
"Jangan takut. Papa ada disini," ucap Wisnu menenangkan.
"Roy, bawa pria baj*ngan ini ke tempat introgasi. JANGAN BIARKAN DIA LEPAS!" bentak Wisnu penuh emosi.
Wisnu benar-benar tak kuasa menahan emosinya saat melihat kondisi anaknya saat ini. Dia merasa sangat bersalah dan gagal menjadi seorang ayah.
"Minum dulu, sa. Papa tidak akan memaksamu untuk bercerita untuk saat ini." Wisnu menyodorkan segelas air putih dan memasangkan jasnya ke badan Clarissa.
"Terimakasih pa," ucap Clarissa.
Setelah beberapa menit berlalu, Clarissa nampak telah tenang. Dia pun mulai bercerita.
"Pa... aku... mau cerita," lirihnya.
"Hum, katakan saja."
"Sore itu, saat aku menghadiri acara wisuda Karen, aku merasa iri dan cemburu dengannya. Kenapa ya Karen bisa mendapatkan cowok tampan, kaya bahkan sangat menyayanginya tanpa syarat padahal dia sedang menyamar menjadi wanita yang cupu dan jelek. Sedangkan aku... aku bahkan telah berdandan seperti mama,cantik dan menarik, namun kenapa aku malah mendapatkan pria seperti itu?" Curhatnya.
"Makanya, sesampainya di Apartment, Sasa frustasi dan mengobrak-abrik apartment sa. Lalu, sa memutuskan untuk memutuskan segalanya dengan pria itu. Namun, pria itu malah mengunci Sa di kamarnya. Sasa panik, bingung. Sasa mau telepon papa,tapi ketahuan. Terus..." Clarissa memenggal ucapannya sejenak seakan tak siap menceritakan hal selanjutnya.
"Terus kenapa?" Tanya Wisnu.
"Terus pria itu merenggut harta milik Sasa secara paksa. Huhuhu." Tangis Clarissa pecah untuk kesekian kalinya. Wisnu memeluk anaknya untuk menenangkannya.
Daniel ya... aku akan membuatmu bahkan menyesal seumur hidup,karena memperlakukan anakku seperti ini!~Batin Wisnu.
"Kita gak pernah tau bagaimana perjuangan Karen dan pasangannya dulu. Apakah Karen tidak pernah bercerita kepadamu?" Tanya Wisnu.
Clarissa hanya menggelengkan kepala.
"Kami jarang bertemu," jawab Clarissa.
"Pa, apa ini karma karena Sasa merebut Daniel dari kekasihnya dulu?" Tanya Clarissa setengah frustasi.
"Yang terpenting sekarang, Sasa sudah sadar dan jangan pernah merebut siapapun dari siapapun,mengerti?" Ucap Wisnu.
Clarissa meresponnya dengan anggukan.
Beberapa saat kemudian...
Clarissa telah tertidur pulas di kamarnya. Wisnu pergi meninggalkan Clarissa dengan Jasmine disana. Pria yang usianya hampir menginjak kepala lima itu telah menceritakan segala yang terjadi pada anaknya kepada Jasmine. Pria itu sepertinya terlihat sangat memercayainya.
"Jasmine, om titip Clarissa sebentar ya," ucap Wisnu.
"Baik om. Om hati-hati di jalan," balas Jasmine.
...*...*...
Eren dan yang lainnya nampak sibuk mempersiapkan pertunangan yang sederhana,namun meriah untuk putri kesayangannya. Berita tersebut tentu saja telah menggema hingga ke seluruh pelosok negeri. Entah darimana dan bagaimana hal itu terungkap, namun Eren dan Lauren tidak terkejut dalam hal itu.
"Pa, semuanya sudah beres. Tinggal baju Alen sama accessorisnya saja sekalian baju kita berdua. Oh ya, kita juga belum latihan," ucap Lauren.
"Latihan? Untuk apa?" Tanya Eren bingung.
"Ya, sesuai dengan buku panduan mungkin?" Balas Lauren.
"Halah, pokoknya besok papa akan melakukan yang terbaik. Kamu tenang saja," ucap Eren.
"Ok lah."
Sedangkan itu, di sebuah kamar yang berisikan berbagai boneka lucu, nampak seorang gadis yang sedang tertawa berseri-seri. Karen nampak sangat tidak sabar mengenakan gaun bewarna merah rancangannya kemarin.
"Huwahh, akhirnya. Aku akan jadi tunangannya Andrew!" Seru Karen bahagia.
"Ahem, cie yang mau tunangan." Lauren menggoda sang adik yang sedang menatap foto mesranya dengan Andrew.
"Apaan sih? Kak olen itu harusnya cepet-cepet cari jodoh biar Alen cepet nikahnya," ucap Karen.
"Yee. Nikah aja pikirannya. Sukses dulu noh. Jangan lupa sama mimpinya. Jadi duta besar!" Ucap Lauren penuh penekanan.
"Lagian ya, aku ingin fokus ke bisnisku yang baru berkembang," lanjutnya.
"Bisnis mulu. Makanya jomblo. Gak laku cihh!" Karen menyinyir kepada Lauren.
Mereka berdua terkekeh bersama.
"Oh ya, bukannya waktu itu kamu mengatakan membenci Andrew?" Tanya Lauren mengingat kepada cerita Karen beberapa tahun lalu.
"Ya. Dia pria yang menyebalkan. Sombong kayak kakak..."
"Enak aja sombong!" Pekik Lauren memotong ucapan Karen.
"Dengerin dulu!" Protes Karen.
"Iya iya. Kakak dengerin. Cepet gih!" Seru Lauren tak sabaran.
Karen bercerita segalanya kepada sang kakak. Walaupun Karen dan Lauren terkenal sama-sama dingin dan irit sekali berbicara,namun mereka berdua akan ramai saat di rumah. Hubungan yang begitu harmonis, membuat semua orang iri melihatnya. Eren tersenyum bahagia melihat kedua anaknya terlihat akrab dan akur. Kebahagiaan mana lagi yang ia harapkan kecuali kebahagiaan kedua buah hatinya.
Ara, kau benar-benar telah berhasil mendidik mereka berdua tanpaku dulu. Bukan hanya mereka tidak membenciku, tapi mereka berdua nampak sangat kompak. Kau memang ibu dan istri terbaik.~Batin Eren.
Ya, jika mereka membenciku itu adalah hal yang wajar. Aku telah meninggalkan kalian dan membiarkan kalian mengarungi hidup tanpaku. Entah kesusahan apa yang telah kalian terima hingga membuat mereka begitu dewasa sebelum waktunya. Aku mencintaimu, istriku. Semoga kau bahagia disana.
Tak terasa, air mata Eren menetes membasahi pipinya. Dia merindukan sosok Kaira yang selama ini ada untuknya,namun dia tak pernah hadir untuk istrinya.
Eren menyeka air matanya dan bergabung dengan kedua anaknya. Mereka melanjutkan perbincangan hingga larut malam.
...*...*...
Wisnu telah tiba di tempat introgasi yang khusus ia sediakan untuk menahan para musuhnya. Dia berjalan dengan tegasnya dan langkahnya pun membara penuh amarah.
"Kau, katakan dengan jujur, apa yang telah kau perbuat pada Clarissa?" Tanya Wisnu memulai interogasinya.
Wisnu menengadahkan tangan dan Roy telah paham maksudnya.
"Sa-saya..."
Cetarrrr
Wisnu memecutkan pecut miliknya ke badan milik Daniel hingga membuat bajunya terkoyak.
"Shhh."
Daniel meringis kesakitan.
"KATAKAN!" Bentak Wisnu.
"Saya telah memaksa Clarissa dan merenggut miliknya," ucap Daniel lantang,namun ketakutan.
"KURANG AJAR!" Bentak Wisnu.
Wisnu beberapa kali mengeluarkan pecutan dasyatnya kepada Daniel hingga pria itu terkapar lemah di tanah.
"Saya... saya mohon maaf,om. Saya tidak akan mengulanginya. Saya janji, saya akan melakukan apa saja asalkan om memaafkan saya," pinta Daniel.
"Memaafkan?" Tanya Wisnu dengan nada sadisnya.
"MIMPI!"
Berulang kali ia siksa Daniel hingga pria itu bahkan tak dapat duduk lagi. Dia hanya terbaring lemah di atas tanah gudang markas milik Wisnu.
"Apa menurutmu dengan memaafkanmu, trauma Clarissa akan hilang?" Tanya Wisnu.
"TIDAK!" bentaknya.
Wisnu benar-benar brutal malam ini. Mungkin jika menyangkut hal lain, ia tidak akan semarah ini. Namun, Clarissa? Harta paling berharga dalam hidupnya, dia bahkan sanggup hingga harus membunuh siapapun itu.
"A-ampun om. Sa-saya... saya akan bertanggung jawab!" Seru Daniel berharap Wisnu mau memaafkannya.
"Bertanggung jawab? Apa Clarissa perlu itu? Tidak! Saya tidak akan membiarkan Clarissa menikah dengan baj*ngan sepertimu!" Seru Wisnu.
"Roy, saya pergi dulu. Kau awasi dia. Jangan pernah kasih dia makan, mengerti? Saya akan kembali besok dengan Clarissa." Wisnu melemparkan pecutnya dan meninggalkan Daniel bersama dengan Roy dan beberapa bodyguard lainnya.
Clara, maafkan aku yang tidak bisa menjaga anakmu. Mungkin, ini adalah yang dirasakan oleh ayah dari beberapa gadis yang dulu pernah aku mainkan dan tinggalkan begitu saja...~Batin Wisnu yang tiba-tiba teringat oleh masa lalu bejatnya.