Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tertipu


Dengan langkah terseok-seok Elea mengikuti Jackson yang terus menarik rambutnya. Dia sama sekali tidak merasakan sakit ataupun takut, tapi yang dia rasakan adalah sebuah penyesalan. Ya, penyesalan. Sesal karena takdirnya yang buruk, dia harus kehilangan dua orang penting yang selama ini begitu menyayanginya. Mata kosong Elea masih mengingat jelas bagaimana peluru itu membombardir kepala Gabrielle dan Grizelle hingga membuatnya hancur berantakan. Bahkan percikan darah mereka masih tersisa di wajah dan tubuhnya. Semakin membuat Elea merasa sangat amat tertekan.


"Cepat kau j*lang kecil. Jangan buang-buang waktuku lagi!" hardik Jack penuh emosi.


Tujuh tahun. Tujuh tahun Jack menantikan saat-saat bisa bersama dengan gadis kecilnya. Namun apa yang dia dengar tadi membuatnya gelap mata. Malam ini, Jack akan membuat Eleanor benar-benar menjadi penghuni kerangkeng besi, bukan lagi untuk di tempatkan dalam sangkar emas yang sudah dia persiapkan. Jack ingin gadis kecil ini merasakan seperti apa rasanya neraka dunia. Hidup dalam pesakitan dan juga siksaan tiada akhir.


Dari kejauhan, Fendry yang di minta untuk menunggu segera datang mendekat. Sebelum itu dia terlebih dahulu memasang kamera kecil di bagian kancing bajunya guna memberi tahu tuannya kemana Jack-Gal akan membawa mangsanya pergi.


"Jack, kita pergi sekarang?" tanya Fendry berbasa-basi.


"Ya" sahut Jack singkat seraya menatap tajam kearah temannya. "Fendry, kau tahu bukan apa resikonya jika berani membohongiku?."


Kening Fendry mengerut. "Apa maksudmu?."


Tanpa bisa di tebak, Jackson melemparkan sebuah botol berisi cairan misterius kearah Fendry. Sontak saja cairan tersebut langsung membuat sebagian tubuh Fendry meleleh secara perlahan. Fendry yang tak menduga kalau Jackson sudah mengetahui identitasnya berusaha untuk menyampaikan kabar tersebut pada tuannya. Namun belum sempat dia bicara, Jackson sudah kembali menyiramkan cairan itu lagi ke tubuhnya.


"Kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak bisa menyadari kalau kau itu bukan manusia? Ckck, kau dan tuanmu itu terlalu dungu Fendry!" ejek Jack setelah tubuh Fendry benar-benar meleleh di tanah.


Elea yang menyaksikan kejadian mengerikan itu hanya bisa tercengang diam. Dia heran bagaimana bisa ada sebuah mesin yang bisa berbicara, bahkan matanya tidak bisa melihat celah yang bisa membedakannya dengan manusia-manusia lain sepertinya. Sungguh, ini pertama kalinya Elea melihat keajaiban seperti ini dalam hidupnya.


"Kau lihat apa yang terjadi barusan, bukan? Itu adalah salah satu bentuk hukuman yang aku berikan pada orang-orang yang berani berkhianat padaku. Dan untukmu, sebentar lagi kau juga akan segera merasakannya. Eleanor, kau benar-benar membuatku muak. Kau menjijikkan!."


Buuhghhhhh... Buuhghhhhh


Elea bagai kehilangan nafas saat perutnya di pukul dengan sangat kuat oleh Jackson. Dia limbung, jatuh terkapar sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. Samar-samar, Elea seperti melihat banyak orang berlarian kearahnya. Dia menangis, teringat kalau suaminya sudah mati.


"Berteriaklah Elea, jangan diam saja. Aku ingin mendengar suara jeritanmu, aku ingin kau merintih kesakitan. Jangan diam saja j*lang, cepat berteriak!" amuk Jack sambil menendangi punggung gadis kecilnya.


'Jangan Elea, kau tidak boleh bersuara. Penjahat ini akan merasa menang kalau kau mengikuti apa yang dia mau. Gigit lidahmu kuat-kuat, tahan semua rasa sakit yang kau rasakan Elea. Kau pasti bisa, pasti bisa!.'


Elea menggigil kuat saat dia melihat Jackson mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. Mati, hanya itu yang ada di pikirannya. Ingin sekali Elea berteriak meminta tolong, tapi pada siapa. Sedangkan posisi mereka saat ini berada di kegelapan, mustahil ada orang lain yang bisa mendengar suara teriakannya.


"Kau masih tetap tidak mau berteriak, hah! Dasar k*parat!" kesal Jack sambil duduk berjongkok di sebelah gadis kecilnya yang sudah tidak berdaya. "Baiklah karena kau tetap memaksa untuk bungkam, maka aku akan mengulitimu hidup-hidup. Akan aku pastikan kau menjerit kesakitan setelah ini. Aku pastikan itu Elea... Hahhahaahhaa....!."


Srrreeeettttt


Seperti orang gila, Jackson menggoreskan ujung pisau ke bagian bahu hingga ke punggung Elea. Dia menggeram marah saat gadis kecil ini masih tetap diam meski wajahnya memperlihatkan raut kesakitan.


"Ayo berteriak Elea, berteriak kataku!."


"Uugghh, Kak Iel....." lirih Elea dengan suara bergetar.


"LEPASKAN ISTRIKU, K*PARAT!."


Gabrielle menerjang tubuh Jackson hingga membuatnya terpental menabrak batang pohon. Dia kemudian menghambur kearah istrinya yang terkapar di tanah dengan sebilah pisau yang masih menancap di bahunya. Sebutir airmata lolos dari mata Gabrielle saat mata indah itu terlihat begitu menderita.


"Sayang, hei..."


Elea ingin percaya, tapi dia tidak berani. Dia sadar betul kalau suaminya sudah mati tertembak. Sambil menahan suara tangisnya, perlahan-lahan mata Elea terpejam.


"JACKSOOOOONNN......!!!."


Suara raungan Gabrielle seakan memecah keheningan malam itu. Matanya memerah bak siluman srigala menyaksikan istrinya yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Saat dirinya hendak bangkit untuk menghabisi bajingan itu, Grizelle datang mencegahnya.


"Kak, lebih baik kau bawa kakak ipar ke rumah sakit sekarang juga. Dia terluka parah. Bajingan itu biar aku dan Drax yang mengurusnya!."


"Kau tenang saja, Kak. Dia akan segera tahu apa artinya penyesalan karena sudah berani menyentuh menantu Keluarga Ma!" sahut Grizelle sembari menyeringai lebar kearah Jackson.


Tanpa membuang waktu lagi Gabrielle bergegas membopong tubuh lemas istrinya kemudian membawanya pergi dari sana. Saat dia sampai di mobil, ternyata ayah dan ibunya sudah menunggu. Mereka kemudian menyuntikkan obat ke tubuh Elea untuk menghentikan pendarahan di tubuhnya.


"Tenanglah Iel, Elea pasti baik-baik saja!" ucap Liona menenangkan putranya yang sedang kepanikan. "Ayah dan Ibu akan menemani kalian ke rumah sakit. Masalah di sini biar adikmu yang menyelesaikan!."


Tanpa di suruh lagi Ares segera melajukan mobil menuju rumah sakit. Dia sedikit ngilu melihat luka menganga di bahu nyonya kecilnya.


Sementara itu, Jackson sedang berusaha untuk bangkit berdiri setelah tubuhnya terpental menabrak pohon. Dia tidak menyangka kalau dua orang yang dia habisi saat di mobil tadi adalah jenis orang yang sama seperti Fendry, Jackson sudah di kelabui oleh Gabrielle dan Grizelle palsu. Sadar kalau posisinya dalam bahaya, dia mencoba mencari celah untuk melarikan diri. Tapi baru saja dia hendak menyelinap di balik kegelapan, terdengar nada suara yang begitu berat dari arah belakangnya.


"Jackson, kau mau kemana, hem?."


Priston yang sedang menyender di batang pohon tersenyum manis kearah pria yang ingin melarikan diri itu. Dia kemudian menoleh kearah Nona Muda-nya yang terlihat begitu kesal. "Nona Muda, perintah apa yang ingin Nona berikan?."


"Apalagi memangnya. Berani menyentuh Keluarga Ma itu artinya mati. Tapi Priston, kakakku bilang dia tidak rela jika bajingan ini mati dengan mudah. Bagaimana kalau kau sedikit bermain-main dengannya dulu? Dia kan tak terkalahkan selama ini, aku jadi sedikit penasaran melihat kepiawaiannya" jawab Grizelle sinis.


Jackson menelan ludah. Sudah tidak ada jalan lain lagi untuknya bisa melarikan diri dari tempat itu. Jadi mau tidak mau sekarang dia harus menghadapi rombongan orang-orang ini sendirian.


"Kau j*lang murahan, maju kau kalau berani!" tantang Jack seraya menodongkan pistol kearah Grizelle. "Mungkin tadi kalian bisa menipuku. Tapi sekarang, aku pastikan kalian semua mati di tanganku!."


Sunyi, itu yang terjadi setelah Jackson mengeluarkan ancaman. Tapi setelahnya, tempat itu di penuhi gelak tawa Priston dan juga Ethan beserta anak buah mereka yang lainnya. Sedangkan Grizelle dan Drax, mereka berdua hanya menyeringai tipis melihat tingkat kepercayaan diri si pembunuh ini.


"Brengsek! Beraninya kalian menertawaiku!."


Doooorrrrrrrrrrr


"Bawa dia!" perintah Drax setelah menembak perut Jackson. "Sayang, bisakah aku mendapat bagian malam ini? Bajingan itu biar mereka saja yang mengurusnya. Oke?."


Grizelle terkekeh. "Kau ini. Ya sudah aku akan mengabulkan keinginanmu, tapi setelah pulang dari rumah sakit. Kita perlu melihat kondisi kakak ipar dulu Drax!."


"Tidak masalah" sahut Drax santai kemudian merangkul pinggang istrinya untuk meninggalkan tempat itu.


Setelah kedua tuannya pergi, Ethan dan Priston mendekati Jackson yang sedang kesakitan sambil memegangi perutnya yang sedang pendarahan.


"Ckck, sebenarnya kau ini pembunuh macam apa, Jack? Baru begini saja sudah menangis kesakitan.Tidak ku sangka ternyata mentalmu itu hanya mental kerupuk. Kau hanya berani menghabisi orang-orang yang lemah saja!" ejek Ethan seraya menyepak senjata yang berada di sebelah kaki Jack-Gal.


"K*parat kalian semua. Tunggu saja, aku pasti akan membalas perbuatan kalian seratus kali lipat lebih menyakitkan dari ini. Aku bersumpah atas nyawaku!" sentak Jackson dengan nafas tersengal.


"Aku tunggu pembalasan itu di kehidupan keduamu nanti Jack. Karena setelah ini Nona Grizelle dan Nyonya Besar Liona akan segera mengirimmu pergi ke pintu neraka!" sahut Priston. "Bawa sampah ini ke mobil. Aku sudah tidak sabar ingin segera mengulitinya!."


"Baik Tuan Priston!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...