
Tanpa sengaja Meisya tertusuk pecahan gelas kaca yang sedang ia bereskan. Marsell yang melihat pun panik lalu mengangkat tubuh istrinya untuk menjauh dari sana.
Meisya membulatkan matanya saat tubuhnya terasa melayang. Ternyata sang suami yang mengangkatnya.
"Kenapa tidak mendengarkan ku. Duduklah di sini, aku akan ambilkan obat." Marsell pergi mencari kotak obat.
Sementara Meisya menangis dan menunduk karena telah melakukan kesalahan.
"Kemarikan tanganmu," perintah Marsell.
"Biar saya obati sendiri saja," tolak Meisya.
Marsell tidak mau mendengarkan dan dia menarik tangan Meisya yang terluka untuk dia obati.
"Tuan ..."
"Diamlah!"
Meisya pun diam dan membiarkan lelaki itu mengobati lukanya. Walaupun sebenarnya luka itu tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang ada di hatinya.
"Awww ..." Meisya meringis kesakitan saat jarinya dibersihkan.
"Apa sangat sakit sampai kau menangis seperti itu. Lain kali berhati-hatilah, jangan sampai kau terluka lagi."
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil. Aaww ..." Meisya mengaduh saat Lelaki itu menekan lukanya dengan sedikit keras.
"Luka kecil katamu, kau saja sampai kesakitan seperti ini. Bagaimana kalau pecahan kaca itu masuk ke dalam kulitmu dan tertinggal. Tanganmu bisa infeksi dan diamputasi," seru Marsell. Wajahnya tampak sangat khawatir melihat istrinya terluka. Padahal bagi Meisya itu tidak seberapa, dibandingkan saat dia berada di desa juga sering terluka saat membantu ibunya.
"Maafkan aku." Meisya menunduk. Ia sadar kalau ini adalah salahnya yang tidak berhati-hati. Ia juga tidak tau mengapa dia terkejut tadi dan menjatuhkan gelas yang ia bawa.
Marsell menyesal karena sudah berkata dengan nada tinggi dan membuat gadis itu ketakutan. "Lain kali kau harus berhati-hati, aku akan cari pelayan untuk membersihkan pecahan kaca itu. Kau duduk saja di sini."
Esok paginya. Seperti biasa Meisya akan bangun pagi untuk masak. Ini sudah jadi rutinitas nya selama tinggal di sini. Sampai saat ini dia masih tidur di sofa seperti saat pertama kali datang. Walaupun Marsell tidak ada di rumah sekalipun, Meisya tidak pernah tidur di atas ranjang. Dia mengerti jika dirinya tidak berhak dan tidak pantas, kelak akan ada orang yang lebih pantas untuk tidur di samping pria itu.
"Nona, tangan Anda sedang terluka. Lebih baik Anda tidak memasak."
"Tidak apa-apa, bibi Jeni. Ini hanya tergores, aku masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa." Gadis itu tersenyum saat melihat plester yang ada jari tengahnya. Entah sadar atau tidak, tadi malam adalah kali pertama laki-laki itu memegang tangannya sejak menikah.
Selesai memasak lagi-lagi Jeni melihat plester di tangan nonanya sudah basah dan dia berniat untuk menggantikannya tapi lagi-lagi sang nona menolak.
"Tidak apa-apa, bibi. Nanti akan aku ganti sendiri," ujar Meisya.
Melihat nonanya yang bertingkah aneh, Jeni pun menduga-duga kalau plester itu tuannya yang memasang. Jeni tersenyum melihat nonanya tampak bahagia.
Meisya masuk ke dalam kamar setelah memasak untuk menyiapkan keperluan suaminya. Namun, lagi-lagi dia harus menelan pil pahit saat mendengar pria itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Meisya mengurungkan niatnya untuk masuk. Menunggu di depan pintu, dia tidak ingin mendengar apapun lagi. Dan terserah apa yang mau laki-laki itu lakukan.
Meisya memeluk tangannya yang terpasang plester. Hampir saja ia mengira kalau sang suami perhatian padanya semalam tapi mungkin itu karena kasihan.
Di meja makan, semua orang makan dengan tenang. Semuanya telah terbiasa dengan makanan yang di masak oleh Meisya. Tidak ada yang protes karena memang masakan Meisya memang seenak itu.
Marsell memperhatikan jari istrinya yang ternyata sudah tidak di balut plester lagi. Dia tidak suka melihatnya.
Mengapa dia ceroboh sekali, seharusnya lukanya belum kering. Kenapa tidak memakai plester.
Meisya mengantarkan suaminya ke depan seperti biasa, tanpa saling bicara. Sampai di depan rumah, Marsell berbalik lalu merogoh sakunya.
"Kemarikan tanganmu," perintahnya.
"Ya ..."
"Kemarikan tanganmu, cepatlah." Marsell mengambil tangan Meisya lalu memasang plester di jarinya.
"Pakai ini sampai lukanya kering, ganti dengan yang baru kalau basah atau kotor." Marsell menyerahkan beberapa buah plester yang baru.
Meisya memandang penuh bimbang saat mobil yang suaminya kendarai telah menjauh. Dia menggenggam plester pemberian pria itu. Dia justru tidak berharap pria itu bersikap baik padanya. Meisya takut kalau nanti dia akan memiliki perasaan yang lain.