
Sementara itu di negara belahan dunia sana. Ada seseorang yang justru sekarang sedang merana karena baru saja dia harus mengubur impiannya dalam-dalam. Nyatanya perjuangannya selama ini yang telah banyak mengorbankan banyak hal tidak berbuah manis. Dia kehilangan banyak koneksinya tanpa sebab lalu usahanya yang terakhir, dia mencoba mendekati seseorang yang berkuasa tapi nyatanya dia hanya dianggap mainan dan orang itu sama sekali tidak membantunya.
Laura harus meratapi nasibnya, dia kalah dalam sebuah ajang penghargaan bergengsi tahun ini. Impiannya yang sudah didepan mata sirna sudah. Nyatanya selama ini dia bisa berada di posisi itu karena bantuan dari Marsell secara diam-diam. Lalu karena Marsell sudah tidak memperdulikannya jadilah orang-orang yang selama ini mendukung juga tiba-tiba berpaling.
"Bagaimana bisa seperti ini, seharusnya aku yang menang. Ini tidak adil! Hiks hiks hiks ...."
"Seharusnya aku yang menjadi ratu penyanyi terbaik. Bagaimana mungkin aku tidak terpilih."
Laura meraung-raung di bawah panggung.
"Sudah Laura, ayo pulang. Kau hanya mempermalukan diri mu sendiri. Kalau kau seperti itu terus, aku tidak mau mengurus mu lagi. Lebih baik aku cari penyanyi berbakat lain." Melly manager nya pun meninggalkannya.
"Nona ayo kita pulang." Hanya sang Asisten yang setia menemani nya.
...
Satu tahun berlalu, banyak cerita tersimpan.
Meisya dan suami memutuskan untuk melanjutkan pernikahan mereka setelah saling terbuka mengenai perasaan mereka masing masing. Hubungan mereka semakin dekat layaknya seorang suami istri pada umumnya. Mereka juga baru saja berbulan madu sebulan yang lalu di sebuah pulau pribadi milik sang suami tentunya.
Dan kaki Marsell juga sudah dinyatakan sembuh sebelumnya.
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Dan hari ini rencananya Meisya ingin memberikan kejutan untuk sang suami tercinta.
"Apa kakak bisa pulang cepat hari ini?" tanya Meisya sambil memasang dasi.
Marsell menarik pinggang sang istri menempelkan tubuh mereka. Wajah mereka bahkan sangat dekat. "Kenapa sayang, apa kau merindukanku. Apa kau ingin kita menghabiskan banyak waktu berdua." Mengerlingkan sebelah matanya.
"Iya, aku ingin kita makan malam di luar malam ini. Apa kakak ingat sekarang hari apa?"
"Tentu saja aku ingat, hari ini hari Rabu, hehehe."
"Ihh ... dasar. Sudahlah, aku marah." Melepaskan diri dan membelakangi suaminya.
Tiba-tiba Marsell memeluknya dari belakang. "Tentu saja aku ingat sayang, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita kan? Aku hanya menggodamu."
"Kakak kau benar-benar ya ..." Menggelitik perut suaminya.
"Ahahhaha ampun Sayang, aku tidak akan melakukan nya lagi... hahaha."
...
Malam pun datang. Meisya sudah siap dengan gaun yang sangat cantik dan pas di tubuhnya. Dia bercermin dan mengusap perutnya.
"Sayang, apa kira-kira reaksi ayahmu kalau tau kau sudah ada di perut ibu ya," ucap Meisya. Ya, kemarin dia baru saja mengetahui kalau dia sedang mengandung anak pertamanya. Tapi karena dia ingin memberikan kejutan pada suaminya jadi dia menyembunyikannya. Namun, semua orang di rumah itu sudah tau tentang kehamilan Meisya.
Klek. Sang suami sudah datang ternyata.
"Kak, kau sudah datang."
"Iya, ayo ...."
Semua orang ikut bahagia saat melihat mereka pergi berdua. Oma Gina, bibi Sira dan Nico serta Jeni. Mereka semua turut bahagia.
Di sebuah restoran yang sudah dipesan sebelumnya. sepasang suami istri itu makan malam romantis berdua. Ditambah dengan dekorasi yang sangat indah.
"Terimakasih sayang, aku tidak menyangka kamu akan menyiapkan ini semua. Sepertinya aku harus memberimu hadiah karena sudah bekerja keras. Bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini," ujar Marsell.
"Sayangnya tidak bisa kak, kau harus puasa sampai tiga bulan ke depan."
Marsell menyerngitkan keningnya. "Apa! Kenapa aku harus puasa? Apa kau sakit?"
Meisya tersenyum melihat reaksi suaminya. Lalu menggeleng. "Tunggu sebentar." Meisya menyerahkan sebuah kotak pada Marsell.
"Buka dulu kak, nanti kau akan tau."
Namun, tiba-tiba seseorang memanggil nama Marsell. Seseorang yang sudah lama tidak diketahui kabarnya.
"Marsell!"
Mereka menoleh dan terkejut melihat Laura berdiri di sana. Lalu berdiri.
"Marsell." Laura berlari lalu menghambur ke pelukan Marsell.
Pria itu memaku tapi kemudian tersadar saat melihat wajah sang istri yang bersedih.
"Laura! Lepas! Kau tidak boleh seperti ini, aku lelaki yang sudah bersuami!" menjauhkan tubuh Laura.
"Marsell, ini aku. Laura, wanita yang kamu cintai. aku sudah kembali Marsell. Sekarang aku akan bersamamu, kita mulai dari awal ya. Jadi sekarang kau bisa menceraikan dia."
"Cukup Laura!! Kita sudah tidak punya hubungan apapun. Dan sekarang aku sudah memiliki istri yang aku cintai. Dia adalah wanita yang selalu ada untukku. Saat aku lumpuh kau dimana? Apa kau pernah menemui ku." "Jangan bermimpi soal masa depan bersamaku karena itu tidak mungkin."
Marsell menarik tangan sang istri dan pergi dari sana.
"Marsell tunggu! Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu Marsell. Kau berjanji akan menikahi ku. Hiks hiks hiks."
Di mobil.
Tidak ada yang berbicara, semuanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Marsell bukan sedang menyesali keputusannya tadi tapi dia justru takut kalau kedatangan Laura akan merusak hubungan nya dengan sang istri.
"Maaf ... aku tidak tau dia ada di sana. Tapi sungguh aku sudah tidak pernah berhubungan dengan nya, aku juga tidak tau mengapa dia tiba-tiba berkata seperti itu. Apa kau percaya padaku?"
Meisya mengangguk percaya, dia sudah melihat sendiri kalau sang suami sudah berubah. Lelaki itu juga sudah menunjukkan cintanya selama ini. Meisya tidak pernah meragukan sang suami lagi.
"Aku percaya pada kakak."
"Benarkah? Terimakasih sayang." Marsell memeluk sang istri dengan lega. Dia sangat takut kalau Meisya akan meninggalkan nya.
"Oh iya bagaimana dengan kadonya, astaga. Gara-gara dia aku jadi melupakan kadonya, aku akan mengambilnya."
"Tunggu kak. Tidak perlu mengambilnya." Walaupun percaya tapi kalau memberikan kesempatan mereka sering bertemu itu juga tidak baik kan.
"Kenapa sayang, apa kau takut aku akan menemui Laura? Itu tidak akan terjadi, aku hanya mau mengambil kadonya lalu pergi. Kau tunggu di sini ya."
"Eemm tidak perlu kak, aku masih menyimpannya satu di sini. Sebentar." Meisya merogoh tasnya. Lalu mengambil sebuah potret kecil hasil USG. "Ini lihatlah."
Marsell menerimanya. Awalnya dia tidak mengerti tapi setelah di ingat dia seperti tau kalau apa yang ada ditangannya adalah foto USG.
"Sayang, apa ini? Hasil USG siapa ini?"
Meisya menarik tangan suaminya lalu diletakkan di atas perutnya. "Apa kakak merasakannya? Ada kehidupan di dalam sini. Dan itu adalah hasil USG anak kita."
Tanpa sadar Marsell menangis mendengar penuturan istrinya. Dia tidak percaya kalau dia akan menjadi seorang ayah. Marsell langsung menghujani perut sang istri dengan ciuman sambil berderai air mata.
"Sayang, terimakasih. Terimakasih kau berkali-kali membawa kebahagiaan dalam hidupku dan terimakasih nak, karena kau sudah hadir di perut ibumu."
Meisya mencium kepala sang suami yang sedang memeluk perutnya. Dia bersyukur sekali telah mempunyai suami suami seperti Marsell terlepas dari masa lalu awal pernikahan mereka dan sekarang calon anaknya menambah kebahagiaan mereka.
Terimakasih Tuhan, terimakasih atas kebahagiaan yang kau berikan pada kami.
...TAMAT...
...****************...
Terimakasih semua, sampai jumpa di cerita othor selanjutnya. Lope lope 💓💓💓💓💓