Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Cenayang


Mendengar ada yang memanggil nama teman kecilnya, Levi seketika menoleh ke belakang. Matanya membulat lebar mendapati suami bibinya tengah berlari mendekat. Takut kalau suami bibinya mengetahui keberadaan Elea, dengan cepat Levi mendorong Elea masuk ke dalam mobil. Namun usahanya itu harus tertahan karena Elea menolak untuk masuk ke dalam.


"Elea, ayo cepat masuk ke mobil. Di luar ada kadal buntung, nanti kita di makan!" ucap Levi sekenanya.


Tanpa melihat kearah Levi, Elea mengucapkan sesuatu yang baru saja lewat di matanya. Ada alasan kenapa dia menolak untuk masuk ke dalam mobil.


"Kita tidak bisa naik mobil ini Kak, akan terjadi sesuatu nanti."


"Sesuatu apa sih?" desak Levi khawatir melihat pamannya yang sudah semakin dekat. "Cepatlah Elea, jangan membual lagi. Simpan omong kosongmu untuk kita bicara di dalam nanti!."


"Tapi Kak, mobil ini...


"Aku bilang masuk ya masuk, Elea. Jangan membantah!" sentak Levi tak sabar.


Dengan sedikit kasar Levi akhirnya berhasil membuat Elea masuk ke dalam mobil. Dia kemudian segera menyusul masuk sambil melirik kearah pria kumal yang masih terus berteriak memanggil nama Eleanor.


'Astaga, kenapa Paman Bryan bisa muncul di sini sih? Tidak mungkin ini ada di dalam rencananya Gabrielle kan? Lebih baik Elea jangan tahu dulu kalau Paman Bryan adalah ayah kandungnya, aku takut ini tidak sesuai arahan Gabrielle.'


"Kak Levi, kenapa pak tua itu melambaikan tangan kearah kita ya?" tanya Elea berusaha untuk terlihat tegar.


"Haaa... A, itu, mungkin itu hanya pengemis yang ingin meminta uang makan. Sudahlah, jangan pedulikan dia. Penjaga, ayo jalan. Kita, kita ke taman dulu untuk membeli cumi bakar. Elea, kau masih menginginkan jajanan itu tidak?" jawab Levi gugup saat mencoba mengalihkan perhatian Elea dari kehadiran Paman Bryan.


Elea mengangguk sedih saat Levi menyebut ayahnya sebagai seorang pengemis. Mungkin ini adalah kali pertama Elea bisa melihat rupa ayahnya dari jarak dekat. Karena selama ini Elea hanya melihatnya melalui internet, itupun hanya bisa dia lakukan jika sedang mempunyai uang lebih. Salah satu hal yang menjadi penyebab kenapa Elea bisa kekurangan gizi. Dia memberi makan cacing di perutnya hanya satu kali sehari hanya demi bisa melepas rindu pada keluarganya melalui layar komputer.


"Oke, kita beli semua cumi bakar yang ada di sana" ucap Levi sembari menarik nafas lega.


Sementara itu, Bryan yang sedikit lagi sampai di mobil yang di naiki oleh putrinya berteriak histeris saat mobil itu bergerak menjauh dari taman. Dia meraung bak orang gila sambil terus mengejar mobil yang kini sudah membaur dengan kendaraan lain. Tak ingin kehilangan putrinya untuk yang kedua kali, Bryan segera berputar menuju ke tempat mobilnya terparkir. Mulutnya terus memohon pada Tuhan agar bisa menemukan mobil yang membawa putrinya pergi.


"Tuhan, tolong aku Tuhan. Jangan biarkan aku terpisah dari Eleanor, Tuhan. Aku mohon bantu aku, bantu aku menemukan jejaknya. Putriku sayang, ini Ayah nak. Tolong jangan pergi lagi" ucap Bryan lirih sambil menyeka airmatanya.


Di dalam mobil, Elea duduk melamun. Dia bahkan mengabaikan Levi yang terus menatapnya sejak tadi. Pikiran Elea sedang terbagi menjadi dua. Satu terpikir akan keadaan ayahnya yang terlihat sangat menyedihkan, sementara yang satunya lagi terfikir akan nasib dari mobil yang sedang di naikinya. Dalam keadaan kalut seperti ini, Elea benar-benar sangat membutuhkan sebuah sandaran. Dia butuh pelukan suaminya untuk memberi dia ketenangan. Tapi sayang, saat ini mereka sedang berjauhan. Tidak mungkin juga Elea mengatakan hal ini pada Levi, dia masih belum berani menceritakan rahasianya meskipun hubungan mereka sudah cukup dekat.


'Aaahhh sialan. Sudah untung tidak bertemu Jack-Gal, sekarang malah harus berurusan dengan kadal buntung. Huh, lagipula kenapa Paman Bryan bisa muncul di taman itu sih? Juga kenapa dia bisa tahu kalau yang sedang bersamaku itu Eleanor? Apa iya dia sudah tahu kalau anaknya masih hidup? Tapi bukankah Gabrielle menutup rapat tentang keberadaan Elea ya? Bagaimana Paman Bryan bisa tahu? Astaga, kenapa hidupmu rumit sekali Elea. Satu masalah belum selesai, muncul lagi satu masalah yang lain. Belum juga dengan Patricia, aku yakin kucing belang itu pasti akan menggila jika tahu kalau pewaris sah dari Keluarga Young masih hidup. PR-ku benar-benar sangat banyak dan berbahaya. Semoga saja aku selalu sehat supaya bisa berdiri menopang Elea dari belakang.'


Levi melihat kearah belakang mobil untuk memastikan apakah Paman Bryan mengikuti mobil mereka atau tidak. Dia lalu mengelus dada, lega karena di belakang mobilnya hanya ada mobil para penjaga yang terus mengawal.


"Huht, untung saja" gumam Levi.


"Siapa yang untung Kak?" tanya Elea sembari menatap dalam kearah Levi.


"Ah, tidak. Itu aku merasa beruntung karena penjaga terus mengawal mobil ini. Jadi kita tidak perlu merasa takut lagi kalau Jack-Gal akan membuntuti kita" jawab Levi gelagapan.


"Kenapa Elea? Sejak tadi aku perhatikan kau terus saja menunjukkan ekpresi yang aneh. Apa kau mengetahui sesuatu?."


Dada Levi berdebar kencang menantikan jawaban seperti apa yang akan di sampaikan oleh Elea. Dia merasa sangat cemas, takut kalau Elea menyadari jika pria mengenaskan yang dia sebut sebagai pengemis adalah ayah kandungnya. Levi tidak siap jika harus memberikan penjelasan terkait masalah tersebut.


"Aku tidak" jawab Elea sambil menggerakkan tangan. "Hanya saja perasaanku terus merasa tidak enak, seperti akan terjadi hal buruk pada kita setelah ini. Kak Levi, kalau firasatku ini tidak salah tolong berhati-hatilah. Selamatkan dirimu begitu ada celah. Kakak jangan memikirkan aku, aku akan baik-baik saja asalkan Kakak tidak terluka!."


Levi tertegun mendengar ucapan Elea. Entah kenapa dia merasa kalau gadis yang sedang berbicara padanya bukanlah makhluk kecil yang biasanya selalu membuat tensi darahnya naik. Elea terlihat seperti seseorang yang memiliki kepribadian lain. Perpaduan antara sikap dewasa dan juga keanggunan dalam tata bicaranya, sangat jauh berbeda dengan sikapnya yang polos dan kekanakan.


"Haiss, kau ini bicara apa Elea. Seperti cenayang saja yang bisa membaca masa depan" kilah Levi menutupi keheranannya.


Elea tersenyum kecut. Mungkin benar kalau dia adalah seorang cenayang, karena nyatanya dia memang bisa melihat masa depan. Tak ingin membuat Levi curiga, Elea akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata. Berdoa agar bayangan yang dia lihat tidak benar-benar terjadi hari ini.


"Oh ya Elea, kapan kau akan mulai masuk ke Universitas?" tanya Levi memecah keheningan.


"Kalau tidak salah sekitar dua bulan lagi Kak. Kenapa memangnya? Kakak mau kuliah juga?" ucap Elea balik bertanya.


"Tidak, kau saja sana" sahut Levi cepat.


"Lho, kenapa? Kak Iel bilang Kakak itu belum menyelesaikan pendidikan S1 karena sibuk berlenggak-lenggok di depan kamera saja selama ini."


Mata Levi melotot tidak percaya. "Jadi pria tengik itu berani membongkar aibku dan menceritakannya padamu?."


Elea mengangguk. Dalam hati dia sedang menertawakan reaksi Levi yang menurutnya terlihat sangat lucu. Sedikit hiburan yang bisa mengalihkan kekalutan dari masalah yang sedang membayangi hidupnya.


"Dasar pengkhianat. Awas saja kau Gabrielle, sepulang dari sini aku akan membuat perhitungan denganmu. Beraninya kau!" geram Levi tak terima.


Wajah Elea menyendu mendengar ucapan Levi. Dia belum tahu apakah setelah ini mereka masih bisa bertemu dengan suaminya atau tidak. Karena dalam bayangan itu, dia dan Levi sama-sama berlumuran darah. Tidak tahu kenapa dan apa penyebabnya, hanya satu yang jelas, mobil yang di naiki mereka akan segera mengalami musibah.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...