Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Halusinasi


Pukul tiga dinihari Elea baru tersadar dari pengaruh obat bius. Matanya terbuka perlahan, setelah itu dia terbelalak mengingat kejadian siang tadi dimana Jackson yang ingin mencelakainya.


"Aku harus pergi dari sini, aku harus pergi dari sini" gumam Elea seperti orang tidak sadar.


Gabrielle yang saat itu baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat istrinya sudah sadar. Namun apa yang akan di lakukan oleh Elea membuat jantung Gabrielle seperti akan lepas dari tempatnya.


"Elea, jangan di lepas!" teriak Gabrielle kemudian berlari cepat kearah ranjang.


Masih dalam kondisi belum sepenuhnya sadar, dengan gilanya Elea menarik selang infus yang menancap di tangannya. Segera darah memercik kemana-mana hingga mengenai selimut dan pakaian. Bahkan juga terpercik mengenai lantai.


"Aku harus pergi dari sini, harus pergi" ucap Elea sambil berusaha turun dari ranjang.


Namun apa yang akan di lakukan oleh Elea berhasil di cegah oleh Gabrielle. Dia langsung mendekap erat tubuh Elea yang sedang gemetaran.


"Sssssstttt, jangan takut sayang. Ada aku di sini, ada aku yang menemanimu" bisik Gabrielle sambil terus mendekap kuat tubuh istrinya yang terus berontak.


"Lepaaassss! Aku ingin pergi dari sini. Dokter itu ingin memp*rkosaku, aku tidak mau di sini. Lepaasss!" teriak Elea mulai tidak bisa mengendalikan diri.


Di saat yang bersamaan Levi tiba-tiba datang ke kamar Elea dengan seorang perawat yang mendorong kursi roda. Matanya langsung melotot melihat keadaan teman kecilnya yang sedang berontak ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya. "Gabrielle, makhluk kecil itu kenapa? Kau apakan dia, hah!."


"Jangan menuduhku macam-macam, Lev. Cepat panggilkan Reinhard kemari. Elea kalap!" teriak Gabrielle sambil menahan rasa sakit akibat gigitan di perutnya. "Cepat panggil Reinhard kemari!."


Perawat yang tadi mendorong Levi bergegas lari keluar untuk memanggil direktur rumah sakit. Sedangkan Levi, dengan satu tangan dia mencoba menggerakkan kursi rodanya mendekat kearah ranjang.


"Elea, hei, lihat aku. Ini aku si pelakor itu, ayo lawan rasa takutmu sayang. Jangan mau di kendalikan oleh bajingan itu. Ayo Elea, kendalikan rasa takutmu. Lawan Elea, lawan!" ucap Levi berusaha membantu Gabrielle membantu menenangkan teman kecilnya.


"Saat genting seperti ini bisa-bisanya kau malah mengajak Elea bercanda. Kau sudah tidak waras ya!?" hardik Gabrielle yang merasa aneh dengan kata-kata yang di ucapkan Levi barusan.


Mata Levi memicing. Dia tentu saja tidak terima di katai seperti itu oleh Gabrielle. Sambil mengirimkan sinyal kematian, Levi kembali membalas perkataan Gabrielle tak kalah gila dari sebelumnya.


"Tidak waras? Kau harusnya bersyukur aku mau mengakui diri sebagai pelakor hanya demi bisa menenangkan istrimu. Bukannya senang ada aku di sini, kau malah mengataiku tidak waras. Dasar tidak tahu diri!" umpat Levi emosi.


"Kau yang tidak tahu diri!" bentak Gabrielle balas mengumpat.


"Kau, pria tengik!."


"Ka....


"Yaakkkkk..... Ada orang yang sedang ketakutan di depan kalian tapi kenapa kalian berdua malah asik bertengkar sendiri! Kalian sudah gila ya!."


Levi dan Gabrielle langsung terdiam begitu mendengar suara teriakan Reinhard dari arah pintu. Mereka kemudian menunduk, menatap kearah Elea yang entah kapan sudah tertidur di pelukan Gabrielle.


"Elea, kau tidur atau mati?" tanya Levi cemas.


Pletaakkk


Dengan kesal Reinhard menjitak kepala Levi setelah mendengar ucapan konyolnya. Dia lalu menarik nafas sedalam-dalamnya saat gadis itu menatapnya dengan penuh permusuhan. "Jangan memelototiku, nanti biji matamu bisa keluar!."


"Beraninya kau menjitak kepalaku, Rein. Tahu tidak, setiap bulan aku selalu bersedekah ke panti asuhan hanya demi mensucikan kepala yang baru saja kau sentuh dengan tidak manusiawi. Mau kau menerima azab dari Tuhan, iya?" amuk Levi sembari mengusap kepalanya yang baru saja di nodai oleh tangannya Reinhard.


"Tidak ada hubungannya dengan azab Tuhan, Levi. Astaga.... Sudahlah, kau tolong minggir dulu. Aku perlu memeriksa keadaan Elea" sahut Reinhard tak habis fikir.


Tanpa di suruh dua kali, Levi segera menyingkir ke samping agar memudahkan Reinhard memeriksa kondisi Elea. Dia lalu menatap iba kearah Gabrielle. 'Haissshhh, semoga saja Elea tidak kenapa-kenapa. Kasihan juga melihat wajah pria tengik ini, dia seperti tidak berdaya dan sangat kasihan!.'


"Bagaimana Rein, Elea tidak apa-apa kan? Obat yang di suntikkan Jackson tidak memiliki efek samping yang berbahaya bukan?" cecar Gabrielle cemas.


Gabrielle sangat terkejut setelah di beritahu kondisi istrinya sekarang. Dia benar-benar tak habis fikir kenapa Jackson tega melakukan hal seperti ini pada Elea. Sementara Levi, di matanya sudah menggenang airmata begitu tahu kalau keadaan Elea cukup buruk.


"Reinhard, apa ada cara lain yang bisa kau lakukan untuk menolong Elea? Kalau kau membutuhkan donor organ, tolong ambil di tubuhku saja. Aku rela melakukannya asalkan makhluk kecil ini bisa sembuh!."


Mendengar perkataan Levi yang tidak masuk akal membuat Reinhard memijit tulang hidungnya, frustasi. Dia lalu memberikan penjelasan pada wanita yang sekarang sudah menangis sambil memegangi lengannya.


"Levi, yang di alami Elea itu hanya halusinasi, bukan penyakit parah. Jadi tidak perlu memakai organmu untuk menyembuhkannya. Kita hanya perlu meyakinkannya dan juga memberinya ketenangan supaya dia bisa terlepas dari pengaruh obat bius tersebut" jelas Reinhard. "Dan Gabrielle, aku minta maaf karena setelah ini tangan dan kaki Elea akan kuikat."


"Kau sudah gila ya, Rein. Kau pikir istriku ini binatang yang harus di perlakuan seperti itu hah! Brengsek kau!" amuk Gabrielle tak terima.


"Ini demi kebaikan istrimu, Gabrielle. Coba kau lihat yang sudah di lakukan Elea pada tubuhnya. Ini baru selang infus Gab, bagaimana kalau dia sampai meloncat dari jendela kamar ini? Kau mau melihat istrimu mati sia-sia karena tekanan obat itu, iya!" omel Reinhard dengan suara yang cukup keras.


'Ya Tuhan, apa aku baru saja membentak Gabrielle? Bagaimana kalau dia marah lalu membunuhku ya? Astaga Reinhard, kau ini bagaimana sih!.'


Gabrielle tertegun mendengar penjelasan Reinhard. Dia lalu melihat kearah ranjang dimana tangan Elea masih terus mengeluarkan darah segar akibat selang infus yang di tarik paksa olehnya tadi. "Apa memang harus di ikat, Rein? Istriku bukan binatang, dia juga tidak gila!."


"Aku tahu, Gabrielle. Tapi ini harus tetap kita lakukan demi menjaga keselamatannya. Tidak apa-apa, aku akan bekerja lembur untuk mencarikan obat penawarnya. Tolong kau jangan mempersulit keadaan Gab, ini semua demi kesembuhan istrimu" hibur Reinhard memberi pengertian.


"Iya Gabrielle, sebaiknya kau dengarkan apa yang di katakan oleh Reinhard. Yang binatang dan orang sakit jiwa itu si Jackson, lebih baik sekarang kita menyusun rencana untuk membalas apa yang sudah di lakukan pada Elea kita" imbuh Levi ikut memberikan penghiburan.


Setelah di bujuk oleh Levi dan Reinhard, akhirnya dengan berat hati Gabrielle membiarkan istrinya di ikat oleh para perawat. Hatinya seakan teriris melihat istri yang sangat di cintainya itu di perlakukan bagai orang sakit jiwa.


"Oh ya Gabrielle, tolong minta anak buahmu untuk memasang sandi di pintu ruangan ini. Dan pastikan hanya orang tertentu saja yang mengetahui kata sandinya. Jaga-jaga supaya kejadian seperti siang tadi tidak terulang. Kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan para penjaga karena Jackson jauh lebih cerdik di bandingkan mereka!" ucap Reinhard setelah selesai memasang infus di tangan Elea. "Dan kau Levi, ini sudah hampir pagi. Sebaiknya kau segera kembali ke ruanganmu sekarang. Kondisimu juga belum pulih sepenuhnya, jangan sok merasa sehat."


"Aku tidak mau" tolak Levi.


"Levi, tolong jangan membuat masalah dulu. Kita tidak sedang dalam suasana yang bisa di gunakan untuk main-main" sahut Reinhard.


"Aku tidak peduli. Selama Elea belum sembuh, maka aku akan terus berada di ruangan ini. Dengan atau tanpa seizin Gabrielle!."


"Tapi..


"Biarkan saja Rein. Sedikit banyak keberadaan Levi di samping Elea bisa membuatku tenang" sahut Gabrielle lesu. "Aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang!."


"Gabrielle, kau mau pergi kemana?" tanya Reinhard khawatir. "Jangan bertindak gegabah Gab, kau harus ingat kondisi Elea sekarang!."


"Aku hanya ingin pergi menemui Ibuku" jawab Gabrielle sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


Begitu sampai di luar, Gabrielle segera menghubungi Ares dan memintanya untuk membuatkan sandi baru di pintu masuk kamar Elea. Baru setelahnya dia pergi meninggalkan rumah sakit menuju kediaman ibunya untuk meminta obat yang bisa menyembuhkan istri kecilnya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...