Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kabar Baik


"Huft, akhirnya selesai juga" ucap Lusi setelah membereskan semua barang-barang Nyonya-nya yang berserakan di ruang tamu.


Setelah masing-masing menerima hadiah, Lusi dan para pelayan lain segera berkemas. Hari sudah semakin larut, dan akhirnya pekerjaan mereka selesai dengan cepat karena semua orang mengerjakannya dengan hati penuh suka cita. Bagaimana tidak. Nyonya kecil mereka tidak hanya memberikan pakaian bermerk, tapi juga memberi mereka sepatu, jam tangan, dan juga souvenir lucu yang membuat semua pelayan di rumah ini merasa sangat bahagia. Dimana lagi mereka bisa mendapatkan majikan sebaik Nyonya Elea selain di rumah ini. Meskipun ada, mereka tetap yakin orang itu tidak akan mampu menandingi kebaikan hati si istri kecil sang pewaris.


"Lusi, apa semua sudah beres?."


Lusi yang sedikit melamun berjengit kaget ketika ada yang berbicara di belakangnya. Dia kemudian segera berbalik, membungkuk hormat ketika tahu siapa orang yang bertanya barusan.


"Nun, Tuan Ares" sapanya.


"Apa pekerjaan kalian sudah beres?" ulang Ares.


"Sudah, Tuan" jawab Lusi dan teman-temannya.


Ares mengangguk puas.


"Kalau begitu kalian segera istirahat. Selain Lusi, silahkan kembali ke kamar masing-masing!."


Dada Lusi langsung berdebar kencang. Dia merutuki kebodohannya karena tadi sempat kehilangan kendali saat Nyonya-nya meminta dia untuk memilih hadiah. Lusi yakin sekali kalau kedua pria menakutkan ini pasti akan memberinya teguran. Sambil meremas ujung bajunya, Lusi segera mempertanyakan kesalahan apa yang sudah dia lakukan. Dia sudah siap jika harus menerima hukuman.


"Em itu Nun, Tuan Ares, apa saya sudah melakukan kesalahan?" tanya Lusi takut-takut.


Kening alis saling bertaut. Sementara Nun, mutan itu hanya berdiri diam dengan wajah datarnya. Dia sama sekali tidak peduli akan raut wajah penuh tanda tanya di diri bawahannya.


"Kesalahan? Apa maksudmu?" tanya Ares. Dia jadi membayangkan kenapa orang secerdas Glenn bisa jatuh cinta pada seorang pelayan yang terlihat polos ini. Tiba-tiba dia merasa tergelitik.


"Tuan meminta semua pelayan pergi ke kamar tapi meminta saya untuk tetap tinggal. Bukankah Tuan berbuat seperti ini karena saya melakukan kesalahan?" sahut Lusi balik bertanya.


"Lalu menurutmu kesalahan seperti apa yang sudah kau lakukan?."


Menarik. Ares baru tahu kalau di rumah ini ada pelayan yang kepolosannya hampir menyamai Nyonya Elea. Dia jadi tertarik untuk sekedar bermain-main dengannya.


"Tuan Ares, saya, saya minta maaf karena tadi sudah bersikap tidak sopan saat Nyonya Elea membagi hadiah. Saya, saya nanti akan mengembalikan semua hadiah-hadiah itu pada Nyonya. Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya" ucap Lusi dengan wajah yang di banjiri keringat dingin.


"Pffttttt, hahahhaaaa....!."


Lusi cengo melihat pria menakutkan ini malah terbahak-bahak di hadapannya.


"Astaga..." ucap Ares kesusahan untuk menghentikan tawanya. "Lusi, kau tidak perlu setakut ini. Aku itu hanya sedikit bercanda saja, tapi ekpresimu... Hahaha, Ya Tuhan Nun, bawahanmu lucu sekali!."


Nun memicingkan mata. Pertama kalinya Ares bisa tertawa seperti ini di hadapan orang lain. Terlebih lagi itu adalah bawahan mereka. Sungguh kejadian yang sangat langka.


"Tawamu hanya membuang-buang waktu saja, Res. Ini sudah malam, sebaiknya kau sampaikan langsung hal ini pada Lusi. Sudah waktunya dia untuk istirahat!" tegur Nun.


Suara tawa Ares langsung terhenti setelah mendapat teguran dari pria di sebelahnya. Sebelum bicara, Ares berdehem untuk menetralkan suaranya yang sedikit serak.


"Lusi, saat Nyonya mulai masuk ke Universitas kau juga akan ikut masuk bersamanya. Tuan Muda memerintahkanmu untuk melanjutkan pendidikan. Semua biaya dan kebutuhanmu akan di tanggung oleh beliau dan gajimu akan kami kirimkan pada keluargamu di kampung. Jadi tugas utamamu nantinya adalah melindungi Nyonya dari para pria hidung belang yang ingin mendekatinya. Kau di wajibkan untuk selalu melaporkan apa yang terjadi di sekolah kepada Tuan Muda. Harus sedetail mungkin, tidak boleh ada yang terlewat. Apa kau mengerti?."


Mulut Lusi ternganga lebar. Dia bingung mengartikan perkataan Ares.


"Kau bisa memahami apa yang di sampaikan oleh Ares tidak?" tanya Nun yang melihat bawahannya hanya terdiam. Sepertinya gadis ini sangat terkejut.


Lusi mengerjapkan mata. "Maaf Nun, Tuan Ares, ini maksudnya saya harus ikut Nyonya Elea belajar di Universitas? Menjadi mahasiswa, begitu?."


"Dan Tuan Muda yang akan membiayai sekolah saya, begitu?."


"Lusi, apa kau tidak mendengarkan apa yang di katakan Ares barusan? Dia bilang, seluruh kebutuhanmu mulai sekarang akan di tanggung oleh Tuan Muda, dan gajimu tetap akan di kirimkan untuk keluargamu. Nanti saat kalian masuk sekolah, tugas utamamu adalah melindungi Nyonya dari pria-pria yang ingin mendekatinya. Sampai disini paham?."


Setelah mendengarkan penjelasan dari Nun Lusi akhirnya paham. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar sangat beruntung memiliki Nyonya seperti Nyonya Elea. Gadis kecil itu selalu memberikannya banyak keberuntungan. Bahkan sekarang, impiannya yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa sengaja terwujud karena dia menjadi pelayan di rumah ini. Sungguh, gadis kecil itu bagai dewi yang turun membawa seribu kebahagiaan bagi semua orang.


"Hiksss, Nun, Tuan Ares, terima kasih. Aku, aku pasti akan melakukan tugasku dengan sangat baik nanti" ucap Lusi terisak haru.


"Bagus, sekarang pergi ke kamarmu dan beristirahatlah. Aku mempunyai firasat kalau besok pagi Nyonya Elea akan membawamu pergi berkeliling. Gunakan waktumu malam ini untuk benar-benar memulihkan tenaga yang sudah terkuras!" ucap Nun.


"Baik Nun kalau begitu saya permisi. Selama malam!" pamit Lusi kemudian segera pergi menuju kamarnya.


Setelah sampai di dalam kamar, tangis Lusi semakin menjadi. Dia tidak menyangka kalau akan mendapat penghormatan seperti ini dari Tuan Muda-nya. Teman-teman Lusi yang melihatnya menangis segera datang berkerumun. Mereka semua terlihat sangat khawatir.


"Lusi, ada apa? Apa Tuan Ares dan Nun memecatmu?."


"Iya Lusi ada apa? Kami semua sangat mengkhawatirkanmu" imbuh yang lainnya.


"Hikssss... Aku, aku..."


Suara Lusi tersendat. Karena terlalu bahagia dia sampai kesulitan untuk bicara. Membuat semua teman-temannya semakin mengkhawatirkannya.


"Lusi ada apa? Tolong jangan membuat kami ketakutan!" desak salah satu pelayan dengan mata yang sudah tergenangi airmata.


"Tu,Tuan Muda memasukkan aku ke Universitas yang sama dengan Nyonya Elea. Hiksss, beliau memintaku untuk melindungi Nyonya dari pria-pria yang mungkin saja menggodanya di sana. Huhuhuhuhu, aku menangis karena terlalu bahagia. Aku sangat bahagia karena keinginanku terkabul. Tuan Muda akan menanggung semua kebutuhanku nantinya. Huhuhuhuhu, huhuhuhuhu...." ucap Lusi sambil terus menangis.


Para pelayan segera memberikan ucapan selamat kepada Lusi setelah tahu kalau gadis ini menangis bukan karena di pecat, melainkan kejatuhan durian montong. Sungguh lah, nasib pelayan ini begitu baik. Setelah di angkat menjadi asisten pribadi Nyonya mereka, sekarang gadis ini malah akan menempuh pendidikan kuliah secara gratis. Rumah ini benar-benar kejatuhan anugerah yang sangat besar setelah kedatangan Nyonya kecil mereka.


"Wahhh, selamat ya Lus. Kami ikut senang mendengarnya."


"Iya, kau beruntung sekali mendapat kesempatan sebaik ini. Dimana lagi coba kita bisa menemukan majikan sebaik Tuan Muda dan Nyonya Elea? Lagipula kau masih muda Lus, masih sangat pantas untukmu menimba ilmu. Tidak seperti kami-kami ini yang sudah berumur, masih ada orang yang mau mempekerjakan kami saja sudah sangat bersyukur. Semoga dengan kesempatan yang di berikan oleh Tuan Muda kau bisa membuat hidupmu jauh lebih baik lagi ya, Lus. Dan ingat, kau jangan sampai membuat Tuan Muda kecewa. Pendidikanmu memang penting, tapi masih jauh lebih penting lagi kau melindungi Nyonya Elea. Kau tahu bukan kalau beliau adalah istri kecil kesayangan Tuan Muda Ma?" ucap salah seorang pelayan yang sudah senior.


"Hiksss, Iya Bi. Aku, aku pasti tidak akan pernah membuat Tuan Muda kecewa padaku. Hiksss, bagaimana ini, airmataku tidak bisa berhenti keluar" sahut Lusi kebingungan.


Para pelayan lain menertawakan ulah Lusi yang sedang kebingungan karena tidak bisa berhenti menangis. Saat semua orang sedang bersuka cita, tiba-tiba ponsel Lusi berdering. Sebuah pesan masuk ke ponsel Lusi yang langsung di bukanya.


"Nomor asing,? Siapa ya?" gumam Lusi sembari mengelap ingus dengan ujung bajunya.


"Halo Sweety, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau merindukanku? Aku sangat rindu padamu. Bagaimana kalau besok aku datang berkunjung? Ahh, aku benar-benar sangat merindukanmu. Kau tahu, kau itu sudah seperti penyihir yang membuatku tak lagi bisa berpaling. Sweety, mantra apa yang sudah kau tebar di dalam hatiku, hem?😍


"Orang ini sudah gila ya? Bisa-bisanya mengirim pesan seperti ini padaku. Dasar pria aneh" kesal Lusi kemudian segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian tidur.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...