
Hari kedatangan Laura pun tiba. Bertepatan dengan hari dibukanya toko kue milik Meisya. Hari itu seharusnya Marsell sang suami menemani sang istri dan Meisya pun sudah mengatakan pada suaminya Tempo hari jika ada waktu gadis itu berharap sang suami bisa datang. Tapi nyatanya laki-laki itu justru ada di sini sekarang, bersama Laura menikmati makan siang mereka di restoran favorit mereka dulu.
"Nak, sudah waktunya kita memotong pita. Ayo," ajak Oma Gina yang ada di sana. Nico dan bibi Sira serta Jeni juga ada di sana ikut menyaksikan dibukanya toko kue itu.
"Iya Oma." Meisya tersenyum, meski perasaannya saat ini bersedih karena sang suami tidak bisa datang. Salahnya yang terlalu berharap, seharusnya dia tidak mengharapkan apapun dari lelaki itu.
Acara berjalan dengan lancar, banyak sekali pelanggan berdatangan di hari pertama toko di buka karena sebelumnya Meisya telah membuat pengumuman di laman media sosialnya. Terang saja banyak orang yang ingin bertemu langsung dengan Meisya yang terkenal bukan hanya kerena kuenya yang enak tapi juga karena parasnya yang cantik. Banyak wanita mengagumi dirinya dan ingin sekali belajar membuat kue. Bahkan fansnya berharap Meisya membuka kelas membuat kue juga.
"Terimakasih silahkan mencicipi kuenya. Hari ini semuanya gratis, semua orang bebas memakan kue. Semua orang berhak bahagia dan tersenyum." Begitu seru pelayan toko pada para pelanggan. Hari pertama ini, memang Meisya menggratiskan semua kuenya.
"Ya ampun, apa tidak rugi kalau orangnya banyak begini yang hanya makan gratis. Sayang sekali buang-buang uang," cibir bibi Sira yang memang masih belum begitu menerima Meisya dengan baik. Tapi hal itu tak lantas membuat Meisya marah, dia lebih baik tersenyum untuk menghadapi bibinya.
Oma Gina senang melihat Meisya bahagia memiliki toko kuenya sendiri. Meski dia sungguh kecewa dengan sang cucu yang sama sekali tidak terlihat di hati penting istrinya saat ini. Tentu saja Oma Gina tau apa yang membuat cucunya tidak bisa datang karena Oma Gina selalu mengawasi cucunya diam-diam.
"Jen, kenapa cucuku begitu tega pada gadis sebaik Meisya." Oma Gina mendesah berat.
"Mungkin saat ini hati tuan Marsell belum terbuka Nyonya. Suatu saat pasti Tuan Marsell akan menyadari siapa yang benar-benar tulus padanya."
"Sampai kapan, Jen. Sampai kapan gadis sebaik Meisya harus tersakiti."
Di sebuah restoran.
Mungkin Marsell memang bersama dengan Laura saat ini tapi pikirannya ada di tempat lain. Jika bukan karena dipaksa dan diancam oleh wanita itu, pasti Marsell memilih untuk menemani istrinya.
"Apa kamu ingat Sayang, dulu kita sering sekali makan di sini. Aku tidak menyangka kalau restoran ini masih ada, sangat awet seperti hubungan kita."
Marsell tidak menyahut, dia memakan makanannya. Rasanya memang masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah meski sudah berbeda generasi yang membuatnya tapi yang berubah adalah perasaan laki-laki itu yang sudah berbeda.
"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Marsell.
"Sepertinya aku langsung ke hotel, soalnya nanti malam ada acara live di salah satu channel Yutub yang subscribers nya sudah jutaan."
"Oh ya, kalau begitu aku akan mengantarmu langsung ke hotel."
Setelah makan, mereka pun pergi dari restoran itu. Marsell mengendarai mobil sendiri, saat itu pikirannya benar-benar sedang berkecamuk. Sampai dia tidak konsentrasi menyetir dan sesuatu yang besar terjadi.
Berita tanah air heboh seketika saat ...