
Levi terus memperhatikan seorang pria yang sejak pagi tadi terus mengawasi kediamannya. Dia awalnya curiga kalau pria itu adalah orang suruhan ayahnya. Untuk membuktikan kebenaran itu, Levi meminta bibi pelayan untuk menghampiri pria tersebut dengan dalih membuang sampah. Namun kecurigaannya tidak terjawab. Pria itu diam saja saat bibi pelayan lewat di depannya. Malah terkesan seperti tidak peduli.
"Sebenarnya pria itu mencari siapa? Aneh."
Bibi pelayan yang tadinya berada di dapur tiba-tiba ikut mengintip di sebelah Levi. Sontak saja kemunculannya itu membuat Levi berjengit kaget. Jika tidak segera tahu kalau orang yang berdiri di sebelahnya adalah bibi pelayan, mungkin saat ini bibi pelayan itu sudah pingsan akibat serangan Levi.
"Astaga Bibi. Bukankah aku sudah bilang bersuaralah sedikit jika ingin mendekat. Bagaimana kalau aku sampai terkena serangan jantung, siapa yang akan membayar gaji Bibi?" omel Levi sambil mengelus dada.
"Maaf Non, Bibi lupa" sahut bibi pelayan sembari tersenyum tanpa dosa.
"Dasar pikun" sungut Levi.
Arah pandangan Levi kembali tertuju pada pria yang kini sedang duduk di kap mobil. Benaknya kembali bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang sedang di cari pria misterius itu.
"Apa mungkin Tuan itu mencari Nona Elea, Non?".
Alis Levi saling bertaut begitu dia mendengar pertanyaan bibi pelayan. Dia lalu menoleh.
"Yang benar saja, Bi. Untuk apa dia mencari Elea di sini, dia kan tinggal di rumahnya Gabrielle. Lagipula untuk apa juga dia mencari gadis menjengkelkan itu."
"Tapi Nona Elea kan pernah datang kemari, Non" sahut bibi pelayan kekeh.
"Memang benar kalau Elea pernah datang kemari, Bi. Tapi apa Bibi tidak ingat bagaimana rapatnya Gabrielle membungkus tubuh Elea supaya orang lain tidak bisa melihatnya? Ckck, aku rasa tebakan Bibi salah!."
Kening bibi pelayan mengerut. Dia lalu menatap pria itu lagi. "Non, bukannya sok menggurui, Nona Elea itu istimewa. Dan Bibi sangat yakin pria itu pasti mencarinya. Dari raut wajahnya tadi Bibi bisa menebak kalau dia adalah orang yang membawa niat buruk. Apa tidak sebaiknya saja Non Levi keluar untuk bertanya? Jaga-jaga saja Non, siapa tahu dia memang berniat jahat!".
Levi akhirnya terhasut juga oleh perkataan pelayannya. Dengan wajah yang penuh rasa penasaran dia menghampiri pria itu. Levi terkejut saat pria itu berjalan dengan cepat kearahnya begitu melihatnya datang.
"Apa yang kau lakukan di depan rumahku? Mau merampok ya?" tanya Levi ketus.
"Nona Levita, dimana gadis kecil yang bersamamu?" tanya pria itu dengan nada yang sangat serius.
'Ternyata benar kalau orang ini mencari Elea. Aku tidak boleh membuka mulut, bisa saja orang ini ingin membawa Elea pergi dariku. Huh, enak saja!'.
"Kau siapa? Dan gadis kecil mana yang kau maksud?" tanya Levi berpura-pura tidak tahu.
Fendry yang mendengar pertanyaan Levi menjadi bingung. Dari rekaman CCTV yang dia dapat, seharusnya wanita ini mengenal gadis bernama Elea itu. Tapi kenapa dia malah balik bertanya?.
"Bukankah malam itu kau dan gadis kecil itu pergi ke rumah sakit? Katakan padaku dimana dia tinggal sekarang!" gertak Fendry.
Wajah Levi berubah masam saat pria asing ini berani menggertaknya. Tapi dia bersyukur karena yang di ketahui oleh pria ini adalah rekaman di awal pertemuannya dengan Elea.
"Hei Tuan, kau diam-diam mengawasi rumahku dan sekarang kau berani menggertakku? Kau pikir dirimu itu siapa hah! Brengsek kau!" amuk Levi tak terima.
"Apa hah! Apa.. Mau memukulku, iya!".
Levi memelototkan mata saat pria ini hendak memukulnya. Sebenarnya dia sedikit takut, tapi dia tidak akan mau mengalah. Enak saja, siapa dia berani memarahi seorang Levita Foster.
"Shittt... Kau sebaiknya jangan memancing amarahku Nona. Cepat katakan dimana tempat tinggal gadis itu!".
"Hei kau pria tengik, matamu tidak buta kan! Kau lihat tidak tanggal berapa rekaman itu terjadi! Itu sudah beberapa bulan yang lalu bodoh. Bisa-bisanya kau menanyakan dimana tempat tinggalnya padaku. Kau pikir aku ini induknya apa!" bentak Levi sambil berkacak pinggang.
'Lawan terus Levi, lawan. Jangan biarkan curut ini menemukan keberadaan Elea. Kau bisa rugi banyak kalau sampai kehilangan gadis bodoh itu. Siapa lagi yang bisa kau peras selain dia?.
"Kau sungguh tidak tahu?" tanya Fendry tak percaya.
Fendry meradang. Tangannya terulur ingin mencekik leher wanita ini. Namun keinginannya itu mendadak tidak dia lanjutkan saat gadis di hadapannya malah melotot tanpa merasa takut sedikitpun.
"Kenapa berhenti hah! Bukannya kau ingin mencekikku barusan? Cekik saja, tapi setelah itu bersiaplah masuk penjara karena di kalungku ini........ " ucap Levi sambil menyentuh kalung di lehernya. "Kalungku ini ada kamera yang terhubung dengan ponsel milik kekasihku. Sedikit saja kau menyentuhku, maka kekasihku akan langsung menghubungi pihak kepolisian. Bagaimana? Masih berani kau macam-macam dengan model cantik sepertiku hah!".
Berhasil. Tipuan yang Levi lakukan berhasil membuat Fendry terdiam.
"Aku akan mencarimu jika aku tahu kau bicara bohong, Nona. Sekarang kau masih aku biarkan selamat meskipun menghinaku, tapi jika suatu hari hal ini sampai terulang, maka bersiaplah pergi ke alam baka. Ingat itu!" sentak Fendry memberi peringatan.
Levi menjulurkan lidah saat Fendry hendak masuk ke dalam mobil. Setelahnya, dengan kaki gemetaran Levi berjalan masuk ke dalam rumah.
"Non Levi tidak apa-apa kan?" tanya bibi pelayan cemas.
Tubuh Levi luruh ke lantai begitu dia sampai di dalam rumah. Bohong besar kalau dia tidak takut menghadapi pria mengerikan itu. Dia tadi berpura-pura sok berani supaya pria itu tak lagi menanyakan tentang Elea padanya.
"Dia sangat mengerikan, Bi. Dan apa yang Bibi khawatirkan ternyata benar. Pria itu mencari Elea, dia juga mengancamku tadi" jawab Levi pelan.
"Ya Tuhan Nona, bagaimana ini? Kalau begitu Nona jangan pergi kemana-mana ya. Bibi takut pria itu akan membuntuti Nona kemudian melakukan sesuatu yang buruk. Bibi tidak mau Non Levi kenapa-napa!" ucap bibi pelayan hampir menangis.
Levi yang tadinya ketakutan sekarang malah tertawa keras gara-gara melihat wajah bibi pelayannya yang terlihat menyedihkan. Yah, wanita tua ini adalah ibu kedua untuk Levi. Dia sudah hidup bersamanya semenjak pindah ke rumah ini. Dan kebetulan bibi ini juga tidak mempunyai sanak saudara. Jadi dia sudah menganggap Levi seperti anaknya sendiri.
"Hahahhahaha, tolong kondisikan wajahmu itu Bi. Di sini aku yang di ancam oleh bajingan itu, tapi kenapa malah Bibi yang panik. Astaga, perutku sakit sekali!" ucap Levi sambil memegangi perutnya yang terasa kaku.
"Di dunia ini Bibi hanya memiliki Non Levi saja. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Non Levi, dimana lagi Bibi harus tinggal?".
Tawa Levi langsung terhenti. Dia merasa bersalah karena sudah mentertawakan orang yang sedang mengkhawatirkan keselamatannya.
"Maaf Bi, aku hanya bercanda saja tadi. Baiklah, aku akan menuruti nasehat Bibi. Tapi untuk masalah Elea, aku harus segera pergi menemui Gabrielle. Dia harus tahu kalau ada orang jahat yang sedang mengincar istrinya. Tidak apa-apa kan Bi kalau aku pergi sebentar?" bujuk Levi.
"Tapi Non,...
Levi segera bangkit berdiri. Menggenggam tangan bibi pelayannya lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Bibi tenang saja. Tidak akan terjadi apapun padaku nanti. Niatku baik, Tuhan pasti akan menjagaku dari niat jahat orang-orang itu. Bibi percaya pada kekuasan Tuhan bukan?" tanya Levi sembari mengambil tas miliknya.
"Tapi Non Levi harus kembali ke rumah dengan utuh. Tidak boleh lecet sedikitpun!" jawab bibi pelayan setengah tidak rela.
"Iya-iya Bi. Bawel!".
Setelah berhasil menenangkan pelayan kesayangannya, Levi bergegas pergi ke kediamannya Gabrielle. Dalam perjalanan, dia berusaha menghubungi Reinhard, namun tidak di angkat.
"Sepertinya dia sedang sibuk" gumam Levi.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...