Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
22.


Kedatangan Meisya menyelamatkan Nico dari amukan papahnya. Meski begitu wajahnya sempat babak belur karena paman Sam benar-benar keras saat memukul sang putra.


"Biar aku obati," ujar Meisya. Dia sudah membawa kompres dan salep untuk mengobati luka lebab di wajah Nico.


"Kenapa kau bisa datang ke kamar ku?" tanya Nico. Dia memalingkan wajahnya, malu karena penampilannya kacau.


"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, dan tebakanku benar. Seharusnya aku datang lebih awal. Maaf apa ini karena aku?" tanya Meisya.


Nico tidak bisa menjawab karena memang papahnya marah karena kakak iparnya itu tapi bukan berarti itu menjadi salahnya istri dari sepupunya. Melainkan karena keserakahan papahnya. Tapi bagaimanapun itu adalah papahnya dan Nico tidak mungkin membuat dia terlihat jelek.


"Tidak, ini karena aku bandel."


Meisya tidak memaksa anak itu untuk bercerita karena dia juga belum terlalu mengenal semua orang di sini. Sebenarnya dia datang karena tak sengaja mendengar keributan di kamar Nico. Jika itu orang lain tidak ada yang berani datang. Tapi Meisya berani dan menyelamatkan lelaki itu dari amukan ayahnya.


"Sekarang biarkan aku mengobatinya, Kau tidak mau kan Oma melihat wajahmu babak belur seperti ini."


"Aku sendiri saja." Nico merebut kompres yang Meisya pegang dan menempelkan pada wajahnya. "Ssstt aaawww!!!" Dia meringis kesakitan saat menempelkannya karena dia tidak tau bagaian nama saja yang terluka.


"Sini berikan padaku!" titah Meisya.


Nico pun kau tidak mau menyerahkan lain itu dan membiarkan kakak iparnya mengobatinya. Rasanya hatinya menghangat saat ada yang peduli dengannya. Jika biasanya mamahnya akan menyuruh Nico mengobati lukanya sendiri, kini ada seseorang yang merawatnya. Dia senang sampai terharu tapi tidak ingin Meisya tau apa yang ia rasakan. Nico benci jika di pandang lemah.


"Nah sudah selesai, kau beristirahatlah dan pikirkan alasan apa yang mau kau katakan pada Oma saat Oma melihat wajahmu seperti ini," ujar Meisya. Tentu saja dia miris dan kasihan pada Nico tapi dia tidak ingin menunjukkan nya. Kenapa ada seorang ayah yang begitu tega seperti itu.


"Terimakasih," ucap Nico dengan wajah memerah malu.


"Hmmm sama-sama." Meisya mengusap kepala Nico.


"Heii aku bukan anak kecil, berhenti mengusap kepalaku!" protes Nico tidak suka tapi Meisya justru tertawa.


Sementara itu, terpaksa Marsell tidak bisa pergi dari sisi Laura sekarang. Dokter mengatakan kalau psikis Laura sedang tidak stabil. Jika dia mengalami kesedihan yang mendalam lagi maka dia bisa melakukan hal yang lebih nekat untuk melukai dirinya sendiri. Marsell tidak tega dan kasihan. Bagaimanapun mereka pernah saling mencinta, mungkin sampai sekarang.


"Tuan, terimakasih sudah menjaga Nona, saya akan menggantikan Anda. Jadi Anda bisa pergi sekarang," ujar sang Asisten.


"Aku akan menjaganya malam ini, kau pergilah." Marsell menyuruh asisten Laura pergi.


"Tapi Tuan—"


"Jangan khawatir, aku akan memastikan dia tidak melakukan hal yang membahayakan keselamatan nya lagi."


"Baiklah, kalau begitu saya akan kembali ke sini besok pagi."


Marsell menghubungi Gio dan memberitahu asistennya kalau dia tidak bisa pulang sekarang dan menyuruh Gio untuk mencarikan alasan apapun jika omanya bertanya.


"Hanya hari ini saja, aku akan menemanimu. Kau harus kembali seperti semula, Laura yang kuat dan penuh ambisi. Kejarlah mimpimu, jika kita memang ditakdirkan untuk bersama. Maka kita akan kembali, tapi untuk sekarang lebih baik kita sama-sama instrospeksi diri sendiri. Siapa yang sebenarnya egois dan tidak memikirkan keinginan orang lain."


...


Di rumah.


Meisya sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa. Seperti sebelumnya, dia juga enggan tidur di ranjang yang sama dengan suaminya. Malam itu laki-laki bermata tajam itu belum pulang. Entah memang biasanya seperti ini atau pria itu sedang menghindarinya.


Hah, untuk apa juga aku memikirkannya. Meisya mencoba memejamkan mata.


Namun, dia tidak bisa tidur. Entah kenapa matanya sama sekali tidak ingin tertutup. Apa karena dia khawatir tapi untuk apa juga mengkhawatirkan laki-laki yang bahkan tidak mengharapkan kehadirannya. Meisya tau ini hanya pernikahan yang tidak diharapkan tapi apa benar dia hanya menjadi istri sementara. Ya itu pasti, lelaki itu pasti masih sangat mencintai kekasihnya. Meisya pun tidak ingin berusaha merebut perasaan laki-laki itu. Biarkan saja, kalau memang harus berpisah. Agar tidak ada yang terluka nantinya.


...


Keesokan harinya. Marsell bisa pulang juga setelah membujuk Laura dengan berbagai cara. Dia pun terpaksa berjanji tidak akan mengabaikan Laura lagi dan akan sering berkunjung seperti biasanya. Marsell hanya khawatir akan keselamatan Laura.


"Aku pulang, ada banyak pekerjaan yang harus aku urus. Kau tau kan aku tidak bisa mengecewakan Oma, aku harus mengurus perusahaan dengan baik. Jaga dirimu, kembalilah jadi Laura yang bersinar," ujar Marsell sambil mengusap kepala Laura.


"Peluk aku," pinta Laura.


Sebenarnya entah kenapa Marsell begitu berat melakukan skinsip dengan Laura. padahal biasanya mereka juga mesra, apa mungkin karena rasa kecewanya yang membuat dia berubah.


"Kenapa, kau tidak mau memelukku?" Laura sedih karena merasakan banyak perubahan dari diri sang kekasih. Lelaki itu tak lagi sehangat dulu.


Marsell memeluk Laura sebentar lalu melepaskannya. "Aku akan pergi sekarang."


"Tunggu!" Laura mendekat dan mencium bibir pria itu tanpa permisi. Dulu sudah biasa ia lakukan dan pria itu akan senang dan berhenti marah saat Laura melakukan hal itu untuk membujuknya.


Marsell mematung, rasanya dia ingin mendorong tubuh Laura menjauh. "Kau— di sini ada orang lain, bagaimana kau melakukan itu." Marsell menggunakan sang asisten artis sebagai alasan.


"Tidak apa-apa, dia pasti mengerti. Aku ingin segera bisa berdekatan dengan mu, Sayang. Aku pasti akan segera menyelesaikan ini, setelah itu kita menikah kan?" tanya Laura.


Marsell terdiam, jika kemarin dia akan sangat senang mendengar kalimat harapan itu tapi sekarang dia sama sekali tidak merasakan apapun. Apa artinya dulu ia begitu bodoh karena terus-menerus menunggu tanpa kepastian.


"Kenapa kau diam saja, Marsell. Kita akan menikah kan setelah aku menyelesaikan ini dan mundur sebagai artis."


Marsell hanya tersenyum tipis. "Bersinarlah, gapai impianmu. Kau lebih bagus saat bersinar di atas panggung, aku selalu bangga padamu." Ya itu memang benar, dulu saat melihat Laura konser. Entah itu live ataupun dari layar televisi. Marsell selalu bangga dan membayangkan jika Laura bersinar setelah mereka menikah dan tidak perlu menyembunyikan hubungan mereka. Marsell akan datang ke atas panggung membawakan bunga untuk sang kekasih dan Marsell juga yang akan menemani Laura kemanapun. Sebesar itu rasa cinta Marsell, dan sesederhana itu keinginan Marsell.


Dia tidak suka saat lelaki lain memandangi Laura dengan wajah kagum. Rasanya saat itu Marsell ingin menunjukkan pada dunia kalau Laura adalah miliknya tapi hal itu tidak pernah akan bisa terwujud. Berbeda dengan hubungannya dengan sang istri saat ini. Marsell bisa dengan bebas menunjukkan pada dunia kalau dia adalah Istrinya. Apa mungkin itu yang Marsell harapkan selama ini.


"Terimakasih karena sudah mengerti aku selama ini. Aku janji akan melepaskan semua ini suatu saat nanti dan kita akan menikah. Kau juga berjanji kan akan menceraikan wanita itu, kau kan tidak mencintainya. Kau terpaksa menikah dengannya karena Oma kan?"


Memang benar, tapi mengapa saat Laura menyuruh dia bercerai rasanya Marsell tidak senang.


"Fokuslah pada kesehatan mu. Aku menunggu mu kembali bersinar."