
Cuaca menjadi cerah keesokan harinya. Saat sinar matahari menjadi turun, semuanya tampak hidup. Daun tanaman yang bergoyang berirama dengan tiupan angin yang menyejukkan pagi.
Sinar mentari bergerak masuk melewati celah-celah yang ada. Membelai mata dengan sinar hangatnya, menebarnya dengan senyuman.
Badan ini terasa amat segar saat ku gerakkan tubuhku bangkit dari hangatnya pelukan selimut. Aku sudah lupa, kapan terakhir kali aku tidur senyenyak ini. Namun, ada suatu hal yang kusadari. Entahlah, kupikir-pikir ada hal yang janggal sekarang.
" Hmm? " Aku mengerut bingung.
Aku berpikir keras, mencoba mengingat kejanggalan yang ada. klik!
Suara jentikkan jari
Saat tiba-tiba, sesuatu melintas melewatiku. Yah sekarang aku mengingatnya. Mimpi itu!
- Mimpi itu Telah Berakhir -
Mimpi yang menggangguku setiap malamnya...
Mimpi yang tiada hentinya...
Sebuah mimpi berulang...
Yang datang bagai kutukan menghantui malam indah ku setiap harinya...
Sebuah mimpi buruk tiada akhir...
Hal yang ku yakini abadi...
Mimpi itu...
Kini telah berakhir...
Itu sebuah kejutan tak terduga, hal yang tak pernah terpikirkan oleh ku. Mimpi itu menghilang dengan sendirinya.
Aku mengira ini adalah sebuah takdir. Diri ini sudah menyerah dan mencoba tuk menerima segalanya. Aku tak mengira, kini semuanya sudah berakhir.
Yah walaupun ini masih tak pasti. Karena kupikir ini baru semalam.
Segalanya perlu dipastikan.
Ku memutuskan untuk kembali melanjutkan hari seperti biasanya. Bersekolah, fokus dan fokus. Mimpiku sekarang sedang menghadang, menunggu di depan untuk ku jemput.
Saat ada kesempatan, tak mungkin akan ku sia-siakan. Jika aku mampu, maka untuk apa takut mencoba.
Ku lewati seminggu ini dengan belajar. Meski banyak hal belakang ini terjadi, itu tak menjadi sebuah penghalang.
Senin, Selasa, Rabu hingga Sabtu menjemput. Kini Ujian yang ku jalani telah usai. Hari ini, Sabtu. Jadwal kelas kosong, hari bahagia untuk kami melepas segala penat.
Aku sedang duduk dengan Bella di kantin sekolah. Menikmati hidangan bakso dengan di temani obrolan diantara kami.
Adanya ujian mengurangi waktu ku dengan Bella berbagi cerita kesehariannya. Dan apa yang kami alami tentunya.
Tentang Bella, Malam itu orang tuanya tidak datang. Sesuatu mendesak telah terjadi pada perusahaan nya diluar negeri. Sehingga orang tuanya berangkat malam itu juga, dan sampai sekarang belum kembali.
Setelah seminggu berlalu, kini keadaan Bella berangsur membaik. Kejadian yang telah dilakukan orang tuanya adalah masa lalu, benar atau tidaknya, yang pasti itu sudah tidak mungkin dicegah. Menerimanya adalah sebuah kepastian. Sanggup tidak sanggup tetap harus ia pikul.
Namun bukan itu yang ia khawatirkan, kalimat yang terucap dari mulut laki-laki itu, sebuah rencana balas dendam, kapan dan bagaimana itulah yang menghantuinya.
Ia sangat tahu, kedua orangtuanya tidaklah menyayanginya. Diperkuat dengan video itu, menambah keyakinannya akan kasih sayang mereka padanya. Ia hanya sebuah alat yang nantinya akan memperkuat bisnis dari orang tuanya. Namun itu tidak mengubah fakta bahwa mereka berdua adalah orang tua kandungnya.
Bye the way, mengenai mimpiku aku tidak menceritakannya kepada Bella, bukannya tidak mau, hanya saja belum ku ceritakan. Menurutku, itu tidak terlalu penting buatnya, walaupun itu adalah kabar gembira bagiku. Namun jika dia bertanya, pasti akan ku ceritakan.
" Lo sepertinya terlihat segar belakang ini? senyum lo aja gak pernah luntur dari tadi. " sanggah Bella menyeringai, membuyarkan segala lamunanku.
" Ha? ah ya?! " baru saja aku berpikir demikian, dan ternyata Bella tiba-tiba sudah menanyakannya. Sepertinya Bella menyadarinya, pikirku.
Aku hanya mengulas senyum mendengar pertanyaannya.
" Aku sudah tidak mengalami mimpi buruk " ucapku dengan senyuman.
" Maksudmu...mimpi itu?! aku ikut bahagia mendengarnya. " pupil mata Bella bergetar mendengar hal tersebut. Ada sedikit keterkejutan, namun tak menutupi kebahagiaan yang terpancar dimatanya.
" Hum! namun ada satu hal " lanjutku.