
" Hm...kenapa lu? "
Tanyaku saat kutolehkan kepalaku padanya. Setetes air mata bening mengalir dari pelupuk matanya. Hidungnya memerah, menahan Isak tangis.
Deg
" Eh? gak kok gak papa, cuma terlalu menghayati nih film " ucap bella tersenyum getir.
Ku hanya diam, menatapnya iba. Ku ulas senyum, dan menatapnya lekat. Mencoba menguatkannya.
Setelahnya Kembali ku tatap layar 4,7 inci tersebut. Pikiranku melayang, Bella memang bisa memiliki apapun yang ia inginkan, tapi tidak dengan kasih sayang dari orang tuanya, hingga membuatnya seperti sekarang.
Harta bukan segalanya, kebahagian tak bisa di dapat hanya dengan kekayaan. Namun aku salut, walau dengan keadaannya dia masih bisa tegar dan terlihat ceria menjalani harinya.
Sebagai pemilik Perusahaan SK Agustin, kesibukan orang tuanya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Walau bukan perusahaan terbesar dalam negeri namun pengaruhnya terbilang cukup besar, sehingga tidak memungkinkan jika orang tuanya cukup sibuk walau sebagai CEO sekalipun.
Sadar dari lamunan. Ku raih smartphone tersebut lalu mematikannya. Ku tidak mau melihat sahabatku terlarut dalam kesedihan.
" Kan kita tujuannya mau have fun, semangat lah !! " keluh ku pada Bella.
" Hmm.., "
" Eh Ya, gue mau ngomong sesuatu...., " ucap Bella lirih.
" Sebelumnya gue mau cerita tapi gue ragu, jadi gue ...,Huh "
Satu tarikan nafas Bella keluarkan, mencoba menghilangkan keraguannya.
" Gue apa ?! " - sela ku penasaran.
" Gue, Gue pernah ketemu cowo itu !! " - seru Bella.
" Hng? cowo, cowo apa? yang jelas dong aelahhhh " ucapku sewot, memutar bola mataku.
" Itu loh cowo yang nabrak kamu, cowo berjubah " sahut Bella greget melihatku yang tidak ngerti juga.
" Owhh, Mr. X ? "
" Lo panggil dia Mr. X ?? " ucap Bella dengan tawa terbahak-bahak.
" Blee, serah gue dong " sahutku dengan menjulurkan lidahku.
" Hahahahaha, ada- ada aja..., aduh sakit perut gue "
" Terus ? emang kenapa, tau sesuatu ? "
Tanyaku dengan menatapnya lekat. Mendengar tentangnya membuat semangat dalam diriku menyala.
" Dengar nama cowo langsung..., "
" Bacot " sela ku.
Bella yang mendengarnya kembali tertawa, lalu melemparkan senyum pepsodent andalannya. Namun itu hanya berlangsung satu menit, raut mukanya kembali normal dan berubah menatapku serius.
" Gini, gue pernah lihat dia deket sekolah, pas hari libur. Sekolah sepi saat itu..., "
# FLASHBACK ON ( BELLA POV )
Hari itu dekat sekolah, Minggu pagi...
Sekolah terbilang sepi karena sehabis hujan lebat yang mengguyur kota hingga subuh pagi. Tak terlihat satu orang pun pedagang yang berjualan disana walau hari Minggu sekalipun. Hari dimana banyak pembeli berdatangan untuk berbelanja bulanan. Tapi tiba-tiba di perempatan aku melihat seseorang dengan tampilan cukup aneh. Jubah usang yang melekat di badannya, jubah yang terlihat sudah berumur lama.
" Eh tu orang ngapain dah? mengendap-endap, mo maling yah " gumam ku sedikit terkejut melihat gerak geriknya yang mencurigakan.
" Pakai jubah gitu lagi, iya si habis hujan tapi tetap aja mencurigakan, apa dia mau maling di sekolah? "
Pikirku melihatnya berjalan mendekat ke tembok, tepat di sisi bangunan lab komputer berdiri. Tanpa ku sadari, dari tadi aku ternyata membuntutinya.
Dia sedikit mendongak menatap keatas dan melihat dibalik tembok.Setelah dirasa aman, Tangannya merayap ditembok dan berhenti di satu titik. Sebuah lubang dengan pola kotak yang menyembul dari sisi lainnya. Seseorang itu tampak menyeringai, kemudian muncul sebuah lubang hitam besar dengan pusaran didepannya. Melangkahkan kakinya, orang itu menghilang dengan sekejab dibalik lubang hitam tersebut.
Sebelum benar-benar tersedot penuh kesana. Dia melirik kebelakang, merasakan ada sosok kehidupan di sebalik punggungnya. Tak sempat bersembunyi, mata itu menangkap ku. Ada keterkagetan disana, namun perasaan emosi itu segera menghilang, tenggelam ke lautan tanpa dasar. Hitam pekat yang tersisa.
Deg
" I.., itu apa, apa itu tadi ? " ucapku terbata.
Aku syok melihat hal itu, aku menegang ditempat, itu nyata. Hal yang terjadi di Film-film action itu adalah beneran? aku tidak mungkin salah mengira itu mimpi, karena saat ku cubit tanganku, rasa sakit itu ada.
Jantungku berdegup kencang berirama bagai not lagu yang bersahut-sahutan. Namun aku tak perduli, kakiku yang sudah melemah karena berlari kencang tidak ku perdulikan dan memberikannya istirahat. Tujuanku hanya satu yaitu ' Rumah ' .
Hingga akhirnya aku tiba. Membuka gerbang, aku kembali berlari menuju pintu sampai akhirnya kakiku melorot di baliknya dengan nafas yang ngos-ngosan.
# FLASHBACK OFF