Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
9. Tidak Mengharapkan


Setelah membersihkan diri dan merasa lebih baik, Meisya memilih untuk duduk di sofa. Dia melihat ke penjuru ruangan, hanya ada satu ranjang ukuran king size di kamar suite itu. Alesya sadar, pria itu sudah pasti tidak akan mau tidur satu ranjang dengannya. Untunglah ada satu sofa panjang di ruangan itu, yang bisa perempuan itu gunakan untuk tidur nanti.


Meisya mencari bantal dan selimut di dalam lemari untuk ia gunakan tidur nanti. Di lemari bagian atas, untungnya tersedia bantal dan selimut yang belum digunakan. Meisya mengambilnya tapi sayang tubuhnya yang mungil itu tidak sampai untuk meraihnya.


"Apa aku sangat pendek," gumamnya. Dia berkacak pinggang sambil mencari akal agar bisa mengambil selimut di rak atas itu.


Dia menemukan kursi di depan meja rias. Meisya menariknya ke depan lemari. Akhirnya dia menemukan pijakan untuk mengambil selimut. Namun, sayang saat dia berhasil mengambil selimut yang dia inginkan. Kursi yang dia injak rupanya tidak seimbang dan bergoyang-goyang.


"Ehhh ehh kenapa ini, aaaaakkkk ....!"


"Awaaass!"


Bruk!


Meisya pun terjungkal dari atas kursi. Dia memejamkan mata membayangkan kalau saat ini tubuhnya pasti sangat sakit.


"Apa kau bisa berdiri sekarang."


Suara seseorang membuat Meisya terkejut tentunya, suara dari siapa itu. Dia pun membuka mata. Mata langsung membelalakkan dan mulutnya menganga melihat seseorang tertindih olehnya. Pantas dia tidak merasakan sakit, ternyata seseorang menyelamatkannya dari insiden tersebut.


"Apa Anda tidak apa-apa? Maafkan saya." Meisya merasa sangat bersalah pada laki-laki itu. Pasti sangat sakit jatuh dan tertimpa tubuhnya bersamaan.


Marsell berusaha bangun dengan menahan nyeri pada tulang pinggang dan punggungnya. Daat dia masuk tadi tak sengaja melihat istrinya sedang berdiri di atas kursi, dia juga melihat jika kursi itu miring dan akan terjatuh. Reflek, dia pun berlari dan menyelamatkan istrinya yang hampir terjatuh. Dia berhasil tapi sebagai gantinya, kini Dia yang terluka.


"Bagaimana keadaan Anda, Tuan?" tanya Meisya penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa." Marsell berjalan melewati istrinya begitu saja. Dia masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian. Meisya sudah menyiapkan baju untuk ganti suaminya. Dia letakkan di atas tempat tidur. Dia sungguh merasa bersalah tapi tidak tau bagaimana caranya meminta maaf sedangkan pria itu begitu dingin padanya.


Klek. Pria bertubuh tinggi itu akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia hanya menggunakan jubah mandi dan membiarkan bagian dadanya sedikit terbuka. Dia berlalu lalang begitu saja tanpa peduli dengan keberadaan Meisya di sana. Padahal gadis itu sudah panas dingin karena baru pertama kali dia melihat pemandangan seperti itu.


Wajah Meisya memerah saat pertama kali melihat pria itu keluar dari kamar mandi. Dia langsung memalingkan wajahnya malu, berbeda dengan pria itu yang tampak biasa saja. Untunglah dia masih sedikit memiliki perasaan dan memilih memakai piyama di dalam kamar mandi.


Meisya berdiri dengan berat hati, kakinya melangkah menuju sisi ranjang. Dia lalu membungkuk dan meminta maaf.


"Maafkan saya, karena saya, Anda jadi terluka."


Marsell melihat gadis itu dari atas sampai bawah, dia tidak menyangka kalau wanita yang dipilih omanya seperti itu. Dari yang ia dengar, gadis itu berasal dari desa. Entah kelebihan apa yang dimiliki gadis itu sampai omanya tertarik padanya. Bukan dengan putri pengusaha atau putri pejabat, sang Oma malahan menjodohkannya dengan gadis itu.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Oh iya, kau jangan salah paham karena aku memintamu untuk melanjutkan pernikahan kita, kau tau kan sebanyak apa tamu dan media yang hadir tadi. Aku hanya tidak ingin oma menanggung malu jika pernikahan dibatalkan."


"Saya mengerti," potong Meisya.


"Baguslah kalau kau mengerti. Kau juga harus tau jika aku menikah denganmu hanya karena Oma yang menginginkannya. Kau jangan berharap apapun dariku dan dari pernikahan ini. Kita jalani saja seperti harapan Oma, kita hanya perlu berpura-pura bahagia dan sudah menerima pernikahan ini di depan Oma," terang Marsell lagi.


"Satu lagi, kau jangan mengharapkan cinta dariku karena itu tidak mungkin." Memandang perempuan di hadapannya dengan tatapan menyepelekan. Seakan berkata kalau Meisya bukanlah seleranya, sangat jauh jika dibandingkan dengan Laura yang tinggi, cantik, dan pintar.


"Saya mengerti," jawab Meisya. Dia lega karena pria itu sudah mengatakannya dengan jelas itu berarti dia tidak perlu mencoba membuka hatinya untuk sang suami. Mereka hanya perlu bekerja sama dengan baik di hadapan orang-orang.


"Aku akan tidur di sini, kau juga boleh tidur di sini kalau mau. Saat tidur aku cukup tenang jadi kau tidak perlu khawatir kalau akan terjadi hal-hal seperti itu. Kau bisa tidur di sisi yang lain."


Meisya menyunggingkan senyumnya lalu menggeleng. Dia tidak akan tidur di sana. Lebih baik dia di sofa saja. "Terimakasih, tapi saya akan tidur di sofa itu saja."


Marsell melihat sofa kecil itu, pasti tidak akan nyaman jika dia tidur di sana tapi jika perempuan itu yang tubuhnya kecil masih bisa muat di sana. Dia tidak peduli lagi dan memilih untuk merebahkan diri. Dia sangat lelah setelah perjalanan jauh lalu di pesta tadi dia juga harus menyapa para tamu.