DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 111 (BALAS DENDAM)


“Sayang, kamu ngapain di sini?” tanya Karren dengan bingung.


Mendengar seseorang bertanya padanya di saat dia sedang fokus memasak membuat Gibran terkejut.


“Astaghfirullah! Kamu bikin kaget aja, untung tangan saya tidak mengenai wajan.” Ucap Gibran.


Karren terkekeh mendengar Gibran mengomel seperti maminya, wanita itu sekarang sudah mendudukkan dirinya di kursi makan sambil memperhatikan Gibran yang sedang memasak.


“Kamu ngapain di sini? Bukannya yang memasak biasanya ART?” tanya Karren.


“Saya menyuruh ART cuti.” Jawab Gibran santai.


“Apa?! T-tapi kenapa?” tanya Karren yang terkejut mendengar kalau Gibran sudah menyuruh ART nya cuti.


Tidak adanya ART akan menjadi masalah untuk Karren, mau tidak mau pasti Karren akan melakukan pekerjaan rumah. Karren tidak masalah jika harus melakukan apa pun, tapi Karren masih belum yakin dengan kemampuan memasaknya, mungkin lidahnya sendiri saja tidak mau menerima masakan yang dia masak.


“Kita butuh waktu berdua Karren, saya rasa selama kita cuti kita bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah bersama-sama.” Ucap Gibran.


Karren tercengang mendengarnya, jika pasangan lain akan bulan madu dengan bersenang-senang berdua, Karren dan Gibran malah bulan madu membersihkan rumah. Sungguh perbandingan yang sangat mencolok.


“Kamu tidak keberatan kan Karren?” tanya Gibran dengan sedikit menoleh ke arah Karren yang sedang duduk di belakangnya.


“E-engga kok mas, aku ga keberatan.” Jawab Karren dengan kaku.


“Syukurlah, maaf tidak bicara dulu sama kamu karena kemari saya lupa, tadi juga kamu masih tidur jadi ART nya belum sempat pamitan sama kamu.” Jelas Gibran.


Karren mengangguk, meskipun Gibran tidak bisa melihatnya karena laki-laki itu sudah kembali fokus dengan wajan dan spatulanya.


“Terus kamu lagi masak apa sekarang?” tanya Karren sedikit melongokkan kepalanya agar bisa melihat isi wajan yang sedang di aduk Gibran.


“Nasi goreng, saya bingung mau masak apa jadi saya masak nasi goreng saja yang paling simpel.” Jawab Gibran.


“memangnya kamu bisa masak?” tanya Karren ragu.


Dia tidak mau berbulan madu di rumah sakit setelah memakan masakan Gibran, bisa berabe kalau dia melewati cuti kuliahnya hanya untuk kembali ke rumah sakit.


Gibran menoleh ke arah Karren, dari ekspresinya sepertinya dia tidak terima dengan pertanyaan Karren yang terdengar seperti sedang meragukannya.


“Kamu meragukan saya?” tanya Gibran sambil menyipitkan mata menatap Karren dengan tidak suka.


“Ya mau gimana lagi mas, aku kan ga pernah lihat kamu main alat-alat dapur, biasanya kamu cuma main sama buku dan laptop aja.” Ucap Karren sambil mengedikkan bahu.


“Kalau hanya masak nasi goreng seperti ini saya bisa.” balas Gibran.


“Terus kenapa tadi kamu bilang bingung mau masak apa seakan-akan kamu bisa masak segala macam jenis makanan?” ucap Karren.


“Saya tadi emang bingung mau masakin kamu nasi goreng apa mie instan.” Balas Gibran.


Karren kembali tercengang mendengar ucapan Gibran, sudah tau tidak ada yang jago memasak tapi Gibran malah banyak gaya dengan memberikan cuti kepada ART nya. Kalau seperti ini ceritanya, bisa di pastikan seminggu ke depan mereka akan lebih banyak makan mie instan dan nasi goreng.


Beberapa saat kemudian, nasi goreng buatan chef Gibran sudah matang, Karren membantu memindahkan nasi gorengnya ke atas piring. Nasi goreng buatan Gibran cukup komplet karena ada sayuran, ayam suwir, sosis yang sudah di potong-potong dan telur juga. Di lihat dari tampilannya sih cukup meyakinkan.


Setelah nasi goreng di sajikan di atas meja makan dengan rapih, Karren beralih menyiapkan minum untuknya dan Gibran, dia menyiapkan dua minuman sekaligus, satu gelas air putih dan satu gelas jus jeruk.


Mereka mulai sarapan mereka dalam diam, Karren takjub dengan keahlian Gibran dalam memasak nasi goreng karena rasa nasi goreng buatan Gibran bisa di bilang enak. Mungkin lebih enak nasi goreng buatan Gibran di bandingkan nasi Goreng buatannya.


Karren tidak bisa berbohong jika urusan rasa masakan, lidahnya ini seperti lidah juri master chef yang tidak akan segan memberi komentar jika rasanya tidak sesuai dengan lidahnya, bahkan masakan maminya sekalipun kalau tidak enak pasti dia komentar.


“Nasi goreng kamu enak banget! Lain kali buatin lagi ya mas.” Ucap Karren sambil mengedipkan matanya untuk merayu sang suami.


Gibran memutar bola matanya jengah, dia bahkan tidak berniat untuk memasak setiap hari.


“Harusnya kamu yang memasak, bukan saya.” Balas Gibran.


“Kamu juga bisa masak kan?” tanya Gibran.


“Bisa kok, tapi selama ini aku sering bantuin mami.” Jawab Karren.


“Baiklah kalau begitu saya akan siap siaga membuatkan nasi goreng untukmu jika kamu sedang mengidam nanti.” Ucap Gibran.


“Masssss....” teriak Karren saat Gibran secara tidak langsung menyuruhnya untuk segera hamil.


Gibran hanya terkekeh, dia tau kalau Karren memang belum siap untuk hamil karena dia masih ingin menikmati kehidupannya dan pernikahannya.


“Karren, kamu ini seneng banget sih teriak-teriak.” Ucap Gibran.


“Kamu nyebelin mas! Jadi aku kalo mau nasi goreng kamu nunggu hamil dulu?” ucap Karren.


“Yah,, begitulah...” balas Gibran sambil mengidikkan bahunya.


“Ih dasar nyebelin!” ketus Karren.


“Udah cepetan habisin, saya udah janji sama papi buat temenin dia main catur.” Ucap Gibran.


“What!? Main catur? Pagi-pagi gini?” tanya Karren terkejut.


“Iya, sekalian lah kamu belajar masak juga sama mami kamu.”


Karren menganga mendengar ucapan Gibran, dia tidak menyangka kalau Gibran langsung menyuruhnya belajar memasak secepat ini, padahal harusnya mereka menikmati waktu bersama.


“Katanya mau berduaan aja, tapi kenapa malah mau main catur sama papi?” tanya Karren dengan cemberut.


“Yah mau gimana lagi, papi kamu telfon aku tadi soalnya hari ini dia lagi ga kerja.” Ucap Gibran.


Karren hanya bisa menghela nafas panjang, dia kesal kenapa papinya tidak mengerti situasi, apa papinya tidak bermesraan dengan maminya seperti biasa? Kenapa malah mengganggu orang yang mau bermesraan.


Setelah selesai sarapan, Gibran segera beranjak dari tempat duduknya dan berniat untuk mengunjungi rumah mertuanya untuk menepati janjinya bermain catur.


Sedangkan Karren dengan terpaksa hanya bisa menuruti apa yang di perintahkan oleh suaminya dan bersiap untuk belajar memasak.


Baru saja Gibran dan Karren keluar dari rumah mereka, keduanya sudah bisa melihat Bernard yang sedang berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya.


“Lihat tuh, papi kamu seneng banget loh kita ke sana.” Ucap Gibran sambil membalas senyuman Bernard.


“Bukan seneng kita dateng, tapi papi seneng udah berhasil buat kita ga bisa berduaan.” Sahut Karren dengan kesal.


“Ren, ga boleh bilang gitu.” Ucap Gibran mengingatkan.


Sesampainya di rumah Key dan Bernard, Gibran langsung mencium punggung tangan Bernard dan memeluk sekilas, begitu juga dengan Karren.


“Papi bahagia banget sih kayaknya, seneng ya udah berhasil buat aku sama mas Gibran ga bisa berduaan?” ucap Karren dengan sewot.


Mendengar ucapan putrinya malah membuat Bernard tertawa, dia bahkan sampai mengeluarkan air mata dari ujung matanya saat melihat wajah kesal putrinya.


“Kenapa papi malah ketawa?” tanya Karren tidak suka.


“Papi seneng aja bisa liat kamu kayak gini, dulu kan kamu juga suka gangguin papi sama mami waktu berduaan wle..” ucap Bernard sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek Karren.


Mendengar jawaban dari papinya membuat Karren bahkan Gibran terkejut, sikap Bernard sangat kekanak-kanakan menurut mereka.


“Apa!? Jadi papi lagi bales dendam sama aku?” tanya Karren kesal.


Namun Bernard hanya tertawa sambil berjalan masuk ke dalam rumah membuat Karren semakin kesal di buatnya.