Ini Ceritaku, Kembang Tidurku!

Ini Ceritaku, Kembang Tidurku!
Mandi yang Tertunda dan Sebuah tanda tanya ' ? '


"....."


Ku terdiam mematung ditempat, tanganku yang awalnya ingin melepaskan pakaian menggantung di udara.


" Mati gue, Ugh kok bisa sampai lupa sih "


Bergumam, ku gigit kuku cantikku untuk meredam rasa gugup yang tiba-tiba melanda.


Setelah ku rasa cukup , ku sematkan kembali kancing baju yang telah terbuka, niat untuk mandi langsung ku lupakan mengingat ada hal yang mendesak yang harus ku selesaikan.


Membuka pintu kembali, aku berlari turun menghampiri Ibuku yang menampilkan muka bak monster yang sebentar lagi mengeluarkan apinya.


Jalanku melambat saat sudah hampir tiba didepan ibuku, tenggorokan tercekat, tubuhku menegang kaku, aura yang dipancarkan ibuku seperti menyihir diriku, membuatku diam menunduk tanpa berani menatapnya.


" MIA TATAP IBU !! "


Aku yang mendengar itu, tanpa ba bi bu langsung menuruti apa yang ibu perintahkan. Mendongkakkan kepalaku, mataku menatap pupil ibuku yang membawa kesan horor disana.


Hanya dengan menatapnya aku bisa memastikan kalau beliau benar-benar marah padaku, perasaan itu sudah tercermin dimatanya. Bagaimana tidak baru saja 3 hari yang lalu sepedaku diperbaiki, hah mengingatnya aku jadi merasa malu, hari itu didalam perjalanan pulang sekolah, namun tiba-tiba suatu kejadian tak terduga terjadi kepadaku, banku meletus dan akhirnya aku melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan.


Entah apa penyebabnya aku tidak tau itu, yang ku tau aku dimarahi habis-habisan dirumah karena merepotkan kedua orang tua ku dan tidak mematuhinya ?!.


" Mia, apa lagi yang kau lakukan hah? kenapa sepeda mu jadi kotor? kamu sudah dewasa kamu sudah remaja, bagaimana bisa kamu tidak dapat menjaga diri sendiri ?! " - semburan itu keluar juga, tak diam saja ibuku meraih sepedaku dan menunjukkannya kepadaku.


" Lihat ban ini, kenapa banyak lumpur kotor yang menempel, " tunjuk ibuku dengan jarinya


" Ugh bau, bagaimana kau pulang dengan sepeda yang seperti ini ?! " - lanjutnya kembali, tak lupa tangannya ia hinggap kan di tangkai hidungnya, menghalangi bau yang ditimbulkan dari sepedaku.


" Anu bu..., " inginku menjawab tapi mulut ini tak bisa berkata, terbata-bata mulut ini menjawab dengan ragu namun ucapan ku kembali tenggelam dan tak dapat keluar.


" Apa yang terjadi sebenarnya Mia ?! " ucapan ibuku kembali meninggi, menunggu tuk dijawab, ibuku merasa kesal dengan sikapku yang tak bisa menjaga diri dan begitu tak berhati-hati.


" Tadi saat mau berangkat, seseorang tak sengaja menyenggol ku sehingga tanpa bisa mengelak aku..,sepeda ku jatuh ke selokan " ku gigit lidahku mengakhiri kalimat yang dari tadi ingin ku sampaikan, takut ibuku kembali memarahiku.


Namun tanpa diduga, ibuku tak menyambut itu dengan kemarahannya, aku tak mengira respon yang ibu berikan tidak seperti yang ku bayangkan.


" Astagfirullah, kamu gak papa kan nak? " ucap ibu ku khawatir.


" Ha? " aku yang mendengar respon ibuku menganga kaget, ekspresi ku tak terkontrol dengan muka yang terbuka lebar, terkejut dengan respon yang ibu berikan.


Aku bingung, kenapa tiba tiba ?! kemarin aja ban sepeda meletup marah-marah ?! kok sekarang..., ucapku membatin tenggelam dalam pikiran.


" Kamu gak apa-apa kan Mia ?! apa ada lecet? " ibuku kembali melemparkan pertanyaan kepadaku.


Aku hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan dari ibuku.


" syukurlah kalau begitu, " sahut ibuku lega.


" Eh iya, Itu sepedanya dicuci, jangan sampai lupa " ucap ibuku mengakhiri percakapan dan berbalik pergi.


" Iya bu, emm.. Bu Mia boleh nginep gak dirumah teman, semalam doang kok bu "


Aku meminta izin ke ibuku, yah sebenarnya ibuku selalu mengizinkanku karena ibuku tahu aku tidak punya banyak teman dan teman dekatku siapa lagi kalau bukan Bella, hanya saja aku ingin sekedar memberitahu kepergian ku nanti.


" Pergilah, sebelumnya bersihkan dulu sepeda mu itu, masa pergi dengan sepeda kotor "


" Siap bu !! "


Menarik sepedaku, aku langsung bergerak membawa ke halaman belakang, melakukan pencucian. ku tunda kembali niatku untuk mandi dan melakukan pekerjaan ku.


" Mia, bisa tolong bantu ibu belikan sesuatu di pasar ?! " ucap ibuku berteriak dari arah dapur.


" Emang butuhnya kapan bu ?! " ucapku menyahut dengan kembali berteriak, jarak ku dari halaman belakang dengan dapur tak terlalu jauh, namun suara kami tertutupi oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh masakan yang sedang ibu buat.


" Gak butuh banget sih Ya, besok juga bisa.. tapi bahan yang di butuhin itu adanya di pasar subuh, jadi bisa kan Ya kamu tolongin ibu beliin besok, paginya langsung kesana ya, takutnya bahan yang ibu butuh in keburu habis "


" Oke deh bu, nanti Mia usahain "


Setelah selesai dengan pekerjaan ku, aku pun melanjutkan mandi ku yang dari tadi selalu tertunda. Selesai bergulat dengan mandi ku aku meraih asal pakaian dan beranjak turun.





Diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda...


Seseorang tengah berbaring di kasurnya, terlihat badannya berguling-guling kesal, mulutnya tampak komat-Kamit mengucapkan sesuatu.


" Bocah sialan itu kemana si, kapan dia bakal berangkat.., udah pukul enam ini ?! "


Beranjak dari tempat tidur ia berlari menghampiri jendela, namun tak nampak sosok yang dari tadi ia tunggu.


" Apa terjadi sesuatu ?! seharusnya dia udah berangkat, masa ia dia perginya malam kan serem, jalanan nya gelap " - ia menutup kembali tirai, badan nya mondar mandir khawatir.


Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang kejinggaan, namun di sisi lain orang yang ditunggu tak kunjung tiba.


" Apa dia lupa ?! chat ku gak dibalas telpon gak diangkat !! " ucapnya dengan otak yang dipenuhi tanda tanya.