
Dengan wajah di penuhi luka lebam Gleen kembali lagi ke rumah sakit. Setelah mendapat pengampunan dari Gabrielle dan orangtuanya, dia bergegas kemari untuk meluruskan masalahnya dengan Lusi. Gleen tak mau hubungannya memburuk gara-gara kearoganannya sendiri, dia tidak sanggup jika harus berpisah dengannya. Gleen sangat amat mencintai Lusi, jadi dia bersumpah akan melakukan segala macam cara untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Huftt, semoga saja Lusi tidak marah lagi padaku. Dan semoga juga dia mau menerima permintaan maaf dariku. Tolong selamatkan aku, Tuhan. Aku mohon padamu" ucap Gleen saat berada di depan pintu kamar rawat kekasihnya.
Setelah mengatur nafasnya, Gleen pelan-pelan membuka pintu kamar. Matanya melotot lebar ketika tak mendapati kekasihnya di atas ranjang. Dengan tergesa-gesa Gleen langsung masuk ke dalam kamar. Baru saja dia hendak berteriak, pintu kamar mandi terbuka. Muncullah seorang gadis cantik dari dalam sana yang sedang kesusahan menarik tiang infus.
"Sweety" panggil Gleen kemudian segera datang mendekat.
Lusi menoleh. Dia sangat kaget melihat wajah Gleen yang sudah di penuhi luka memar. Bahkan dia bisa melihat ada noda darah yang sudah mengering di sudut bibirnya.
"Gleen, kau kenapa? Wajahmu kenapa jadi babak belur begini?" cecar Lusi panik.
"Jangan pedulikan aku. Sekarang ayo cepat kembali ke ranjang. Kau belum boleh berdiri terlalu lama, tulang punggungmu masih dalam tahap pemulihan" jawab Gleen seraya membimbing kekasihnya untuk kembali berbaring di ranjang rumah sakit.
"Jawab dulu pertanyaanku, Gleen. Kau itu kenapa, siapa yang memukulimu sampai seperti ini?.
Lusi melangkah tanpa memperhatikan jalan. Fokusnya terus tertuju di wajah Gleen yang terluka. Dia kemudian ingat kalau Gleen tadi berpamitan untuk pergi menemui Tuan Muda-nya dan juga Nyonya Besar Liona.
"Apa ini..
"Jangan banyak bicara. Berbaringlah, nanti aku akan jelaskan kenapa wajah tampanku jadi seperti ini" sela Gleen.
Meskipun sangat penasaran, Lusi memilih mengikuti apa yang di inginkan oleh Gleen. Dia tersenyum samar melihat bagaimana pria ini begitu telaten membantu mengangkat kakinya keatas ranjang.
"Gleen.."
"Apa Sweety?.
"Aku ingin minta maaf padamu" jawab Lusi. "Kau pasti sangat terluka kan setelah mendengar kata-kataku tadi? Maaf ya, aku sebenarnya tidak berniat untuk melakukan hal itu. Aku terbawa perasaan."
Gleen tersenyum. Dia duduk di samping Lusi kemudian mengelus pipinya.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu, Sweety. Kau terlukai oleh keegoisanku, aku yang terlalu serakah ingin memilikimu seorang diri. Maaf ya, aku benar-benar tidak tahu kalau Gabrielle dan orangtuanya sudah begitu berjasa padamu dan juga pada keluargamu. Wajarlah kalau kau memintaku untuk pergi, karena keberadaanku memang tidak pantas jika harus di bandingkan dengan apa yang sudah mereka lakukan. Aku begitu angkuh dengan menganggap kalau akupun bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan terhadapmu."
Mata Lusi terus memperhatikan kekasihnya yang sedang berbicara. Dia senang karena pria ini tak lagi bersikap arogan.
"Lusi, semarah apapun dirimu, tolong jangan pernah memintaku untuk pergi meninggalkanmu. Kau tahu bukan kalau aku sangat mencintaimu? Kau adalah wanita pertama yang membuatku gila, kau juga adalah wanita pertama yang berhasil meluluhkan hatiku. Kalau aku salah, tegur dan beri aku peringatan. Aku lebih baik di hajar sampai babak belur daripada harus kehilanganmu. Karena rasa sakitnya akan benar-benar sangat menyiksa, Sweety. Aku tidak bohong" imbuh Gleen sambil menciumi tangan kekasihnya yang tak terpasang infus.
"Apa Tuan Muda Gabrielle yang memukulimu?" tanya Lusi sembari mengelus luka lebam yang ada di wajahnya Gleen. "Apa kau benar-benar datang untuk meminta maaf pada mereka?.
Gleen memejamkan mata kemudian mengangguk. Dia begitu meresapi belaian tangan kekasihnya. Perhatian Lusi bagaikan obat mujarab yang bisa menghilangkan rasa nyeri akibat amukan Gabrielle yang tidak terima istrinya mendapat perlakuan kasar. Gleen tidak mendendam, dia sangat maklum karena Gleen pun pasti akan melakukan hal yang sama jika seandainya ada orang yang berani membentak Lusi. Dia pasti akan sama gilanya seperti Gabrielle.
"Apa mereka menekanmu, hm?.
"Awalnya iya. Tapi sekarang aku sadar kalau hal itu memang sudah seharusnya mereka lakukan. Elea adalah berlian di Keluarga Ma, dan aku tidak seharusnya bersikap kasar kepadanya. Hmmm,, Sweety, ada banyak pelajaran yang bisa aku petik dari kejadian ini. Darimu aku bisa belajar agar lebih menghargai kebaikan orang lain. Dari Elea aku belajar kalau persahabatan itu sangat penting, dan dari Gabrielle beserta keluarganya aku bisa belajar kalau kita wajib melindungi orang yang kita sayang. Terima kasih, sejak mengenalmu aku merasakan begitu banyak cinta yang hangat. Cinta yang dulu ku anggap tabu, kini begitu kentara mewarnai hari-hariku. Tidak kusangka kalau cinta itu ternyata sangat menarik, cinta juga mendatangkan banyak rasa yang berbeda. Aku benar kan?" jawab Gleen masih dengan mata terpejam.
Cup
Senyum Gleen langsung mengembang ketika dia mendapat sebuah kecupan di pipinya.
"Bisakah aku mendapatkan bonus?.
Cup
"Lagi.."
"Itu sudah cukup. Nanti kita bisa kebablasan kalau tidak segera di hentikan" sahut Lusi sambil terkekeh geli melihat reaksi kekasihnya.
Mata Gleen terbuka.
"Gleen, aku masih butuh waktu untuk menerima lamaranmu. Kita ini belum lama saling mengenal, biarlah kita saling memahami dulu. Dan aku juga masih memiliki tanggungan untuk merawat kedua orangtuaku yang sudah bobrok. Kau tahu itu kan?" tolak Lusi halus.
"Iya aku tahu. Aku tidak memaksa, hanya menawarkan saja, siapa tahu kau bersedia" ucap Gleen legowo. "Em Sweety, bagaimana kalau kita bawa orangtuamu kemari saja? Kita kan bisa merawatnya bersama-sama di sini. Jadi kau tidak perlu lagi berjauhan dengan mereka, dan akupun bisa melakukan pendekatan untuk mencuri simpatik dari Ayah dan Ibu mertua. Bagaimana? Kau setuju tidak?.
Lusi diam menimang tawaran Gleen. Sebenarnya dia juga memiliki keinginan yang sama. Hanya saja dia tidak berani mengatakan hal tersebut pada Nyonya Besar Liona. Lusi terlalu malu, dia juga cukup sadar diri untuk tidak meminta lebih pada keluarga yang sudah dengan begitu baiknya memberikan pertolongan di saat keluarganya sedang berada dalam masalah.
"Jangan fikirkan masalah biaya, Sweety. Aku sama sekali tidak merasa keberatan menanggung seluruh kebutuhan orangtua dan adik-adik kita nanti. Justru aku merasa senang karena akhirnya ada juga yang memakai uangku karena selama ini tidak ada orang yang menikmati hasilnya. Jadi dengan adanya mereka di sini uangku tidak akan tidur panjang lagi di bank. Mereka akan langsung bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Kita jemput mereka saja ya? Nanti aku akan membelikan rumah sekaligus perawat pribadi yang akan memantau kesehatan Ayah dan Ibu mertua. Mau ya?" bujuk Gleen penuh harap.
"Kau yakin tidak akan menyesal memboyong orangtuaku dari desa? Mereka sangat kuno Gleen, kami para penduduk desa biasanya akan langsung berteriak heboh ketika melihat hingar bingar yang ada di tempat ini. Kau pasti akan merasa sangat malu nanti" tanya Lusi ragu.
Gleen tersenyum.
"Tolong izinkan aku merasakan betapa bahagianya memiliki orangtua. Tak peduli mereka berasal darimana, tak peduli mereka akan seheboh apa, itu pasti akan menjadi kesenangan tersendiri untukku. Aku tidak keberatan dengan kekunoan mereka, Sweety. Jadi tolong izinkan aku untuk menjemput mereka dan membawanya kemari ya? Aku mohon."
"Baiklah. Tapi tolong jangan melangkahi Nyonya Besar Liona dan Tuan Besar Greg ya. Kalau kau memang benar-benar ingin memboyong keluargaku, maka kau harus meminta izin dulu pada mereka. Dengan begitu mereka tidak akan mengira kalau aku sudah lupa daratan. Tidak apa-apa kan Gleen?" tanya Lusi memberi syarat.
"Apapun itu, Sweety. Aku pasti akan melakukan semuanya untukmu" jawab Gleen dengan senyum semringah.
Gleen kemudian membimbing Lusi untuk berbaring di ranjang. Kemudian dia juga ikut berbaring di sebelahnya.
"Lusi, aku sangat mencintaimu."
"Iya, aku juga."
"Jangan lama-lama ya menerima lamaranku. Aku takut kau di curi orang jika tidak segera di resmikan."
Lusi tergelak.
"Apa lukanya sakit?.
"Sakit, tapi jauh lebih sakit lagi kalau kau mengacuhkan aku."
"Dasar pembual!.
"Hehee..
"Jangan tertawa."
"Hehehe...."
"Gleen..." rengek Lusi malu.
Gleen tertawa senang sebelum akhirnya mencium kening Lusi. Dia lalu menatapnya, membisikkan kata cinta sebelum merengkuh tubuh Lusi ke dalam pelukannya.
'Aku mencintaimu, Lusi...'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...