
disebuah bukit aku berdiri menatap ke arah depan. pemandangan yang sebelumnya di penuhi dengan pepohonan yang lebat kini berganti menjadi sebuah halaman yang luas.
dua patung macan bertaring panjang yang terlihat di kiri dan kanan jalan tempatku berdiri menandakan kami telah sampai ke reruntuhan kerajaan sebelumnya.
melihat dari halaman yang begitu luas ini. aku bisa pastikan bahwa ini adalah kerajaan yang dulunya sudah pasti megah, itu bisa terlihat dari puing-puing bangunan yang berserakan dimana-mana.
diantara begitu banyaknya reruntuhan itu. hanya menyisakan satu bangunan yang masih tampak berdiri kokoh.
di hadapan bangunan kuno kami berdiri
menginjakan kaki kami di depan pintu masuk. terdapat dua ukiran ular yang memanjang dari atas hingga kebawah pintu itu..
" bro apa kau yakin kita akan masuk ke dalam ? " sebuah pertanyaan diajukan sekali lagi oleh nico dengan raut wajah yang mengerut ketakutan
Sebelumnya aku sangat penasaran ingin masuk ke dalam bangunan ini. tapi entah kenapa sekarang tidak lagi. apalagi ukiran di pintu ini mirip sekali dengan ular yang aku temui sebelumnya.
namun, meskipun tidak ingin. kami harus tetap masuk jika tidak ingin terkena hujan. jika luka-luka kami basah, itu akan semakin lama untuk pulih.
kami akan masuk lalu keluar setelah hujan reda.
" duar ! "
di kegelapan itu, cahaya dari petir yang menggelegar tampak terlihat jelas sebelum menghilang dan berganti menjadi pemandangan yang di penuhi oleh kabut kembali..
" hiihh ! kau lihat itu bro. petir itu terlihat seperti memberi tanda..
" diamlah nico. ucapanmu yang seperti itu hanya akan menambah perasaan takut untuk yang lain " ucapku memotong perkataan nico yang berdiri tepat di samping kananku
" oh.. umm benar. "
" kita harus tetap masuk. luka luar seperti yang kita berdua alami akan semakin sulit untuk sembuh jika basah " imbuhku sekali lagi untuk meyakinkan yang lain. tidak, lebih tepatnya untuk meyakinkan diriku sendiri.
karena saat ini kami tidak punya pilihan lain..
" urmm baiklah "
" srrrr " terdengar suara hujan yang datang begitu derasnya mengguyur wilayah sekitar tempat kami berada
" ayo kita cepat masuk ! hujan deras akan segera datang "
bersamaan dengan suaraku, kami mencoba mendorong pintu yang terlihat besar itu.
akan tetapi..
" sial. pintunya tidak bisa terbuka ? "
" gimana kak ? hujan itu sudah terlihat semakin dekat.. kita akan basah kuyup jika tetap disini. kita juga tidak membawa daun talas untuk berteduh " ucap clara bertanya padaku
" tidak ada tempat untuk berteduh juga di sekitar sini " tambah rara
" lihat ! coba lihat di sekitaran luar halaman itu. " teriak nico menunjuk ke arah bawah bukit tempat yang kami lewati sebelumnya
ditengah - tengah hujan yang turun begitu derasnya itu kami melihat beberapa buaya putih yang sebelumnya menyerang di dekat sungai
" hiihh ! apa yang para buaya itu sedang lakukan ?? " ucap nico memasang wajah panik sembari memperhatikan pergerakan buaya itu.
" itu memang terlihat aneh. biasanya buaya akan naik ke daratan untuk berjemur bukannya saat hujan sedang turun deras seperti ini " jawab clara terlihat sambil berpikir keras
" kalian lupa ?? hutan ini memang semakin dipikirkan semakin tidak masuk akal. lagipula lihat bentuk ukuran dan warna mereka. yang seperti itu apakah sama dengan buaya yang sering kalian lihat "
" benar vinn. kaki mereka terlihat lebih panjang dan pergerakan mereka lebih cepat dari buaya biasanya " jawab marissa memperhatikan buaya putih itu sambil memegang dagunya
di situasi yang sulit dan membingungkan itu. aku melihat ada sedikit cahaya terpancar dari dalam saku celana nico
" nico. apa yang bersinar dari dalam saku celanamu itu !? "
" heh ?? " nico yang terkejut mendengar perkataanku sontak melihat dengan cepat ke arah sakunya. " i..ini ? "
nico mulai merogo dalam saku celananya dan memperlihatkan sesuatu yang membuatku takjub.
dia mengeluarkan sebuah kalung batu giok berwarna merah darah berbentuk bundar ditangan kirinya.
semua orang mulai terlihat serius ikut memperhatikan apa yang ada di tangan nico..
" ma..mata ! " teriak nico memecahkan ketenangan setiap orang yang berada di sekitarnya. dengan tampak sangat terkejut dia melemparkan batu giok yang bersinar itu ke arahku.
batu giok berwarna merah darah itu terlihat seakan membuka matanya. mata satu dengan bentuk menyerupai mata ular..
mata batu giok ini bergerak ke kiri dan kanan. setelahnya batu giok tersebut mulai bergerak memaksaku untuk menempelkan dirinya ke pintu besar yang ada di hadapanku.
" greaak ! " tak lama kemudian. pintu besar yang awalnya tertutup begitu rapat. kini mulai terlihat terbuka perlahan-lahan
" pi.. pintunya terbuka ! " ucap marissa memasang raut wajah terkejut melihat pintu besar itu perlahan terbuka dengan sendirinya
sesaat semua menjadi hening.
semua orang tampak diam tidak menunjukan reaksi sedikitpun..
saat ini aku bisa merasakan lenganku yang ada di atas bahu rara...
tubuhnya sedang gemetaran..
matanya terbuka lebar menyaksikan kejadian yang ada di hadapannya. dia tampak diam menggigit bibir atasnya sebelum menelan paksa air liur ke tenggorokan.
tapi.., kami tidak punya cara untuk kembali
" ayo masuk " ucapku tanpa pikir panjang membawa rara yang menuntunku ikut masuk
" eh ?? bro.. tunggu dulu " sambil melangkah masuk nico mencoba untuk menahanku
semua orang tampak terlihat begitu gugup setelah masuk kedalam bangunan kuno yang gelap.
" jangan bergerak sembarangan di tempat ini. kita hanya membutuhkan tempat ini untuk istirahat
hening. hanya terdengar suara hujan yang turun begitu derasnya. tidak ada dari mereka yang merespon perkataanku.
sepertinya mereka ketakutan.. mereka pasti masih tak percaya atas apa yang telah terjadi.
aku sendiri juga begitu. tidak pernah terbayangkan hal ini bisa terjadi.., bagaimana mungkin sebuah batu giok menunjukan mata yang begitu menyeramkan seperti itu lalu membuka pintu dengan sendirinya.
dengan terduduk dan bersandar di dinding bangunan tua itu. sekali lagi aku mengamati batu giok merah darah yang ada ditanganku.
humm ??
matanya mulai tertutup?
" pi.. pintunya tertutup ! pintunya tertutup !!! " seru marissa berdiri dan berlari mencoba menahan pintu besar itu..
ti.. tidak akan sempat.. aku tidak akan sempat untuk bisa keluar dari pintu itu..!
" kalian keluarlah ! segera !! " teriakku menyuruh marissa dan lainnya untuk secepatnya berlari keluar
namun, mereka terlihat enggan untuk keluar. dan mencoba menahan pintu itu dengan tubuh mereka sekuat tenaga..
" hey !!! apa kalian tidak mendengarku.. tinggalkan aku disini dan keluarlah !! keluar sekarang juga !!! "
" tidak..! kami tidak akan meninggalkanmu sendirian disini " ucap marissa menahan pintu yang sedikit lagi akan tertutup
" kami akan ikut bersamamu meski harus ke kematian bro.. " tambah nico dengan senyuman tipis di wajahnya
" keluar tanpamu. sama saja aku hidup untuk mati vinn "
" tidak akan ada yang mau melakukan itu kak. lebih baik kita bersama "
ah.. tamatlah sudah.. kalian bodoh sekali.
terlalu bodoh hingga mau bertahan dengan orang bodoh sepertiku..
" uh ? "
aku mulai tertunduk mengusap air mata yang merembes jatuh mengalir di pipiku.
ah sial.aku tidak bisa menahan air mata ini..
kalian sungguh bodoh..
begitu juga denganku...