Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
14.


.


Marsell tidak menyangka kalau Laura yang selama ini ia kenal. Laura yang tangguh dan kuat akan melakukan hal diluar nalar seperti itu. Mengirimkan foto yang bisa membuat orang langsung panik. Foto sebuah tangan yang tergores pada pergelangan tangannya dengan sebuah pisau. Sesuatu yang berwarna merah pun mengalir dari luka goresan itu.


Jika ditanya apa Marsell masih mencintai Laura. Tentu saja masih, rasanya sulit menghilangkan perasaan yang sudah bertahun-tahun bersemayam di dalam hatinya. Terlalu banyak kenangan yang mereka lewati, suka dan duka dulu mereka selalu bersama, bergandengan tangan dan menghadapi bersama.


Mungkin sejak Laura mulai mengepakkan sayapnya di luar negeri waktu mereka jadi lebih sedikit karena Marsell juga harus memimpin perusahaan dan tidak bisa pergi begitu saja. Hanya saat senggang atau kebetulan dalam perjalanan bisnis, Marsell akan menemui kekasihnya. Lelaki itu sangat setia dan penurut, bahkan saat Laura meminta untuk menyembunyikan hubungan mereka pun tidak masalah.


Tidak ada ada yang tau seberapa besar perasaan Marsell pada wanita itu. Namun, seharusnya wanita itu bisa merasakannya bukan. Mengapa dia selalu mengulur waktu hanya untuk karier yang sesaat itu. Bukankah Marsell juga tidak pernah melarangnya jika ingin mengejar impiannya.


"Hallo Tuan, Nona Laura barusan ditemukan pingsan di kamarnya. Sepertinya dia mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan melukai pergelangan tangannya."


Ucapan asisten Laura membuat Marsell tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Dia ingin tau bagaimana keadaan wanita itu. Kenapa saat dia sudah menikah dengan orang lain barulah dia menunjukkan sikap seperti itu. Padahal biasanya jika bukan Marsell yang lebih dulu menghubungi, maka Laura pun lupa pada kekasihnya. Jika bukan Marsell yang menyusulnya maka mereka tidak akan pernah bertemu.


"Shiiittt!! Apa yang harus aku lakukan. Jika aku pergi, apa Oma akan marah!" ujar Marsell frustasi. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Laura.


Gio. Sang asisten CEO itu ngedumel, pasalnya dia sedang sibuk tapi tuannya selalu menyuruhnya ini itu. Dan apa lagi sekarang, laki-laki itu tiba-tiba mau terbang ke Paris. Bukankah seharusnya dia tidak perlu berhubungan lagi dengan artis itu. Tuannya kan sudah menikah, meski tidak saling cinta tapi seharusnya tidak berselingkuh juga.


Sekarang dia juga yang repot, harus menyiapkan pesawat lalu menghandle pekerjaan tuannya dan menutui apa yang tuannya lakukan dari Presdir.


"Tuan, pesawatnya sudah siap," ujar Gio.


Marsell menyambar jasnya lalu bersiap-siap untuk pergi. "Ingatlah, jangan katakan apapun pada Oma. Aku akan menambah bonusmu bulan ini," pinta Marsell.


"Tapi Tuan, bagaimana kalau Presdir datang kemari tiba-tiba dan Anda tidak ada. Beliau pasti akan bertanya."


Gio hanya mengantarkan laki-laki itu sampai di depan pintu lift. Membiarkan tuannya pergi sendiri karena dia harus mengerjakan banyak pekerjaan.


Marsell mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tadi dia sudah menelepon asisten Laura dan katanya perempuan itu belum juga sadar. Masih berada di dalam ICU, setelah mendapatkan sedikit jahitan. Sebenarnya para dokter hanya mencari aman karena Laura adalah penyanyi yang sedang naik daun, pasti jika ada wartawan yang tau tentang kejadian itu. Citra baik yang selama ini dibangun akan akan begitu saja. Sang bintang yang selalu bersinar terang di atas panggung hiburan, sang bintang yang selalu dipuja dan dijadikan panutan tiba-tiba melukai dirinya sendiri. Pasti akan jadi berita yang menggemparkan jika ada wartawan yang mencium berita itu.


Di luar ruangan berdiri sang manager yang wajahnya pias. Tentu dialah yang paling panik saat asisten artisnya menghubungi dan berkata jika Laura mencoba melukai dirinya sendiri. Bukankah saat ia datang kemarin,. dia sudah berhasil menyadarkan Laura. Ya Melly sudah berusaha mati-matian menyadarkan perempuan itu agar bangkit dan ia kira sudah berhasil karena Laura sudah mau makan.


Dia pusing memikirkan para kliennya yang terus mengubunginya. Karena Laura sudah banyak menandatangani kontrak kerjasama dengan sejumlah produk untuk menjadi bintang iklannya. Tentu Laura menjadi incaran banyak produsen karena setiap produk yang ia iklankan hampir semua menjadi meledak dipasaran.


"Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa dia sampai melakukan hal ini? Apa yang sebenarnya dia pikirkan, apa dia benar-benar mau mat1. Kalau dia mau mat1, setidaknya tinggalkan banyak uang untukku. Untuk mengganti banyak kerugian dari kontrak yang sudah ia tandatangani!!" Melly tidak bisa tenang memikirkan semua itu. Dia tidak habis pikir dengan Laura. Padahal jika wanita itu mau, banyak pengusaha kaya yang mau dengannya. Kenapa hanya karena ditinggal nikah oleh seorang laki-laki saja sampai mau menghancurkan karier nya sendiri.


Dan karena apa yang dilakukan Laura, Melly lah yang dibuat pusing karena harus menekan banyak pihak agar tidak menyebarkan tentang keadaan Laura.


"Apa kau sudah menghubungi laki-laki itu? Bagaimana tanggapannya?" tanya Melly pada asisten Laura.


"Sudah, dia sepertinya sangat mengkhawatirkan nona Laura dan mengatakan akan datang."


"Kalau begitu kau tunggu di bawah, bawa dia langsung ke sini. Jangan sampai ada orang ataupun wartawan yang melihat. Bisa gawat kalau seorang pria yang sudah beristri mengunjungi Laura. Bisa tersebar banyak gosip miring nantinya yang akan mempengaruhi karir dia."


"Baik, aku mengerti."


Melly benar-benar gemas pada artisnya itu. padahal tinggal sedikit lagi mereka akan sampai di puncak.