
" Tes..tes "
Rintik hujan mulai menetes dari balik dedaunan pohon yang rimbun di atas tempat aku berdiri..
dingin dan sepi..,
hanya terdengar suara rintik hujan yang semakin deras mulai membasahi tubuhku.
disampingku aku melihat tubuh rara yang mulai menggigil karena kedinginan..
sebenarnya aku juga tidak tau pasti dia menggigil kedinginan karena hujan atau karena ketakutan saat kami berjalan mendekati bahaya.
" ra apa kamu takut ?? " tanyaku pada rara yang terlihat berjalan sambil menatap kosong ke arah depan
" hmm ya vinn ? " sahut rara sambil mendekatkan dirinya untuk meminta perulangan
sepertinya benar.. dia sedang memikirkan banyak hal... tentu saja jika di ulik lagi kisah pahitnya dengan ramon..
tsk..
menyebutkan nama itu di dalam pikiranku membuat pikiranku semakin tidak tenang saja..
" ra.. aku tanya apa kamu takut ?? " seruku sekali lagi menanyakan kepada rara yang terlihat gemetaran..
" humm..., aku tidak tau vinn.., tapi seperti apapun bahaya yang datang kita harus menghadapinya bukan ?? "
aku tertegun mendengar perkataan dari gadis yang lembut dan cantik ini..
rentetan peristiwa bahaya mungkin sudah memupuk mentalnya menjadi sekeras baja.
aku tau mungkin tubuhnya gemetar bukan karena merasakan kedinginan saja... tapi lebih mengarah kepada ketakutan yang ia terima dan coba dia hadapi..
tanpa sadar aku sudah berjanji untuk melindunginya.. mungkin hati kecilku yang mengatakan itu..
saat ini.. aku ingin sekali merangkul dirinya dan mengatakan " tenang saja aku pasti akan melindungimu " sambil tersenyum.
tapi aku sendiri sebenarnya ragu bahkan untuk melindungi diriku sendiri
" ahhh! tolong jangan ! "
dari kejauhan aku mendengar suara teriakan dari seorang wanita..
tidak salah lagi.. ini suara teriakan cindy ??
aku harus cepat dan tetap tenang dalam melakukan tindakan
" ra.. kamu tunggu di balik pohon itu dan bersembunyi di balik semak-semak jangan sampai ketahuan.. " seruku menunjuk sebuah pohon berukuran besar di kelilingi oleh tumbuhan merambat yang lebat
wajah rara tampak cemas, dia perlahan mendekatkan dirinya padaku..
dengan berat dia berkata..
" kamu hati-hati.. " sambil mencium pipiku dengan tersenyum tipis dia menjauh dariku
" umm.., ya "
ditengah hujan yang membasahi tubuhku aku mulai bergegas cepat menuju gua. aku berharap mereka belum bersiap untuk pergi
dari atas pohon aku memantau para perompak itu dengan seksama..
satu.. dua..
setelah beberapa lama aku menghitung jumlah musuh. aku menyimpulkan mereka ada sekitar sebelas.
tetapi itu yang aku lihat diluar gua saja, mungkin ada beberapa orang lagi di dalam gua
di arah barat aku melihat marissa, nico dan clara sedang duduk terikat di bawah pohon dijaga oleh dua perompak yang memakai golok.
dari yang aku lihat tidak ada dari para perompak itu yang terlihat membawa senjata api atau sejenisnya.
"tsk.., "
mataku terbuka lebar sambil menelan air liurku melihat Allan yang tergeletak bersimbah darah di depan mulut gua.
sepertinya dia benar-benar sudah mati.. sungguh para perompak yang keji..
tak beberapa lama seorang laki-laki keluar dari mulut gua dengan mengancingkan reseleting celananya yang terbuka dan dia berjalan mendekati clara..
aku mempunyai firasat yang benar-benar buruk tentang ini. gelagatnya seperti habis melakukan sesuatu yang mencurigakan..
" hehe manis.., kau sungguh menggoda.. " ucap seorang perompak bertubuh besar sambil memegang dan menciumi rambut clara..
wajah perompak itu tidak terlalu jelas dilihat dari atas pohon ini..
" kamu meludahiku ??"
aku merapatkan gigiku menahan amarah melihat perompak itu mulai menjambak rambut clara dengan kasar..
" wajahmu boleh juga..," ucap orang itu menyeringai dengan penuh ***** memandangi tubuh clara.. " kau membuat nafsuku bangkit lagi.. padahal sebelumnya aku sudah cukup puas bermain dengan temanmu hehe "
perompak itu terlihat mulai mengangkat tubuh clara untuk berdiri dan menggiringnya menuju ke dalam gua
" ayo sayang ikut abang.. sekarang giliranmu... kahahaha.. "
" tidak.. lepaskan.. aku ! "
aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku takut clara akan di lecehkan oleh orang-orang bejat ini..
" hey.. ! " tanpa strategi aku melompat dengan ceroboh di hadapan para perompak itu." bajingan... lepaskan wanita itu! "
" kak gavinn..??! " ucap clara menatapku dengan wajah menangis " kak.., tolong aku hiks.. "
sambil meronta-ronta clara berusaha melepaskan diri dari pegangan perompak itu dengan tangan yang terikat..
" aku pasti akan menolongmu.. "
" broo ?? "
" vinn.."
tak jauh ditempatku berdiri, Nico dan marissa memanggil namaku dari tempatnya terikat..
berbeda dengan nico yang memanggilku dengan percaya diri marissa tampak ragu setelah memanggilku. sepertinya dia masih merasa bersalah atas kejadian sebelumnya..
ya.. aku juga masih merasa kecewa padanya sih..
" kehehe lihat siapa ini yang datang.. " seorang pria besar berjalan mendekat ke arahku dengan membawa golok yang tebal dan panjang di tangannya disusul dengan beberapa orang lainnya di belakangnya
" hey joglo.., " sebut seorang pria besar itu seperti sedang memanggil nama rekannya
" siap bang.. "
" apa laki-laki yang datang ini merupakan orang yang kita cari juga ? "
pria bernama joglo itu mulai merogo sesuatu dari saku celananya. dia terlihat mengambil sebuah handphone lalu membukanya.
sepertinya ia terlihat sedang mencocokan wajahku dengan foto yang ada di dalam handphone itu..
tunggu.. itu handphone.. ??
aku mulai berpikir tentang alat komunikasi yang ada di genggaman salah satu perompak itu.
dari aku mulai terdampar di pulau ini, aku tidak mempunyai handphone lagi ditanganku. kemungkinan itu terjatuh di dalam laut saat aku terhempas oleh ombak besar.
orang-orang yang ada di kelompokku juga tidak ada yang memegang alat komunikasi itu..
pikiranku mulai mengandai-andai..
jika saja handphone itu bisa kudapatkan.. apakah aku bisa menghubungi ayahku nantinya ??
jantungku mulai berdebar sambil membayangkan kesempatan yang ada didepan mataku ini..
" dia bukan orang yang kita cari bang.., ada dua orang lagi dalam daftar tapi dia tidak termasuk.. "
" hoo.., baiklah berarti kita tidak masalah jika membunuhnya disini?? " sambil memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan pria besar itu mulai melakukan gerakan peregangan pada jari-jari tangannya seperti bersiap untuk memukulku " kalian bunuh dia ! "
" ahhh !"
sebuah pedang mengayun bersamaan dengan teriakan menyeramkan itu dari seorang perompak yang ada di depanku..
disusul dengan gerakan selanjutnya dari bajak laut yang ada di belakangnya..
saat ini adrenalinku sedang terpicu untuk menghindari serangan demi serangan dari lima musuh sekaligus..
dengan cepat aku mulai menarik pedang putih yang ada di pinggangku..
ada apa ini..??
aku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. berbeda dengan saat aku bertarung dengan bajak laut waktu itu??
tidak.., bukan tenang.. melainkan aku yang sekarang tidak memiliki emosi ?? apa aku berubah menjadi dingin..
berbeda dengan situasi sebelumnya dimana saat aku menghadapi tiga bajak laut satu demi satu, kali ini aku harus benar-benar serius bertarung dengan niat membunuh.