
Balapan itu dimenangkan oleh Nico. Para penonton yang mendukungnya pun bersorak gembira atas kemenangan lelaki itu.
Meisya bernafas lega saat adik iparnya menghentikan balapan mobil itu. Sebenarnya dia tidak peduli dia akan menang atau kalah, yang terpenting adalah keselamatannya.
"Bagaimana penampilanku Kakak ipar?" tanya Nico tanpa rasa bersalah telah membuat orang khawatir.
"Sama sekali tidak lucu. Apa kau tau betapa bahayanya balapan liar seperti tadi. Kau bahkan hampir menabrak beberapa kali. Apa kau memikirkan bagaimana kedua orangtuamu kalau kau sampai kenapa-napa," omel Meisya.
"Maaf kakak ipar, aku berjanji ini yang terakhir. Kau lihat anak-anak kampus lawanku tadi. Mereka suka sekali mengganggu gadis-gadis di kampusku dan lewat tantangan balapan ini, yang kalah harus menuruti kemauan si pemenang. Aku jadi bisa tenang sekarang." Nico hanya tidak suka saat anak-anak nakal itu mengganggu yang menjurus ke tindakan pel3c3h4n. Dari pada melakukan tawuran, dia lebih memilih menantang mereka dengan balapan.
"Baiklah, ayo pulang. Kau harus menjelaskan pada Oma nanti. Aku tidak mau berbohong."
"Tapi Kak, kau kan sudah berjanji tidak akan bilang pada Oma," ucap Nico kecewa.
"Hmmm, tapi setelah aku pikirkan itu tidak baik. Kau harus jujur," tegas Meisya menasehati adik iparnya.
Mereka pun pulang, disepanjang perjalanan. Nico terus memohon agar Meisya tidak memberi tau Oma. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Dia tidak ingin membuat omanya kecewa lagi. Akhirnya Meisya pun tak tega. Dia pun berkata tidak akan berbicara yang sebenarnya.
"Terimakasih Kakak ipar, aku akan selalu mengingat kebaikanmu."
"Berjanjilah kau akan berubah dan membuat Oma bangga padamu," ujar Meisya.
"Iya Kak, aku janji. Aku akan kuliah dengan benar lalu bekerja seperti kakak sepupu."
Malam harinya. Semua sudah berkumpul untuk makan malam kecuali Marsell. Dia masih belum pulang, Oma tau sang cucu di mana tapi dia tidak memberitahu pada yang lain termasuk Meisya.
"Mah, apa Marsell lembur lagi?" tanya Sira.
"Hmm sepertinya begitu."
Meisya hanya diam, meski dia penasaran tapi dia merasa tidak berhak mencampuri urusan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
"Ohh iya nak, bagaimana jalan-jalanmu hari ini. Nico mengajakmu kemana saja?" tanya Oma Gina.
Nico yang mendengarnya pun terbatuk-batuk karena Oma menanyakan hal itu di depan semua orang. Pasalnya, sang mamah dan papah ya tidak tau kalau dia tadi mengajak kakak iparnya pergi.
"Lohh nak Meisya pergi dengan Nico? Kalian dari mana?" Kini Sira juga penasaran.
Sam sang papah juga menatap Nico dengan tajam. Semua orang menunggu penjelasan darinya.
"Tadi kami hanya berjalan-jalan di kota lalu adik ipar juga mengajakku makan. Lalu ke kampusnya. Hanya itu Oma," terang Meisya.
"Apa kamu senang? Oma rasa kalau kau kuliah akan lebih senang karena mendapat teman di sini."
"Kalau kakak ipar mau kuliah, nanti di kampusku saja. Biar aku yang akan menjaga kakak ipar," ujar Nico mengalihkan pembicaraan.
"Terimakasih, tapi aku tidak akan kuliah."
Oma juga tidak bisa memaksa keputusan Meisya.
Setelah makan, Sira menarik putranya ke kamar untuk bertanya tentang apa yang tadi dia dengar.
"Mamah, kenapa sih?" protes Nico.
"Sekarang jelaskan pada Mamah, untuk apa kamu berbuat baik pada istri Marsell. Bukankah sudah Papahmu bilang kalau tidak perlu bersikap baik padanya. Ingatlah, karena dia Marsell jadi mendapatkan dukungan dari para pemegang saham dan Oma untuk terus memimpin perusahaan." Sira menjelaskan pada sang putra sebelum suaminya mengamuk.
"Itu urusan kalian, sudah aku bilang kalau aku sama sekali tidak tertarik pada perusahaan. Biarkan saja Kakak sepupu yang mengurus perusahaan. Aku akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan passionku." Nico menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Hussstt, jangan sampai kau mengatakan hal ini di depan Papahmu. Dia bisa marah besar kalau kau mengatakan hal itu. Kau tau kan bagaimana usaha Papahmu agar kau bisa masuk dan terlibat di perusahaan. Apa kau akan menyia-nyiakan usaha Papahmu?" bentak Sira.
"Mah, Papah itu terlalu berlebihan. Padahal Oma sudah memberinya usaha sendiri tapi dia malah mengorbankan usaha pemberian Oma dan maunya di perusahaan. Padahal kalau dia bisa berhasil, dia juga akan mendapatkan uang yang banyak karena Oma pasti akan membantu kemajuan usaha papah. Tapi dia terlalu serakah dan ingin menguasai perusahaan dengan dalih semuanya demi diriku. Padahal papah sendiri yang menginginkannya." Nico sangat muak dengan semua itu. Dimana sang papah terus menekannya hingga dia bersikap dan bertingkah seperti itu.
"Papah mu melakukan semua itu demi kamu nak. Demi masa depan kita kedepannya. Kau akan mengerti jika sudah dewasa nanti. Yang jelas, Mamah peringatkan! Kamu menjauhlah dari istri kakak sepupu mu."
"Hmmmm ...."
Brakk!! Baru juga dibicarakan, Sam datang dengan wajah penuh amarah ke kamar putranya. Apa lagi kalau bukan karena hal tadi.
"Pah ... tenanglah, aku sudah menasehatinya tadi," ujar Sira menenangkan suaminya.
Nico tidak peduli jika ada papahnya, dia memejamkan mata dan tetap berbaring.
"Bangun kau!! Sebelum aku menghajarmu!" ancam Paman Sam.
Nico membuka matanya lalu bangun. Melihat sang ayah yang merah padam membuat dia menelan ludah.
"I—iya Pah," ujar Nico.
Plak, plak. Dia tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Nico tidak melawan dan membiarkan papahnya melampiaskan amarahnya.
"Pah!! hentikan Pah. Kasihan putra kita." Sira memohon pada suaminya.
"Anak ini memang harus dikasari agar tersadar dari kesalahannya." Pria itu benar-benar keras dalam mendidik putranya agar berguna untuknya.
Tok tok tok.