Gavin- Survive On The Terrible Island

Gavin- Survive On The Terrible Island
Chapter 54


" ah.. segarnya... " nico yang mencelupkan wajahnya kedalam kubangan air yang jernih itu mulai mengangkat kepalanya keatas lalu duduk dan minum lagi


" bro. tempat ini lebih tenang.. dan sejuk. kurasa beberapa hari tinggal disini tidak buruk juga "


entah aku harus berkata apa lagi menanggapi manusia genius satu ini.


" kau terlalu santai. ini belum waktunya untuk lega.. pikirkanlah bagaimana cara kita untuk mendapatkan makanan.. " ucapku berdiri tanpa menoleh ke arah nico sambil mulai menurunkan clara dari bahuku


" oh ! " nico yang tersentak ditempat duduknya menjadi gelisah kembali setelah mendengarkan hal itu " benar. saat kau mengatakannya.., rasa lapar mulai menggerogoti perutku "


jika orang ini ikut pelatihan ayahku. kupikir dia akan mati hanya dalam satu sesi latihan bertahan hidup..


dan apa katanya tadi ?? dia mengatakan tempat ini tenang ? kurasa dia akan menjadi histeris ketika mengetahui ada tengkorak manusia yang tiba-tiba muncul didepannya lalu lenyap menjadi tumpukan abu.


" hahh " terdengar suara nafas yang terdengar lega dari marissa dan rara setelah meminum air di kubangan itu. itu pasti benar-benar sangat melegakan untuk mereka berdua


aku meletakan clara ke lantai gua. mendudukannya lalu memercikan beberapa air ke wajahnya untuk menyadarkannya..


setelah beberapa saat clara yang pingsan mulai mengerjapkan matanya.


" umm.. kepalaku pusing sekali.. "


sambil memegangi kepalanya di hadapan kami. clara membuka matanya secara perlahan


" clara ... ! " teriak kecil marissa melihat clara dan memeluknya dengan erat " huhu.. syukurlah.."


" uh. ya marissa.. tapi nafasku sesak.. "


" oh. maaf.. "


" hihihi "


melihat para gadis tersenyum seperti itu. bagus juga..


" clara... kamu baik-baik saja ? " tanya nico memasang wajah khawatir dihadapan clara.


" bukalah mulutmu. dan minumlah beberapa air ini " ucap marissa mengambil beberapa air di kedua tangannya yang dirapatkan. dan menggeser nico tepat dihadapan clara..


" cih. bisakah kau jangan menggangguku dulu marissa !?? "


" hah ?? apa yang barusan kau bilang ??! " jawab marissa dengan tatapan dingin pada nico.


" tid..tidak. aku hanya sedikit bergerak.. "


saat itu clara hanya diam dengan lemah dan membuka mulutnya, kemudian meminum air dari tangan marissa


tapi ada perasaan aneh ketika aku melihat air yang tertuang ke mulut clara itu. rasanya mirip dengan...


rasa maluku semakin membengkak ketika marissa mulai melirik ke arahku dengan wajah memerah..


sial.. kejadian itu terbayang lagi. ini memalukan.. tapi entah kenapa aku juga merasa senang ?


" eherm. minumlah sedikit lebih banyak clara.. " ucapku kepada clara dengan mengepalkan satu tangan yang kudekatkan ke mulutku. aku mulai bergaya layaknya orang yang sedang batuk


" kau mau kemana bro ?? hehe.... " ucap nico memasang wajah cengengesan melihatku berdiri untuk menjauh dari mereka


cih.. aku yakin nico sialan ini sedang mengejekku.


" aku ingin menelusuri gua ini untuk mencari apakah ada yang bisa di makan.. "


" oh.. oke bro. " jawab nico mengalihkan pandangan secepatnya ke arah clara.


kuyakin orang ini pasti takut untuk mengikutiku menyusuri gua ini.


yah tidak apa juga dia tidak ikut. lebih baik berjalan sendirian.. akan membuatku lebih tenang.


" vinn kamu sudah kembali ?? " tanya rara padaku " apa itu yang ada di tanganmu ?? "


" ini kelelawar. " jawabku duduk di dekat tanah padat yang ada di dalam gua dan mulai memotong-motong kelelawar yang ada ditanganku


aku menemukan sejumlah kelelawar bergantung terjungkir pada langit-langit gua saat menelusuri gua ini, dan menangkap salah satu dari mereka saat sedang tertidur.


" ken..apa kamu memotongi itu vinn ? " tanya marissa ragu-ragu sambil menatap ke arah kelelawar yang ada ditanganku


" ini..


omonganku terhenti ketika melihat eskpresi mereka yang mulai terlihat cemas..


mereka pasti sudah mengiranya juga. tidak ada apapun yang bisa dimakan didalam tempat ini. dalam artian mereka harus memakan apapun yang bisa dimakan


" dengan sangat menyesal aku katakan pada kalian. tidak ada makanan apapun yang bisa kutemukan di tempat ini " ucapku sambil terus membersihkan dan menguliti kelelawar yang ada ditanganku.


saat ini sudah lebih dari dua puluh empat jam kami terjebak ditempat ini. tidak memakan apapun akan membuat tubuh tidak mempunyai energi.


meskipun pikiranku menolak memakan sesuatu yang aneh seperti ini. tubuhku harus diisi dengan energi


bau amis mulai menyelimuti hidungku saat aku mendekatkan potongan daging kelelawar mentah itu ke mulutku.


aku menahan nafasku sesaat agar aku tidak mencium aromanya.. akan tetapi rasa asin yang aneh mulai terasa dilidahku.


aku mual..


pikiranku benar-benar mempengaruhi tubuhku untuk menolak memakan daging mentah ini. tapi aku tidak boleh kelihatan seperti ini dihadapan yang lain


mataku mulai berair..


menahan rasa mual ini. dengan mata terpejam tanpa rasa ragu aku mengunyahnya dan menelan rasa aneh itu kedalam tenggorokanku.


" b.. bro kau benar-benar menelan daging mentah itu ke dalam perutmu ?? " ucap nico memandangku dengan tatapan khawatir


aku tau apa yang mereka pikirkan saat ini.


kebiasaan hidup dengan makanan yang mewah pasti membuat mereka melihat sesuatu seperti ini sangat mengerihkan.


itu normal. bahkan orang dalam gangguan jiwa pun tidak akan memakan daging mentah seperti ini.. tapi kau harus tau.


aku melakukan hal ini demi menjaga kewarasanku juga. manusia tidak akan mungkin bisa bertahan hidup tanpa makanan. bukan hanya tidak ada kekuatan bahkan untuk berpikir pun pasti akan terasa sulit..


" apa kalian takut ? melihat seseorang memakan daging mentah seperti ini didepan kalian ?? " tanyaku dihadapan nico dan yang lainnya


mereka hanya diam dan tertunduk setelah mendengar pertanyaanku. wajah mereka menunjukan kekhawatirannya padaku.. tapi tanpa mereka tau. saat ini merekalah yang perlu di khawatirkan..


kalian akan tau apa arti makanan yang sesungguhnya dalam beberapa hari lagi..


sembari aku menelusuri ruang dan lain dan mencari jalan keluar. tanpa terasa waktu telah berlalu..


ini sudah hari yang ke selanjutnya aku memakan potongan daging mentah dihadapan mereka lagi.


jika aku tidak memakan ini. aku tidak akan bisa berjalan dan menemukan jalan keluar..


" bro setidaknya kau memasak daging itu dulu sebelum memakannya.. " ucap nico duduk dihadapanku dengan ekspresi yang masih cemas


" memasaknya ?? "


" ya. agar perutmu tidak terasa sakit... ?? "


" kau sudah mulai kehilangan cara untuk berpikir nico. "


" uh ? ma.maksdunya ? " tanya nico lagi padaku dengan gemetar di tangan dan bibirnya. dia juga terlihat menekan bagian perutnya


" memasak dengan cara apa ? menaruhnya diatas api obor yang mulai terlihat meredup itu ? lalu bagaimana jika aku malah merusaknya dan kita kehilangan satu-satunya penerangan jalan kita ? "


" i.itu "


" kau mengatakan perutku sakit ? bagaimana rasanya dengan perutmu yang hanya diisi dengan air saja ? "


hah.. aku tidak ingin melanjutkan perdebatan ini. mereka akan merasakan rasa kelaparan yang luar biasa setelah lewat dari tiga hari.


dan aku tidak tau apa yang akan terjadi jika mereka mempertahankan rasa lapar itu dalam waktu lebih lama lagi..


tidak.. jika dalam tiga hari mereka tidak memakannya.. aku yang akan memaksa mereka menelan itu kedalam mulut mereka.