
Marsell menatap lekat mata gadis itu. Jika ditanya apakah gadis itu sesuai dengan seleranya. Maka jawabannya tidak. Gadis itu bertubuh mungil, tidak seperti Laura yang tinggi dan bodynya seperti patung porselen. Mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh.
Namun, mata gadis itu seperti Marsell tidak asing dengan mata itu. Bola mata yang berwarna biru muda itu seperti pernah melihatnya tapi entah di mana. Seperti mereka begitu dekat.
"Mata itu, kenapa aku merasa tidak asing," gumam Marsell dalam hatinya.
Sementara Oma Gina juga tidak tega melihat cucunya memohon tapi dia ragu jika tetap melanjutkan pernikahan mereka. Apa akan baik untuk mereka kedepannya.
"Oma ... aku—"
"Jangan katakan apapun, Nak. Semua keputusan ada padamu. Oma tidak akan memaksamu untuk menikah dengan cucu Oma. Jangan pikirkan perasaan Oma, semua terserah padamu. Kamu yang akan menjalani rumah tangga dan Oma juga sudah menjelaskan tempo hari kalau semua keputusan ada di tanganmu."
Ya, Oma Gina sudah menjelaskan tentang perjanjiannya dengan sang cucu. Tidak ada yang ditutupi dari gadis itu. Oma Gina mengatakan juga kalau sang cucu masih mencintai kekasihnya. Rencana jika mereka bertemu sebelum pernikahan, beliau akan memperkenalkan mereka terlebih dahulu dan menyerahkan keputusan di tangan mereka tapi Marsell tidak juga pulang. Meisya yang tidak ingin mengecewakan orangtuanya pun menyetujui pernikahan itu meski tau konsekuensinya. Dimana mungkin setelah satu tahun mereka akan berpisah dan tentang perasaan sang suami yang masih menjadi milik wanita lain juga pasti akan menyedihkan.
Bagi Meisya tidak masalah, jika memang mereka berpisah dia bisa pulang ke kampung halamannya dan hidup bersama kedua orangtuanya. Dia juga tidak tega melihat oma Gina malu jika pernikahan itu gagal. Sedangkan tamu undangan dan para wartawan sudah hadir di sana. Untunglah pengawalan super ketat jadi saat wartawan belum diijinkan meliput maka mereka tidak akan mengambil gambar apapun.
"Meisya setuju Oma, Meisya akan menikah dengannya." Gadis itu akhirnya mengambil keputusannya.
"Kau yakin? Kamu jangan memikirkan Oma, sungguh Oma tidak apa-apa jika kamu menolaknya. Pikirkanlah lagi, Nak." Oma Gina yang tidak tenang.
"Aku yakin Oma, ini sudah keputusanku," ujar Meisya seraya tersenyum.
Oma langsung memeluk gadis itu, dia sangat terharu. Meski tadi dia sudah dibuat malu oleh cucunya tapi dia masih mau menikah dengan cucunya. Hatinya sungguh mulia. Gina berharap suatu saat nanti, cucunya bisa melihat ketulusan hati gadis itu.
Dalam sekejap, Marsell dan Meisya telah sah menyandang status suami-istri secara agama maupun negara. Mereka baru saja mengucapkan janji suci yang disaksikan oleh banyak pasang mata. Termasuk media berita yang disiarkan langsung di televisi dan para wartawan yang meliput untuk kepentingan bahan berita mereka.
Pernikahan mereka pun menjadi trending topik nomor satu di negara itu. Beritanya dengan cepat menyebar hingga ke luar negeri dan sampai ke telinga seseorang. Ya, Laura baru saja melihat berita tentang pernikahan mereka dari portal berita online di ponselnya. Handphonenya yang mahalpun melayang dan hancur seketika. Wanita itu menangis meratapi nasibnya yang ditinggal menikah begitu saja oleh sang kekasih. Padahal hubungan mereka sedang baik-baik saja menurutnya. Mereka juga belum berpisah, lalu bagaimana mungkin laki-laki itu tega menikah dengan wanita lain.
"Aaarrrggghhh!!! Kenapa!! Kenapa Marsell melakukan itu padaku. Kenapa kamu tega! Apa salahku, Marsell? Kenapa kamu menikah dengan wanita lain. Hiks hiks ... aku tidak rela!"
Laura membanting semua yang ada di ruangan makeup. Dia benar-benar hancur, pernikahan yang diimpikannya malahan menjadi milik orang lain. Dia yang seharusnya ada di samping Marsell di atas altar tapi malah wanita lain. Laura tidak percaya rasanya, dia tidak percaya sang kekasih yang begitu menciumnya tega melakukan hal itu. Ini pasti mimpi, pasti.
"Marsell pasti bercanda kan? Dia hanya ingin aku pulang sekarang kan!! Jawab aku!!" teriak Laura pada asistennya dan dua orang penata riasnya.
"Kenapa kalian diam saja, Hah!! Pakai mulut kalian untuk menjawab, jangan diam saja. Cepat katakan kalau Marsell hanya sedang bercanda."
Lagi, Laura melempar apa yang tersisa di atas meja rias. Dia bahkan sudah mengamuk dan mengacak-acak ruangan itu. Untunglah ruangan itu cukup tertutup dan kedap suara jadilah tidak ada yang mendengar seorang artis yang terkenal lemah lembut itu sedang mengamuk.
"Ada apa ini, Laura? Kau gil44! Kenapa kau melakukan ini. Bagaimana kalau ada yang melihat." Melly sang manager datang dan terkejut. Sebenarnya dia juga sudah melihat berita tentang kekasih artinya dan dia kesini untuk melihat keadaan Laura. Dia tidak menyangka kalau wanita itu akan sangat kacau seperti itu.
"Laura, heii. Sadarlah. Tenangkan dirimu." Melly berusaha menenangkan Laura. Wanita itu benar-benar kacau, matanya sudah sembab karena menangis sejak tadi. Sepertinya Melly terlambat datang seharusnya dia mencegah wanita itu untuk melihat berita itu sampai pemotretan selesai. Tapi sekarang sepertinya dia harus menunda pemotretan karena tidak mungkin dengan keadaan Laura yang seperti sekarang.
"Marsell menikah dengan wanita lain! Bagaimana aku bisa tenang! Seharusnya aku yang menikah dengannya, bukan wanita si4lan itu. Semuanya karena kamu kak. Kamu yang membuatku semakin jauh dari kekasihku, aku sudah menuruti semua perintahmu tapi sekarang apa. Aku malah ditinggalkan dengan cara seperti ini!" Laura menyalahkan Melly. Ya, itu karena ia merasa selama ini sang manager yang telah membuatnya sangat sibuk dan jadi jauh dari Marsell. Bahkan saat laki-laki itu melamarnya sang manager menelepon dan menyuruhnya kembali karena dia baru saja lolos seleksi untuk mendapatkan penghargaan penyanyi terpuji.
"Maaf, tapi aku melakukan semua ini demi dirimu Laura. Kamu sendiri yang mengatakan padaku ingin menjadi penyanyi terkenal dan diakui dunia agar bisa sejajar dengan kekasihmu yang hebat. Bukankah itu adalah ambisi mu sendiri? Kalau kau tidak mau, kau bisa menolaknya kemarin tapi kamu sendiri yang memilihnya dan menunda lamaran dari pria itu."