
Sudah seminggu lamanya Marsell di rawat di rumah sakit. Seminggu itu juga, Meisya yang dengan setia menemani dan merawat sang suami. Meski kadang laki-laki itu merasa canggung untuk menerima kebaikan dari sang istri. Tentunya dia malu dan merasa tidak pantas mendapatkan perhatian dari wanita itu.
Laura, wanita itu bahkan tidak terlihat lagi setelah hari itu. Setelah Oma Gina menyuruhnya untuk meninggalkan karir nya dan merawat sang cucu. Wanita itu memutuskan untuk memilih karirnya. Pikirnya saat ini dia akan menggapai impiannya lebih dulu, lalu kemudian kembali pada Marsell. Dia juga mengatakan hal seperti itu pada laki-laki yang katanya dia cinta. Tapi Marsell tidak menanggapinya, dia sedang sangat terpukul dengan kondisi tubuhnya yang lumpuh.
"Sudah saatnya terapi, mari saya bantu," ujar Meisya.
Marsell turun perlahan lalu dibantu Meisya duduk ke kursi roda. Sang istri juga yang mendorong kursi roda suaminya menuju ruang terapi. Di sana dengan setia Meisya menemani dan membantu laki-laki itu. Sampai dokter dan perawat pun kagum pada Meisya.
Dua Minggu berlalu. Marsell sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Meski kakinya masih belum ada perubahan karena memang perlu waktu lama jika mau sembuh itupun belum tentu akan bisa berfungsi seperti semula. Di rumah pun, Meisya selalu ada untuk suaminya. Bahkan harus rela mengabaikan toko roti yang baru saja buka. Hanya memantau dari ponsel, dari laporan para karyawan nya.
Meisya tidak tega pada sang suami yang masih belum menerima keadaan. Laki-laki itu juga belum bisa melakukan apapun sendiri. Bahkan beberapa kali terjatuh saat Meisya tidak bersamanya. Itu karena Marsell sering kali memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan padahal itu tidak boleh dan bisa memperburuk keadaan. Padahal dokter sudah bilang kalau prosesnya tidak boleh dilakukan sembarangan.
"Ya ampun, kenapa bisa terjatuh." Meisya yang baru saja masuk ke dalam kamar terkejut melihat suaminya berada di lantai dengan memukuli kakinya. "Kak ... berhenti kan, jangan memukuli kakimu seperti itu," pekik Meisya ikut menangis melihat keadaan sang suami.
"Jangan mendekat, biarkan aku memukul kaki tidak berguna ini." Marsel semakin membabi buta memukuli kakinya.
"Tidak, jangan melakukan itu. Berhenti kak." Meisya menghentikan suaminya, dia memberikan pelukan hangat untuk membuat pria itu berhenti menyakiti dirinya sendiri. "Tolong berhenti, aku mohon."
Marsell memaku dan menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang mengalir deras. Dia sepertinya sudah sangat putus asa dengan keadaan.
"Pergilah, Meisya. Kau tidak perlu bertahan dengan laki-laki tidak berguna seperti ku. Bukankah Oma pernah bilang kalau kita boleh berpisah. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat, kau bisa meraih kebahagiaan mu sendiri."
"Tidak, aku tidak mau. Aku mau di sini, menjadi istrimu. Apa kau dengar! Jadi tolong berhenti menyakiti dirimu sendiri. Aku yakin kakak akan sembuh. Dokter juga bilang masih ada harapan kalau kita mau berusaha."
"Itu hanya harapan kecil, kau tau itu kan. Mungkin juga mustahil."
"Tidak kak, sekecil apapun harapan itu. Kita akan sama-sama berusaha membuat harapan itu jadi besar. Jangan lupakan orang-orang yang sayang pada kakak, mereka tidak pernah berharap melihat kakak putus asa seperti ini."
Marsell seperti tertampar oleh ucapan sang istri. Dia pun mulai bangkit tak berusaha menerima kenyataan. Dia mulai mencoba melakukan apa yang bisa ia lakukan dan tidak membuat sang istri kerepotan lagi.
Sebulan kemudian.
Meisya sudah mulai pergi ke toko kue seminggu ini. Setelah melihat perubahan sang suami yang mulai bangkit. Marsell juga sudah sedikit-sedikit sambil bekerja dari rumah. Meski belum bisa ke perusahaan dan sementara itu posisi CEO memang dikosongkan. Padahal Oma sudah meminta Nico untuk sementara menggantikan kakaknya tapi Nico tidak mau dengan alasan belum bisa memegang wewenang sebesar itu.
"Aku berangkat kak, Aku akan pulang nanti saat kakak terapi," pamit Meisya. Hubungan mereka berdua sudah sedikit lebih baik sekarang.
"Aku pergi." Meisya menggunakan motor ke tokonya. Dia lebih nyaman saja sebenarnya karena menurut dia berlebihan kalau pulang pergi menggunakan mobil.
Marsell melihat istrinya yang semakin menjauh. Dia tersenyum karena akhir-akhir ini wanita sudah mendominasi hidupnya.
"Apa kau sudah sadar sekarang? Oma tidak salah kan memilih Meisya. Dia gadis yang baik, bahkan tidak pernah meninggalkanmu saat kamu seperti ini." Oma Gina juga melihat sendiri bagaimana perkembangan hubungan mereka.
"Iya Oma, dia memang unik."
Weekend pun tiba. Hari ini Meisya tidak pergi ke toko kuenya jadi seharian ini dia hanya menemani sang suami. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan kejutan. Kedua orangtuanya datang mengunjunginya.
"Ibu ... Bapak." Meisya sangat terkejut saat melihat kedua orangtuanya sudah duduk di ruang tamu rumah itu. Dia langsung berlari dan memeluk mereka. "Kenapa tidak bilang mau datang, Meisya bisa menjemput kalian."
"Tidak perlu nak, Nyonya Gina sudah menyuruh orang untuk menjemput kami." Ya karena Oma Gina yang mengundang mereka untuk berkunjung. Dia tau kalau cucu menantunya sangat merindukan kedua orangtuanya tapi tidak bisa pulang karena suaminya.
Sementara itu, Marsell mematung di tempatnya saat melihat kedua orang itu. Dia memang tidak pernah bertanya pada sang istri siapa ke dua orangtuanya. Bahkan tidak pernah membahas nya. Kini dia terperangah saat melihat mereka. Marsell seperti mengenal mereka.
"Marsell kemarilah nak, beri salam pada kedua mertuamu," ujar Oma Gina.
Di bantu Jeni, Marsell mendekat. Dan saat semakin dekat dia baru menyadari sesuatu kalau paman itu. Mertuanya adalah sosok yang dulu pernah menyelamatkannya.
"Paman ...." Marsell mencoba berdiri untuk memeluk laki-laki itu tapi kakinya tidak bisa. Dia pun terjatuh.
"Oh nak, kau tidak perlu berdiri. Mari aku bantu." Sang ayah mertua membantu Marsell meski dengan keterbatasannya.
"Paman. Kau kah itu." Marsell memeluk laki-laki yang sudah kehilangan penglihatannya demi menolong Marsell saat masih kecil.
"Iya nak, bagaimana kabarmu. Aku sudah mendengarnya dari Meisya, aku harap kamu tegar dan tetap berusaha ya."
"Paman ... hiks."
"Nak, kau seharusnya memanggil dia Bapak," ujar Oma Gina sambil tersenyum.