
" argrhh ! " sebilah pisau menancap di dahi seorang perampok. bersamaan dengan itu pria itu tergeletak di tanah mengalirkan darah dari dahinya..
sesaat semua menjadi hening..,
rintik hujan selesai seakan enggan untuk meneruskan memandikan mayat-mayat yang bergelimpangan di depan pandanganku..
aku merasa sangat mual sekarang.., perasaan tidak nyaman memenuhi tenggorokanku selepas membunuh orang-orang keji itu..
inikah perasaan setelah membunuh manusia??
aku merasa sangat bersalah..
kepalaku tertunduk berlutut di atas tanah yang berceceran merah darah. tubuhku terasa lemas dan pikiranku terasa kosong.
apa aku masih manusia??
apa aku di benarkan membunuh orang-orang ini..
adakah ??
adakah seseorang yang memihak kepadaku sekarang ??
sekilas aku memandang raut wajah nico tapi tampaknya dia ketakutan melihatku sehingga menoleh ke arah lain setelah melihatku
clara juga tertunduk memandang ke arah bawah. mungkin dia sangat takut sekarang setelah melihat pembantaian manusia didepan matanya.
marissa..
aku tidak ingin melihatnya sekarang. mungkin dia juga kesal karena aku bilang aku tidak perduli dengan hidupnya sewaktu diancam oleh perompak tadi..
lalu siapa ??
tiba-tiba kedua tangan yang hangat merangkulku dari belakang saat aku tertunduk melihat tanganku yang berlumuran darah..
" vinn.. kamu baik-baik saja ? " terdengar suara yang meneduhkan dengan lembut masuk melalui telingaku..
ini adalah suara dari rara..
" aku.., apa kamu tidak apa menyentuh tanganku yang berlumuran darah ini ra ?? " ucapku sambil memegang kedua tangan yang mengalungi leherku itu " apa kamu tidak takut ?? "
" humm.. mm" jawabnya sambil menggelengkan kepala. " kenapa aku harus takut kepada orang yang selalu melindungiku ?? "
aku tertegun saat dia mengatakan itu. suasana hatiku perlahan mulai membaik. dan pikiranku perlahan juga mulai jernih..
hebat.., kamu seperti malaikat..
kamu sungguh wanita yang berarti untukku sekarang..
aku tau kamu takut ra.., mustahil gadis selembut dirimu tidak ketakutan melihat mayat yang berserakan yang bersimbahkan darah..
tapi kamu selalu berjuang untuk terlihat kuat di depanku..
aku bahkan merasakan tanganmu yang sedikit gemetaran ini..
" ra.. "
" ya vinn ? "
" sekarang, bisakah kamu lepaskan ikatan marissa dan yang lainnya. ambil saja sembarang pisau atau pedang diantara mayat itu untuk memotong ikatan mereka.. "
sekarang, aku masih tidak ingin memperlihatkan wajahku yang mungkin menyeramkan ini pada mereka.
maka dari itu. sekalipun aku berbicara dengan rara, aku hanya menatap ke bawah tanpa menoleh sedikitpun
" baik vinn, aku akan melepas ikatan mereka sekarang "
" ya, terimakasih.. "
tak beberapa lama setelah rara melepas ikatan marissa, nico dan clara. mereka berdiri tepat di belakangku yang masih terduduk memikirkan banyak hal dengan wajah yang mungkin terlihat menyedihkan
" lalu.., apa yang akan kalian lakukan sekarang ?? " tanyaku pada mereka tanpa menoleh ke arah belakang " kalian bisa pergi jika tidak ingin ikut bersamaku "
" kak.., apa yang kamu katakan?? kami akan tetap ikut bersamamu.. kemana lagi kami akan pergi ?? "
ucapan clara itu membuatku bertanya dalam hati. kenapa dia mengatakan seperti itu setelah melihat aku membunuh begitu banyak manusia dihadapannya
" humm ?? apa kamu tidak takut ?? kamu lihat sendiri bagaimana aku membantai para perompak itu dengan pedangku.. aku mungkin
" bro.., aku memang sedikit ngerih ketika melihatmu menyeringai menikmati para penjahat itu. tapi.. disisi lain aku juga mendukungmu untuk melakukannya. karena, jika bukan karenamu kami pasti tidak akan selamat.. " ucap nico sambil berjalan mendekat menepuk bahuku " kau melakukannya dengan benar bro.. mereka pantas mendapatkan itu "
" ya kak.., terimakasih telah menyelamatkan kami.. "
aku tertegun mendengar perkataan mereka padaku
aku mulai berdiri menggunakan pedang yang menancap di depanku sebagai penopang. dengan berat aku mulai melihat ke arah mereka.
disana..,
aku melihat marissa berdiri dengan kepala tertunduk ke bawah. tangan kanannya memegang lengan kirinya, dia terlihat menggigit bibirnya seperti menahan tangis
itu karena aku..
aku tidak akan menanyakan apapun untuk sekarang kepadanya
15.10pm
kami melanjutkan perjalanan kami,
tapi saat ini aku sedang beristirahat di bawah pohon. aku menyandarkan kepalaku ke batang pohon itu dan mulai memejamkan mata..
aku merasa sangat lelah..,
sangat sedikit waktuku untuk tidur beberapa hari ini. bahkan satu sampai dua hari aku tidak ada tidur
bayangan kematian yang selalu datang menghantui. bagaimana bisa aku tidur di tempat mengerihkan ini..
"haa.. "
harus tetap optimis..
perlahan.. aku mulai terhanyut kehilangan kesadaranku di bawah pohon yang menyejukan itu..
" humm apa ini ?? "
aku bertanya-tanya dalam hati.., buah apa yang begitu kenyal yang ada ditanganku ini.., sambil *******-***** buah itu aku terbangun membuka perlahan satu mataku untuk mengintip..
" hee ? " aku sontak terkejut ketika sadar aku sudah ada di pangkuan rara dengan tangan kananku yang meremas bagian senstif itu.. " ma.. maaf ra.., aku sungguh tidak sengaja.. aku tidak tau ! sungguh percaya padaku.. "
rara tersenyum dingin padaku.., wajahnya tampak memerah.. pasti dia sangat marah sekaligus malu akan hal ini..
sial.., betapa memalukannya aku ini..
" ra.., kamu..
" gavin bodo..., " bersamaan dengan nada tinggi itu dengan cepat rara mencubit perutku melampiaskan kekesalannya..
" aduh.., ! "
aku menggeliat kesakitan dengan cubitan yang seperti mempunyai bisa kelabang itu..
kenapa cubitan wanita begitu menyakitkan..
" raa.., kenapa kamu bisa ada disini.. bukankah yang lainnya sedang beristirahat disana " tunjukku ke arah timur dari tempatku berada
huh.. jantungku hampir saja lepas dan terjatuh ketika aku sadar telah menyentuh bagian itu.
" kamu harus tanggung jawab ..! " ucap rara duduk tegak melihatku dengan sebelah matanya.. dia mengerutkan wajah dan menciutkan bibirnya
" tangg..ung jawab ?? "
" benar.., kamu sudah melakukan hal itu padaku.., jika kamu tidak bertanggung jawab pantaskah kamu disebut laki-laki vinn ?? " ucapnya lagi mendekatkan wajahnya sambil menatap ke arahku yang sedang gugup di hadapannya
" iya, tapi tanggung jawab seperti apa ra ?? "
" hehem "
entah kenapa dia terlihat akan menikmati moment ini.. apakah dia akan mengerjaiku??
tidak..tidak.., bagaimanapun aku sudah menempatkan tanganku di tempat yang krusial itu..
" mulai sekarang dan seterusnya.. kamu akan tetap selalu ada disampingku, jangan meninggalkanku.. melindungiku .. menjagaku
aku mulai berpikir dalam.., bukankah semua yang dikatakannya itu sama ??
" dan.. yang terakhir.., kamu harus mengenalkanku pada ayahmu..
" humm ya.. tentu sa..
hah ?? "
" hehem.., kamu sudah mengiyakan ya.., jangan lupakan.. itu janji kita "
dia berjalan pergi dengan wajah yang senang dan penuh percaya diri meninggalkanku yang masih duduk tercengang membisu dan mati kata..
aku mulai terduduk sembari merenungkan ucapanku tadi..
bukan berarti aku tidak mau mempertemukannya dengan ayahku..,
tapi kau tau.., ayahku itu sangat disiplin.
membayangkannya berkata seperti ini..
" apaaaah! kau mau mengenalkanku dengan seorang gadis ?? apa kau tak tahu malu.. bahkan dirimu itu belum bisa menyiapkan rumah untukmu sendiri.. uang saku juga masih disiapkan.. push up seribu kali sekarang dan renungkan ucapanmu tadi dengan makan daging mentah dua kg "
hiihh ! tamatlah riwayatku..