersama Wisnu dan Clara. Dia masih syok, masih merasa kehilangan. Namun, apa mau dikata, takdir telah merenggut ibundanya dari dekapnya.
Wisnu mengetuk pintunya dan bermaksud mengajak bicara sang anak tercinta sekaligus menyampaikan rencana kedepannya.
Tok tok...
"Sa, ini papa,nak. Boleh papa masuk?"tanya Wisnu lembut.
Clarissa menghapus air matanya sebelum menjawab pertanyaan dari Ayahnya.
"Masuk aja pa. Ga sa kunci kok," balasnya.
Kriekkk.
Suasana suram menyelimuti kamar Clarissa. Entah itu hanya perasaannya saja atau benar kenyataannya. Wisnu mencoba membuka ventilasi kamar anaknya.
"Sayang, ga baik kalau kamar terus-menerus ditutup. Nanti bahaya bagi kesehatan kamu. Kan Sasa kemarin janji mau terus temenin papa," ucap Wisnu mencoba menghibur Clarissa.
Wisnu duduk disamping Clarissa dan mengusap lembut pipi milik Clarissa. Spontan, Clarissa pun memeluk Wisnu.
"Maafin Sa,pa. Tadi Sasa tidak memikirkan kesehatan Sasa dan mengabaikan perasaan papa," ucapnya.
Wisnu mengecup kepala Clarissa.
"Kamu adalah harta paling berharga papa saat ini. Mama sudah tiada,namun kehidupan terus berlanjut. Papa mau Sasa sukses dan menemukan jodoh yanh tepat kelak. Jangan menjadi wanita nakal seperti masa lalu mama kamu,ok?" Ucap Wisnu menasehati.
"Ya. Sa janji Sasa tidak akan mengulanginya."
"Oh ya. Papa ada urusan di New Zealand. Papa harus pindah kesana untuk setidaknya 3 tahunan. Sasa ga keberatan kan?"tanya Wisnu.
Clarissa langsung melepas peluknya dan menatap serius kedua netra bewarna coklat Ayahnya.
"New Zealand? 3 tahun?" Pekiknya kaget.
"Ya... Agak lama sih,tapi memang ada keperluan mendesak," ucap Wisnu.
"Huftt, baiklah. Apa boleh buat? Sa ikut kemanapun papa pergi," ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Gitu dong baru anak papa. Secepatnya, papa akan urus surat pindah kamu," ucap Wisnu.
Maafkan papa yang tidak jujur,Sasa. Namun, papa masih belum siap untuk menetap disini. Pasti bayang-bayang mama kamu selalu menghantui pikiran papa. Pada akhirnya, papa ga akan bisa fokus.~Batin Wisnu.