Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kebingungan Jackson


Dengan langkah lebar Levi berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Ini tidak bisa di biarkan! Bisa-bisanya makhluk kecil itu menghubunginya di pagi buta hanya untuk menanyakan berapa jumlah black card yang ingin dia minta dari Jackson. Sungguh tidak punya akhlak.


"Awas saja kau Elea. Beraninya pamer padaku!" omel Levi saat berada di dalam lift.


Wajah Levi sangat tidak bisa di kondisikan sekarang. Pagi ini harusnya dia datang ke perusahaan untuk membantu ayahnya di sana. Tapi gara-gara ulah Elea, dia sekarang jadi menyasar ke rumah sakit. Pikiran Levi merasa tidak tenang sebelum dia memberi pelajaran pada gadis cilik itu.


Brruukkk


Tepat ketika Levi hendak keluar dari dalam lift, dia bertabrakan dengan seseorang. Sontak saja hal itu membuat Levi jatuh terjerangkang ke belakang. Untung saja di dalam lift sedang tidak ada orang. Jika ada, Levi pasti akan merasa sangat malu karena posisi jatuhnya sungguh tidak enak di lihat.


"Aawwwww!.


"Astaga sayang!" pekik Reinhard kaget.


Segera Reinhard membantu kekasihnya untuk berdiri. Dia lalu menarik nafas ketika melihat bola mata Levi tengah melotot seperti akan keluar dari tempatnya.


"Maaf, aku tidak tahu kalau itu kau" ucap Reinhard. "Kau tidak apa-apa kan?.


"Apanya yang tidak apa-apa. Tidak lihat tadi kalau pantatku menjadi mencium lantai dengan kuat?" sahut Levi bersungut-sungut.


Bibir Reinhard berkedut.


"Jangan tertawa kau!.


"Mana ada aku tertawa."


"Mataku tidak buta ya Rein" omel Levi.


"Iya-iya maaf."


Levi mendengus.


"Sayang, untuk apa kau datang ke rumah sakit? Bukankah kau bilang hari ini akan datang ke perusahaan? Kau sakit?" cecar Reinhard khawatir.


"Aku datang untuk membotaki kepala istrinya Gabrielle. Bisa-bisanya ya Rein dia menghubungiku hanya untuk bertanya sesuatu yang membuat darahku mendidih" jawab Levi dengan emosi yang menggebu-gebu.


Astaga, mereka kumat lagi.


"Memangnya apa yang Elea tanyakan sih?.


"Dia dengan jahat bertanya padaku seberapa banyak black card yang harus dia minta dari Jackson" sahut Levi. "Rein, harga diriku terlukai. Elea benar-benar sangat kejam, tega dia selalu memanas-manasi aku dengan harta kekayaan yang dia miliki!.


Reinhard tergelak mendengar aduan kekasihnya. Sebenarnya ini bukan hal yang baru kalau Levi dan Elea akan selalu meributkan tentang kekayaan. Entahlah, kadang Reinhard pun tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua wanita ini. Elea sibuk meminta black card dari semua orang, tapi tak pernah sekalipun menggunakannya. Sedangkan Levi, dia yang akan kebakaran jenggot setiap kali Elea melapor tentang apa yang dia punya. Padahal nanti, ujung-ujungnya Levi juga yang akan kekenyangan menikmati harta kekayaan milik Elea. Tapi entah kenapa dia selalu ribut begini. Benar-benar persahabatan yang sangat aneh.


"Lalu maksudmu mendatangi Elea itu untuk apa?" tanya Reinhard sambil menekan pelipisnya. Pusing kepala dia.


"Ya, ya untuk memastikan apakah benar dia meminta black card dari Jackson atau tidak. Kan sayang kalau tidak di pantau, nanti uangnya mubazir" jawab Levi malu-malu.


"Kau benar-benar seorang pelakor, sayang."


"Biar saja. Yang penting aku adalah pelakor yang terhormat."


Reinhard terkekeh.


"Ayo kita ke sana bersama. Kebetulan aku juga ingin memeriksa keadaan Elea."


Levi mengangguk. Sambil bergandengan tangan, dia dan Reinhard berjalan menuju ruangan rawat Elea. Amarah di hati Levi langsung menghilang begitu dia bertemu dengan calon suaminya ini. Sambil tersenyum malu karena terus di goda oleh Reinhard, mereka akhirnya sampai. Sebelum masuk, Reinhard terlebih dahulu mengingatkan Levi agar tidak mengatakan sesuatu yang bisa mempengaruhi emosi Elea.


"Ingat ya, pelan-pelan saja."


"Iya-iya, bawel" sungut Levi.


Ceklek


Gabrielle, Elea dan Jackson langsung menoleh ke arah pintu. Elea yang melihat kedatangan sang pelakor pun tampak memekik senang. Sedangkan si pelakor itu sendiri hanya mencebikkan bibir sambil memutar bola matanya jengah.


"Kak Levi!.


Gabrielle tersenyum samar. Levi benar-benar moodboosternya Elea. Hanya melihatnya datang saja sudah membuat istrinya begitu kegirangan. Seorang pelakor yang harus di pertahankan, begitu pikir Gabrielle.


"Mana black cardnya?" tanya Levi to the point.


"Dokter Jackson bilang akan di siapkan terlebih dahulu, nanti baru diberikan padaku. Iya kan dok?.


Elea menatap penuh binar ke arah dokter Jackson. Yang mana perbuatannya itu membuat Jackson tertawa. Ya tertawa. Untuk pertama kalinya. Dan itu membuat Reinhard dan Levi tercengang kaget.


Woaahh, rupanya mantan penjahat ini bisa tersenyum juga. Aku pikir dia itu jelmaan kulkas dua puluh pintu yang bekunya tiada tanding, batin Levi.


"Iya. Setelah ini aku akan pulang untuk menyiapkan segalanya. Selain black card, apa ada hal lain lagi yang kau inginkan?" tanya Jackson sembari menatap penuh sayang pada adiknya.


"Aku ingin jam tangan, dok" jawab Elea dengan cepat. "Aku juga ingin tas dan sepatu. Em, apalagi ya?.


"Yakk Elea, kau ini sedang meminta atau memeras orang sih?" tegur Levi tak habis pikir. Makhluk kecil ini meminta barang seperti sedang memilih kacang saja. Dia kan jadi iri.


"Memangnya kenapa sih kak? Iri ya?" ledek Elea sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Hih, maaf ya."


"Yakin tidak iri? Ya sudah, kalau begitu nanti aku bagi tas, sepatu dan jam tangannya pada Kak Lusi saja."


Andai bisa di lihat, saat ini dari lubang hidung dan lubang telinga Levi sudah keluar asap tebal. Dia tentu saja tidak terima jika Elea sampai membagi barang dengan orang lain. Di sini Levi adalah pelakornya, wajib hukumnya bagi Levi untuk memiliki benda yang sama dengan Elea.


"Coba saja kalau kau berani membaginya dengan orang selain aku. Aku akan benar-benar menjadi pelakor sungguhan!" ancam Levi sambil memelototkan mata.


"Kak Iel mana mungkin mau dengan pelakor mata duitan seperti Kak Levi. Iya kan kak?" tanya Elea sambil mengerling nakal ke arah suaminya.


"Tentu saja. Hanya kau satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku. Selamanya!" jawab Gabrielle menimpali kejahilan istrinya.


Bagai di tusuk jarum, kata-kata Elea hampir berhasil membuat Levi muntah darah. Reinhard yang melihat kalau kekasihnya mulai marah hanya bisa menarik nafas sambil menekan tulang hidungnya. Lagi-lagi akan ada pertengkaran antara pelakor dengan istri sah.


"Reinhard, jadi kekasihmu itu pelakor dalam rumah tangga Gabrielle dan Elea?" tanya Jackson terpancing emosi.


"Iya, kenapa memangnya?" sahut Levi cetus karena masih dongkol dengan perkataan Elea barusan.


"Jangan ganggu rumah tangga mereka kalau kau ingin tetap hidup!.


Jackson tentu saja tidak akan membiarkan orang lain merusak kebahagiaan adiknya. Dia yang akan berdiri di garda paling depan untuk menghalau pelakor ini.


"Cihh, bahkan sejak kau masih menjadi Jack-Gal aku sudah lebih dulu menjadi pelakor di rumah tangga mereka. Kenapa? Mau protes? Iya?.


Bukannya takut, Levi malah dengan beringas menantang Jackson. Enak saja melarangnya menjadi pelakor di rumah tangganya Elea, di buang ke langit ke tujuh pun Levi tidak akan mau melepaskan gelar pelakornya.


"Kau....


"Dokter Jackson, kau tenang saja. Pelakor yang ini aman dunia akhirat, karena Kak Levi hanya menyukai uangnya Kak Iel saja, tapi tidak dengan orangnya. Jadi kau tidak perlu cemas!" ucap Elea melerai pertengkaran yang akan segera terjadi.


Jackson terbengang heran. Sedangkan Levi, dia menyeringai puas karena mendapat pembelaan dari Elea.


Sebenarnya ini bagaimana sih? Kenapa bisa istri sah malah mendukung seorang pelakor? Ini aku yang bodoh atau memang ada tren seperti ini?


Gabrielle yang mendengar isi pikiran Jackson tak tahan untuk tidak tertawa. Namun dia berusaha menutupinya dengan menyembunyikan wajah di bahu Elea. Sungguh, keadaan ini amat sangat lucu. Seorang Jackson di buat kebingungan oleh kedekatan Levi dan istrinya. Juga dengan istilah pelakor yang selama ini melekat di diri Levi.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...