DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 65 (KESETANAN)


Dentuman musik memenuhi sebuah tempat dengan penerangan yang kurang, semua orang yang ada di dalamnya sedang menari menikmati lagu yang di nyalakan.


Begitu juga dengan Karren yang saat ini sedang meliuk-liuk mengikuti alunan musik sambil menatap wajah tampan yang ada di hadapannya, senyum manisnya mengembang membuat Karren terlihat sangat cantik di bawah lampu yang reman-remang itu.


Kevin pun menatap ke arah Karren dengan tatapan yang dalam, tangannya sudah melingkar dengan mesra di pinggang ramping Karren, bahkan Kevin sesekali mendekap tubuh Karren dan membuat semua kaum adam yang ada di sana iri.


Tangan Karren pun saat ini sudah melingkar di leher Kevin, mereka menari bersama di lantai dansa di bawah lampu disko.


Karren yang biasanya ke bar hanya untuk mengobrol dan minum sedikit bersama teman-temannya, saat ini memilih untuk turun ke lantai dansa dan menikmati musik yang di nyalakan karena teman-temannya juga sedang menari dengan kenalan mereka masing-masing, tidak mungkin Karren hanya akan diam dan melihat saja.


“Lo cantik banget malem ini beb.” Puji Kevin.


“Thank you.” Balas Karren sambil tersenyum manis.


Dia sudah seringkali mendapatkan pujian dari Kevin, dan seringkali juga Karren mengucapkan terimakasih kepada Kevin atas pujiannya.


Karren tidak pernah merasa tersipu atau deg-degan saat Kevin memujinya entah karena terlalu sering mendapat pujian atau karena Karren sudah tidak memiliki perasaan kepada Kevin, Karren pun tidak mengerti.


“You are mine!” bisik Kevin saat dia memeluk tubuh Karren.


Karren mendorong Kevin dengan lembut lalu dia tersenyum saat melihat wajah Kevin yang memang sangat tampan malam itu.


Namun tiba-tiba saja wajah Kevin semakin mendekat ke arah wajah Karren hingga Karren bisa merasakan hembusan nafas Kevin yang mengenai wajahnya.


Sedangkan Karren yang ikut terbawa suasanya hanya bisa memejamkan kedua matanya, dia tau Kevin bukanlah siapa-siapanya saat ini, tapi mungkin pada akhirnya Kevin lah rumahnya yang sebenarnya dan saat ini Karren harus kembali pulang ke rumah yaitu Kevin.


Namun saat Kevin sudah berjarak beberapa centi saja, tiba-tiba tubuh Kevin tertarik ke belakang, belum sempat dia melihat orang yang berani menariknya, Kevin sudah jatuh tersungkur karena wajahnya di pukul oleh seseorang.


Kevin berusaha untuk bangun, tapi sebelum itu orang yang tadi memukulnya yang tidak lain adalah Gibran kembali memberi pukulan di wajah Kevin hingga Kevin merasa pusing.


Karren yang awalnya memejamkan matanya segera merasa aneh saat merasakan Kevin yang sudah tidak memeluknya lagi, Karren segera membuka kedua matanya dan terkejut saat melihat kegaduhan yang ada di hadapannya.


Karren melotot saat melihat Kevin yang sudah terkapar dilantai dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya, namun Gibran masih saja memukuli Kevin terus menerus.


“Oh my god Kevin!” teriak Karren histeris.


Teman-teman Gibran juga berusaha untuk menarik Gibran yang sudah membabi buta seperti orang kesetanan.


“Gibran stop! Lo inget ini bar gue, bisa-bisa lo buat pelanggan gue ga nyaman.” Ucap Arga mengingatkan  sahabatnya yang lagi kalap itu.


Anto dan Alif mencoba memisahkan Gibran dan Kevin dengan was-was karena mereka takut kalau Gibran akan memukul mereka juga, karena selama berteman dengan Gibran bertahun-tahun, baru kali inilah mereka melihat Gibran kehilangan kendali seperti kesetanan.


Karren yang melihat kalau Gibran sama sekali tidak ingin melepaskan Kevin segera berteriak.


“Pak Gibran berhenti!” teriak Karren.


Namun teriakan Karren sama sekali tidak membuat Gibran berhenti, akhirnya dengan segera Karren masuk ke tengah-tengah menghalangi Gibran untuk memukul lagi.


“Berhenti! Kenapa bapak memukuli teman saya?” tanya Karren dengan wajah kesal.


“Heh, teman? Mana ada teman yang yang berciuman hah?!” ketus Gibran sambil tersenyum sinis.


Gibran sudah menghentikan pukulannya, dia berjalan menghampiri Karren, napasnya masih memburu, tatapannya sangat tajam membuat Karren ketakutan melihatnya, karena untuk pertama kalinya dia melihat tatapan seperti itu dari Gibran.


Karren tidak lagi memikirkan Kevin, dia lebih memikirkan dirinya sendiri, Karren mundur selangkah demi selangkah menjauhi Gibran, namun langkahnya berhenti saat Gibran berhasil menggenggam tangannya.


“Mau kemana? Ga mau!” ucap Karren sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Gibran.


“Keluar dari tempat jahanam ini!” ketus Gibran.


“Sialan lo! Tempat jahanam yang lo sebut ini punya gue!” sahut Agra tidak terima.


“Cegah Gibran, jangan sampe dia bawa mobil dalam keadaan seperti itu.” Ucap Anto.


Agra dan Alif mengangguk, lalu dia segera menyusul Gibran untuk menghentikannya, sedangkan Karren sejak tadi masih berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Gibran namun percuma saja.


“Woi Gibran!” teriak Agra.


Gibran berhenti, dia menoleh ke arah Agra yang memanggilnya.


“Apa?!” tanya Gibran dengan ketus.


“Bahaya kalo lo bawa mobil dalam keadaan emosi gini, kalian ngobrol di ruangan gue aja.” Ucap Agra.


Gibran mengangguk menuruti ucapan sahabatnya, dia segera menarik Karren menaiki tangga, dia membawa Karren ke ruangan Agra agar mereka bisa mengobrol dengan tenang di sana.


Gibran langsung mengunci pintu ruangan itu setelah mereka sudah berada di dalam ruangan agar Karren tidak bisa kabur sebelum masalah mereka selesai.


Setelah memastikan pintu benar-benar terkunci, barulah Gibran melepaskan tangan Karren.


Karren menatap pergelangan tangannya yang membekas berwarna merah, lalu matanya beralih menatap Gibran dengan tatapan tajam.


“Bapak kenapa bawa saya ke sini? Bapak sebenernya kenapa sih?” ketus Karren.


“Saya tidak tahan.”


Ucapan Gibran membuat Karren melotot, Karren refleks melangkah mundur karena mulai ketakutan saat ini.


Apa maksud dari tidak tahan? Apa yang akan Gibran lakukan? Karren terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Karren memang suka menggoda Gibran, tapi dia tidak punya niatan sama sekali untuk melakukan hal di luar batas dengan Gibran.


“Bapak jangan macam-macam ya! Aku ini mahasiswi bapak!” seru Karren mengingatkan agar Gibran sadar.


Gibran tidak memperdulikan ucapan Karren, dia tetap berjalan mendekat dengan tatapan yang sangat tajam.


“Saya sudah tidak tahan lagi, Karren! Kamu membuat saya kehilangan akal!” ucap Gibran sekali lagi membuat Karren semakin ketakutan.


“Stop! Jangan mendekat lagi! Kalau kamu mendekat aku akan teriak.” Ucap Karren.


Namun Gibran tidak menggubris ucapan Karren, dia tetap melangkah mendekati Karren yang terus mundur sampai tubuhnya sudah menempel di dinding.


“Gibran! Papi aku suka sama kamu karena kamu baik dan rajin sholat, jangan sampai kamu merusak image kamu hanya karena emosi!” ucap Karren mengingatkan.


Jantung Karren rasanya ingin lepas saat dirinya sudah tidak bisa berkutik lagi, Gibran masih terus melangkah mendekati Karren, wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Karren.


Karren saat ini sudah terkurung, kedua tangan Gibran sudah berada di sisi-sisi tubuh Karren membuat Karren tidak bisa berlari lagi.


Sepertinya saat ini Karren sedang mendapatkan Karma, karena biasanya dialah yang menggoda Gibran sampai Gibran tidak bisa berkutik, dan sekarang dialah yang tidak bisa berkutik lagi.