
di ruang yang hening dengan cahaya api obor yang menyala tenang. kegelisahan semakin merambat ke seluruh tubuh...
di hadapan pandanganku saat ini. nico yang duduk mulai memasang wajah frustasi sambil menahan rambutnya diatas kepala dengan satu tangannya. dia tampak merenung dan sesekali menundukan kepalanya ke bawah..
" uhuk uhuk ! " tak jauh dariku. terdengar suara marissa yang mengeluarkan suara batuk kering sembari menjaga clara yang pingsan di dekatnya..
itu adalah tanda-tanda dia sedang dalam keadaan dehidrasi.
tidak bisa terus seperti ini. jika kami tidak menemukan air secepatnya. ku yakin satu persatu dari mereka akan jatuh.
termasuk diriku..
" kamu mau kemana vinn ?? " tanya rara kepadaku yang berdiri bangkit dari tempat dudukku..
" aku akan pergi " jawabku sambil menatap mata yang terlihat letih itu
" uhuk.. huk " marrisa yang mendengar suara rara memandang ke arahku seakan ingin mengatakan sesuatu. tapi sepertinya dia sudah di ujung batasnya. batuknya semakin terdengar kering dan tidak mau berhenti.. " vi.. uhuk..huk "
saat seperti ini mereka tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi. bahkan untuk menegakkan kepala saja mereka sudah tidak akan mampu..
jika aku tidak berani untuk mengambil resiko. semua akan berakhir..
" ohh. akhirnya sampai juga dalam situasi yang seperti ini " ucap nico dengan raut wajah sedih dan pasrah menundukkan pandangan kembali setelah melihatku berdiri
" jangan berpikiran aneh. aku tidak bermaksud membiarkan kalian mati disini.. aku akan kembali. tetaplah disini dan jaga yang lainnya.. " ucapku berjalan sambil memberikan pedang beserta sarungnya ke hadapan nico
" i. ini ?? "
" tidak perlu bicara lagi. aku akan pergi untuk menemukan air atau jalan keluar dari sini. sementara itu jagalah mereka "
monster disekitar ruangan ini sudah aku bersihkan. kalaupun ada, kemungkinan itu hanya satu atau dua.. aku yakin nico pasti masih bisa menghadapinya dengan pedang yang ku berikan.
" kalau kau ingin pergi untuk menemukan hal itu.. kenapa tidak tetap membawa pedang bersamamu bro ?? " tanya nico yang menolak mengambil pedang itu dari tanganku
" tidak ada waktu untuk berdebat... pegang ini.. atau aku akan menghajarmu ! " ucapku menunjukan tatapan dingin pada nico
" o.. oke bro "
" v..vinn ?? "
" ssttt.. tenanglah ra. "
" ta..tapi.. "
" aku pasti kembali " ucapku mengelus kepala rara dengan senyuman yang mulai terasa berat dikarenakan bibirku yang sudah mengering
" janji ?? " dengan raut wajah yang sedih rara mengulurkan jari kelingkingnya di hadapanku
ini adalah janji kelingking yang sering dibuat dalam drama sedih. yang aku tau kebanyakan dari mereka yang membuat janji ini akan berakhir dengan perpisahan atau kematian..
" umm. janji.. " jawabku mengulurkan jari kelingkingku..
" umm ?? kenapa kamu menambahkan jari manismu diatasnya ?? " tanya rara padaku yang mengulurkan jari kelingking bersamaan dengan jari manisku
" ini untuk memastikan. "
" memastikan ?? "
" ya.. memastikan bahwa aku akan tetap hidup.. " ucapku dengan memaksakan bibir yang kering untuk tersenyum
" ummm.. " jawab rara menunjukan senyuman sedih di hadapanku " pastikan dirimu baik-baik saja oke "
meski aku senang dia menunjukan wajah cerianya. tapi ada perasaan berat disini... dia tersenyum dalam kesedihan..
" umm. tentu.. "
akan tetap hidup ya ? padahal aku sendiri tidak begitu yakin..
" bro apa kau yakin meninggalkan pedang ini bersamaku ?? " tanya nico sekali lagi meyakinkanku " lalu bagaimana kau akan menghadapi bahaya nantinya ?? "
" tenang saja, aku masih punya belati yang tajam untuk menghadapi monster - monster itu.. "
" tapi. "
" berhentilah memasang ekspresi seperti itu. apa kau pikir aku akan mati dengan mudah ?? "
" ya.. "
" oke bro.. "
" vinn.. ingat kamu sudah berjanji.. "
" tentu "
" uhuk... ! vinn.. jangan mati... " ucap marissa dengan suara berat menahan batuknya
" kamu sudah tau aku marissa. aku tidak akan mati.. "
" aku pergi "
dengan memandangi wajah mereka satu persatu.. aku pun mulai melangkahkan kakiku untuk menemukan sumber kehidupan itu.. maksudku air.
cahaya api obor itu perlahan menghilang dari pandanganku. berganti menjadi kegelapan tanpa akhir..
bersama perasaan aneh yang bersarang di dalam dadaku setelah meninggalkan mereka.. aku berjalan seorang diri dalam keheningan.
aku mulai menggerakan tangan kananku untuk menekan tombol penerang yang ada di arloji ditangan kiriku untuk menerangi lorong yang akan aku lewati..
tombol di arloji ini harus tetap di tekan untuk memancarkan cahaya penerangnya, itupun dengan jangkauan penerangan yang minim.. hanya mampu menerangi sekitar tiga puluh centimeter di depanku.
aku akan bertarung dalam kegelapan kalau ada monster yang mendekat.
jika aku tau kejadian akan seperti ini, tentu aku akan membawa dua obor untuk menerangi kami.
itu telah terjadi, dan tidak mungkin aku membawa obor satu-satunya milik kami. itu akan berbahaya untuk mereka.
kurasa mereka akan telat menyadari akan hal itu, dan mulai menghawatirkanku yang berjalan di tengah kegelapan tanpa penerang. diantara mereka cuma clara yang tetap tenang dalam kondisi sulit dan mampu mengamati sekitarnya dengan baik.
" haahh .. " tahan nafasmu. ini akan sangat melelahkan..
ini memang aksi yang nekat. dalam keadaan seperti ini, seseorang harus benar-benar nekat untuk tetap hidup..
menunggu dan mengharapkan sebuah keajaiban datang ? percayalah sebelum keajaiban itu datang.. kematian akan menjemput terlebih dahulu.
" disini terlalu hening.. dan aku belum menemukan lorong yang lainnya. apakah aku sudah dipenghujung ?? "
" uuh ?? " ditengah kegelapan itu. tiba - tiba kalung batu giok yang ku kenakan mulai menyala dan membuka matanya..
dilihat berapa kalipun mata di kalung ini sungguh mengerihkan.
" huh ?? "
kalung merah darah ini bereaksi lagi. melayang seperti diterpa angin dan menarikku ke arah lebih dalam lagi
perasaan aneh mulai menghinggapiku dari belakang. tidak ada angin yang berhembus, tapi aku merasa ada sesuatu yang mengusap leherku dari belakang
aku merasa saat ini aku sedang merinding..
seperti ada sesuatu yang sedang mengawasiku. aku bisa merasakan getarannya dari lantai yang sedang ku injak..
ini seperti sesuatu yang besar.. ??
situasi mengerihkan apalagi ini. aku tidak bisa memeriksanya dengan jangkauan penerangan yang minim ini..
naluriku mulai berontak. rasanya aku ingin mengangkat kedua kakiku dan kabur secepat yang ku bisa..
kuatkan mental ! anggap itu cuma perasaanmu saja..
" haahh.. " ya. seperti ini jadi lebih baik..
" huh apa itu.. ?? "
sepertinya aku mendengar suara tetesan air disekitar sini..
ditempat yang gelap itu aku menekan rasa gugup dalam diriku, dan mulai melangkahkan kaki sambil tetap fokus mendengarkan dimana arah suara tetesan air tersebut.
aku tidak tau. entah ini suatu kebetulan atau memang kalung giok ini sedang menunjukan arah suara tetesan air itu berada..
lantai yang kuinjakan kini terasa semakin kasar. seperti aku sedang menginjakan kakiku didalam gua..
" air ?? "